topic short url: http://dhct.ws/f16248

Author Topic: SEKOLAH MINGGU BUDDHIS: HOUSE OF MORAL AND INTELECTUAL  (Read 4519 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline wong cilik

  • Tamu
  • *
  • Posts: 48
  • Reputasi: 4
  • Gender: Female
  • Be Simple Be Humble
SEKOLAH MINGGU BUDDHIS: HOUSE OF MORAL AND INTELECTUAL
« on: 02 May 2010, 10:57:14 AM »
SEKOLAH MINGGU BUDDHIS: HOUSE OF MORAL AND INTELECTUAL

Saya sudah berangan-angan sejak lama akan adanya suatu KURIKULUM sekolah minggu di Vihara saya yang mencakup pembangunan moral anak-anak Buddhis dan juga kemampuan intelektual . Sehingga Sekolah Buddhis tidak membosankan, tidak ketinggalan zaman NAMUN juga tetap mampu menjadi TEMPAT PEMBENTUKAN MORAL yang handal.

KURIKULUM tersebut mencakup beberapa nilai. Saya baru ketemu satu nih,
a. Menyeimbangkan nilai Buddhis dengan nilai intelektual yang ada.

Contohnya: saat belajar ilmu ekonomi kan diajari bahwa KITA HARUS MENDAPAT UNTUNG SEBANYAK-BANYAKNYA DENGAN MODAL YANG SEDIKIT-DIKITNYA". Lalu, di Sekolah Minggu, hal-hal seperti ini coba diberikan pengarahan dari sisi Buddhis. Misalnya konsep ini harus diimbangi dengan konsep tidak serakah, tidak menggunakan segala cara yang merugikan orang banyak dan merusak alam untuk mendapat keuntungan tersebut. Mungkin dengan hal-hal ini tidak akan lahir para pengusaha abru pelestari kapitalisme yang demi misi memperluas ekpansi usaha dan meningkatkan laba mau mengorbankan lingkungan alam.

Dan Banyak nilai lain yang tentunya bisa dimasukkan. Ada ide tentang nilai yang lain tersebut??????

Saya Tunggu ya...............
« Last Edit: 02 May 2010, 10:58:53 AM by wong cilik »

Offline dhammasiri

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 461
  • Reputasi: 44
  • Gender: Male
Re: SEKOLAH MINGGU BUDDHIS: HOUSE OF MORAL AND INTELECTUAL
« Reply #1 on: 02 May 2010, 11:55:23 AM »
Wong Cilik, satu-satunya calon Doktor (Dr. Wong Cilik to-be) Buddhist dari Indonesia untuk saat ini, seharusnya ibu sebagai mahasiswa S3 di dalam Agama Buddha, sanggup memberikan contoh kepada kita-kita yang sesungguhnya hanyalah wong cilik. Kita tidak mempunyai pendidikan yang memadai. Ayo tunjukan kontribusi nyata ibu kepada kita semua, kepada umat Buddha Indonesia secara khusus dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Kami semua menunggu dengan senang hati kontribusi tersebut.
Kedamaian dunia tidak akan tercapai bila batin kita tidak damai

Offline andrew

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 568
  • Reputasi: 22
Re: SEKOLAH MINGGU BUDDHIS: HOUSE OF MORAL AND INTELECTUAL
« Reply #2 on: 02 May 2010, 01:34:39 PM »
peduli pelestarian lingkungan...

coba tengok Bhutan disana berusaha menerapkan pandangan buddhis...

seperti lebih mengutamakan mempertahankan hutan... ketimbang mendapat keuntungan besar lewat pertambangan dan penggundul*n h*tan

Offline cici metta

  • Tamu
  • *
  • Posts: 14
  • Reputasi: 2
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: SEKOLAH MINGGU BUDDHIS: HOUSE OF MORAL AND INTELECTUAL
« Reply #3 on: 02 May 2010, 04:52:33 PM »
Halo ,salam kenal ya. Bu ,Nama saya Theresia dikenal dengan sebutan Cici Metta..Wah sayang saya tidak bisa memberikan masukan banyak ya .. .Wah saya cuma bisa menceritakan  apa saja yang sudah berjalan di Sekolah Minggu Buddhis  Vihara Dharma Ratna selama setahun ini  mudah mudahan Ibu dapat memperoleh ide ya untuk kurikulum nya.

Di Vihara kami menggunakan kurikulum dari  buku Pelajaran Agama Buddha dari  Ehipassiko,sejalan dengan pelajaran agama Buddha yang diajarkan disekolah sekolah yang ada dan mudah dipahami anak anak sesuai KTSP  (kurikulum tingkat satuan )2006.Mencakup Teori,Praktek dan Hasil pembelajaran.

Tapi kadang kurikulum itu juga tidak terlalu menjadi patokan,karena  sesekali kami mengundang tim penceramah dari wadah penceramah sekolah minggu seperti Dasa Paramita, Relawan Buddha Tzu Chi, Dokter ,psikolog  juga Guru Agama ,dan pengajar kreativitas/se .Tema kami minta sesuai dengan kurikulum ,tapi bila memang tidak bisa maka terpaksa kurikulum nya di lewati.

Kami membagi kelas menjadi 5
Kelas PG-TK
Kelas 1-2
Kelas 3-4
Kelas 5-6
SMP

Disela sela pelajaran ,kami memberikan lagu yang sesuai tema pengajaran dengan gerakan yang mudah diikuti anak anak.Karena kebetulan saya hobi mengarang jadi lah lagu disesuaikan tema pengajaran yang ada .Setiap tahun kami mengadakan ujian pemahaman materi untuk pemberian nilai kepada Siswa/siswi kami.

Untuk menambah masukan dan informasi dari sekolah minggu lain .kami kadang mengadakan kunjungan antar sekolah minggu .Kami juga mengadakan pelatihan Kakak Pembina setiap tahun satu kali.

Salam Metta
-Cici Metta (Theresia)

Ayo Bapak /IBu,Kakak pembina.... bergabung di Komunitas BUddhis Indonesia Dhamma Citta di Grup Sekolah Minggu..






Offline hatRed

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 7.400
  • Reputasi: 138
  • step at the right place to be light
Re: SEKOLAH MINGGU BUDDHIS: HOUSE OF MORAL AND INTELECTUAL
« Reply #4 on: 02 May 2010, 06:24:07 PM »
tingkatkan kebijaksanaan sejak dini ;D
i'm just a mammal with troubled soul



Offline wong cilik

  • Tamu
  • *
  • Posts: 48
  • Reputasi: 4
  • Gender: Female
  • Be Simple Be Humble
Re: SEKOLAH MINGGU BUDDHIS: HOUSE OF MORAL AND INTELECTUAL
« Reply #5 on: 03 May 2010, 02:36:46 PM »
KELANJUTAN CERITA
SEKOLAH MINGGU BUDDHIS: HOUSE OF MORAL AND INTELECTUAL

Komentar Samanera Dhammasiri mungkin tidak sepenuhnya benar, karena beliaulah yang sesungguhnya calon THE REAL DOCTOR dalam studi agama Buddha. Beliau telah berada di Sri Lanka telah lebih dari 6 tahun, tentu saja beliau sudah “masak” dalam belajar dan praktik. Bahkan saya adalah murid beliau dan banyak belajar dari beliau.

Memang saya bertanya dalam forum ini tentunya punya maksud dan tujuan. Maksud dan tujuan saya adalah untuk mendapatkan masukan yang seluas-luasnya dari teman-teman semua berdasarkan praktik teman-teman menjadi pembimbing sekolah minggu. Karena saya sudah lebih dari dua tahun tidak terjun langsung ke dalam sekolah minggu dan juga tidak mengerti perkembangan kurikulum pendidikan terakhir di Indonesia. Namun, mimpi saya untuk menciptakan sebuah kurikulum yang berbasis pengembangan moral dan intellectual untuk sekolah minggu masih tetap terbersit di hati saya. 

Saya di atas telah mengungkapkan bahwa perlunya penyeimbangan nilai moral dan intellectual dengan contoh tersebut di atas. Lalu ada masukan dari teman-teman seperti:

a. Peduli lingkungan
b. Tingkatkan kebijaksanaan sejak dini
c. Dan cerita ttg penggunaan buku sekolah minggu dari Ehipasiko yang dinilai telah sejalan dengan KTSP.

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas semua masukannya. Dan di dalam forum ini kan sifatnya sharing, maka saya akan sharing beberapa ide saya dan mungkin teman-teman bisa koreksi jika salah dan teman-teman bisa tambahi jika kurang. Sekarang saya akan mempunyai beberapa pandangan baru bahwa:

1.   Apa yang di ajarkan di sekolah minggu harus diimbangi dengan contoh nyata.
    Pemberian contoh ini berdasarkan pada kenyataan ilmu pengetahuan terbaru. Maksudnya, jika contohnya tidak relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan terbaru, sekolah minggu Buddhist akan jadi tidak up to date lagi.

Dengan memadukan beberapa masukan teman-teman di atas, antara penanaman kebijaksanaan sejak dini dan peduli lingkungan, hal ini dapat dilakukan dengan penanaman kesadaran kepada anak bahwa pemisahan sampah organic dan anorganic perlu dilakukan. Pengurangan penggunaan plastic juga perlu dilakukan untuk mengurangi polusi tanah.  Penanaman kesadaran ini dilakukan dengan dengan contoh nyata sebagai sebrikut:

“anak kita ajak memendam dua macam sampah yang berbeda, sampah plastik dan sampah daun. Dua minggu atau sebulan kemudian, anak-anak diajak untuk membuka sampah yang kita pendam tersebut. Hasilnya anak-anak akan mengerti bahwa sampah plastic tidak bisa busuk seperti daun. Dengan demikian, kita harus berhati-hati dalam menggunakan dan membuang sampah plastic dan membuangnya secara terpisah dari sampah organik. Selanjutnya, penggunaan plastic untuk membungkus hal-hal yang tidak begitu penting perlu dihindari. Sebagai contohnya, kita dapat membeli satu tas kain untuk belanja ke pasar, sehingga akan mengurangi penggunaan tas plastic.

Untuk tambah meyakinkan anak-anak tentang hal-hal tersebut di atas, perlu dijelaskan mengapa plastic tidak dapat busuk, apa senyawa kimia yang ada didalamnya, dll. Tentu saja penjelasannya menyesuaikan dengan tingkat pendidikan anak. Bagi anak usia SD, penjelasannya cukup sampai pada pentingnya sikap berhati-hati dalam menggunakan plastic dan memisahkan sampah organic dan anorganik. Namun bagi, anak-anak sekolah minggu usia SLTP ke atas, dapat diberi penjelasan apa senyawa kimia yang terkandung di dalam plastic dan kenapa tidak mudah busuk.

Hal ini tidak berhenti di sini saja, tetapi disekolah minggu juga perlu disediakan dua tong sampah agar anak dapat mempraktikkan secara langsung pemisahan sampah organic dan anorganik. Dengan demikian, sikap sadar lingkungan akan dilakukan anak berdasarkan pada pengertian  bukan hanya sekedar ikut-ikutan.

Hal ini saya pikir dapat dipraktikkan oleh sekolah minggu yang ada didesa maupun dikota. Kalau sekolah minggu yang ada dikota bisa melakukannya dengan memendam sampah dalam suatu ember, jika media tanah tidak tersedia dilokasi vihara.

PEMBERIAN CONTOH NYATA YANG LAIN
Belum lagi berbicara mengenai contoh kecil lainnya seperti penjelasan sila ketiga dari Pañcasīla Buddhis, menghindari perbuatan asusila, bagi anak-anak. Ini akan sangat sulit untuk memberikan contoh pelaksanaan sila ketiga kepada anak-anak usia Tk atau SD. Alangkah baiknya menjelaskan penerapan sila ketiga dari Pañcasīla Buddhis sebagai perlunya selalu bersikap sopan santun dalam berpakaian.

2.   Sekolah Minggu sebagai sarana peneguhan jati diri.
Peneguhan jati diri sebagai insan manusia yang baik dengan memperteguh nilai-nilai Buddhis dalam menyikapi hal-hal berhubungan dengan trend kehidupan anak dan remaja, seperti shoping, nonton, main Play Station, penggunaan FB dan segala yang berhubungan dengan  internet)

Ada banyak hal yang berkaitan dengan hal ini yang akan melawan trend anak-anak dan remaja masa kini. Kebanyakan anak-anak dan remaja suka dengan  kebiasaan shoping, nonton, makan-makan diluar pada waktu-waktu tertentu bahkan sekedar WINDOW SHOPING (tidak beli apa-apa, tetapi Cuma jalan-jalan kelaur masuk toko dan tidak membeli apa-apa untuk sekedar cuci mata).
Hal ini dikaitkan dengan perlunya pengefisienan waktu, pembedaan antara apa yang kita inginkan (WANT) dan apa yang kita butuhkan (NEED). Kadang-kadang kebiasaaan di atas dilakukan hanya karena ingin gaul dan ingin terlihat keren dan tikda ada kaitannya sama sekali dengan NEED.
Berdasarkan hal di atas, di sekolah minggu perlu diberi pengarahan tentang pentingnya pengurangan akan hal-hal ini, dan alangkah baiknya jika dihindari dan dilakukan hanya berdasarkan kebutuhan saja.

Main play station bisa dikembangkan dengan permainan yang bernuansa Buddhis. Memang sejauh ini belum ada game elektronik bernuansa Buddhis. Mungkin inilah tantangan teman-teman yang jago di IT untuk menciptalkan software elektronik game yang bernuansa Buddhist.

Penggunaan Face Book bagi remaja sudah merupakan kewajaran. Bahkan sudah merupakan kewajaran pula jika anak SMP menggunakan FB. Namun kewajaran kan tidak selamanya menjamin kebenaran dan mendatangkan manfaat. Penjelasan perlu diberikan kepada generasi muda Buddhis bahwa penggunaan FB harus dibarengi dengan berbagai sikap hati-hati dalam penggunaannya. Untuk mendukung hal ini, situs internet sehat perlu diperkenalkan. Salah satus situsnya adalah http://ictwatch.com/internetsehat/. Sehingga anak-anak Buddhis akan menguasai teknologi tetapi tidak terkuasi oleh teknologi.

3.   Sekolah Minggu sebagai sarana peningkatan ketrampilan anak dan remaja
Yang dimaksudkan adalah, dalam membagi kegiatan sekolah minggu divihara harus memperhatikan dua aspek yaitu aspek religious dan aspek peningkatan ketrampilan.

A.   Aspek religius
Hal ini bisa di dapat dari kegiatan berupa: puja bhakti, meditasi, baca paritta atau Dhammapada, menyanyi lagu Buddhis, permainan Buddhis dan dana paramita. Pengaturan yang tepat terhadap kegiatan-kegiatan ini juga mempengaruhi pada keinginan dan mood anakn untuk sekolah minggu. Kuncinya jangan dibuat monoton kegiatan sekolah minggunya.

B.   Peningkatan ketrampilan.
Hal ini tentu saja harus disesuaikan dengan kondisi daerah, kondisi lingkungan dan kemampuan anak. Hal ini tidak harus bersifat yang muluk-muluk, tetapi dimulai dari hal-hal yang kecil. Misalnya ketrampilan melipat baju, melipat selimut bagi anak-anak usia SD. Selain itu ketrampilan ,mencuci alat-alat makannya sendiri juga bisa diajarkan untuk anak-anak usia SD. Tentu hal ini tidak perlu bagi anak-anak di kota yang umumnya mempunyai pembantu. Tetapi bagi anak-anak dari kelurga kelas menengah ke bawah, mungkin ketrampilan seperti ini perlu. Dan hal ini akan mendatangkan suatu apresiasi tersendiri dari orang tua jika anak-anaknya dapat melakukan sesuatu di rumah sebagai hasil mengikuti sekolah minggu.

Bagi anak-anak usia SMP ketrampilannya bisa dengan membuat berbagai karya sesuai keinginan mereka dengan alat yang dapat terjangkau. Pembuatan gelang dan berbagai aksesoris dari bahan mote adalah salah satu contoh kecil yang dapat dilakukan remaja Buddhis.

Mimpi bahwa sekolah minggu Buddhis sebagai House of Moral and Intelectual adalah bingkai kerja. Sedangkan rincian mengenai tujuan khusus dan kegiatan seperti yang saya sebutkan di atas dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing vihara dan daerah. Hal ini karena adanya perbedaan kondisi dari masing-masing sekolah minggu, ada daerah yang anak sekolah minggunya berjumlah banyak dan berjumlah sedikit, ada sekolah minggu di desa dan kota yang tentunya masing-masing membutuhkan kebijaksaan dari para pengajarnya untuk menciptakan kegiatan-kegiatan yang sesuai. Namun, apapun dan dimanapun mereka, niat untuk membuat semuanya menjadi anak-anak Buddhis yang baik tetap perlu diusahakan.

BEBERAPA HAL YANG DIBUTUHKAN DALAM MENDUKUNG IDE DI ATAS:
1.   Guru sekolah Minggu yang aktif dan mau terus belajar.
2.   Pro aktif dari pengurus vihara
3.   Dukungan dari orang tua
4.   Keinginan belajar dari anak-anak Buddhis

Saya hanyalah berbicara. Praktik di lapangan tak semudah berbicara.
Salam salut saya kepada semua pengajar sekolah minggu Buddhis.

Salam Metta
Wong Cilik



« Last Edit: 03 May 2010, 02:39:52 PM by wong cilik »

Offline cici metta

  • Tamu
  • *
  • Posts: 14
  • Reputasi: 2
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: SEKOLAH MINGGU BUDDHIS: HOUSE OF MORAL AND INTELECTUAL
« Reply #6 on: 03 May 2010, 11:20:52 PM »
Wah kesimpulan yang sangat baik ya Wong Cilik.Memang kesimpulan Wong Cilik itulah yang kami usahakan jalan saat ini di Sekolah Minggu kami

Sebagai bahan tambahan :

Kami memang  menggunakan kurikulum dari Buku Ehipassiko,tapi kadang tidak terpaku juga karena selain pembelajaran Dhamma , moral dan ketrampilan adalah 3 Sasaran yang kami usahakan dapat tercapai adalah:

1.Anak anak memahami Dhamma
2.Moral dan Etika
3.Ketrampilan,Kreativitas dan Kesenian

kami juga mendatangkan  berbagai  relawan Dhamma yang berbeda seperti dari Relawan Buddha Tzu Ch (mengisi Moral,Etika  dan  mengangkat tema Go green), Wandani (Kurikulum & ketrampilan),Dokter (kebersihan diri dan lingkungan),Psikolog (membahas sikap  prilaku anak,seperti percaya diri,kempemimpinan dan lain lain ), Seksi Puja (mengajarkan pembacaan Dhamma pada),Warta (Penulisan artikel ) ,Guru Agama Buddha.(sesuai kurikulum) dan juga dari relawan Dhamma lainnya juga kadang kami mengadakan kunjungan ke Vihara lain ,kepanti asukan,dan dalam waktu dekat akan mengunjungi pengelolahan sampah di Buddha Tzu Chi,juga ke panti asuhan.

Ada juga tema sesuai kurikulum ada juga yang terpaksa keluar dari kurikulum dan karena tenaga kakak pembina yang sangat terbatas sementara kelas terbagi atas 5 kelas .

Untuk Ketrampilan dan kreativitas,kesenian , kami mendatangkan pengajar ketrampilan dari luar misal membuat boneka kreatif,atau ide ide dari bahan bekas, juga kami mengadakan latihan pianka dan vokal grup diluar jam sekolah minggu.Kami sedang mencoba mulai mengajarkan lagu lagu sesuai tema pembelajaran di jadwalkan disetiap kelas .Agar Siswa juga dapat mencintai lagu lagu sekolah minggu Buddhis

Ujian Pemahaman Materi kami lakukan setiap pengambilan Nilai Rapor.Dan Nilai akan kami berikan sesuai absensi,sikap,ujian dan aktif/tidak nya mengikuti kegiatan sekolah minggu.


Hal yang tersulit  saat ini yang dihadapi oleh sekolah minggu Buddhis kita  adalah

1.Kekurangan tenaga pembina yang bisa mewujudkan "House of Moral and Intelectual" , rata rata kakak pembina sekolah minggu Buddhis  masih muda belia istilah yang diberikan adalah "Jeruk Makan Jeruk".Lulusan SMP menjadi pembina lulusan PG-TK dan SD. Begitu Selanjutnya Lulusan SMA menjadi Kakak pembina lulusan SMP.

Kebetulan kepengurusan SMB VDR ditempat kami  terdiri dari Ibu Ibu (lulusan Sarjana),maka Dari Depag mengusulkan SMB VDR menjadi sekolah Minggu Percontohan untuk Wilayah Tangerang-Banten.Suatu tugas yang sangat tidak mudah.

Walaupun kepengurusan terbaru ini  baru satu tahun, sudah mulai ada kemajuan dalam mengayomi anak anak ini.Tadinya kepengurusan hanya diserahkan kepada muda mudi yang belia dan belum ada sasaran yang jelas mengenai sekolah minggu ini.Semoga kedepan nya semua sekolah minggu dapat di dukung oleh para orang tua yang bisa turut aktif berpartisipasi ya.

Kakak pembina yang masih muda belia ini sebagai tenaga pendamping dalam kelas, sesuai kemampuan yang dimilikinya,apabila memungkinkan untuk dilatih maka kami berikan materi tapi didampingi di setiap kelas.



2.Kelas /Ruangan yang memadai untuk dapat mewujudkan suatu kurikulum. Belum semua sekolah minggu membagi anak anak sesuai batasan umur,ada juga yang menggabungkan ratusan anak dengan satu penceramah yah faktor,ruangan dan tenaga

3.Peran Serta Orang tua , ini agak sulit juga .orang tua cenderung "menitipkan anak" ke sekolah minggu lalu sibuk dengan kegiatannya masing masing. Perbedaan pendapat juga sering terjadi dilapangan ,dan komunikasi ini tidak mudah juga untuk disatukan.

4.Pro aktif pengurus Vihara.
Saat mengikuti sosialisasi dari Depag Tangerang,banyak pengurus yang mengeluhkan juga,hal ini. Dari Dirjen Depag( Buddha) mengharapkan Sekolah Minggu punya kelas permanen,tenaga guru yang berkompeten misal dari guru agama dari  STAB dan harus diberikan gaji,harus punya perpustakaan,kepala sekolah dan lain lain.
Sebagai kakak pembina yang masih muda belia, himbauan ini belum  mampu mereka wujudkan dan mereka sampaikan ke pengurus Vihara.Dengan biaya yang tidak sedikit apakah mampu hal ini terwujud dalam hitungan lima tahun.

4.Keinginan belajar dari anak anak Buddhis,Salah satu sasaran kami adalah Anak anak mempunyai semangat ,keinginan belajar yang kuat dan bahkan  dapat juga berperan aktif juga  mengajak orang tuanya ke Vihara untuk belajar Dhamma  juga.

Semoga kita semua bisa maju didalam Dhamma ya..
Ayo Sekolah Minggu Buddhis Maju Terus

-Salam Metta-
Cici Metta




















« Last Edit: 03 May 2010, 11:43:10 PM by cici metta »

Offline cici metta

  • Tamu
  • *
  • Posts: 14
  • Reputasi: 2
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: SEKOLAH MINGGU BUDDHIS: HOUSE OF MORAL AND INTELECTUAL
« Reply #7 on: 04 May 2010, 12:15:05 AM »

Wah kesimpulan yang sangat baik ya Wong Cilik.Memang kesimpulan Wong Cilik itulah yang kami usahakan jalan saat ini di Sekolah Minggu kami

-Salam Metta-
Cici Metta

Offline wong cilik

  • Tamu
  • *
  • Posts: 48
  • Reputasi: 4
  • Gender: Female
  • Be Simple Be Humble
Re: SEKOLAH MINGGU BUDDHIS: HOUSE OF MORAL AND INTELECTUAL
« Reply #8 on: 04 May 2010, 12:41:03 PM »

Wah kesimpulan yang sangat baik ya Wong Cilik.Memang kesimpulan Wong Cilik itulah yang kami usahakan jalan saat ini di Sekolah Minggu kami

-Salam Metta-
Cici Metta

Benar Ci Metta
Banyak hal yang harus kita persiapkan. Namun, dengan sebuah GOOD WILL saya yakin kita akan bisa. Dengan HAND IN HAND  secara bersama-sama, semua pasti tercipta. BE OPTIMIST.

Salam salut untuk Ci Metta
Salam juga tuk Sekolah Minggunya ya


Best regard
WONG CILIK

Offline cici metta

  • Tamu
  • *
  • Posts: 14
  • Reputasi: 2
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: SEKOLAH MINGGU BUDDHIS: HOUSE OF MORAL AND INTELECTUAL
« Reply #9 on: 04 May 2010, 08:07:01 PM »
Setuju Wong Cilik...Hand In hand.....__/\__

Offline Pema

  • Tamu
  • *
  • Posts: 1
  • Reputasi: 0
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: SEKOLAH MINGGU BUDDHIS: HOUSE OF MORAL AND INTELECTUAL
« Reply #10 on: 15 December 2010, 12:29:19 AM »
 _/\_ Diskusi yang menarik antara wong cilik dan cici Metta.... ;D

Membina Sekolah Minggu merupakan tantangan yang sangat berat dalam menghadapi persaingan dan himpitan dari "seberang"  :(.  Demikian juga menciptakan Sekolah Minggu Buddha (menurut nara sumber dari Kementerian Agama istilah Sekolah Minggu Buddhis lebih baik jika menggunakan Sekolah Minggu Buddha): house of moral and intelectual juga tantangan bagi pembina sekolah minggu untuk mewujudkannya. Banyak kendala yang dihadapi dalam pembinaan tersebut, dari kurikulumnya; pembina yang kurang memadai (seperti yang disampaikan cici Metta bahwa VDR pernah memperdayakan pembina "jeruk makan jeruk" dan saya pernah melihat itu, demikian juga dengan beberapa SMB lain); juga sarana dan prasarananya. Karena itu untuk mewujudkan SMB : house of moral and intelectual kita perlu persiapkan :
a) Perencanaan program SMB yang matang dan jelas dalam usaha pembinaan SMB yang tidak hanya sebagai house of moral and intelectual;
b) Kurikulum mandiri seperti yang dilakukan cici Metta juga pernah kami saya lakukan (karena kurikulum dari yang berwenang  :-[  belum sepenuhnya tersosialisasi bahkan isinya masih dalam tanda tanya?  ^:)^);
c) SDM yang memiliki kompetensi dalam pembinaan SMB (jika terpaksa tidak berkompeten harus didiklat agar sedikit berkompeten);
d) Sarana dan prasarana yang memadai dengan dukungan orang tua, umat dan pemerintah tentunya;

Nah saran dari wong cilik perlu sekali dipertimbangkan, ini tidak hanya menjadi tugas bagi pembina SMB, Vihara, dan orang tua, tetapi juga menjadi perhatian pemerintah serta lembaga pencetak guru sekaligus Pembina SMB yang menyandang gelar S.Ag. atau S.Pd.B (bener nggak ya?) agar mempersiapkan kader pembina SMB yang inovatif, kreatif, berwawasan luas, dengan berlandaskan Buddha Dhamma. Saran bagi SMB-SMB yang belum dan  memang kurang tenaga yang berkompeten, agar tidak "jeruk makan jeruk" sebaiknya bekerjasama dengan lembaga yang mencetak calon guru atau mungkin bekerja sama dengan guru-guru agar peserta didik si SMB juga mendapatkan wawasan dari orang yang berkompeten.

Salam metta


Offline amarabandhu

  • Tamu
  • *
  • Posts: 32
  • Reputasi: 0
  • Gender: Male
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: SEKOLAH MINGGU BUDDHIS: HOUSE OF MORAL AND INTELECTUAL
« Reply #11 on: 26 July 2011, 10:45:01 PM »
Saya pernah mendapatkan materi dvd mengenai seorang profesor di Thailand yang bahkan mendapatkan penghargaan dari Raja Thailand yg mendirikan sekolah (yang lebih tepatnya asrama) karena anak2 peserta sekolah itu diharuskan tinggal di sana. Lalu mereka diajarkan untuk bangun pagi, sebelum memulai kegiatan sekolah, mereka diwajibkan melaksanakan puja bakti lalu meditasi.

Di sekolah ini tidak diperbolehkan menggunakan kata2 kasar, lalu juga tidak ada kontaminasi filem2 yang tidak mendidik, seperti sinetron bahkan kartun yg dianggap tidak sesuai. Anak2 benar-benar difokuskan untuk mengembangkan moral dan kemampuan intelektualnya di samping mengembangkan nilai spiritualnya.

Kebetulan saya sempat mengikuti ceramah beliau ketika beliau berkunjung ke Jakarta sekitar tahun 2008, dan juga memiliki dvd dari ceramah beliau. Memang tidak banyak makalah yg bisa diambil tetapi mudah-mudahan bisa menjadi tambahan ide bagi Anda semua.

Mettacittena,

Donny

Offline a_w_p

  • Tamu
  • *
  • Posts: 23
  • Reputasi: 0
  • Gender: Male
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: SEKOLAH MINGGU BUDDHIS: HOUSE OF MORAL AND INTELECTUAL
« Reply #12 on: 22 March 2013, 05:05:23 PM »
 _/\_Namo Buddhaya,

krg lbh saya sama dengan cicimetta..

  • sekolah minggu kami dibagi menjadi :
    PG-TK>> pengajar lulusan SAg, dibantu kk pembina
    1-2-3>> pengajar lulusan SAg, Romo, dibantu kk pembina
    4-5-6>> pengajar Romo, dibantu kk pembina
    SMP-SMA>> pengajar Romo, dibantu saya (pembina), tp kdg saya yg ngajar soalnya romo yg ini agak sibuk hee
  • kami memakai buku ehipassiko juga sebagai pedoman..
  • kegiatan :
    PG-TK>> main, nyanyi, gambar, handicraft
    1-2-3>> main, nyanyi, gambar, english corner, cerita, handicraft
    4-5-6>> dhamma class, kuis
    SMP-SMA>> dhamma class, penguin dance, kuis, nonton

Nah saran dari wong cilik perlu sekali dipertimbangkan, ini tidak hanya menjadi tugas bagi pembina SMB, Vihara, dan orang tua, tetapi juga menjadi perhatian pemerintah serta lembaga pencetak guru sekaligus Pembina SMB yang menyandang gelar S.Ag. atau S.Pd.B (bener nggak ya?) agar mempersiapkan kader pembina SMB yang inovatif, kreatif, berwawasan luas, dengan berlandaskan Buddha Dhamma. Saran bagi SMB-SMB yang belum dan  memang kurang tenaga yang berkompeten, agar tidak "jeruk makan jeruk" sebaiknya bekerjasama dengan lembaga yang mencetak calon guru atau mungkin bekerja sama dengan guru-guru agar peserta didik si SMB juga mendapatkan wawasan dari orang yang berkompeten.

Salam metta



 [at] pema setuju dengan beliau untuk menunjang kebutuhan SDM yg kompeten, hrs ada pelatihan untuk menumbuhkan kesadaran, kemauan dari kk pembina.. agar regenerasi berjalan terus.

saya bangga terhadap apa yg kita punya.. saya setuju bila yg "lain" mengatakan semua Ag*ma mengajarkan kebaikan termasuk agama buddha, tetapi kita tidak hanya mengajarkan kebaikan melainkan "kebenaran".
kebaikan itu msh berupa opini menurut A, B bisa berbeda, selalu manis rasanya.
Tapi kebenaran itu bukan opini (tidak bisa berbeda krn kebenaran tertinggi cuma 1), kenyataan, tidak selalu manis.
kebenaran inilah yg menjadi motivasi saya untuk mengajar sekolah minggu.. sehingga saya tidak pernah bosan. :) ;)

 [at] wongcilik sebuah tugas mulia melestarikan Dhamma, semangaaaatt!!!  8) :yes: :jempol: