topic short url: http://dhct.ws/f18041

Author Topic: (PIC) Riwayat Hidup Buddha Gotama  (Read 22118 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline Adhitthana

  • Sebelumnya: Virya
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.508
  • Reputasi: 239
  • Gender: Male
Re: (PIC) Riwayat Hidup Buddha Gotama
« Reply #15 on: 19 September 2010, 11:55:40 PM »
(click to show/hide)

MENYEBERANGI SUNGAI ANOMA DAN MENCUKUR RAMBUT


Setelah mencapai tepi Sungai Anomà, Bodhisatta mulia mengistirahatkan kuda-Nya di tepi sungai dan bertanya kepada Channa, “Apa nama sungai ini?” Ketika dijawab oleh Channa bahwa sungai tersebut adalah Sungai Anomà, Bodhisatta menganggap itu adalah pertanda baik, dan berkata, “Pertapaan-Ku tidak akan gagal, bahkan sebaliknya akan memiliki kualitas yang baik,” (karena anomà artinya ‘bukan sesuatu yang rendah’). Kemudian menepuk Kanthaka dengan tumit-Nya untuk memberikan aba-aba kepadanya untuk menyeberangi sungai, dan Kanthaka melompat ke sisi seberang sungai yang lebarnya delapan usabha dan berdiri di sana.


Setelah turun dari punggung kuda, dan berdiri di atas pasir di tepi sungai, Bodhisatta menyuruh Channa, “Channa sahabat-Ku, bawalah kuda Kanthaka bersama dengan semua perhiasan-Ku pulang. Aku akan menjadi petapa.” Ketika Channa mengatakan bahwa ia juga ingin melakukan hal yang sama, Bodhisatta melarangnya sampai tiga kali dengan mengatakan, “Engkau tidak boleh menjadi petapa. Channa sahabat-Ku, pulanglah ke kota.” Dan Ia menyerahkan Kanthaka dan semua perhiasan-Nya kepada Channa.

Setelah itu, dengan mempertimbangkan, “Rambut-Ku ini tidak cocok untuk seorang petapa; Aku akan memotongnya dengan pedang-Ku.” Bodhisatta, dengan pedang di tangan kanan-Nya memotong rambut-Nya dan mencengkeramnya bersama mahkota-Nya dengan tangan kiri-Nya. Rambut-Nya yang tersisa sepanjang dua jari mengeriting ke arah kanan dan menempel di kulit kepala-Nya. Sisa rambut itu tetap sepanjang dua jari hingga akhir hidup-Nya meskipun tidak pernah dipotong lagi. Janggut dan cambang-Nya juga tetap ada seumur hidup-Nya dengan panjang yang cukup untuk terlihat indah seperti rambut-Nya. Bodhisatta tidak perlu mencukur-Nya lagi.
« Last Edit: 21 September 2010, 10:57:26 PM by Virya »
  Aku akan mengalami Usia tua, aku akan menderita penyakit, aku akan mengalami kematian. Segala yang ku Cintai, ku miliki, dan ku senangi akan Berubah dan terpisah dariku ....

Offline Adhitthana

  • Sebelumnya: Virya
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.508
  • Reputasi: 239
  • Gender: Male
Re: (PIC) Riwayat Hidup Buddha Gotama
« Reply #16 on: 19 September 2010, 11:56:53 PM »
(click to show/hide)

MENJALANI PERTAPAAN

Setelah menjadi petapa, Bodhisatta tinggal di hutan mangga yang disebut Anupiya tidak jauh dari Sungai Anomã selama 7 hari pertama, dan kemudian Ia pergi menuju ke Rajagaha, ibukota Kerajaan Magadha. Di Rajagaha, Ia menolak tawaran Raja Bimbisara yang akan memberikan separuh kekuasaannya setelah mengetahui identitas Bodhisatta.
« Last Edit: 20 September 2010, 12:22:47 AM by Virya »
  Aku akan mengalami Usia tua, aku akan menderita penyakit, aku akan mengalami kematian. Segala yang ku Cintai, ku miliki, dan ku senangi akan Berubah dan terpisah dariku ....

Offline Adhitthana

  • Sebelumnya: Virya
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.508
  • Reputasi: 239
  • Gender: Male
Re: (PIC) Riwayat Hidup Buddha Gotama
« Reply #17 on: 20 September 2010, 12:06:17 AM »
(click to show/hide)

Setelah itu, Ia melanjutkan perjalanan dengan menuruni Bukit Pandava dan menuju ke Kota Vesali, tempat seorang guru agama yang ternama, Alara Kalama yang tinggal bersama para siswanya. Di sana Bodhisatta bergabung dan menjadi siswa dari Alara Kalama.

Dalam waktu singkat karena memiliki kepandaian yang luar biasa, Bodhisatta telah mampu menguasai ilmu yang diajarkan oleh Alara Kalama bahkan mencapai pencapaian yang sama dengan guru-Nya itu. Namun setelah merenungkan sifat dan manfaat dari pencapaian-Nya ini, Ia menyimpulkan bahwa ajaran yang Ia praktikkan tersebut tidaklah membawa pada Pembebasan Sejati. Oleh karena itu Ia mohon pamit kepada guru-Nya untuk melanjutkan pencariannya atas jawaban terhadap persoalan hidup dan mati, usia tua, dan penyakit, yang senantiasa dipikirkan-Nya.

Kemudian Bodhisatta meninggalkan Vesali dan berjalan menuju Negeri Magadha. Ia menyeberangi Sungai Mahi, dan sejenak kemudian sampai di sebuah pertapaan lain di tepi sungai itu. Pertapaan itu dipimpin oleh seorang guru agama yang sangat dihormati. Bernama Uddaka Ramaputta (Uddaka, putra Rama). Kemudian Bodhisatta pun bergabung dan menjadi siswa dari Uddaka Ramaputta. Dalam waktu yang singkat pula, Ia mampu menguasai ilmu yang diajarkan oleh Uddaka Ramaputta bahkan melampauinya. Namun, Bodhisatta segera mengetahui bahwa pencapaian-Nya itu bukanlah apa yang Ia cari. Karena tidak puas dengan pencapaian-Nya itu. Ia meninggalkan pertapaan Uddaka Ramaputta.

  Aku akan mengalami Usia tua, aku akan menderita penyakit, aku akan mengalami kematian. Segala yang ku Cintai, ku miliki, dan ku senangi akan Berubah dan terpisah dariku ....

Offline Adhitthana

  • Sebelumnya: Virya
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.508
  • Reputasi: 239
  • Gender: Male
Re: (PIC) Riwayat Hidup Buddha Gotama
« Reply #18 on: 20 September 2010, 12:09:23 AM »
(click to show/hide)

Setelah meninggalkan pertapaan Uddaka Ramaputta, Petapa Gotama menuju ke Senanigama (kota niaga Senani) di Hutan Uruvela. Ketika disanalah Petapa Gotama bertemu dengan 5 orang petapa (pancavaggiya) yang terdiri dari Kondanna, Vappa, Mahanama, Assaji dan Bhaddiya.

Selama di Hutan Uruvela, Petapa Gotama menjalankan latihan tapa yang paling berat (dukkaracariya), yang sulit dipratikkan oleh orang biasa. Ia menyatakan tekad usaha kuat beruas empat yang dikenal sebagai padhana-viriya, sebagai berikut: “Biarlah hanya kulit-Ku yang tertinggal! Biarlah hanya urat daging-Ku yang tertinggal! Biarlah hanya tulang belulang-Ku yang tertinggal! Biarlah daging dan darah-Ku mengering!” Dengan tekad ini, Ia tak akan mundur sejenak pun, namun akan melakukan usaha sekuat tenaga dalam praktik itu.

Dalam praktik pertapaan yang keras tersebut, Petapa Gotama berlatih untuk mengurangi makan sedikit demi sedikit hingga tidak makan sama sekali. Karena melakukan hal tersebut, tubuh-Nya berangsur-angsur menjadi semakin kurus dan akhirnya hanya tinggal tulang belulang. Karena kurang makan, sendi-sendi dalam tubuh dan anggota tubuh-Nya menyembul seperti sendi rerumputan atau tanaman menjalar yang disebut asitika atau kala (Latin: Polygonum aviculare dan S. lacustris).

Enam tahun sudah Petapa Gotama menjalankan pertapaan yang keras dan tiba pada tahap kritis dimana Ia berada di ambang kematian. Hingga suatu hari ketika berjalan-jalan, Ia pingsan dan terjerembab karena tubuh-Nya dilanda panas yang tak tertahankan dan karena kurang makan berhari-hari. Ketika itu, seorang anak laki-lagi pengembala kebetulan lewat di tempat terjatuhnya Petapa Gotama. Setelah membangunkan Petapa Gotama, anak gembala itu menyuapkan air susu kambing bagi-Nya.
  Aku akan mengalami Usia tua, aku akan menderita penyakit, aku akan mengalami kematian. Segala yang ku Cintai, ku miliki, dan ku senangi akan Berubah dan terpisah dariku ....

Offline Adhitthana

  • Sebelumnya: Virya
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.508
  • Reputasi: 239
  • Gender: Male
Re: (PIC) Riwayat Hidup Buddha Gotama
« Reply #19 on: 20 September 2010, 12:10:20 AM »
(click to show/hide)

DANA NASI SUSU GHANA OLEH SUJATA

Sudah menjadi tradisi (dhammata) bagi seorang Bodhisatta untuk menerima persembahan nasi susu ghana pada hari Beliau akan mencapai Kebuddhaan; dan menerima makanan ini hanya menggunakan cangkir emas seharga satu lakh. Sujàtà, berpikir, “Aku harus menempatkan nasi susu ghana ini dalam cangkir emas,” mengambil sebuah cangkir berharga satu lakh dari dalam kamarnya. Kemudian ia menuangkan nasi susu ghana yang telah matang ke dalam cangkir dengan memiringkan pancinya. Semua nasi susu ghana tersebut masuk ke dalam cangkir sampai tetes terakhir bagaikan tetesan air yang mengalir dari daun teratai paduma. Seluruh nasi susu ghana mengisi cangkir tersebut sampai penuh, tidak lebih tidak kurang.


Cangkir emas berisi nasi susu ghana tersebut ditutup dengan sebuah cangkir emas yang lain lagi dan dibungkus dengan kain putih yang bersih. Dan setelah berdandan dan menghias diri dengan pakaian lengkap, ia membawa cangkir emas di atas kepalanya dan pergi ke dekat pohon banyan. Ia sangat gembira melihat Bodhisatta dan menganggapnya sebagai dewa penjaga pohon banyan, ia berlutut penuh hormat. Kemudian ia menurunkan cangkir emas dari kepalanya, membukanya dan membawa cangkir emas harum, dan mendekati Bodhisatta dan berdiri di dekat-Nya.

Mangkuk tanah liat, yang dipersembahkan kepada Bodhisatta oleh Brahmà Ghatikàra pada waktu melepaskan keduniawian dan dengan setia menemani-Nya selama enam tahun dukkaracariya, menghilang secara misterius pada saat istri orang kaya, Sujàtà datang memberikan nasi susu ghana. Karena tidak melihat mangkuk-Nya, Bodhisatta mengulurkan tangan kanan-Nya untuk menerima dàna tersebut. Sujàta menyerahkan dàna makanan ghana dalam cangkir emas dan meletakkannya di tangan Bodhisatta. Bodhisatta menatap Sujàtà, yang memahami maksud tatapan tersebut, kemudian Sujàtà berkata, “ O Yang Mulia, aku mendanakan nasi susu dalam cangkir emas, terimalah beserta cangkir emas ini dan pergilah ke mana pun Engkau suka.” Kemudian ia mengucapkan doa, “Keinginanku telah terkabul, semoga keinginan-Mu terkabul pula!” Kemudian ia pergi tanpa sedikit pun memikirkan cangkir emas seharga satu lakh tersebut seolah-olah hanya sehelai daun kering.

Bodhisatta juga bangkit dari duduk-Nya, setelah mengelilingi pohon banyan dengan hormat, Beliau berjalan menuju tepi Sungai Neranjarà, membawa cangkir emas berisi nasi susu ghana. Di Sungai Neranjarà terdapat sebuah tangga bernama Suppatitthita, tempat banyak Bodhisatta turun dan mandi pada hari pencapaian Kebuddhaan. Bodhisatta meninggalkan cangkir emas-Nya di tangga, setelah selesai mandi, Beliau naik dan duduk menghadap ke timur di bawah keteduhan sebatang pohon. Kemudian, Beliau menyiapkan empat puluh sembilan gumpalan nasi susu ghana, tidak lebih tidak kurang, berukuran sebesar biji kacang palmyra (bukan sebesar kacang palmyra) dan kemudian memakan semuanya tanpa meminum air. Gumpalan nasi susu ghana tersebut akan menjadi nutrisi (àhàra) untuk mempertahankan kebutuhan nutrisi tubuh-Nya selama empat puluh sembilan hari (sattasattàha), kemudian berdiam di sekeliling pohon Bodhi setelah mencapai Pencerahan Sempurna. Selama empat puluh sembilan hari, Buddha diam dalam kebahagiaan Jhàna dan buahnya, tanpa memakan makanan apa pun, tanpa mandi, tanpa mencuci muka, dan tanpa membersihkan tubuh-Nya.
« Last Edit: 21 September 2010, 10:59:49 PM by Virya »
  Aku akan mengalami Usia tua, aku akan menderita penyakit, aku akan mengalami kematian. Segala yang ku Cintai, ku miliki, dan ku senangi akan Berubah dan terpisah dariku ....

Offline Adhitthana

  • Sebelumnya: Virya
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.508
  • Reputasi: 239
  • Gender: Male
Re: (PIC) Riwayat Hidup Buddha Gotama
« Reply #20 on: 20 September 2010, 12:40:21 AM »
(click to show/hide)

Dalam perjalanan, Ia bertemu dengan seorang penyabit rumput bernama Sotthiya, yang tengah datang dan arah yang berlawanan seraya memikul rumput. Dia sangat terkesan oleh penampilan agung Petapa Gotama. Setelah tahu bahwa Petapa Gotama memerlukan sedikit rumput, dia lalu mempersembahkan delapan genggam rumput kusa kepada-Nya.
  Aku akan mengalami Usia tua, aku akan menderita penyakit, aku akan mengalami kematian. Segala yang ku Cintai, ku miliki, dan ku senangi akan Berubah dan terpisah dariku ....

Offline Adhitthana

  • Sebelumnya: Virya
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.508
  • Reputasi: 239
  • Gender: Male
Re: (PIC) Riwayat Hidup Buddha Gotama
« Reply #21 on: 20 September 2010, 12:42:12 AM »
(click to show/hide)

Menaklukkan Mara (dengan Paramita)

Bãhum sahassa mabinimmita sãyudhantam
Girimekhalam udita ghora sasena mãram
Dãnãdi dhamma vidhinã jitavã munindo
Tan tejasã bhavatu te jayamangalãni

Dengan seribu tangan, yang masing-masing memegang senjata
Dengan menunggang gajah Girimekkhala,
Mara bersama pasukannya meraung menakutkan
Raja Para Bijaksana menaklukkannya dengan dana dan paramita yang lainnya
Dengan kekuatan ini semoga engkau mendapat kemenangan sempurna.

Di dalam perjuanganNya yang luar biasa untuk mencapai Penerangan Sempurna, Bodhisatva Siddhartha yang sedang duduk bermeditasi di bawah pohon Bodhi di Bodhgaya, dengan tekad yang amat kuat, untuk tidak akan bangun dari tempat dudukNya sebelum memperoleh Penerangan Sempurna dan mencapai Nibbana, datanglah Mara.

Mara adalah mahluk halus atau penggoda, yang bermaksud menghalang-halangi Bodhisatva memperoleh Penerangan Sempurna. Mara muncul dengan disertai oleh bala tentaranya yang amat besar, bermaksud menyerang Bodhisatva Siddhartha.

Balatentara Mara yang amat mengerikan ini mengelilingi Bodhisatva, dari depan sejauh dua belas yojana 1), dari belakang sejauh dua belas yojana, dari kiri dan kanan selebar sembilan yojana.

Mara sendiri membawa seribu senjata yang amat berbahaya dan duduk menunggangi Gajah Girimekhala, yang amat besar dengan tinggi seratus lima puluh yojana. Diikuti dengan bala tentaranya yang berwajah amat menyeramkan, mereka semuanya membawa senjata dengan meraung menakutkan, siap menyerang Bodhisatva Siddhartha.

Pada saat Mara mendatangi Bodhisatva dengan bala tentara yang begitu besar, maka para dewa, seperti Maha Brahma, Sakka, Rajanaga Mahakala dan para dewa lainnya, menyingkir dari tempat itu. Bodhisatva menghadapi sendiri Mara beserta bala tentaranya dengan berlindung kepada sepuluh Paramita yang telah sejak lama dilatihnya.

Sepuluh Paramita itu adalah :

1. Dana Paramita (Kesempurnaan Kerelaan Hati)
2. Sila Paramita (Kesempurnaan Kemoralan)
3. Nekkhama Paramita (Kesempurnaan Pelepasan Keduniawian)
4. Panna Paramita (Kesempurnaan Kebijaksanaan)
5. Viriya Paramita (Kesempurnaan Semangat)
6. Khanti Paramita (Kesempurnaan Kesabaran)
7. Sacca Paramita (Kesempurnaan Kebenaran)
8. Adhitthana Paramita (Kesempurnaan Tekad)
9. Metta Paramita (Kesempurnaan Cinta Kasih)
10. Upekkha Paramita (Kesempurnaan Keseimbangan Batin)

Dengan berlindung kepada sepuluh Paramita inilah, maka semua usaha Mara beserta bala tentaranya untuk menakut-nakuti Bodhisatva, dengan hujan besar yang disertai angin kencang dan halilintar yang menggelegar terus-menerus, juga diikuti dengan pemandangan-pemandangan lain yang amat mengerikan ternyata gagal semua. Akhirnya Mara dengan penuh kemarahan menyambit Bodhisatva dengan senjatanya yang terakhir yaitu Cakkavudha 2). Tetapi senjata ini berubah menjadi payung yang amat indah, yang dengan tenang bergantung dan memayungi Bodhisatva.

Bumi telah menjadi saksi, bahwa Bodhisatva Siddhartha telah lulus dari semua kesulitan dan layak untuk menjadi seorang Buddha.

Sang Bodhisatva berkata :
"Dengan melihat bala tentara pada semua sisi berbaris dengan Mara yang mengatur di atas Gajah Girimekhala. Aku maju ke depan untuk berperang, Mara tidak akan dapat mendorongKu dari posisiKu. Bala tentaramu dengan dunia beserta dewa-dewa tak terkalahkan. Dengan KebijaksanaanKu, Aku terus menghancurkan mereka, bagaikan Aku menghancurkan mangkok yang belum dibakar. Dengan mengawasi pikiranKu, dan dengan kesadaran yang kuat, Aku akan mengembara dari negara ke negara, sambil melatih banyak murid. Dengan rajin dan bersungguh-sungguh, dalam mempraktekkan AjaranKu, mereka tidak akan memperdulikanmu dan akan pergi ke tempat yang tidak ada lagi penderitaan."

Gajah Girimekhala lalu berlutut di hadapan Bodhisatva dan Mara menghilang, lari tunggang langgang bersama dengan bala tentaranya. Para dewa yang menyingkir ketika Mara datang menyerang, datang kembali menghampiri Bodhisatva. Mereka semua amat bahagia dengan keberhasilan Bodhisatva Siddhartha menaklukkan Mara.

Keterangan :

1. Yojana : Ukuran panjang yang digunakan di India, 1 yojana kurang lebih 7 mil.
2. Cakkavudha : Senjata Mara yang amat sakti
« Last Edit: 21 September 2010, 11:03:15 PM by Virya »
  Aku akan mengalami Usia tua, aku akan menderita penyakit, aku akan mengalami kematian. Segala yang ku Cintai, ku miliki, dan ku senangi akan Berubah dan terpisah dariku ....

Offline Adhitthana

  • Sebelumnya: Virya
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.508
  • Reputasi: 239
  • Gender: Male
Re: (PIC) Riwayat Hidup Buddha Gotama
« Reply #22 on: 20 September 2010, 12:49:01 AM »
(click to show/hide)

LIMA MIMPI BODDHISATTA

(1) Beliau bermimpi bahwa Beliau sedang tertidur di atas permukaan tanah, dengan Pegunungan Himalaya sebagai bantalnya, tangan kiri-Nya di Samudra Timur, tangan kanan-Nya di Samudra Barat dan kedua kaki-Nya di Samudra Selatan. Mimpi pertama menandakan pencapaian Kemahatahuan, menjadi Buddha di antara manusia, dewa, dan brahmà

(2) Beliau bermimpi bahwa sejenis rumput yang disebut tiriya dengan tangkai merah berukuran sebuah gandar sapi muncul dari pusar-Nya dan sewaktu Beliau melihat, rumput tersebut tumbuh, pertama berukuran setengah lengan, kemudian satu lengan, satu fathom (1 fathom = 1.8 meter), satu ta, satu gavuta, setengah yojanà, satu yojanà dan seterusnya. Tumbuh tinggi dan lebih tinggi hingga mencapai langit, angkasa luas, seribu yojanà ke atas dan diam di sana. Mimpi kedua ini menandakan bahwa Beliau akan mampu mengajar Jalan Berfaktor Delapan, (Atthangika Magga), yang adalah Jalan Tengah (Majjhima Patipadà), kepada umat manusia dan dewa.


(3) Beliau bermimpi, ada sekumpulan ulat berbadan putih dan kepala hitam perlahan-lahan merayap ke atas kaki-Nya, menutupi dari ujung kaki hingga ke lutut-Nya. Mimpi ketiga ini menandakan banyaknya orang (berkepala hitam) yang mengenakan pakaian putih menghormati dan berlindung (Màhasaranàgaåmana) kepada Buddha

(4) Beliau bermimpi, empat jenis burung berwarna biru, keemasan, merah, dan abu-abu terbang datang dari empat penjuru dan sewaktu mereka turun dan berdiri di atas kedua kaki-Nya, semua burung-burung itu berubah menjadi putih. Mimpi keempat menandakan kasta-kasta dari empat kasta dalam masyarakat, yaitu, kasta kesatria, ajaran Buddha, menjadi bhikkhu dan mencapai Kearahattaan.

5) Beliau bermimpi bahwa Beliau sedang berjalan mondar-mandir, ke sana kemari di setumpukan kotoran setinggi gunung tanpa menjadi kotor. Mimpi kelima ini menandakan perolehan empat kebutuhan, yaitu: jubah, makanan, tempat tinggal, dan obat-obatan, dan memanfaatkannya tanpa terikat dan melekat pada mereka.


« Last Edit: 21 September 2010, 11:04:52 PM by Virya »
  Aku akan mengalami Usia tua, aku akan menderita penyakit, aku akan mengalami kematian. Segala yang ku Cintai, ku miliki, dan ku senangi akan Berubah dan terpisah dariku ....

Offline Adhitthana

  • Sebelumnya: Virya
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.508
  • Reputasi: 239
  • Gender: Male
Re: (PIC) Riwayat Hidup Buddha Gotama
« Reply #23 on: 20 September 2010, 12:54:35 AM »
(click to show/hide)

Buddha bertemu dengan Mara (Penggoda) yang berusaha menghancurkan tekadnya mencapai pencerahan sempurna.
Dengan pasukannya dan berbagai macam senjata menyerang Pertapa Gotama. Tapi Pertapa Gotama tidak bergeming dan semua senjata yang menyerang telah berubah menjadi bunga yang indah yang bertebaran disekitar pertapa. Pada puncak godaan Mara yang dilambangkan dengan 3 wanita cantik... Setelah melewati semua godaan Mara, Pertapa Gotama mengalami pencerahan kedua. (Dipercaya bahwa semua godaan Mara ini adalah pergumulan di dalam diri beliau dalam mengalahkan semua godaan nafsu keinginan dalam dirinya sendiri).
  Aku akan mengalami Usia tua, aku akan menderita penyakit, aku akan mengalami kematian. Segala yang ku Cintai, ku miliki, dan ku senangi akan Berubah dan terpisah dariku ....

Offline Adhitthana

  • Sebelumnya: Virya
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.508
  • Reputasi: 239
  • Gender: Male
Re: (PIC) Riwayat Hidup Buddha Gotama
« Reply #24 on: 20 September 2010, 12:58:01 AM »

PENCAPAIAN KE-BUDDHA-AN DI ANTARA TIGA ALAM

“Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa“


Ketika Bodhisatta mencapai Arahatta-Phala segera setelah mencapai Arahatta-Magga, batin-Nya menjadi sangat murni dan Beliau mencapai Pencerahan Sempurna (Sammàsambuddha), pemimpin tertinggi di tiga alam, dengan pencapaian Kemahatahuan (Sabbannuta Nàna) bersama-sama dengan Empat Kebenaran Mulia, Empat Pengetahuan Analitis (Patisambhidà Nàna), Enam Kebijaksanaan Tinggi (Assadhàrana Nàna), yang menjadikan Empat belas Kebijaksanaan seorang Buddha, dan Delapan belas kualitas (âvenika Dhamma), dan Empat Kebijaksanaan Berani (Vesàrajja Nàna). Bersamaan dengan tercapainya Sabbannuta Nàna ( Ke-Maha-Tahu-an ), datanglah fajar. (Penembusan Sabbannuta Nàna ( Ke-Maha-Tahu-an ) berarti tercapainya Kebuddhaan.)

UNGKAPAN KEBAHAGIAAN

Dengan tercapainya Pencerahan Sempurna, Sang Buddha mengungkapkan kebahagiaan-Nya dengan melontarkan dua bait syair nyanyian pujian kebahagiaan (udana).

“Tak terhingga kali kelahiran telah Kulalui
Untuk mencari, namun tak Kutemukan, pembuat rumah ini.
Sungguh menyedihkan, terlahir berulang kali!”

“O pembuat rumah! Sekarang engkau telah terlihat!
Engkau tak dapat membuat rumah lagi!
Semua kasaumu telah dihancurkan!
Batang bubunganmu telah diruntuhkan!
Kini batin-Ku telah mencapai Yang Tak Terkondisi!
Tercapai sudah berakhirnya nafsu keinginan!”



« Last Edit: 20 September 2010, 01:02:03 AM by Virya »
  Aku akan mengalami Usia tua, aku akan menderita penyakit, aku akan mengalami kematian. Segala yang ku Cintai, ku miliki, dan ku senangi akan Berubah dan terpisah dariku ....

Offline Adhitthana

  • Sebelumnya: Virya
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.508
  • Reputasi: 239
  • Gender: Male
Re: (PIC) Riwayat Hidup Buddha Gotama
« Reply #25 on: 20 September 2010, 01:21:30 AM »
Brahmà Sahampati Memohon Pengajaran Dhamma

Setelah mencapai Pencerahan Sempurna di kaki Pohon Bodhi, selama tujuh minggu Bhagava tetap berada di sekitar pohon tersebut.

Pada hari ke lima puluh, Buddha bangkit dari duduknya di dekat Pohon Rajayatana (minggu ke 7), dan kembali duduk di dekat Pohon Ajapala (minggu ke 5). Saat itu, muncullah perasaan kasih sayang yang luar biasa (Maha Karuna) bagi semua mahluk dan Buddha berpikir :
"Bagaimanakah cara yang baik untuk menjelaskan Dhamma yang agung ini supaya para makhluk yang menderita akan sanggup menerimanya?"

Ketika Buddha masih tidak berkeinginan untuk berusaha mengajarkan Dhamma, Mahàbrahmà Sahampati berpikir, “Nassati vata bho loko! Vinassati vata bho loko!” “O teman, dunia akan binasa! O teman, dunia akan binasa!” Buddha yang layak mendapat penghormatan oleh dewa dan manusia karena telah menembus pengetahuan semua Dhamma di dunia tidak sudi mengajarkan Dhamma!” Kemudian dalam sekejap, dengan kecepatan bagaikan seorang kuat yang merentangkan tangannya yang terlipat atau melipat tangannya yang terentang, Brahmà Sahampati lenyap dari alam brahmà bersama-sama dengan sepuluh ribu Mahàbrahmà lainnya, muncul di hadapan Buddha. Pada waktu itu, Mahàbrahmà Sahampati meletakkan selendangnya (selendang brahmà) di bahu kirinya dan berlutut dengan lutut kanannya menyentuh tanah (duduk cara brahmà). Bersujud kepada Buddha dengan mengangkat kedua tangannya yang dirangkapkan dan berkata:

“Buddha yang agung, sudilah Buddha mengajarkan Dhamma kepada semua makhluk, manusia, dewa, dan brahmà. Buddha agung yang memiliki bahasa yang baik, sudilah Buddha mengajarkan Dhamma kepada semua makhluk, manusia, dewa, dan brahmà. Ada banyak makhluk-makhluk yang memiliki sedikit debu kotoran di mata pengetahuan dan kebijaksanaan mereka. Jika makhluk-makhluk ini tidak berkesempatan mendengarkan Dhamma Buddha, mereka akan menderita kerugian besar karena tidak memperoleh Dhamma yang luar biasa Magga-Phala yang layak mereka dapatkan. Buddha yang mulia, akan terbukti bahwa ada dari mereka yang mampu memahami Dhamma yang Engkau ajarkan.”


Kemuncullan Brahma Sahampati, diiringi para dewata, menghadap Buddha. Setelah memberi hormat, Brahma Sahampati memohon Buddha untuk membabarkan Dharma.
Dengan demikian lengkaplah dua unsur, yaitu secara intern ada kasih sayang Buddha dan secara extern ada permohonan Brahma Sahampati.

Saat itu memang para mahluk menganggap Brahma Sahampati adalah pribadi yang tertinggi dan paling berkuasa. Dengan melihat kenyataan bahwa bahkan Brahma Sahampati pun berlutut menghormat Buddha, para dewa, naga, yakkha dan para mahluk akan sekalian turut mengikuti teladan tersebut. Hal itu membuat mereka akan lebih siap menerima Dhamma.



BRAHMA CA LOKADHIPATI SAHAMPATI
KATANJALI ANDIUVARAM AYACATHA
SANTIDHA SATTAPPARAJAKKHAJATIKA
DESETU DHAMMAM ANUKAMPIMAM PAJAM>


Brahma Sahampati, penguasa dunia
Merangkap kedua tangannya (beranjali) dan memohon:
Ada makhluk-makhluk yang memiliki sedikit debu di mata mereka.
Ajarkanlah Dhamma demi kasih sayang kepada mereka.

Menyanggupi permohonan Brahma Sahampati, mulailah Buddha memilah-milah mahluk yang layak untuk menerima Dhamma yang indah pada awalnya, indah pada pertengahannya dan indah pada akhirnya ini. Bhagava melihat jelas bahwa ada empat jenis mahluk yang dapat diumpamakan seperti tanaman teratai
tanaman yang hidup dalam air, tumbuh di dalam air, dan bakal bunganya pun masih di dalam air


tanaman yang hidup dalam air, mulai berkembang di dalam air, dan bakal bunganya tepat di bawah permukaan air


tanaman yang hidup dalam air, berkembang dalam air, dan bakal bunganya sudah berada di atas permukaan air


tanaman yang sakit dalam air, dan tidak akan mungkin tumbuh sampai ke permukaan air

Demikianlah seperti teratai-teratai ini, ada mahluk-mahluk dengan jumlah debu kilesa yang berbeda di mata kebijaksaan mereka, yang akan mempengaruhi kapasitas mereka dalam menerima Dhamma. Namun ada pula kelompok yang tidak mungkin pernah bisa menerima Dhamma walau seberapa sering pun mereka mendengarnya.

Sehubungan Bhagava mengetahui bahwa guru Beliau saat masih sebagai Petapa Gotama, yaitu Alara Kalama dan Uddaka Ramaputta telah wafat, Buddha memutuskan untuk pergi ke Taman Rusa dan memberikan kotbah Dhammacakka di sana kepada kelompok lima petapa (Pancavaggiya) yang pernah bersamanya saat melaksanakan dukkacariyaya selama enam tahun sebelum itu.


Catatan tambahan
(Brahmà Sahampati yang agung adalah seorang Thera mulia bernama Sahaka pada masa Buddha Kassapa. Dalam kapasitasnya, ia berhasil mencapai Jhàna Pertama Råpàvacara dan karena ia meninggal dunia tanpa terjatuh dari Jhàna, ia terlahir di Alam Jhàna Pertama dan menjadi Mahàbrahmà yang memiliki umur kehidupan enam puluh empat antara kappa yang setara dengan satu asaïkhyeyya kappa. Ia disebut Brahmà Sahampati di alam brahmà tersebut. Saÿyutta Atthakatthà dan Sàrattha Tikà).

  Aku akan mengalami Usia tua, aku akan menderita penyakit, aku akan mengalami kematian. Segala yang ku Cintai, ku miliki, dan ku senangi akan Berubah dan terpisah dariku ....

Offline Adhitthana

  • Sebelumnya: Virya
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.508
  • Reputasi: 239
  • Gender: Male
Re: (PIC) Riwayat Hidup Buddha Gotama
« Reply #26 on: 20 September 2010, 01:30:36 AM »
(click to show/hide)

Dua Pedagang Bersaudara, Tapussa dan Bhallika, Menerima Perlindungan Ganda

mudian dua pedagang bersaudara, Tapussa dan Bhallika, sedang melakukan perjalanan dengan lima ratus kereta dari rumah mereka di Ukkalàjanapada menuju Majjhima-Desa untuk berdagang. Saat mereka tiba di jalan besar di dekat pohon Ràjàyatana, kereta-kereta itu berhenti seolah-olah rodanya tertahan oleh lumpur walaupun tanah di jalan tersebut rata dan tidak becek. Dan ketika mereka terheran-heran, “Apa penyebabnya?” dan berdiskusi, satu dewa laki-laki yang memiliki hubungan yang erat dengan kedua pedagang bersaudara tersebut dalam kehidupan lampau menampakkan dirinya secara fisik dari atas sebuah pohon dan berkata, “Anak muda, tidak lama setelah mencapai Kebuddhaan, Buddha yang tenggelam dalam kebahagiaan Kearahattaan masih berdiam di bawah pohon Ràjàyatana saat ini tanpa makan selama empat puluh sembilan hari. Anak muda, berilah hormat kepada Buddha dengan memberikan dàna makanan. Ini akan memberikan kesejahteraan dan kebahagiaan dalam waktu yang lama kepada kalian.”



Pedagang Tapussa dan Bhallika mempersembahkan Kue Nasi dan Gumpalan Madu pada Buddha
Mendengar hal ini, mereka menjadi sangat bergembira dan mempertimbangkan, “Butuh waktu lama untuk menanak nasi.” Mereka mendatangi Buddha dengan membawa kue nasi dan gumpalan makanan dari madu yang menjadi bekal mereka. Setelah mendekati Buddha, mereka dengan penuh hormat bersujud kepada-Nya, dan berdiam di tempat yang sesuai. “Yang Mulia, sudilah Yang Mulia menerima kue nasi kami dan gumpalan makanan madu. Penerimaan-Mu akan memberikan kesejahteraan dan kebahagiaan dalam waktu yang lama kepada kami.”


Buddha bertanya-tanya, “Semua saudara-Ku, Buddha-Buddha masa lampau, tidak pernah menerima dàna makanan dengan tangan Mereka. Jadi, dengan apakah Aku harus menerima kue nasi dan gumpalan makanan madu yang dipersembahkan oleh kedua pedagang bersaudara ini?” (Karena mangkuk tanah yang didanakan oleh Brahmà Ghatikàra sewaktu Beliau melepaskan keduniawian telah lenyap pada hari Beliau menerima nasi susu dari Sujàtà).


Mengetahui pikiran Buddha, empat raja dewa dari empat arah, yaitu: Dhataratta, Virulhaka, Virupakkha, dan Kuvera dengan hormat menyerahkan empat mangkuk terbuat dari batu zamrud. Tetapi Buddha menolak menerima mangkuk tersebut. Sekali lagi, empat raja dewa tersebut menyerahkan empat mangkuk dari batu (alami) berwarna hijau daun. Empat mangkuk ini diterima oleh Buddha. Dan karena welas asih-Nya kepada para raja dewa tersebut, Buddha menumpuk empat mangkuk tersebut dan berkehendak, “Semoga empat mangkuk ini menjadi satu.” Segera empat mangkuk tersebut melebur menjadi satu mangkuk bersegi empat.

Kemudian Buddha menerima kue nasi dan gumpalan makanan madu dengan mangkuk dan memakannya dan memberikan khotbah yang sesuai untuk kedua pedagang bersaudara tersebut. Kemudian kedua pedagang bersaudara tersebut menyatakan berlindung kepada Buddha dan Dhamma (karena Sangha belum terbentuk pada waktu itu), dan dengan demikian menjadi siswa yang hanya mengucapkan dua kata perlindungan (Devàcika-sarana) yang ditujukan kepada Buddha dan Dhamma, dengan mengucapkan,

“Kami menyatakan berlindung, Yang Mulia, kepada Buddha dan Dhamma” (Ete mayam bhante Bhagavàntam saranam gacchàma Dhamman ca). (Kedua bersaudara ini adalah siswa pertama yang menyatakan berlindung dengan mengucapkan kedua kata ini.)


Setelah itu kedua pedagang bersaudara mengajukan permohonan dengan berkata, “Buddha Yang Mulia, berikanlah sesuatu kepada kami berkat welas asih-Mu sebagai objek pemujaan kami selamanya.” Buddha mengusap kepala-Nya dengan tangan kanan-Nya dan memberikan mereka relik dari rambut-Nya sesuai permintaan mereka. Kedua bersaudara tersebut sangat gembira menerima relik rambut Buddha, seolah-olah disiram air surga. Setelah menyelesaikan perdagangan, mereka kembali dan tiba di kota mereka Pukkharavati di distrik Ukkalà di mana mereka membangun cetiya untuk memuja relik rambut yang disimpan dalam peti emas.
« Last Edit: 20 September 2010, 01:42:26 AM by Virya »
  Aku akan mengalami Usia tua, aku akan menderita penyakit, aku akan mengalami kematian. Segala yang ku Cintai, ku miliki, dan ku senangi akan Berubah dan terpisah dariku ....

Offline Adhitthana

  • Sebelumnya: Virya
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.508
  • Reputasi: 239
  • Gender: Male
Re: (PIC) Riwayat Hidup Buddha Gotama
« Reply #27 on: 20 September 2010, 01:36:51 AM »

Khotbah Pertama: Roda Dhamma


Khotbah ini, atau Roda Dhamma seperti umunya disebut, - sesuai nama dalam Pali, dapat dianggap sebagai jawaban atas pertanyaan pencarian, Apakah yang membuat Sang Buddha puas akan PencerahanNya, Seperti apakah, dan dengan cara apakah Sang Buddha telah mempraktikkan sehingga Beliau terberkahi dengan pencapaian demikian. Oleh karena itu Sutta (khotbah) mengenai pembabaran ini adalah sangat penting dan layak dipelajari dengan mendalam dan terperinci.

Pada bagian pertama Sang Buddha menunjukkan cara-cara praktik yang harus dihindari oleh para bhikkhu atau mereka yang meninggalkan keduniawian, yang bercita-cita untuk mencapai kebosanan yang mengecewakan, lenyapnya kenikmatan dan kemelekatan yaitu Penerangan Sempurna atau Nibbàna. Ini adalah kedua ekstrim pemuasan indria dan penyiksaan-diri, keduanya harus dihindari oleh mereka yang bercita-cita untuk mencapai tujuan yang disebutkan di atas. PenemuanNya, demikianlah Beliau mengatakan kepada Kelima Petapa, adalah antara kedua ekstrim ini, dengan tidak mendekati salah satunya. Ini adalah praktik yang mendukung ‘Mata’ (kebijaksanaan). Pandangan terang, Kedamaian, Pengetahuan Tertinggi, Penerangan Sempurna, NIbbàna (padamnya kekotoran). Ini adalah Jalan Mulia Berunsur Delapan, yang terdiri dari Pandangan Benar, Kehendak Benar, Ucapan Benar, Perbuatan Benar, Penghidupan Benar, Usaha Benar, Perhatian Benar dan Meditasi Benar.

Pada bagian ke dua Beliau mengajarkan Dhamma kepada Kelima Petapa yang dengannya Beliau menjadi tercerahkan. Ini adalah akibat dari menghindari kedua ekstrim dan menapak apa yang disebut Jalan Tengah. Dhamma itu disebut Empat Kebenaran Mulia. Ini menyiratkan Kebenaran-kebenaran dari orang-orang mulia atau kebenaran-kebenaran yang memuliakan seseorang. Empat Kebenaran itu adalah:

Kebenaran Mulia Pertama tentang Dukkha, biasanya diterjemahkan sebagai Penderitaan. Sewaktu menjelaskan manifestasinya, Sang Buddha menunjukkan fenomena kelahiran, usia tua, kematian, kesedihan, ratapan, penyakit, dukacita, keputus-asaan, berkumpul dengan yang tidak menyenangkan, berpisah dengan yang menyenangkan atau yang dicintai dan akhirnya, sebagai suatu sintesa, tidak mendapatkan apa yang diinginkan. Rangkumannya, Kelima kelompok usnur kehidupan yang dilekati adalah (tempat bagi) penderitaan.

Kebenaran Mulia Ke dua tentang Dukkhasamudaya, Sebab Penderitaan. Sutta menunjuk pada Tanha atau keinginan sebagai penyebabnya. Ia menarik seseorang pada penjelmaan kembali atau kelahiran kembali, yang disertai dengan Nandi atau kenikmatan dan dengan keserakahan atau nafsu. Keinginan ini ada tiga jenis, yaitu, Keinginan untuk memiliki obyek-obyek kenikmatan indria, Keinginan untuk menjadi atau menjelma kembali dan Keinginan (pada aspek negative) untuk tidak menelma kembali (sebagai lawan dari jenis ke dua).

Kebenaran Mulia Ke tiga tentang Dukkhanirodha, Padamnya penderitaan. Menurut Sutta, hal ini dimungkinkan dengan cara memuntahkan keinginan dengan tanpa meninggalkan bekas, berpisah dengan, melepaskan dan kebebasan dari Keinginan, tanpa kemelekatan yang tertinggal.

Kebenaran Mulia ke empat tentang Dukkhanirodhagaminipatipada atau, singkatnya, Sang Jalan. Ini adalah apa yang disebut dengan Jalan Mulia Berunsur Delapan seperti yang telah disebutkan sebelumnya dan telah dijelaskan.

Pada bagian ke tiga, Sang Buddha menjelaskan seperti apakah yang disebut Penerangan Sempurna,. Ini menyiratkan munculnya pengetahuan secara spontan, atau berdasarkan intuisi, terhadap tiga putaran atau tahapan dari masing-masing dari Empat Kebenaran Mulia. Demikianlah Kebijaksanaan spontan atau Kebijaksanaan intuitif mengetahui bahwa

1.   (Sehubungan dengan Kebenaran Pertama) ini adalah penderitaan, maka penderitaan ini harus diketahui, dan ini telah diketahui sekarang;
2.   (Sehubungan dengan Kebenaran Ke dua) ini adalah sebab penderitaan, maka penyebab ini harus dilenyapkan, dan ini telah dilenyapkan sekarang.
3.   (Sehubungan dengan Kebenaran Ke tiga) ini adalah padanya penderitaan, maka padamnya ini harus dicapai, dan ini telah dicapai sekarang.
4.   (Sehubungan dengan Kebenaran Ke empat) ini adalah jalan menuju padamnya penderitaan, maka jalan ini harus dikembangkan, dan ini telah dikembangkan sempurna sekarang, yaitu, dalam segala hal.

Ada istilah lain yang merujuk pada pengetahuan demikian, yang bersinonim dengan Pencerahan. Yaitu yang disebut nana atau Pandangan Terang dan melibatkan tiga putaran atau tingkat kehalusan atau kemendalaman yang disebut:

a)   Saccanana: Pandangan Terang ke dalam sifat Kebenaran-kebenaran itu sendiri. Ini menyiratkan pengetahuan bagaimana ini adalah penderitaan, ini adalah Penyebabnya, ini adalah Padamnya dan ini adalah Jalan menuju ke sana.
b)   Kiccanana: Pandangan Terang ke dalam apa yang harus dilakukan pada masing-masingnya. Demikianlah penderitaan ini harus dikenali atau diketahui; Penyebabnya harus dilenyapkan atau dihilangkan; Padamnya harus dicapai; dan Sang Jalan menuju ke sana harus dikembangkan aatu disempurnakan.
c)   Katanana: Pandangan Terang ke dalam apa yang telah dilakukan sehubungan dengan masing-masing dari Empat Kebenaran. Menyiratkan pengetahuan bahwa segala penderitaan telah dikenali atau diketahui, tidak ada yang tersisa dari jenis ini. Sehubungan dengan Kebenaran ke dua, menyiratkan pengetahuan bahwa segala penyebab penderitaan telah dilenyapkan selamanya, tidak ada lagi yang tersisa untuk dilenyapkan lebih jauh lagi. Pada Kebenaran ke tiga, ini merujuk pada pengetahuan bahwa segala lenyapnya penderitaan telah dicapai, tidak ada lagi yang tersisa untuk dicapai lebih jauh lagi. Dan sehubungan dengan kebenaran ke empat, ini menunjukkan Pengetahuan bahwa segala Jalan (yaitu, praktik) yang menuju pada Padamnya telah diikuti, tidak ada lagi yang tersisa untuk dikembangkan lebih jauh lagi.
« Last Edit: 20 September 2010, 01:40:45 AM by Virya »
  Aku akan mengalami Usia tua, aku akan menderita penyakit, aku akan mengalami kematian. Segala yang ku Cintai, ku miliki, dan ku senangi akan Berubah dan terpisah dariku ....

Offline Adhitthana

  • Sebelumnya: Virya
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.508
  • Reputasi: 239
  • Gender: Male
Re: (PIC) Riwayat Hidup Buddha Gotama
« Reply #28 on: 20 September 2010, 01:57:25 AM »
(click to show/hide)

Setelah Sang Bhagava memberikan Pencerahan kepada kelima Petapa, Beliau bersama kelima siswa pertama-Nya itu berdiam di Taman Rusa di Isipatana untuk melewati musim hujan. Dan ketika Sang Bhagava sedang berjalan-jalan ditempat terbuka, Ia bertemu putra seorang saudagar kaya, bernama Yasa yang mengalami kegundahan batin terhadap kehidupannya dan pergi dari rumahnya. Yasa tidak lain adalah putra dari Sujata dari Senanigama, seorang wanita yang pernah mempersembahkan nasi susu kepada Bodhisatta sebelum Pencerahan-Nya.

Setelah bertemu dengan Sang Bhagava, Yasa mendengarkan Dhamma yang dibabarkan oleh Sang Bhagava dengan saksama. Dan ketika batinnya sudah siap, bisa menerima, bebas rintangan, bersemangat, dan yakin, Sang Bhagava membabarkan Empat Kebenaran Arya.

Ketika ayah Yasa mencari putranya yang telah pergi dari rumah, ia pun bertemu dengan Sang Bhagava. Kemudian Sang Bhagava juga mengajarkannya ajaran bertahap dan Empat Kebenaran Arya seperti yang telah dilakukan-Nya terhadap Yasa. Setelah pembabaran Dhamma selesai, ayah Yasa mencapai Sotapanna dan berlindung pada Tiratana (Buddha, Dhamma dan Sangha), dan Yasa pun mencapai tataran Arahat dan menjadi bhikkhu.

Selanjutnya berturut-turut, keluarga ibu Yasa dan mantan istri Yasa menembus Dhamma dan menjadi Sotapanna setelah Sang Bhagava mengajarkan Dhamma kepada mereka ketika ayah Yasa mengundang Sang Bhagava ke rumahnya.

Begitu pula kelima puluh empat teman Yasa yang empat diantaranya adalah sahabat karib Yasa yang bernama Vimala, Subahu, Punnaji, dan Gavampati, mereka juga menerima pengajaran dari Sang Bhagava, menerima penahbisan menjadi bhikkhu, dan mencapai tataran Arahat.

Demikianlah, pada saat itu terdapat enam puluh satu Arahat di dunia, yaitu, Buddha, Bhikkhu Pancavaggiya, Bhikkhu Yasa, dan kelima puluh empat sahabat Yasa.

Pada saat berakhirnya tiga bulan masa kediaman musim hujan (vassana), Sang Bhagava telah mencerahkan enam puluh tiga orang. Di antara mereka, enam puluh orang mencapai tataran Arahat dan memasuki Persamuhan Bhikkhu, sementara yang lainnya - ayah, ibu, dan mantan istri Yasa menjadi Sotapanna dan terkukuhkan sebagai siswa awam sampai akhir hayat mereka. Kemudian, Sang Bhagava bermaksud menyebarkan Dhamma kepada semua makhluk di alam semesta.
  Aku akan mengalami Usia tua, aku akan menderita penyakit, aku akan mengalami kematian. Segala yang ku Cintai, ku miliki, dan ku senangi akan Berubah dan terpisah dariku ....

Offline Adhitthana

  • Sebelumnya: Virya
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.508
  • Reputasi: 239
  • Gender: Male
Re: (PIC) Riwayat Hidup Buddha Gotama
« Reply #29 on: 20 September 2010, 02:02:41 AM »

Kemudian Sang Bhagava berkata kepada keenam puluh bhikkhu Arahant tersebut:
“Para Bhikkhu, Saya telah terbebas dan semua ikatan yang mengikat makhluk hidup, baik para dewa maupun manusia. Kalian juga telah terbebas dan semua ikatan yang mengikat makhluk hidup, baik para dewa maupun manusia. Pergilah, para Bhikkhu, demi kesejahteraan dan kebahagiaan banyak makhluk, atas dasar welas asih kepada dunia, demi kebaikan, kesejahteraan, dan kebahagiaan para dewa dan manusia (caratha, bhikkhave, carikam bahujanahitaya bahujanasukhaya lokanukampaya atthtaya hitaya sukhaya devamanussanam). Janganlah pergi berdua dalam satu jalan! Para Bhikkhu, babarkanlah Dhamma yang indah pada awalnya, indah pada pertengahannya, dan indah pada akhirnya, dalam makna maupun isinya. Serukanlah hidup suci, yang sungguh sempurna dan murni. Ada makhluk dengan sedikit debu di mata yang akan tersesat karena tidak mendengarkan Dhamma. Ada mereka yang mampu memahami Dhamma. Para Bhikkhu, Saya sendiri akan pergi ke Uruvela di Senanigama untuk membabarkan Dhamma.”



Demikianlah, Yang Terberkahi mengutus keenam puluh siswa¬Nya yang telah tercerahkan untuk mengembara dan satu tempat ke tempat lain. Ini menandakan karya misionari pertama dalam sejarah umat manusia. Mereka menyebarluaskan Dhamma yang luhur atas dasar welas asih terhadap makhluk lain dan tanpa mengharapkan pamrih apa pun. Mereka membahagiakan orang dengan mengajarkan moralitas, memberikan bimbingan meditasi, dan menunjukkan manfaat hidup suci.
  Aku akan mengalami Usia tua, aku akan menderita penyakit, aku akan mengalami kematian. Segala yang ku Cintai, ku miliki, dan ku senangi akan Berubah dan terpisah dariku ....