topic short url: http://dhct.ws/f17078

Author Topic: Mahasatipatthana Sutta, Bahiya Sutta dan Mulapariyaya Sutta  (Read 3576 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline Utphala Dhamma

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 109
  • Reputasi: 16
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Bagaimana agar tidak terjadi pemikiran, pengkonsepan atau gagasan yang diliputi kekotoran-kekotoran batin yang dipimpin oleh lobha (tanha, mana dan ditthi termasuk sakkhaya ditth), dosa dan moha, melakukan  "maññati", sehingga sesuatu dipahami atau dilihat sebagaimana adanya, sesuai uraian dalam Mulapariyaya Sutta:

Caranya adalah berlatih melihat dengan dilandasi penyadaran, pengamatan atau perenungan terhadap Empat Landasan Perhatian (4 Satipatthana) sesuai petunjuk Sang Buddha dalam Mahasatipatthana Sutta,

1. Mengetahui JASMANI (termasuk empat unsur), hanyalah sebagai JASMANI semata (kayanupassana).

2. Mengetahui PERASAAN, hanyalah sebagai PERASAAN semata (vedananupassana).

3. Mengetahui PIKIRAN, hanyalah sebagai PIKIRAN semata (cittanupassana).
~> Pikiran atau citta di sini adalah aktivitas bersama namakhandha selain rupa dan vedana, yakni sañña, sankhara & viññana; disatukan sebagai satu objek landasan kesadaran pikiran/citta, karena pada saat teramati, tiga khandha ini hadir bersama.

Catatan:
Yang ada hanya fenomena jasmani semata dan fenomena batin semata yang bersifat anicca, dukkha dan anatta; tidak lebih jauh lagi, tidak ada gagasan mengenai adanya aku, diriku dan milikku yang terlibat; sesuai dengan petunjuk yang diberikan Sang Buddha pada Bahiya dalam Bahiya Sutta.
 
d. Mengetahui SEGALA SESUATU/FENOMENA/dhamma, hanyalah sebagai FENOMENA/dhamma semata (dhammanupassana).
~> Fenomena apapun (dhamma) baik fenomena jasmani, batin maupun Nibbana (Fenomena bentuk-bentuk batin seperti 5 Rintangan Batin dan 7 Faktor Pencerahan; atau juga fenomena batin jasmani baik dalam kerangka pancakhandha maupun dalam kerangka enam indera internal, enam objek eksternal & belenggu yang menyertainya, dan juga empat kesunyataan mulia yang berupa fenomena adanya dukkha, fenomena asal mulanya, fenomena berhentinya, serta fenomena yang mengkondisi lenyapnya) dapat diamati sebagai semata fenomena yang bukan suatu diri/ruh/atta, tidak mengandung suatu diri/ruh/atta, bukan milik suatu diri/ruh/atta, dan tak berhubungan dengan suatu diri/ruh/atta; yang memilikii sifat, karakter, corak, mekanisme, prilaku, kondisi-kondisi penunjang dan/atau hukumnya sendiri. 

Offline Peacemind

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 970
  • Reputasi: 74
Re: Mahasatipatthana Sutta, Bahiya Sutta dan Mulapariyaya Sutta
« Reply #1 on: 03 July 2010, 08:48:27 AM »
Bagaimana agar tidak terjadi pemikiran, pengkonsepan atau gagasan yang diliputi kekotoran-kekotoran batin yang dipimpin oleh lobha (tanha, mana dan ditthi termasuk sakkhaya ditth), dosa dan moha, melakukan  "maññati", sehingga sesuatu dipahami atau dilihat sebagaimana adanya, sesuai uraian dalam Mulapariyaya Sutta:

Caranya adalah berlatih melihat dengan dilandasi penyadaran, pengamatan atau perenungan terhadap Empat Landasan Perhatian (4 Satipatthana) sesuai petunjuk Sang Buddha dalam Mahasatipatthana Sutta,

1. Mengetahui JASMANI (termasuk empat unsur), hanyalah sebagai JASMANI semata (kayanupassana).

2. Mengetahui PERASAAN, hanyalah sebagai PERASAAN semata (vedananupassana).

3. Mengetahui PIKIRAN, hanyalah sebagai PIKIRAN semata (cittanupassana).
~> Pikiran atau citta di sini adalah aktivitas bersama namakhandha selain rupa dan vedana, yakni sañña, sankhara & viññana; disatukan sebagai satu objek landasan kesadaran pikiran/citta, karena pada saat teramati, tiga khandha ini hadir bersama.

Catatan:
Yang ada hanya fenomena jasmani semata dan fenomena batin semata yang bersifat anicca, dukkha dan anatta; tidak lebih jauh lagi, tidak ada gagasan mengenai adanya aku, diriku dan milikku yang terlibat; sesuai dengan petunjuk yang diberikan Sang Buddha pada Bahiya dalam Bahiya Sutta.
 
d. Mengetahui SEGALA SESUATU/FENOMENA/dhamma, hanyalah sebagai FENOMENA/dhamma semata (dhammanupassana).
~> Fenomena apapun (dhamma) baik fenomena jasmani, batin maupun Nibbana (Fenomena bentuk-bentuk batin seperti 5 Rintangan Batin dan 7 Faktor Pencerahan; atau juga fenomena batin jasmani baik dalam kerangka pancakhandha maupun dalam kerangka enam indera internal, enam objek eksternal & belenggu yang menyertainya, dan juga empat kesunyataan mulia yang berupa fenomena adanya dukkha, fenomena asal mulanya, fenomena berhentinya, serta fenomena yang mengkondisi lenyapnya) dapat diamati sebagai semata fenomena yang bukan suatu diri/ruh/atta, tidak mengandung suatu diri/ruh/atta, bukan milik suatu diri/ruh/atta, dan tak berhubungan dengan suatu diri/ruh/atta; yang memilikii sifat, karakter, corak, mekanisme, prilaku, kondisi-kondisi penunjang dan/atau hukumnya sendiri. 


Thread yang sangat mengagumkan. Namun berkaitan dengan pernyataan yang saya blok di atas, saat ini ada beberapa orang berpendapat bahwa kesadaran dalam Vipassana tidak bisa dilatih. Bagaimana pendapat saudara Utphala? Mungkin teman2 lain juga ingin menjawab?

Offline fabian c

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.095
  • Reputasi: 127
  • Gender: Male
  • 2 akibat pandangan salah: neraka atau rahim hewan
Re: Mahasatipatthana Sutta, Bahiya Sutta dan Mulapariyaya Sutta
« Reply #2 on: 03 July 2010, 08:54:51 AM »
Bro Utphala dhamma yang baik, sebenarnya prinsip Vipassana ini sangat mudah, inilah yang dimaksud melihat apa adanya, tetapi banyak meditator yang mudah sekali terjebak oleh "konsep aku", dan sulit menerima bahwa yang disebut aku dalam kebenaran tertinggi hanyalah konsep/pandangan/anggapan/persepsi/DITTHI, tak lebih dari itu.

Pandangan salah kedua adalah bahwa dalam meditasi Vipassana tak diperlukan konsentrasi.
Bila dalam meditasi Vipassana batin hanya melihat apa adanya dan tak menanggapi apa yang muncul di ke empat landasan perhatian (hanya memperhatikan), maka akhirnya batin tak akan berkelana kesana-kemari. Karena batin tak berkelana kesana kemari maka batin menjadi tenang.
Karena batin menjadi tenang maka perhatian menjadi terpusat.
Perhatian yang terpusat inilah yang disebut konsentrasi.

Karena perhatian menjadi terpusat maka meditator akan melihat ketiga karakteristik dari segala sesuatu yang muncul (anicca, dukkha, anatta) dan ia melihat apa adanya.

 _/\_
Tiga hal ini, O para bhikkhu dilakukan secara rahasia, bukan secara terbuka.
Bercinta dengan wanita, mantra para Brahmana dan pandangan salah.

Tiga hal ini, O para Bhikkhu, bersinar secara terbuka, bukan secara rahasia.
Lingkaran rembulan, lingkaran matahari serta Dhamma dan Vinaya Sang Tathagata

Offline fabian c

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.095
  • Reputasi: 127
  • Gender: Male
  • 2 akibat pandangan salah: neraka atau rahim hewan
Re: Mahasatipatthana Sutta, Bahiya Sutta dan Mulapariyaya Sutta
« Reply #3 on: 03 July 2010, 09:21:31 AM »
Bagaimana agar tidak terjadi pemikiran, pengkonsepan atau gagasan yang diliputi kekotoran-kekotoran batin yang dipimpin oleh lobha (tanha, mana dan ditthi termasuk sakkhaya ditth), dosa dan moha, melakukan  "maññati", sehingga sesuatu dipahami atau dilihat sebagaimana adanya, sesuai uraian dalam Mulapariyaya Sutta:

Caranya adalah berlatih melihat dengan dilandasi penyadaran, pengamatan atau perenungan terhadap Empat Landasan Perhatian (4 Satipatthana) sesuai petunjuk Sang Buddha dalam Mahasatipatthana Sutta,

1. Mengetahui JASMANI (termasuk empat unsur), hanyalah sebagai JASMANI semata (kayanupassana).

2. Mengetahui PERASAAN, hanyalah sebagai PERASAAN semata (vedananupassana).

3. Mengetahui PIKIRAN, hanyalah sebagai PIKIRAN semata (cittanupassana).
~> Pikiran atau citta di sini adalah aktivitas bersama namakhandha selain rupa dan vedana, yakni sañña, sankhara & viññana; disatukan sebagai satu objek landasan kesadaran pikiran/citta, karena pada saat teramati, tiga khandha ini hadir bersama.

Catatan:
Yang ada hanya fenomena jasmani semata dan fenomena batin semata yang bersifat anicca, dukkha dan anatta; tidak lebih jauh lagi, tidak ada gagasan mengenai adanya aku, diriku dan milikku yang terlibat; sesuai dengan petunjuk yang diberikan Sang Buddha pada Bahiya dalam Bahiya Sutta.
 
d. Mengetahui SEGALA SESUATU/FENOMENA/dhamma, hanyalah sebagai FENOMENA/dhamma semata (dhammanupassana).
~> Fenomena apapun (dhamma) baik fenomena jasmani, batin maupun Nibbana (Fenomena bentuk-bentuk batin seperti 5 Rintangan Batin dan 7 Faktor Pencerahan; atau juga fenomena batin jasmani baik dalam kerangka pancakhandha maupun dalam kerangka enam indera internal, enam objek eksternal & belenggu yang menyertainya, dan juga empat kesunyataan mulia yang berupa fenomena adanya dukkha, fenomena asal mulanya, fenomena berhentinya, serta fenomena yang mengkondisi lenyapnya) dapat diamati sebagai semata fenomena yang bukan suatu diri/ruh/atta, tidak mengandung suatu diri/ruh/atta, bukan milik suatu diri/ruh/atta, dan tak berhubungan dengan suatu diri/ruh/atta; yang memilikii sifat, karakter, corak, mekanisme, prilaku, kondisi-kondisi penunjang dan/atau hukumnya sendiri. 


Thread yang sangat mengagumkan. Namun berkaitan dengan pernyataan yang saya blok di atas, saat ini ada beberapa orang berpendapat bahwa kesadaran dalam Vipassana tidak bisa dilatih. Bagaimana pendapat saudara Utphala? Mungkin teman2 lain juga ingin menjawab?

Samanera yang saya hormati, ada dua kata dalam bahasa Inggris yang bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia disebut kesadaran, yaitu:
-   Sadar (conscious), yaitu kesadaran yang umum, kesadaran ini dimiliki setiap orang bahkan juga dimiliki oleh hewan, dimiliki oleh semua orang, baik yang berlatih meditasi atau tidak pernah meditasi, inilah kesadaran yang tak terlatih dan memang ada secara alami pada setiap manusia. Tetapi kesadaran ini tidak murni (hampir selalu menanggapi segala sesuatu yang muncul pada batin dan jasmani).
-   Arti kesadaran yang kedua adalah bare awareness, inilah yang dilatih oleh meditator, inilah yang bisa dikembangkan, inilah yang dilatih. Kadang saya sulit membedakan arti dari bare awareness sebagai kesadaran murni atau perhatian murni karena tipis perbedaannya, yaitu perhatian/kesadaran yang tak menanggapi, sepenuhnya hanya tahu dan melihat (just knowing and seeing).
 
 ^:)^ 
« Last Edit: 03 July 2010, 09:26:21 AM by fabian c »
Tiga hal ini, O para bhikkhu dilakukan secara rahasia, bukan secara terbuka.
Bercinta dengan wanita, mantra para Brahmana dan pandangan salah.

Tiga hal ini, O para Bhikkhu, bersinar secara terbuka, bukan secara rahasia.
Lingkaran rembulan, lingkaran matahari serta Dhamma dan Vinaya Sang Tathagata

Offline andry

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.083
  • Reputasi: 127
Re: Mahasatipatthana Sutta, Bahiya Sutta dan Mulapariyaya Sutta
« Reply #4 on: 03 July 2010, 09:40:38 AM »
hmm....
Samma Vayama

Offline Peacemind

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 970
  • Reputasi: 74
Re: Mahasatipatthana Sutta, Bahiya Sutta dan Mulapariyaya Sutta
« Reply #5 on: 03 July 2010, 10:26:39 AM »
ada dua kata dalam bahasa Inggris yang bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia disebut kesadaran, yaitu:
-   Sadar (conscious), yaitu kesadaran yang umum, kesadaran ini dimiliki setiap orang bahkan juga dimiliki oleh hewan, dimiliki oleh semua orang, baik yang berlatih meditasi atau tidak pernah meditasi, inilah kesadaran yang tak terlatih dan memang ada secara alami pada setiap manusia. Tetapi kesadaran ini tidak murni (hampir selalu menanggapi segala sesuatu yang muncul pada batin dan jasmani).
-   Arti kesadaran yang kedua adalah bare awareness, inilah yang dilatih oleh meditator, inilah yang bisa dikembangkan, inilah yang dilatih. Kadang saya sulit membedakan arti dari bare awareness sebagai kesadaran murni atau perhatian murni karena tipis perbedaannya, yaitu perhatian/kesadaran yang tak menanggapi, sepenuhnya hanya tahu dan melihat (just knowing and seeing).
 
 ^:)^ 

Jadi kesadaran dalam vipasana / bare awareness / perhatian murni muncul melalui pengembangan / latihan? JIka demikian, anggapan bahwa kesadaran vipassana tidak perlu dilatih adalah salah.

Offline fabian c

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.095
  • Reputasi: 127
  • Gender: Male
  • 2 akibat pandangan salah: neraka atau rahim hewan
Re: Mahasatipatthana Sutta, Bahiya Sutta dan Mulapariyaya Sutta
« Reply #6 on: 03 July 2010, 03:49:03 PM »
ada dua kata dalam bahasa Inggris yang bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia disebut kesadaran, yaitu:
-   Sadar (conscious), yaitu kesadaran yang umum, kesadaran ini dimiliki setiap orang bahkan juga dimiliki oleh hewan, dimiliki oleh semua orang, baik yang berlatih meditasi atau tidak pernah meditasi, inilah kesadaran yang tak terlatih dan memang ada secara alami pada setiap manusia. Tetapi kesadaran ini tidak murni (hampir selalu menanggapi segala sesuatu yang muncul pada batin dan jasmani).
-   Arti kesadaran yang kedua adalah bare awareness, inilah yang dilatih oleh meditator, inilah yang bisa dikembangkan, inilah yang dilatih. Kadang saya sulit membedakan arti dari bare awareness sebagai kesadaran murni atau perhatian murni karena tipis perbedaannya, yaitu perhatian/kesadaran yang tak menanggapi, sepenuhnya hanya tahu dan melihat (just knowing and seeing).
 
 ^:)^ 

Jadi kesadaran dalam vipassana / bare awareness / perhatian murni muncul melalui pengembangan / latihan? JIka demikian, anggapan bahwa kesadaran vipassana tidak perlu dilatih adalah salah.
Samanera yang saya hormati, tentu saja bare awareness perlu kita latih, karena kecenderungan batin setiap manusia awam adalah menanggapi setiap fenomena yang muncul pada batin dan jasmani. Untuk membuatnya menjadi tidak menanggapi diperlukan latihan terus-menerus.

Bila ada yang mengatakan bahwa bare awareness tidak perlu dilatih adalah erroneous, karena pada dasarnya batin putuhujana hampir selalu menanggapi setiap bentuk batin atau jasmani yang muncul tanpa dia sadari. Selama seseorang tidak bisa sepenuhnya "hanya mengetahui (just aware)", sepenuhnya tanpa menanggapi, sepenuhnya hanya mengetahui. Maka pencerahan tak akan tercapai.

Contoh sederhana adalah gerakan yang kita sebut sebagai gerak refleks, sebenarnya gerakan tak ada yang refleks, semua disertai kehendak (bahkan gerak denyut jantung, kalau tidak salah juga disertai kehendak, teman-teman yang mengerti Abhidhamma tolong dikoreksi bila salah). Bila tidak muncul kehendak, maka jasmani tak akan bergerak.

Gerakan refleks menggaruk, menepuk, menggerakkan tubuh dsbnya adalah gerakan yang selalu didahului oleh kehendak yang mungkin juga tidak disadari oleh orang itu. Bagaimanakah timbulnya kehendak untuk menggaruk atau menepuk? itu disebabkan muncul suatu fenomena batin (misalnya nyamuk hinggap) dan kesadaran menanggapi (tidak suka) lalu muncul kehendak untuk menghilangkan gangguan (hendak menepuk) lalu tangan bergerak (tangan menepuk), semua peristiwa ini ini berlangsung tidak sampai satu detik. Untuk dapat mengetahui kehendak yang muncul secepat kilat diperlukan bare awareness yang kuat.

Sikap batin yang tidak menanggapi adalah bare awareness, yang tidak muncul tanpa latihan. Latihan Vipassana adalah melatih bare awareness. Bare awareness inilah yang didukung konsentrasi yang melihat segala sesuatu apa adanya.

Mohon dikoreksi bila salah.

 ^:)^
« Last Edit: 03 July 2010, 04:01:38 PM by fabian c »
Tiga hal ini, O para bhikkhu dilakukan secara rahasia, bukan secara terbuka.
Bercinta dengan wanita, mantra para Brahmana dan pandangan salah.

Tiga hal ini, O para Bhikkhu, bersinar secara terbuka, bukan secara rahasia.
Lingkaran rembulan, lingkaran matahari serta Dhamma dan Vinaya Sang Tathagata

Offline fabian c

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.095
  • Reputasi: 127
  • Gender: Male
  • 2 akibat pandangan salah: neraka atau rahim hewan
Re: Mahasatipatthana Sutta, Bahiya Sutta dan Mulapariyaya Sutta
« Reply #7 on: 03 July 2010, 05:34:58 PM »
Quote
Gerakan refleks menggaruk, menepuk, menggerakkan tubuh dsbnya adalah gerakan yang selalu didahului oleh kehendak yang mungkin juga tidak disadari oleh orang itu. Bagaimanakah timbulnya kehendak untuk menggaruk atau menepuk? itu disebabkan muncul suatu fenomena batin (misalnya nyamuk hinggap) dan kesadaran menanggapi (tidak suka) lalu muncul kehendak untuk menghilangkan gangguan (hendak menepuk) lalu tangan bergerak (tangan menepuk), semua peristiwa ini ini berlangsung tidak sampai satu detik. Untuk dapat mengetahui kehendak yang muncul secepat kilat diperlukan bare awareness yang kuat.

maaf salah ketik, seharusnya:

Gerakan refleks menggaruk, menepuk, menggerakkan tubuh dsbnya adalah gerakan yang selalu didahului oleh kehendak yang mungkin juga tidak disadari oleh orang itu. Bagaimanakah timbulnya kehendak untuk menggaruk atau menepuk? itu disebabkan muncul suatu fenomena (misalnya nyamuk hinggap) dan kesadaran menanggapi (tidak suka) lalu muncul kehendak untuk menghilangkan gangguan (hendak menepuk) lalu tangan bergerak (tangan menepuk), semua peristiwa ini ini berlangsung tidak sampai satu detik. Untuk dapat mengetahui kehendak yang muncul secepat kilat diperlukan bare awareness yang kuat
Tiga hal ini, O para bhikkhu dilakukan secara rahasia, bukan secara terbuka.
Bercinta dengan wanita, mantra para Brahmana dan pandangan salah.

Tiga hal ini, O para Bhikkhu, bersinar secara terbuka, bukan secara rahasia.
Lingkaran rembulan, lingkaran matahari serta Dhamma dan Vinaya Sang Tathagata

Offline Peacemind

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 970
  • Reputasi: 74
Re: Mahasatipatthana Sutta, Bahiya Sutta dan Mulapariyaya Sutta
« Reply #8 on: 04 July 2010, 08:57:07 AM »
 [at] Fabian:

Saya pernah membaca perumpamaan tukang membuat perhiasan dari emas yang diberikan Sang BUddha kaitannya dengan meditasi. Sebelum emas mentah dibuat menjadi berbagai perhiasan, seorang pandai emas terkadang harus membakarnya, mendinginkannya dan terkadang hanya dilihat. Dengan demikian, emas tersebut akan menjadi fleksibel dan bisa dibuat menjadi berbagai macam perhiasan sesuai dengan keinginan si tukang emas tersebut. Demikian pula, dalam praktik meditasi, ada saat2 tertentu di mana seseorang harus menggunakan usaha, mengurangi usaha dan ada saat2 pula di mana seorang yogi hanya melihat tanpa menambah usaha ataupun menguranginya. Ketika seorang yogi dipengaruhi kemalasan, ia hendaknya berusaha keras untuk melenyapkan kemalasan tersebut, dan ketika usahanya berlebihan sehingga menimbulkan pikiran lelah, ia hendaknya mengurangi viriyanya. Dan ketika pikiran menjadi seimbang bebas dari kemalasan ataupun pikiran lelah karena usaha berlebihan, saat itulah, seorang yogi hanya melihatnya saja. Saya melihat bahwa ketidak pikiran sudah ada dalam bare awareness, usaha pun akan lenyap karena saat itu sudah ada dalam pikiran seimbang atau secara singkat sudah ada pada Jalan Tengah. Namun sebelum berada pada bare awareness / Jalan Tengah, tentu latihan / usaha untuk menambah semangat atau menenangkan pikiran yang lelah tetap ada. Bagaimana pendapat saudara Fabian mengenai ini? Thanks.

Offline fabian c

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.095
  • Reputasi: 127
  • Gender: Male
  • 2 akibat pandangan salah: neraka atau rahim hewan
Re: Mahasatipatthana Sutta, Bahiya Sutta dan Mulapariyaya Sutta
« Reply #9 on: 04 July 2010, 10:08:59 AM »
[at] Fabian:

Saya pernah membaca perumpamaan tukang membuat perhiasan dari emas yang diberikan Sang BUddha kaitannya dengan meditasi. Sebelum emas mentah dibuat menjadi berbagai perhiasan, seorang pandai emas terkadang harus membakarnya, mendinginkannya dan terkadang hanya dilihat. Dengan demikian, emas tersebut akan menjadi fleksibel dan bisa dibuat menjadi berbagai macam perhiasan sesuai dengan keinginan si tukang emas tersebut. Demikian pula, dalam praktik meditasi, ada saat2 tertentu di mana seseorang harus menggunakan usaha, mengurangi usaha dan ada saat2 pula di mana seorang yogi hanya melihat tanpa menambah usaha ataupun menguranginya. Ketika seorang yogi dipengaruhi kemalasan, ia hendaknya berusaha keras untuk melenyapkan kemalasan tersebut, dan ketika usahanya berlebihan sehingga menimbulkan pikiran lelah, ia hendaknya mengurangi viriyanya. Dan ketika pikiran menjadi seimbang bebas dari kemalasan ataupun pikiran lelah karena usaha berlebihan, saat itulah, seorang yogi hanya melihatnya saja. Saya melihat bahwa ketidak pikiran sudah ada dalam bare awareness, usaha pun akan lenyap karena saat itu sudah ada dalam pikiran seimbang atau secara singkat sudah ada pada Jalan Tengah. Namun sebelum berada pada bare awareness / Jalan Tengah, tentu latihan / usaha untuk menambah semangat atau menenangkan pikiran yang lelah tetap ada. Bagaimana pendapat saudara  Fabian mengenai ini? Thanks.

Samanera yang saya hormati, memang demikianlah selama konsentrasi (samadhi) dan semangat (viriya) belum seimbang maka sering timbul rasa kantuk dan kegelisahan. Mungkin referensi yang samanera maksudkan adalah berikut ini.

http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/an/an03/an03.100.01-10.than.html

Seingat saya keseimbangan keduanya ini bisa lebih jelas disadari pada latihan Vipassana. Umumnya bila meditator dengan usaha pantang menyerah selalu bertahan dari rasa kantuk dan selalu berusaha tidak mau menyerah (atapi) terhadap rasa kantuk , maka suatu ketika akan muncul kekuatan viriya yang mengatasi rasa ngantuk yang disebabkan kemalasan tersebut.

Umumnya kemunculan viriya tersebut diawali dengan rasa kantuk yang sangat berat. Meditator bertahan dan juga terus mempertahankan perhatian dan kesadarannya, lalu pada puncak kekuatan bertahan maka tiba-tiba semua rasa kantuk lenyap, bagai suasana mendung di sore hari  yang mendadak tersapu oleh matahari siang yang terik. Setelah semua rasa kantuk lenyap, batin menjadi jernih dan cerah...

Bila meditator terus melanjutkan meditasinya tanpa terputus maka, hari-hari berikutnya ia tidak lagi diganggu rasa kantuk di siang hari (terutama sesudah makan siang), kecuali malam hari di saat badan sudah lelah. Pada saat ini kekuatan semangat (viriya) sudah cukup mendukung pengembangan konsentrasi. Ia dapat bermeditasi dengan baik dari pagi hari hingga malam hari. menurut saya inilah tanda-tanda viriya yang telah mengatasi thinamidha, dan mencapai keseimbangan antara konsentrasi dan semangat.

Menurut yang saya tahu demikian Samanera.

 ^:)^
« Last Edit: 04 July 2010, 10:26:38 AM by fabian c »
Tiga hal ini, O para bhikkhu dilakukan secara rahasia, bukan secara terbuka.
Bercinta dengan wanita, mantra para Brahmana dan pandangan salah.

Tiga hal ini, O para Bhikkhu, bersinar secara terbuka, bukan secara rahasia.
Lingkaran rembulan, lingkaran matahari serta Dhamma dan Vinaya Sang Tathagata

Offline Peacemind

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 970
  • Reputasi: 74
Re: Mahasatipatthana Sutta, Bahiya Sutta dan Mulapariyaya Sutta
« Reply #10 on: 04 July 2010, 10:59:09 AM »
[at] Fabian:

Saya pernah membaca perumpamaan tukang membuat perhiasan dari emas yang diberikan Sang BUddha kaitannya dengan meditasi. Sebelum emas mentah dibuat menjadi berbagai perhiasan, seorang pandai emas terkadang harus membakarnya, mendinginkannya dan terkadang hanya dilihat. Dengan demikian, emas tersebut akan menjadi fleksibel dan bisa dibuat menjadi berbagai macam perhiasan sesuai dengan keinginan si tukang emas tersebut. Demikian pula, dalam praktik meditasi, ada saat2 tertentu di mana seseorang harus menggunakan usaha, mengurangi usaha dan ada saat2 pula di mana seorang yogi hanya melihat tanpa menambah usaha ataupun menguranginya. Ketika seorang yogi dipengaruhi kemalasan, ia hendaknya berusaha keras untuk melenyapkan kemalasan tersebut, dan ketika usahanya berlebihan sehingga menimbulkan pikiran lelah, ia hendaknya mengurangi viriyanya. Dan ketika pikiran menjadi seimbang bebas dari kemalasan ataupun pikiran lelah karena usaha berlebihan, saat itulah, seorang yogi hanya melihatnya saja. Saya melihat bahwa ketidak pikiran sudah ada dalam bare awareness, usaha pun akan lenyap karena saat itu sudah ada dalam pikiran seimbang atau secara singkat sudah ada pada Jalan Tengah. Namun sebelum berada pada bare awareness / Jalan Tengah, tentu latihan / usaha untuk menambah semangat atau menenangkan pikiran yang lelah tetap ada. Bagaimana pendapat saudara  Fabian mengenai ini? Thanks.

Samanera yang saya hormati, memang demikianlah selama konsentrasi (samadhi) dan semangat (viriya) belum seimbang maka sering timbul rasa kantuk dan kegelisahan. Mungkin referensi yang samanera maksudkan adalah berikut ini.

http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/an/an03/an03.100.01-10.than.html

Seingat saya keseimbangan keduanya ini bisa lebih jelas disadari pada latihan Vipassana. Umumnya bila meditator dengan usaha pantang menyerah selalu bertahan dari rasa kantuk dan selalu berusaha tidak mau menyerah (atapi) terhadap rasa kantuk , maka suatu ketika akan muncul kekuatan viriya yang mengatasi rasa ngantuk yang disebabkan kemalasan tersebut.

Umumnya kemunculan viriya tersebut diawali dengan rasa kantuk yang sangat berat. Meditator bertahan dan juga terus mempertahankan perhatian dan kesadarannya, lalu pada puncak kekuatan bertahan maka tiba-tiba semua rasa kantuk lenyap, bagai suasana mendung di sore hari  yang mendadak tersapu oleh matahari siang yang terik. Setelah semua rasa kantuk lenyap, batin menjadi jernih dan cerah...

Bila meditator terus melanjutkan meditasinya tanpa terputus maka, hari-hari berikutnya ia tidak lagi diganggu rasa kantuk di siang hari (terutama sesudah makan siang), kecuali malam hari di saat badan sudah lelah. Pada saat ini kekuatan semangat (viriya) sudah cukup mendukung pengembangan konsentrasi. Ia dapat bermeditasi dengan baik dari pagi hari hingga malam hari. menurut saya inilah tanda-tanda viriya yang telah mengatasi thinamidha, dan mencapai keseimbangan antara konsentrasi dan semangat.

Menurut yang saya tahu demikian Samanera.

 ^:)^

Dalam konteks yang anda sebutkan, sebenarnya saya sangat setuju. Memang viriya mampu mengatasi rasa ngantuk hingga pikiran akhirnya mencapai kejernihan / fresh dan keseimbangan. Isi sutta dlam link yang diberikan agak berbeda dari yang saya maksud padahal referensinya tertulis sama yaitu AN, vol. I, p. 256. Yang saya maksud ada di sini http://www.dhammasara.webs.com/NimittaSutta.html. Saya telah mencocokkan dengan Chaṭṭhasaṇgayana dan juga terjemahan Rhys. David. Silahkan dilihat di sana.

Offline fabian c

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.095
  • Reputasi: 127
  • Gender: Male
  • 2 akibat pandangan salah: neraka atau rahim hewan
Re: Mahasatipatthana Sutta, Bahiya Sutta dan Mulapariyaya Sutta
« Reply #11 on: 04 July 2010, 11:10:51 AM »
[at] Fabian:

Saya pernah membaca perumpamaan tukang membuat perhiasan dari emas yang diberikan Sang BUddha kaitannya dengan meditasi. Sebelum emas mentah dibuat menjadi berbagai perhiasan, seorang pandai emas terkadang harus membakarnya, mendinginkannya dan terkadang hanya dilihat. Dengan demikian, emas tersebut akan menjadi fleksibel dan bisa dibuat menjadi berbagai macam perhiasan sesuai dengan keinginan si tukang emas tersebut. Demikian pula, dalam praktik meditasi, ada saat2 tertentu di mana seseorang harus menggunakan usaha, mengurangi usaha dan ada saat2 pula di mana seorang yogi hanya melihat tanpa menambah usaha ataupun menguranginya. Ketika seorang yogi dipengaruhi kemalasan, ia hendaknya berusaha keras untuk melenyapkan kemalasan tersebut, dan ketika usahanya berlebihan sehingga menimbulkan pikiran lelah, ia hendaknya mengurangi viriyanya. Dan ketika pikiran menjadi seimbang bebas dari kemalasan ataupun pikiran lelah karena usaha berlebihan, saat itulah, seorang yogi hanya melihatnya saja. Saya melihat bahwa ketidak pikiran sudah ada dalam bare awareness, usaha pun akan lenyap karena saat itu sudah ada dalam pikiran seimbang atau secara singkat sudah ada pada Jalan Tengah. Namun sebelum berada pada bare awareness / Jalan Tengah, tentu latihan / usaha untuk menambah semangat atau menenangkan pikiran yang lelah tetap ada. Bagaimana pendapat saudara  Fabian mengenai ini? Thanks.

Samanera yang saya hormati, memang demikianlah selama konsentrasi (samadhi) dan semangat (viriya) belum seimbang maka sering timbul rasa kantuk dan kegelisahan. Mungkin referensi yang samanera maksudkan adalah berikut ini.

http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/an/an03/an03.100.01-10.than.html

Seingat saya keseimbangan keduanya ini bisa lebih jelas disadari pada latihan Vipassana. Umumnya bila meditator dengan usaha pantang menyerah selalu bertahan dari rasa kantuk dan selalu berusaha tidak mau menyerah (atapi) terhadap rasa kantuk , maka suatu ketika akan muncul kekuatan viriya yang mengatasi rasa ngantuk yang disebabkan kemalasan tersebut.

Umumnya kemunculan viriya tersebut diawali dengan rasa kantuk yang sangat berat. Meditator bertahan dan juga terus mempertahankan perhatian dan kesadarannya, lalu pada puncak kekuatan bertahan maka tiba-tiba semua rasa kantuk lenyap, bagai suasana mendung di sore hari  yang mendadak tersapu oleh matahari siang yang terik. Setelah semua rasa kantuk lenyap, batin menjadi jernih dan cerah...

Bila meditator terus melanjutkan meditasinya tanpa terputus maka, hari-hari berikutnya ia tidak lagi diganggu rasa kantuk di siang hari (terutama sesudah makan siang), kecuali malam hari di saat badan sudah lelah. Pada saat ini kekuatan semangat (viriya) sudah cukup mendukung pengembangan konsentrasi. Ia dapat bermeditasi dengan baik dari pagi hari hingga malam hari. menurut saya inilah tanda-tanda viriya yang telah mengatasi thinamidha, dan mencapai keseimbangan antara konsentrasi dan semangat.

Menurut yang saya tahu demikian Samanera.

 ^:)^

Dalam konteks yang anda sebutkan, sebenarnya saya sangat setuju. Memang viriya mampu mengatasi rasa ngantuk hingga pikiran akhirnya mencapai kejernihan / fresh dan keseimbangan. Isi sutta dlam link yang diberikan agak berbeda dari yang saya maksud padahal referensinya tertulis sama yaitu AN, vol. I, p. 256. Yang saya maksud ada di sini http://www.dhammasara.webs.com/NimittaSutta.html. Saya telah mencocokkan dengan Chaṭṭhasaṇgayana dan juga terjemahan Rhys. David. Silahkan dilihat di sana.

Nampaknya sama persis ya Samanera? Kemungkinan yang Dhammasara mengambil dari access to insight....

 ^:)^
« Last Edit: 04 July 2010, 11:12:44 AM by fabian c »
Tiga hal ini, O para bhikkhu dilakukan secara rahasia, bukan secara terbuka.
Bercinta dengan wanita, mantra para Brahmana dan pandangan salah.

Tiga hal ini, O para Bhikkhu, bersinar secara terbuka, bukan secara rahasia.
Lingkaran rembulan, lingkaran matahari serta Dhamma dan Vinaya Sang Tathagata

Offline Utphala Dhamma

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 109
  • Reputasi: 16
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Mahasatipatthana Sutta, Bahiya Sutta dan Mulapariyaya Sutta
« Reply #12 on: 04 July 2010, 11:35:14 AM »
 [at] Peacemind:
Samanera yang baik, saya sependapat dengan  bro Fabian bahwa "bare awareness" atau perhatian/kesadaran murni (sejauh yg saya tahu disebut sebagai "sati") BISA DILATIH dan menurut Sang Buddha memang HARUS DILATIH. Sati sebagai salah satu bentuk batin memang secara alami sudah ada tetapi masih lemah, namun dapat dikembangkan melalui latihan Vipassana Bhavana yang benar (Samma Sati dengan memakai 4 LANDASAN PERHATIAN (4 Satipatthana) dengan tekun/semangat/antusias dan ditunjang oleh moralitas (mengenal & melaksanakan sila), konsentrasi, keyakinan dan kebijaksanaan. Contoh, dengan mengenal moralitas (sila), seseorang akan lebih memiliki sarana/bahan/kesempatan untuk melatih sati (Bisa dibandingkan dengan bila tidak mengenal moralitas). Sementara hasil pelaksanaan moralitas (pikiran, ucapan, perbuatan benar) juga secara alami memberikan ketenangan (tubuh dan jasmani rileks) yang menyediakan konsentrasi yang dibutuhkan.

Singkatnya:
1. Sati bisa dilatih
2. Kondisi-kondisi penunjang sati juga bisa dikembangkan.

Perhatian pada jasmani (kayanupassana), perhatian pada perasaan (vedananupassana), perhatian pada pikiran (cittanupassana) dan dhamma/fenomena (dhammanupassana) mengarahkan dan memungkinkan pengamatan secara objektif pada segala sesuatu sebagaimana adanya, bahwa segala sesuatu atau fenomena beserta sifat-sifatnya adalah bukan dan tak mengandung suatu diri/ruh/atta.

Dalam Mahavagga, Samyutta Nikaya di bagian tentang Empat Landasan Kesadaran, dapat disimpulkan bahwa ANAPANASATI adalah fondasi, tulang punggung dan yang membawa latihan Vipassana menjadi sempurna. Di samping itu dengan semakin sering berlatih Vipassana terutama dalam hal ini ANAPANASATI sebagai latihan dasar yang tepat untuk melatih sati dan konsentrasi. Batin menjadi lebih peka, SATI akan menguat, dominan dalam keseharian, dan muncul tanpa usaha (kesadaran pasif). Bisa dibandingkan dengan bila kita tidak atau jarang berlatih ANAPANASATI.

Di samping rileksnya tubuh dan batin (tranquility of body and mind), kepekaan batin atau dominannya atau seringnya munculnya sati tanpa usaha atau pengarahan khusus adalah terkondisi dari hasil latihan sebelum-sebelumnya. Bisa dibandingkan dengan bila kita tidak atau jarang berlatih vipassana bhavana. 


 [at] Bro Fabian:
Anumodana atas masukan dan penjelasannya.


 [at] Peacemind & Fabian:
Anumodana atas penjelasannya mengenai keseimbangan faktor-faktor mental dalam meditasi.

Dalam keseharian pun, faktor-faktor mental dalam Panca Bala yakni saddha, viriya, sati, samadhi dan pañña, dengan sati sebagai pemimpin dan penyeimbang, bekerja bersama-sama mewujudkan Daya Upaya Benar (Samma Vayama).

Mettacittena _/\_

Offline Peacemind

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 970
  • Reputasi: 74
Re: Mahasatipatthana Sutta, Bahiya Sutta dan Mulapariyaya Sutta
« Reply #13 on: 04 July 2010, 05:14:52 PM »
Thanks to Fabian and Utphala.... Sebenarnya saya setuju bahwa sati memang harus dikembangkan. Jika sati tidak perlu dikembangkan, tentu semua orang sudah mencapai arahat sejak dulu. :D. Karena pengembangan sati inilah, sati pada akhirnya menjadi salah satu indriya / faculty (satindriya) dan juga kekuatan (satibala). Btw, adakah perbedaan antara sati dan satindriya dan satibala?

Offline Riky_dave

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.237
  • Reputasi: -13
  • Gender: Male
Re: Mahasatipatthana Sutta, Bahiya Sutta dan Mulapariyaya Sutta
« Reply #14 on: 04 July 2010, 08:27:09 PM »
Bro Utphala dhamma yang baik, sebenarnya prinsip Vipassana ini sangat mudah, inilah yang dimaksud melihat apa adanya, tetapi banyak meditator yang mudah sekali terjebak oleh "konsep aku", dan sulit menerima bahwa yang disebut aku dalam kebenaran tertinggi hanyalah konsep/pandangan/anggapan/persepsi/DITTHI, tak lebih dari itu.

Pandangan salah kedua adalah bahwa dalam meditasi Vipassana tak diperlukan konsentrasi.
Bila dalam meditasi Vipassana batin hanya melihat apa adanya dan tak menanggapi apa yang muncul di ke empat landasan perhatian (hanya memperhatikan), maka akhirnya batin tak akan berkelana kesana-kemari. Karena batin tak berkelana kesana kemari maka batin menjadi tenang.
Karena batin menjadi tenang maka perhatian menjadi terpusat.
Perhatian yang terpusat inilah yang disebut konsentrasi.

Karena perhatian menjadi terpusat maka meditator akan melihat ketiga karakteristik dari segala sesuatu yang muncul (anicca, dukkha, anatta) dan ia melihat apa adanya.

 _/\_

Saudara Fabian yang baik,apakah itu tidak sebatas "konsep" Anda belaka?

sama seperti Anda mengatakan pandangan salah kedua bahwa dalam meditasi Vipassana tak diperlukan konsentrasi...

benarkah konsentrasi dibutuhkan? :)
Langkah pertama adalah langkah yg terakhir...