topic short url: http://dhct.ws/f15470

Author Topic: Jalan Mulia Berunsur Delapan  (Read 4133 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline Yi FanG

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 238
  • Reputasi: 30
  • Gender: Female
  • Namo Buddhaya...
Jalan Mulia Berunsur Delapan
« on: 14 March 2010, 07:04:29 PM »
Jalan Mulia Berunsur Delapan

Bagaimanakah, wahai para Bhikkhu, kebenaran mulia tentang jalan menuju musnahnya derita?
Inilah jalan mulia berunsur delapan yaitu:
pandangan benar,
pikiran benar,
ucapan benar,
perbuatan benar,
penghidupan benar,
daya upaya benar,
perhatian benar,
keteguhan batin benar.

Bagaimanakah, wahai para Bhikkhu, pandangan benar?
Wahai para Bhikkhu,
pengetahuan pada derita,
pengetahuan pada asal mula derita,
pengetahuan pada musnahnya derita,
pengetahuan pada jalan menuju musnahnya derita.
Ini, wahai para Bhikkhu, disebut pandangan benar.

Bagaimanakah, wahai para Bhikkhu, pikiran benar?
Pikiran pada pelepasan (kesenangan terhadap nafsu indrawi),
pikiran tanpa kehendak buruk,
pikiran tidak menyakiti.
Ini, wahai para Bhikkhu, disebut pikiran benar.

Bagaimanakah, wahai para Bhikkhu, ucapan benar?
Menghindarkan diri dari ucapan bohong,
menghindarkan diri dari ucapan menghasut,
menghindarkan diri dari ucapan kasar,
menghindarkan diri dari ucapan membual.
Ini, wahai para Bhikkhu, disebut ucapan benar.

Bagaimanakah, wahai para Bhikkhu, perbuatan benar?
Menghindarkan diri dari membunuh,
menghindarkan diri dari mengambil barang yang tidak diberikan,
menghindarkan diri dari perbuatan asusila.
Ini, wahai para Bhikkhu, disebut perbuatan benar.

Bagaimanakah, wahai para Bhikkhu, penghidupan benar?
Wahai para Bhikkhu, seorang siswa ‘Sang Buddha yang mulia’ di Ajaran ini
menghindari penghidupan yang salah,
menjalankan penghidupan yang benar.
Ini, wahai para Bhikkhu, disebut penghidupan benar.

Bagaimanakah, wahai para Bhikkhu, daya upaya benar?
Wahai para Bhikkhu, seorang bhikkhu di Ajaran ini
berhasrat, berusaha, bersemangat, memapah dan menegakkan pikiran untuk tidak memunculkan hal- hal yang buruk, yang tidak baik yang belum muncul;
berhasrat, berusaha, bersemangat, memapah dan menegakkan pikiran untuk menyingkirkan hal-hal yang buruk, yang tidak baik yang telah muncul;
berhasrat, berusaha, bersemangat, memapah dan menegakkan pikiran untuk memunculkan hal-hal yang baik yang belum muncul;
berhasrat, berusaha, bersemangat, memapah dan menegakkan pikiran untuk memasang, memelihara, memperbanyak, memperbesar, mengembangkan, menyempurnakan hal-hal yang baik yang telah muncul.
Ini, wahai para Bhikkhu, disebut daya upaya benar.

Bagaimanakah wahai para Bhikkhu, perhatian benar?
Wahai para Bhikkhu, seorang bhikkhu di Ajaran ini
merenungkan tubuh di tubuh, bersemangat, berpenyadaran, berperhatian, menyingkirkan kegemaran (abhijjhā) dan kepiluan hati (domanassa) di dunia;
merenungkan perasaan di perasaan, bersemangat, berpenyadaran, berperhatian, menyingkirkan kegemaran (abhijjhā) dan kepiluan hati (domanassa) di dunia;
merenungkan pikiran di pikiran, bersemangat, berpenyadaran, berperhatian, menyingkirkan kegemaran (abhijjhā) dan kepiluan hati (domanassa) di dunia;
merenungkan isi-isi batiniah di isi-isi batiniah, bersemangat, berpenyadaran, berperhatian, menyingkirkan kegemaran (abhijjhā) dan kepiluan hati (domanassa) di dunia.
Ini, wahai para Bhikkhu, disebut perhatian benar.

Bagaimanakah, wahai para Bhikkhu, keteguhan batin benar?
Wahai para Bhikkhu, seorang bhikkhu di Ajaran ini, setelah terbebas dari nafsu indria dan terbebas dari bentuk pikiran yang tidak baik, memasuki dan berdiam dalam jhāna pertama, (yakni keadaan batin) yang terdapat kegiuran dan kebahagiaan yang ditimbulkan dari ketenangan, disertai dengan pengarahan pikiran pada objek, dan pertimbangan pikiran pada objek.
Kemudian, karena menenangkan vitakka dan vicāra, ia memasuki dan berdiam dalam jhāna ke dua, (yakni keadaan batin) yang terdapat kejernihan di dalam, kemunculan dan berkembangnya dhamma batiniah nan utama, kegiuran dan kebahagiaan yang ditimbulkan dari keteguhan batin yang tanpa disertai dengan vitakka dan vicāra.
Selanjutnya, karena melenyapkan kegiuran, ia berbatin seimbang, berperhatian, berkesadaran murni, dan mengenyam kebahagiaan melalui gugusan batiniah, memasuki dan berdiam dalam jhāna ke tiga yang oleh para Ariya dikatakan sebagai “Ia yang berbatin seimbang, penuh perhatian, dan mencapai kebahagiaan.”
Kemudian, karena melenyapkan sukha dan dukkha serta melenyapkan kesenangan hati dan kesedihan hati yang telah dirasakan sebelumnya, ia memasuki dan berdiam dalam jhāna ke empat, (yakni keadaan batin) yang tiada derita maupun bahagia, terdapat perhatian murni yang ditimbulkan dari keseimbangan.
Ini, wahai para Bhikkhu, disebut keteguhan batin benar.”
----

Ariyaṭṭhaṅgikamagga

“Katamañca, bhikkhave, dukkhanirodhagāminī paṭipadā ariyasaccaṁ?
Ayameva ariyo aṭṭhaṅgiko maggo seyyathīdaṁ: sammādiṭṭhi, sammāsaṅkappo, sammāvācā, sammākammanto, sammā-ājīvo, sammāvāyāmo, sammāsati, sammāsamādhi.

Katamā ca, bhikkhave, sammādiṭṭhi?
Yaṁ kho, bhikkhave, dukkhe ñāṇaṁ, dukkha-samudaye ñāṇaṁ, dukkhanirodhe ñāṇaṁ, dukkhanirodhagāminiyā paṭipadāya ñāṇaṁ, ayaṁ vuccati, bhikkhave, sammādiṭṭhi.

Katamo ca, bhikkhave, sammāsaṅkappo?
Nekkhammasaṅkappo abyāpādasaṅkappo avihiṁsāsaṅkappo, ayaṁ vuccati bhikkhave, sammāsaṅkappo.

Katamā ca, bhikkhave, sammāvācā?
Musāvādā veramaṇī pisuṇāya vācāya veramaṇī pharusāya vācāya veramaṇi samphappalāpā veramaṇī, ayaṁ vuccati, bhikkhave, sammāvācā.

Katamo ca, bhikkhave, sammākammanto?
Pāṇātipātā veramaṇī adinnādānā veramaṇī kāmesumicchācārā veramaṇī, ayaṁ vuccati, bhikkhave, sammākammanto.

Katamo ca, bhikkhave, sammā-ājīvo?
Idha, bhikkhave, ariyasāvako micchā-ājīvaṁ pahāya sammā-ājīvena jīvitaṁ kappeti, ayaṁ vuccati, bhikkhave, sammā-ājīvo.

Katamo ca, bhikkhave, sammāvāyāmo?
Idha, bhikkhave, bhikkhu anuppannānaṁ pāpakānaṁ akusalānaṁ dhammānaṁ anuppādāya chandaṁ janeti vāyamati vīriyaṁ ārabhati cittaṁ paggaṇhāti padahati; uppannānaṁ pāpakānaṁ akusalānaṁ dhammānaṁ pahānāya chandaṁ janeti vāyamati vīriyaṁ ārabhati cittaṁ paggaṇhāti padahati; anuppannānaṁ kusalānaṁ dhammānaṁ uppādāya chandaṁ janeti vāyamati vīriyaṁ ārabhati cittaṁ paggaṇhāti padahati; uppannānaṁ kusalānaṁ dhammānaṁ ṭhitiyā asammosāya bhiyyobhāvāya vepullāya bhāvanāya pāripūriyā chandaṁ janeti vāyamati vīriyaṁ ārabhati cittaṁ paggaṇhāti padahati. Ayaṁ vuccati, bhikkhave, sammāvāyāmo.

Katamā ca, bhikkhave, sammāsati?
Idha, bhikkhave, bhikkhu kāye kāyānupassī viharati ātāpī sampajāno satimā vineyya loke abhijjhā-domanassaṁ; vedanāsu vedanānupassī viharati ātāpī sampajāno satimā vineyya loke abhijjhā-domanassaṁ; citte cittānupassī viharati ātāpī sampajāno satimā vineyya loke abhijjhā-domanassaṁ; dhammesu dhammānupassī viharati ātāpī sampajāno satimā vineyya loke abhijjhā-domanassaṁ. Ayaṁ vuccati, bhikkhave, sammāsati.

Katamo ca, bhikkhave, sammāsamādhi?
Idha, bhikkhave, bhikkhu vivicceva kāmehi vivicca akusalehi dhammehi savitakkaṁ savicāraṁ vivekajaṁ pītisukhaṁ paṭhamaṁ jhānaṁ upasampajja viharati. Vitakkavicārānaṁ vūpasamā ajjhattaṁ sampasādanaṁ cetaso ekodibhāvaṁ avitakkaṁ avicāraṁ samādhijaṁ pītisukhaṁ dutiyaṁ jhānaṁ upasampajja viharati. Pītiyā ca virāgā upekkhako ca viharati, sato ca sampajāno, sukhañca kāyena paṭisaṁvedeti, yaṁ taṁ ariyā ācikkhanti ‘upekkhako satimā sukhavihārī’ti tatiyaṁ jhānaṁ upasampajja viharati. Sukhassa ca pahānā dukkhassa ca pahānā pubbeva somanassa-domanassānaṁ atthaṅgamā adukkhamasukhaṁ upekkhāsatipārisuddhiṁ catutthaṁ jhānaṁ upasampajja viharati. Ayaṁ vuccati, bhikkhave, sammāsamādhi. Idaṁ vuccati, bhikkhave, dukkhanirodhagāminī paṭipadā ariyasaccaṁ.”

----

 _/\_
"Dhamma has a value beyond all wealth and should not be sold like goods in a market place."

Offline Sumedho

  • Kebetulan
  • Administrator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 12.276
  • Reputasi: 413
  • Gender: Male
  • not self
Re: Jalan Mulia Berunsur Delapan
« Reply #1 on: 14 March 2010, 09:12:29 PM »
kode donk :) maksudnya nomor sutta-nya

thanks
There is no place like 127.0.0.1

Offline Sunkmanitu Tanka Ob'waci

  • Sebelumnya: Karuna, Wolverine, gachapin
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.740
  • Reputasi: 234
  • Gender: Male
Re: Jalan Mulia Berunsur Delapan
« Reply #2 on: 14 March 2010, 10:55:12 PM »
Vibhaṅgasuttaṃ, ada di proyek SN
HANYA MENERIMA UCAPAN TERIMA KASIH DALAM BENTUK GRP
Fake friends are like shadows never around on your darkest days

Offline Yi FanG

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 238
  • Reputasi: 30
  • Gender: Female
  • Namo Buddhaya...
Sutta Pemutaran Roda Dhamma
« Reply #3 on: 17 March 2010, 09:21:49 PM »
SUTTA PEMUTARAN RODA DHAMMA

Demikianlah telah kudengar:

Suatu ketika Bhagavā bersemayam di Taman Rusa Isipatana dekat kota Bārāṇasī. Saat itulah Bhagavā memanggil Pañcavaggiya-bhikkhu.1


             “Para Bhikkhu, ada 2 hal ekstrem yang tidak patut dijalankan oleh mereka yang telah meninggalkan rumah sebagai petapa, yakni:
(1) menuruti kesenangan hawa nafsu terhadap hal-hal yang menimbulkan hawa nafsu, yang rendah, duniawi, yang dilakukan oleh mereka yang bodoh, yang tidak luhur, dan tidak berfaedah,
(2) melakukan penyiksaan diri, yang menyakitkan, yang tidak luhur, dan tidak berfaedah.

O, para Bhikkhu, Jalan Tengah (majjhimā paṭipadā) yang terhindar dari kedua jalan ekstrem itu, yang telah sempurna diselami oleh Tathāgata, membuka mata batin, menimbulkan pengetahuan, membawa ketenangan, pengetahuan batin luar biasa, kesadaran agung, dan pencapaian Nibbāna.


             Apakah, o, para Bhikkhu, Jalan Tengah, yang telah sempurna diselami oleh Tathāgata, yang membuka mata batin, yang menimbulkan pengetahuan, yang membawa ketenangan, pengetahuan batin luar biasa, kesadaran agung, dan pencapaian Nibbāna itu?
Demikian inilah Jalan Mulia Berunsur Delapan (ariya aṭṭhaṅgika magga), yaitu:
sammādiṭṭhi         : pandangan benar,
sammāsaṅkappo  : pikiran benar,
sammāvācā          : ucapan benar,
sammākammanto : perbuatan benar,
sammā-ājīvo         : pencaharian benar,
sammāvāyāmo     : daya upaya benar,
sammāsati            : perhatian benar,
sammāsamādhi    : konsentrasi2  benar.

Itulah, o, para Bhikkhu, Jalan Tengah yang telah sempurna diselami oleh Tathāgata, yang membuka mata batin, yang menimbulkan pengetahuan, yang membawa ketenangan, pengetahuan batin luar biasa, kesadaran agung, dan pencapaian Nibbāna.


             Inilah, o, para Bhikkhu, Kebenaran Mulia tentang penderitaan (dukkha ariyasacca), yakni:
jātipi dukkhā                                                          : kelahiran adalah penderitaan,
jarāpi dukkhā                                                         : usia tua adalah penderitaan,
maraṇampi dukkhaṁ                                              : kematian adalah penderitaan,
sokaparidevadukkhadomanassupāyāsāpi dukkhā: kesedihan, ratap tangis, kesakitan/penderitaan (jasmani), kepedihan hati, dan keputusasaan adalah penderitaan,
appiyehi sampayogo dukkho                                 : berkumpul dengan yang tidak disenangi adalah penderitaan,
piyehi vippayogo dukkho                                       : berpisah dari yang disenangi adalah penderitaan,
yampicchaṁ na labhati tampi dukkhaṁ                  : tidak mendapat apa yang diinginkan adalah penderitaan,
saṅkhittena pañcupādānakkhandhā dukkhā         : singkatnya, lima gugusan pembentuk penyebab kemelekatan adalah penderitaan.

Inilah, o, para Bhikkhu, Kebenaran Mulia tentang asal mula penderitaan (dukkhasamudaya ariyasacca), yakni: kesenangan3  (taṇha) inilah, yang membuat kelahiran kembali, yang disertai dengan hawa nafsu dan kegemaran, yang menggemari objek di sana sini, yakni:
kāmataṇhā       : kesenangan terhadap nafsu indrawi,
bhavataṇhā      : kesenangan terhadap kemenjadian,
vibhavataṇhā    : kesenangan terhadap ketidakmenjadian.

Inilah, o, para Bhikkhu, Kebenaran Mulia tentang musnahnya penderitaan (dukkhanirodha ariyasacca), yakni: musnahnya kesenangan tersebut tanpa sisa karena lenyapnya nafsu, terlepasnya kesenangan, tertolaknya kesenangan, terbebas dari kesenangan, tak terikat oleh kesenangan.

Inilah, o, para Bhikkhu, Kebenaran Mulia tentang jalan menuju musnahnya penderitaan (dukkhanirodhagāminī patipadā ariyasacca). Demikian inilah Jalan Mulia Berunsur Delapan, yakni:
sammādiṭṭhi         : pandangan benar,
sammāsaṅkappo  : pikiran benar,
sammāvācā          : ucapan benar,
sammākammanto : perbuatan benar,
sammā-ājīvo         : pencaharian benar,
sammāvāyāmo     : daya upaya benar,
sammāsati            : perhatian benar,
sammāsamādhi    : konsentrasi  benar.


             O, para Bhikkhu, pada Tathāgata, telah timbul penglihatan (cakkhu), telah timbul pengetahuan (ñāṇa), telah timbul kebijaksanaan (paññā), telah timbul ilmu (vijjā), telah timbul sinar terang (āloka), atas segala yang tidak pernah Tathāgata dengar bahwa, ‘Ini adalah kebenaran mulia tentang penderitaan.’

O, para Bhikkhu, pada Tathāgata, telah timbul penglihatan, telah timbul pengetahuan, telah timbul kebijaksanaan, telah timbul ilmu, telah timbul sinar terang, atas segala hal yang tidak pernah Tathāgata dengar bahwa, ‘Kebenaran mulia tentang penderitaan ini patut dikenali (pariññeyya).’

O, para Bhikkhu, pada Tathāgata, telah timbul penglihatan, telah timbul pengetahuan, telah timbul kebijaksanaan, telah timbul ilmu, telah timbul sinar terang, atas segala hal yang tidak pernah Tathāgata dengar bahwa, ‘Kebenaran mulia tentang penderitaan ini telah dikenali (pariññāta).’


             O, para Bhikkhu, pada Tathāgata, telah timbul penglihatan, telah timbul pengetahuan, telah timbul kebijaksanaan, telah timbul ilmu, telah timbul sinar terang, atas segala hal yang tidak pernah Tathāgata dengar bahwa, ‘Ini adalah kebenaran mulia tentang asal mula penderitaan.’

O, para Bhikkhu, pada Tathāgata, telah timbul penglihatan, telah timbul pengetahuan, telah timbul kebijaksanaan, telah timbul ilmu, telah timbul sinar terang, atas segala hal yang tidak pernah Tathāgata dengar bahwa, ‘Kebenaran mulia tentang asal mula penderitaan ini patut dilenyapkan (pahātabba).’

O, para Bhikkhu, pada Tathāgata, telah timbul penglihatan, telah timbul pengetahuan, telah timbul kebijaksanaan, telah timbul ilmu, telah timbul sinar terang, atas segala hal yang tidak pernah Tathāgata dengar bahwa, ‘Kebenaran mulia tentang penderitaan ini telah dilenyapkan (pahīna).’


             O, para Bhikkhu, pada Tathāgata, telah timbul penglihatan, telah timbul pengetahuan, telah timbul kebijaksanaan, telah timbul ilmu, telah timbul sinar terang, atas segala hal yang tidak pernah Tathāgata dengar bahwa, ‘Ini adalah kebenaran mulia tentang musnahnya penderitaan.’

O, para Bhikkhu, pada Tathāgata, telah timbul penglihatan, telah timbul pengetahuan, telah timbul kebijaksanaan, telah timbul ilmu, telah timbul sinar terang, atas segala hal yang tidak pernah Tathāgata dengar bahwa, ‘Kebenaran mulia tentang musnahnya penderitaan ini patut dicapai (sacchikātabba).’

O, para Bhikkhu, pada Tathāgata, telah timbul penglihatan, telah timbul pengetahuan, telah timbul kebijaksanaan, telah timbul ilmu, telah timbul sinar terang, atas segala hal yang tidak pernah Tathāgata dengar bahwa, ‘Kebenaran mulia tentang musnahnya penderitaan ini telah dicapai (sacchikata).’


             O, para Bhikkhu, pada Tathāgata, telah timbul penglihatan, telah timbul pengetahuan, telah timbul kebijaksanaan, telah timbul ilmu, telah timbul sinar terang, atas segala hal yang tidak pernah Tathāgata dengar bahwa, ‘Ini adalah kebenaran mulia tentang jalan menuju musnahnya penderitaan.’

O, para Bhikkhu, pada Tathāgata, telah timbul penglihatan, telah timbul pengetahuan, telah timbul kebijaksanaan, telah timbul ilmu, telah timbul sinar terang, atas segala hal yang tidak pernah Tathāgata dengar bahwa, ‘Kebenaran mulia tentang jalan menuju musnahnya penderitaan ini patut dikembangkan (bhāvetabba).’

O, para Bhikkhu, pada Tathāgata, telah timbul penglihatan, telah timbul pengetahuan, telah timbul kebijaksanaan, telah timbul ilmu, telah timbul sinar terang, atas segala hal yang tidak pernah Tathāgata dengar bahwa, ‘Kebenaran mulia tentang jalan menuju musnahnya penderitaan ini telah dikembangkan (bhāvita).’


             O, para Bhikkhu, selama pemahaman terhadap pengetahuan sebagaimana yang sebenarnya (yathābhūta ñāṇadassana) tentang Empat Kebenaran Mulia, yang terdiri dari 3 tahap dan 12 ciri yang ada pada Tathāgata belum sempurna; tidak akanlah, o, para Bhikkhu, Tathāgata menyatakan diri sebagai orang yang mencapai penerangan sempurna, nan tiada bandingnya di dunia, di alam dewa, alam māra, dan alam brahma, bersama dengan himpunan para samaṇa, brāhmaṇa, dewa, dan manusianya.

Akan tetapi, o, para Bhikkhu, ketika pemahaman terhadap pengetahuan sebagaimana yang sebenarnya (yathābhūta ñāṇadassana) tentang Empat Kebenaran Mulia, yang terdiri dari 3 tahap dan 12 ciri yang ada pada Tathāgata telah sempurna; pada saat itulah, o, para Bhikkhu, Tathāgata menyatakan diri sebagai orang yang mencapai penerangan sempurna, nan tiada bandingnya di dunia, di alam dewa, alam māra, dan alam brahma, bersama dengan himpunan para samaṇa, brāhmaṇa, dewa, dan manusianya.”

Timbullah dalam diri Tathāgata pengetahuan dan pengertian, “Tak tergoncangkan kebebasan batin-Ku. Ini adalah kelahiran yang terakhir. Kini tidak ada tumimbal lahir lagi.” Inilah Sabda Bhagavā; Para bhikkhu Pañcavaggiya merasa puas dan bersukacita atas sabda Bhagavā.

Ketika sabda ini disampaikan, timbullah pada Y.M. Koṇḍañña Mata-Dhamma (Dhammacakkhu) yang bersih tanpa noda bahwa, “Segala sesuatu yang muncul karena faktor pembentuk; semuanya itu sewajarnya mengalami kemusnahan.” (Yaṅkiñci samudayadhammaṁ, sabbantaṁ nirodhadhammaṁ)


             Ketika Roda Dhamma (Dhammacakka) ini diputar oleh Bhagavā, para dewa bumi berseru mengumandangkan suara, “Itulah Roda Dhamma nan tiada taranya telah diputar oleh Bhagavā di Taman Rusa Isipatana dekat kota Bārāṇasī, yang tak dapat dihentikan oleh para samaṇa, brāhmaṇa, dewa, māra, brahma, atau siapa pun di dunia.”

Mendengar ucapan dewa-dewa bumi, para dewa Cātumahārājika berseru mengumandangkan suara “Itulah Roda Dhamma … di dunia.”

Mendengar ucapan dewa-dewa Cātumahārājika, para dewa Tāvatiṁsa berseru mengumandangkan suara “Itulah Roda Dhamma … di dunia.”

Mendengar ucapan dewa-dewa Tāvatiṁsa, para dewa Yāma berseru mengumandangkan suara “Itulah Roda Dhamma … di dunia.”

Mendengar ucapan dewa-dewa Yāma, para dewa Tusita berseru mengumandangkan suara “Itulah Roda Dhamma … di dunia.”

Mendengar ucapan dewa-dewa Tusita, para dewa Nimmānaratī berseru mengumandangkan suara “Itulah Roda Dhamma … di dunia.”

Mendengar ucapan dewa-dewa Nimmānaratī, para dewa Paranimmitavasavattī berseru mengumandangkan suara “Itulah Roda Dhamma … di dunia.”

Mendengar ucapan dewa-dewa Paranimmitavasavattī, para dewa yang bersemayam di alam brahma berseru mengumandangkan suara “Itulah Roda Dhamma nan tiada taranya telah diputar oleh Bhagavā di Taman Rusa Isipatana dekat kota Bārāṇasī, yang tak dapat dihentikan oleh para samaṇa, brāhmaṇa, dewa, māra, brahma, atau siapa pun di dunia.”

Demikianlah pada saat itu juga, suara berkumandang hingga menembus ke alam brahma. Serentak, 10.000 tingkat alam berguncang, bergeletar, bergoyah, dan sinar gilang-gemilang yang tiada taranya muncul di dunia melebihi kemampuan cahaya kedewaan.

Pada saat itu, Bhagavā berseru, “Koṇḍañña telah sungguh-sungguh mengerti, Saudara!” Karena itulah, Y.M. Koṇḍañña memperoleh sebutan “Añña Koṇḍañña”, Koṇḍañña yang Telah Mengerti.
---------

                             Anuttaraṁ abhisambodhiṁ                              Sambujjhitvā tathāgato
                             Paṭhamaṁ yaṁ adesesi                                   Dhammacakkaṁ anuttaraṁ
                             Sammadeva pavattento                                  Loke appaṭivattiyaṁ
                             Yatthākkhātā ubho antā                                 Paṭipatti ca majjhimā
                             Catūsvāriyasaccesu                                        Visuddhaṁ ñāṇadassanaṁ
                             Desitaṁ dhammarājena                                  Sammāsambodhi-kittanaṁ
                             Nāmena vissutaṁ suttaṁ                                Dhammacakkap-pavattanaṁ
                             Veyyākaraṇa-pāṭhena                                     Saṅgītantam-bhaṇāma se.



DHAMMACAKKAPPAVATTANA SUTTA4

             Evamme sutaṁ. Ekaṁ samayaṁ bhagavā, bārāṇasiyaṁ viharati, isipatane migadāye. Tatra kho bhagavā pañcavaggiye bhikkhū āmantesi.

             Dveme bhikkhave antā pabbajitena na sevitabbā, yo cāyaṁ kāmesu kāmasukhallikānuyogo, hīno gammo pothujjaniko anariyo anatthasañhito, yo cāyaṁ attakilamathānuyogo, dukkho anariyo anatthasañhito. Ete te bhikkhave ubho ante anupagamma, majjhimā paṭipadā tathāgatena abhisambuddhā, cakkhukaraṇī ñāṇakaraṇī upasamāya abhiññāya sambodhāya nibbānāya saṁvattati.

             Katamā ca sā bhikkhave majjhimā paṭipadā tathāgatena abhisambuddhā, cakkhukaraṇī ñāṇakaraṇī upasamāya abhiññāya sambodhāya nibbānāya saṁvattati. Ayameva ariyo aṭṭhaṅgiko maggo. Seyyathīdaṁ: sammādiṭṭhi sammāsaṅkappo, sammāvācā sammākammanto sammā-ājīvo, sammāvāyāmo sammāsati sammāsamādhi. Ayaṁ kho sā bhikkhave majjhimā paṭipadā tathāgatena abhisambuddhā, cakkhukaraṇī ñāṇakaraṇī upasamāya abhiññāya sambodhāya nibbānāya saṁvattati.

             Idaṁ kho pana bhikkhave dukkhaṁ ariyasaccaṁ. Jātipidukkhā jarāpi dukkhā maraṇampi dukkhaṁ, sokaparidevadukkha-domanassu-pāyāsāpi dukkhā, appiyehi sampayogo dukkho piyehi vippayogo dukkho yampicchaṁ na labhati tampi dukkhaṁ, saṅkhittena pañcupādānak-khandhā dukkhā.
Idaṁ kho pana bhikkhave dukkhasamudayo ariyasaccaṁ. Yāyaṁ taṇhā ponobbhavikā nandirāga-sahagatā tatra tatrābhinandinī. Seyyathīdaṁ: kāmataṇhā bhavataṇhā vibhavataṇhā.
Idaṁ kho pana bhikkhave dukkhanirodho ariyasaccaṁ. Yo tassāyeva taṇhāya asesavirāga-nirodho cāgo paṭinissaggo mutti anālayo.
Idaṁ kho pana bhikkhave dukkhanirodhagāminī paṭipadā ariyasaccaṁ, ayameva ariyo aṭṭhaṅgiko maggo. Seyyathīdaṁ: sammādiṭṭhi sammāsaṅkappo, sammāvācā sammākammanto sammā-ājīvo, sammāvāyāmo sammāsati sammāsamādhi.

             Idaṁ dukkhaṁ ariyasaccanti me bhikkhave, pubbe ananussutesu dhammesu, cakkhuṁ udapādi ñāṇaṁ udapādi paññā udapādi vijjā udapādi āloko udapādi.
Taṁ kho panidaṁ dukkhaṁ ariyasaccaṁ pariññeyyanti me bhikkhave, pubbe ananussutesu dhammesu, cakkhuṁ udapādi ñāṇaṁ udapādi paññā udapādi vijjā udapādi āloko udapādi.
Taṁ kho panidaṁ dukkhaṁ ariyasaccaṁ pariññātanti me bhikkhave, pubbe ananussutesu dhammesu, cakkhuṁ udapādi ñāṇaṁ udapādi paññā udapādi vijjā udapādi āloko udapādi.

             Idaṁ dukkhasamudayo ariyasaccanti me bhikkhave, pubbe ananussutesu dhammesu, cakkhuṁ udapādi ñāṇaṁ udapādi paññā udapādi vijjā udapādi āloko udapādi.
Taṁ kho panidaṁ dukkhasamudayo ariyasaccaṁ pahātabbanti me bhikkhave, pubbe ananussutesu dhammesu, cakkhuṁ udapādi ñāṇaṁ udapādi paññā udapādi vijjā udapādi āloko udapādi.
Taṁ kho panidaṁ dukkhasamudayo ariyasaccaṁ pahīnanti me bhikkhave, pubbe ananussutesu dhammesu, cakkhuṁ udapādi ñāṇaṁ udapādi paññā udapādi vijjā udapādi āloko udapādi.

             Idaṁ dukkhanirodho ariyasaccanti me bhikkhave, pubbe ananussutesu dhammesu, cakkhuṁ udapādi ñāṇaṁ udapādi paññā udapādi vijjā udapādi āloko udapādi.
Taṁ kho panidaṁ dukkhanirodho ariyasaccaṁ sacchikātabbanti me bhikkhave, pubbe ananussutesu dhammesu, cakkhuṁ udapādi ñāṇaṁ udapādi paññā udapādi vijjā udapādi āloko udapādi.
Taṁ kho panidaṁ dukkhanirodho ariyasaccaṁ sacchikatanti me bhikkhave, pubbe ananussutesu dhammesu, cakkhuṁ udapādi ñāṇaṁ udapādi paññā udapādi vijjā udapādi āloko udapādi.

             Idaṁ dukkhanirodha-gāminī paṭipadā ariyasaccanti me bhikkhave, pubbe ananussutesu dhammesu, cakkhuṁ udapādi ñāṇaṁ udapādi paññā udapādi vijjā udapādi āloko udapādi.
Taṁ kho panidaṁ dukkhanirodha-gāminī paṭipadā ariyasaccaṁ bhāvetabbanti me bhikkhave, pubbe ananussutesu dhammesu, cakkhuṁ udapādi ñāṇaṁ udapādi paññā udapādi vijjā udapādi āloko udapādi.
Taṁ kho panidaṁ dukkhanirodha-gāminī paṭipadā ariyasaccaṁ bhāvitanti me bhikkhave, pubbe ananussutesu dhammesu, cakkhuṁ udapādi ñāṇaṁ udapādi paññā udapādi vijjā udapādi āloko udapādi.

             Yāvakīvañca me bhikkhave imesu catūsu ariyasaccesu, evantiparivaṭṭaṁ dvādasākāraṁ yathābhūtaṁ ñāṇadassanaṁ na suvisuddhaṁ ahosi. Neva tāvāhaṁ bhikkhave sadevake loke samārake sabrahmake, sassamaṇabrāhmaṇiyā pajāya sadevamanussāya, anuttaraṁ sammāsambodhiṁ abhisambuddho paccaññāsiṁ.
Yato ca kho me bhikkhave imesu catūsu ariyasaccesu, evantiparivaṭṭaṁ dvādasākāraṁ yathābhūtaṁ ñāṇadassanaṁ suvisuddhaṁ ahosi. Athāhaṁ bhikkhave sadevake loke samārake sabrahmake, sassamaṇabrāhmaṇiyā pajāya sadevamanussāya, anuttaraṁ sammāsambodhiṁ abhisambuddho paccaññāsiṁ, ñāṇañca pana me dassanaṁ udapādi, akuppā me vimutti, ayamantimā jāti, natthidāni punabbhavoti. Idamavoca bhagavā. Attamanā pañcavaggiyā bhikkhū bhagavato bhāsitaṁ abhinanduṁ.
Imasmiñca pana veyyākaraṇasmiṁ bhaññamāne, āyasmato koṇḍaññassa virajaṁ vītamalaṁ dhammacakkhuṁ udapādi. Yaṇkiñci samudayadhammaṁ sabbantaṁ nirodhadhammanti.

             Pavattite ca bhagavatā dhammacakke, bhummā devā saddamanussāvesuṁ, etambhagavatā bārāṇasiyaṁ isipatane migadāye anuttaraṁ dhammacakkaṁ pavattitaṁ, appaṭivattiyaṁ samaṇena vā brāhmaṇena vā devena vā mārena vā brahmunā vā kenaci vā lokasminti. 
Bhummānaṁ devānaṁ saddaṁ sutvā, cātummahārājikā devā saddamanussāvesuṁ.
Cātummahārājikānaṁ devānaṁ saddaṁ sutvā, tāvatiṁsā devā saddamanussāvesuṁ.
Tāvatiṁsānaṁ devānaṁ saddaṁ sutvā, yāmā devā saddamanussāvesuṁ.
Yāmānaṁ devānaṁ saddaṁ sutvā, tusitā devā saddamanussāvesuṁ.
Tusitānaṁ devānaṁ saddaṁ sutvā, nimmānaratī devā saddamanussāvesuṁ.
Nimmānaratīnaṁ devānaṁ saddaṁ sutvā, paranimmitavasavattī devā saddamanussāvesuṁ.
Paranimmitavasavattīnaṁ devānaṁ saddaṁ sutvā, brahmakāyikā devā saddamanussāvesuṁ. Etambhagavatā bārāṇasiyaṁ isipatane migadāye anuttaraṁ dhammacakkaṁ pavattitaṁ, appaṭivattiyaṁ samaṇena vā brāhmaṇena vā devena vā mārena vā brahmunā vā kenaci vā lokasminti. Itiha tena khaṇena tena muhuttena, yāva brahmalokā saddo abbhuggacchi. Ayañca dasasahassī lokadhātu, saṅkampi sampakampi sampavedhi. Appamāṇo ca oḷāro obhāso loke pāturahosi. Atikkammeva devānaṁ devānubhāvaṁ. Atha kho bhagavā udānaṁ udānesi, aññāsi vata bho koṇḍañño, aññāsi vata bho koṇḍaññoti. Itihidaṁ āyasmato koṇḍaññassa, aññākoṇḍaññotveva nāmaṁ, ahosīti.
---------



1 Sebutan untuk 5 orang bhikkhu buddhasāvaka pertama, yakni: Ayya Aññā Koṇḍañña, Ayya Bhaddiya, Ayya Vappa, Ayya Mahānāma dan Ayya Assaji.
2 Keteguhan pikiran.
3 Kegandrungan atau kesenangan terhadap segala sesuatu demi bertahannya samsāra.
4 Vinayapiṭaka, Mahāvibaṅga; Saṁyuttanikāya, Mahāvagga.


 _/\_
« Last Edit: 17 March 2010, 09:25:05 PM by Yi FanG »
"Dhamma has a value beyond all wealth and should not be sold like goods in a market place."

Offline Yi FanG

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 238
  • Reputasi: 30
  • Gender: Female
  • Namo Buddhaya...
Re: Jalan Mulia Berunsur Delapan
« Reply #4 on: 17 March 2010, 09:28:23 PM »
kode donk :) maksudnya nomor sutta-nya

thanks

s0rry y.. sy ga tw, s0alny catat dr p0ster pnya ..
Hhe ..  :)
"Dhamma has a value beyond all wealth and should not be sold like goods in a market place."

Offline The Ronald

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.163
  • Reputasi: 85
  • Gender: Male
Re: Jalan Mulia Berunsur Delapan
« Reply #5 on: 17 March 2010, 09:39:14 PM »
wah.. catat? ketik sendiri??
Dhamma sang Bhagava telah sempurna dibabarkan; berada sangat dekat; tak lapuk oleh waktu; mengundang untuk di buktikan; menuntun ke dalam batin; dapat di selami oleh para bijaksana dalam batin masing-masing;

Offline Yi FanG

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 238
  • Reputasi: 30
  • Gender: Female
  • Namo Buddhaya...
Re: Jalan Mulia Berunsur Delapan
« Reply #6 on: 17 March 2010, 09:55:56 PM »
wah.. catat? ketik sendiri??

iyo.. mksudny ketikny liat dr p0ster, sana ga da n0m0r.  :)
"Dhamma has a value beyond all wealth and should not be sold like goods in a market place."

Offline Utphala Dhamma

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 109
  • Reputasi: 16
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Jalan Mulia Berunsur Delapan
« Reply #7 on: 02 September 2010, 01:15:46 AM »
SN 22.84. Tissa Sutta: Khotbah Dorongan Semangat dari Sang Buddha kepada Bhikkhu Tissa
Adaptasi terjemahan dari Pali oleh Thanissaro Bhikkhu dan Walshe.
 
    "Tissa, seumpama ada dua orang, yang satu tidak tahu jalan, yang lain tahu jalan. Dalam hal ini, yang tidak tahu jalan bertanya pada orang yang tahu jalan. Ia menjawab, "Benar, Sobat, inilah jalannya. Teruskanlah selama beberapa saat dan engkau akan tiba pada suatu persimpangan. Jangan ambil yang kiri, tapi ambillah jalan yang di sebelah kanan. Teruskan sedikit, dan engkau akan sampai pada sebuah hutan rimba yang lebat. Lanjutkan sedikit lagi, dan engkau akan melihat sebuah rawa yang luas. Lanjutkan sedikit lebih jauh, dan engkau akan melihat jurang yang dalam. Tetap lanjutkan sedikit lebih jauh lagi, dan engkau akan melihat sebidang tanah lapang yang menyenangkan.
     
    "Aku membuat perumpamaan ini untuk menjelaskan maksudku: Orang yang tidak tahu jalan mewakili umat awam (yang belum memasuki arus), dan orang yang tahu jalan mewakili Sang Tathagata, Arahat, Samma Sambuddha, yang telah mencapai Penerangan Sempurna. Persimpangan jalan mewakili keragu-raguan. Cabang sebelah kiri mewakili jalan yang salah dan cabang sebelah kanan mewakili Jalan Mulia Beruas Delapan. Hutan yang lebat mewakili ketidaktahuan. Rawa yang luas mewakili nafsu indera. Jurang yang dalam melambangkan kejengkelan dan keputusasaan. Sebidang tanah lapang yang menyenangkan mewakili Nibbana.
   
    " Bergembiralah, Tissa, Bergembiralah. Aku di sini untuk menasihatimu, Aku di sini untuk mendukungmu, Aku di sini untuk memberimu petunjuk!"

 

LENGKAPNYA:

    Di Savatthi. Pada suatu kesempatan Bhikkhu Tissa, kemenakan laki-laki Sang Bhagava, mengatakan kepada sejumlah bhikkhu, "Sahabat, seolah-olah tubuh saya terbius, saya telah kehilangan arah. Hal-hal menjadi tidak jelas bagi saya. Batin saya terus diliputi dengan kemalasan & ketumpulan. Saya tidak bahagia menjalani kehidupan suci ini. Saya memiliki keraguan mengenai Dhamma.. "

    Kemudian sejumlah besar bhikkhu pergi ke Sang Bhagava dan, pada kedatangan, setelah sujud kepada Beliau, duduk di satu sisi. Ketika mereka duduk di sana, mereka menceritakan apa yang telah Bhikkhu Tissa katakan. Kemudian Sang Bhagava berkata kepada salah seorang bhikkhu, "Oh bhikkhu, panggilkan Tissa untukku"

    "Seperti yang Anda katakan, Yang Mulia," bhikkhu itu menjawab, dan setelah menjumpai Bhikkhu Tissa, ia berkata, "Guru memanggil anda, sahabat."
     
    "Seperti yang Anda katakan, sahabat," Bhikkhu Tissa menjawab. Kemudian ia pergi ke Sang Bhagava dan setelah sujud kepada Beliau, ia duduk di satu sisi. Kemudian, Sang Bhagava berkata kepadanya, "Apakah benar, Tissa, yang telah engkau katakan pada sejumlah besar bhikkhu, ‘Sahabat, seolah-olah tubuh saya terbius, saya telah kehilangan arah.. Hal-hal menjadi tidak jelas bagi saya. Batin saya terus diliputi dengan kemalasan & ketumpulan. Saya tidak bahagia menjalani kehidupan suci ini. Saya memiliki keraguan mengenai Dhamma’.. ? "
     
    "Benar, Yang Mulia."

    "Apa pendapatmu, Tissa: Pada seseorang yang tidak terbebas dari kegairahan, keinginan, kerinduan, kehausan, demam, & ketagihan terhadap jasmani, … perasaan, … persepsi, … bentuk-bentuk pikiran, ... kesadaran, apakah timbul kesedihan, ratapan, penderitaan, dukacita, & keputus-asaan dari perubahan dan ketidak-kekalan jasmani, … perasaan, … persepsi, … bentuk-bentuk pikiran, … kesadaran ? "

    "Iya, Yang Mulia."

    "Bagus, Tissa, bagus. Itulah bagaimana seseorang yang tidak terbebas dari kegairahan terhadap jasmani, … perasaan, … persepsi, … bentuk-bentuk pikiran, … kesadaran.”

    "Sekarang bagaimana menurutmu, Tissa: Pada seseorang yang terbebas dari kegairahan, keinginan, kerinduan, kehausan, demam, & ketagihan terhadap jasmani, … perasaan, … persepsi, … bentuk-bentuk pikiran, ... kesadaran, apakah timbul kesedihan, ratapan, penderitaan, dukacita, & keputus-asaan dari perubahan dan ketidak-kekalan jasmani, … perasaan, … persepsi, … bentuk-bentuk pikiran, … kesadaran ? "
   
    "Tidak, Yang Mulia."   

    "Bagus, Tissa, bagus. Itulah bagaimana seseorang yang terbebas dari kegairahan terhadap jasmani, … perasaan, … persepsi, … bentuk-bentuk pikiran, … kesadaran.”

    "Apa pendapatmu, Tissa - Apakah jasmani konstan (kekal) atau tidak konstan (tidak kekal)?"
    "Tidak kekal, Yang Mulia."
   
    "Dan apakah hal yang tidak kekal itu memberikan kenyamanan atau penderitaan?"
    "Penderitaan, Yang Mulia."     

    "Dan apakah tepat sesuatu yang tidak kekal, menyebabkan penderitaan, tunduk pada hukum perubahan sebagai: 'Ini milikku. Ini adalah diriku. Ini adalah aku'?"
    "Tidak, Yang Mulia."
   
    "... Apakah sensasi kekal atau tidak kekal?"
    "Tidak kekal, Yang Mulia."...
   
    "... Apakah persepsi kekal atau tidak kekal?"
    "Tidak kekal, Yang Mulia."...
     
    "...Apakah bentukan kekal atau tidak kekal?"
    "Tidak kekal, Yang Mulia."...
     
    "Bagaimana menurutmu, para bhikkhu — Apakah kesadaran kekal atau tidak kekal?"
    "Tidak kekal, Yang Mulia."
     
    "Dan apakah hal yang tidak kekal itu memberikan kenyamanan atau penderitaan?"
    "Penderitaan, Yang Mulia."
     
    "Dan apakah tepat sesuatu yang tidak kekal, menyebabkan penderitaan, tunduk pada hukum perubahan sebagai: 'Ini milikku. Ini adalah diriku. Ini adalah aku'?"
    "Tidak, Yang Mulia."
     
    "Karena itu, para bhikkhu, apapun jasmani di masa lampau, masa depan, atau masa sekarang; di dalam atau di luar; kasar atau halus; rendah atau luhur; jauh atau dekat; apapun jasmani dilihat sebagai apa adanya dengan pemahaman benar sebagai: 'Ini bukan milikku. Ini bukan diriku. Ini bukan aku.'
     
    "Perasaan (sensasi) apapun...
    "Persepsi apapun...
    "Bentukan [batin] apapun...
   
    "Kesadaran apapun di masa lampau, masa depan, atau masa sekarang; di dalam atau di luar; kasar atau halus; rendah atau luhur; jauh atau dekat: apapun kesadaran dilihat sebagai apa adanya dengan pemahaman benar sebagai: 'Ini bukan milikku. Ini bukan diriku. Ini bukan aku.'
     
    "Melihat demikian, siswa Ariya, yang telah memahaminya dengan baik, menjadi tak terpesona pada jasmani, tak terpesona pada perasaan, tak terpesona pada persepsi, tak terpesona pada bentukan [batin], tak terpesona pada kesadaran. Setelah tak terpesona dia menjadi tidak tertarik. Setelah tidak tertarik, dia terbebas sepenuhnya. Dengan terbebas penuh, disana ada pengetahuan, 'Terbebas sepenuhnya.' Dia mengerti bahwa 'Kelahiran telah berakhir, kehidupan suci telah terpenuhi, tugas telah selesai. Tidak ada lagi lebih jauh untuk dunia ini (lingkaran samsara terpatahkan).'"
     
    "Tissa, seumpama ada dua orang, yang satu tidak tahu jalan, yang lain tahu jalan. Dalam hal ini, yang tidak tahu jalan bertanya pada orang yang tahu jalan. Ia menjawab, "Benar, Sobat, inilah jalannya. Teruskanlah selama beberapa saat dan engkau akan tiba pada suatu persimpangan. Jangan ambil yang kiri, tapi ambillah jalan yang di sebelah kanan. Teruskan sedikit, dan engkau akan sampai pada sebuah hutan rimba yang lebat. Lanjutkan sedikit lagi, dan engkau akan melihat sebuah rawa yang luas. Lanjutkan sedikit lebih jauh, dan engkau akan melihat jurang yang dalam. Tetap lanjutkan sedikit lebih jauh lagi, dan engkau akan melihat sebidang tanah lapang yang menyenangkan.
     
    "Aku membuat perumpamaan ini untuk menjelaskan maksudku: Orang yang tidak tahu jalan mewakili umat awam (yang belum memasuki arus), dan orang yang tahu jalan mewakili Sang Tathagata, Arahat, Samma Sambuddha, yang telah mencapai Penerangan Sempurna. Persimpangan jalan mewakili keragu-raguan. Cabang sebelah kiri mewakili jalan yang salah dan cabang sebelah kanan mewakili Jalan Mulia Beruas Delapan (pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, penghidupan benar, daya upaya benar, perhatian benar dan konsentrasi benar). Hutan yang lebat mewakili ketidaktahuan. Rawa yang luas mewakili nafsu indera. Jurang yang dalam melambangkan kejengkelan dan keputusasaan. Sebidang tanah lapang yang menyenangkan mewakili Nibbana.
     
    " Bergembiralah, Tissa, Bergembiralah. Aku di sini untuk menasihatimu, Aku di sini untuk mendukungmu, Aku di sini untuk memberimu petunjuk!"
     
    Demikian yang dikatakan Sang Bhagava. Berterimakasih, Bhikkhu Tissa bergembira atas kata-kata Sang Bhagava. 
     

Daftar Pustaka:
BUDDHA VACANA (Sabda-sabda Sang Buddha), Y.A. Shravasti Dhammika, Yayasan Penerbit Karaniya.

Offline hemayanti

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.457
  • Reputasi: 178
  • Gender: Female
  • Appamadena Sampadetha
Re: Jalan Mulia Berunsur Delapan
« Reply #8 on: 04 November 2010, 12:12:15 PM »
minta ijin copas boleh gak??  ;D
"Sekarang, para bhikkhu, Aku mengatakan ini sebagai nasihat terakhir-Ku: kehancuran adalah sifat dari segala sesuatu yang terbentuk. Oleh karena itu, berjuanglah dengan penuh kesadaran."

Offline williamhalim

  • Sebelumnya: willibordus
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.870
  • Reputasi: 134
  • Gender: Male
Re: Jalan Mulia Berunsur Delapan
« Reply #9 on: 04 November 2010, 01:18:17 PM »
kode donk :) maksudnya nomor sutta-nya

thanks

sekalian pasang, siapa tau kenak 2,2 million singapur

::
Walaupun seseorang dapat menaklukkan beribu-ribu musuh dalam beribu kali pertempuran, namun sesungguhnya penakluk terbesar adalah orang yang dapat menaklukkan dirinya sendiri (Dhammapada 103)

Offline sihebat11

  • Tamu
  • *
  • Posts: 2
  • Reputasi: 1
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Jalan Mulia Berunsur Delapan
« Reply #10 on: 14 December 2010, 01:51:20 PM »
mantap trit ini _/\_

Offline DNA

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 126
  • Reputasi: 23
  • Dhamma Nan Agung
SILA, SAMADHI, dan PANNA
« Reply #11 on: 01 January 2011, 02:11:54 PM »
Sila, Samadhi, dan Panna

           Berlatihlah seperti itu. Bila orang ingin ngomong panjang lebar tentang teori, itu urusan mereka. Namun tak peduli berapa banyak diperdebatkan, latihan itu selalu tiba pada titik yang satu ini. Ketika sesuatu muncul, ia munculnya di sini. Entah banyak atau sedikit, ia berasal tepat di sini. Ketika ia berhenti, penghentiannya pun tepat di sini. Ya mau di mana lagi?—Sang Buddha menyebut titik ini sebagai “yang Mengetahui” (the “Knowing”). Ketika the “Knowing” ini mengetahui segala sesuatu dengan akurat, yakni sesuai dengan kebenaran, kita bakal memahami seperti apa pikiran itu. Segala macam hal tak henti-hentinya membohongi. Anda mempelajarinya, namun pada saat yang sama mereka mengelabui anda. Ya, bagaimana lagi saya harus ngomong? Walaupun anda memahami mereka, namun anda tetap saja masih dikecoh olehnya justru persis pada pemahaman anda itu. Itulah situasinya. Menurut hemat saya, inti masalahnya adalah: Sang Buddha tidak ingin kita cuma sekadar tahu tentang bagaimana menamai hal-hal diatas. Tujuan dari ajaran Sang Buddha adalah memahami jalan yang membebaskan diri kita dari hal-hal tersebut melalui penyelidikan akan pelbagai sebab [penderitaan] yang mendasari (the underlying causes).

           Saya mempraktikkan Dhamma dengan tanpa banyak pengetahuan [teori]. Saya hanya tahu jalan untuk pembebasan dimulai dengan moralitas atau kebajikan (sila). Sila merupakan indahnya permulaan dari Jalan. Kedamaian yang mendalam dari samadhi merupakan indahnya pertengahan. Kebijaksanaan (panna) adalah indahnya akhir. Kendati mereka dapat dibagi atas tiga aspek unik dari latihan, bila kita meninjau lebih dalam lagi, ketiga kualitas ini bertemu menjadi satu. Untuk mendukung kebajikan, anda harus bijak. Kita biasanya menganjurkan orang untuk mengembangkan standar etikanya dengan menjaga lima aturan perilaku (Panca Sila), dengan demikian sila-nya akan menjadi mantap. Bagaimanapun kesempurnaan sila memerlukan banyak kebijaksanaan (wisdom). Kita harus mempertimbangkan perkataan dan tindakan kita, serta menganalisa konsekuensinya. Inilah pekerjaan dari kebijaksanaan. Kita mesti mengandalkan wisdom untuk menumbuhkan kebajikan.

           Menurut teori, kebajikan datang duluan, lalu samadhi dan selanjutnya kebijaksanaan. Namun, ketika saya menelitinya sendiri, ternyata saya menemukan bahwa sesungguhnya kebijaksanaan merupakan landasan setiap aspek lain dari praktik. Agar memahami sepenuhnya segala konsekuensi dari apa yang kita ucapkan dan lakukan—khususnya yang merugikan—kita perlu mengunakan wisdom guna menuntun, mengendalikan, dan menyelidiki bekerjanya sebab-dan-akibat. Ini akan memurnikan (purify) perbuatan dan ucapan kita. Manakala kita menjadi terbiasa dengan tindakan etis dan tidak etis, kita mulai paham untuk berlatih. Kita pun lalu meninggalkan apa yang buruk dan menumbuhkan apa yang baik. Kita meninggalkan yang salah dan mengembangkan yang benar. Inilah: kebajikan. Dengan menjalankan ini, batin bertambah kokoh dan tabah. Ketegaran serta kemantapan ini bebas dari kekhawatiran, rasa bersalah, keraguan dalam bertindak dan berbicara. Inilah: samadhi.

           Penyatuan pikiran yang stabil ini membentuk tambahan sumber tenaga yang lebih kuat lagi bagi praktik kita, membuat kontemplasi yang lebih mendalam pada penglihatan, pendengaran, segala yang kita alami. Begitu pikiran telah terbentuk dengan perhatian-penuh (mindfulness) yang kokoh, mantap serta damai—kita bisa memulai penyelidikan tanpa putus terhadap realitas tubuh, perasaan, persepsi, buah pikir, kesadaran, penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, sensasi, dan segala objek dari pikiran. Sebagaimana mereka selalu muncul, kita pun terus-menerus gigih menginvestigasi dengan sepenuh hati tanpa kehilangan mindfulness sedikit pun. Kemudian kita akan tahu hal yang sebenarnya. Mereka sekadar muncul ke eksistensi sesuai dengan hakekat alamiahnya sendiri. Sejalan dengan tumbuhnya pemahaman kita, maka lahirlah kebijaksanaan. Begitu ada pemahaman jernih akan kebenaran segala sesuatu, maka persepsi-persepsi kolot kita bakal tercabut dan pengetahuan konseptual kita pun lalu transformasi menjadi wisdom. Demikianlah kebajikan, samadhi, dan kebijaksanaan bergabung serta berfungsi sebagai satu kesatuan.

           Dengan bertambahnya kekuatan serta keteguhan dari kebijaksanaan, samadhi akan jadi kian mantap. Semakin samadhi tak tergoyahkan, sila secara menyeluruh pun kian tak tergoncangkan. Sempurnanya sila, akan turut mengembangkan samadhi; meningkatnya penguatan samadhi mendorong matangnya kebijaksanaan. Inilah tiga aspek dari latihan yang saling membaur kait-mengait. Kesatuannya disebut Jalan Mulia Berunsur Delapan, jalan Sang Buddha.—Ketika Sila, Samadhi, dan Panna mencapai puncaknya, Jalan ini mampu mencabut semua ketidakmurnian dalam pikiran. Saat nafsu keinginan, kebencian, dan kebodohan tampil, Jalan inilah satu-satunya yang dapat membabatnya habis hingga ke akar-akar.


           Kerangka dari praktik Dhamma adalah Empat Kebenaran Mulia, yaitu: Kebenaran adanya penderitaan (dukkha), sebab dari penderitaan (samudaya), berhentinya penderitaan (nirodha), dan Jalan menuju lenyapnya penderitaan (magga). Jalan ini terdiri dari kebajikan, samadhi, dan kebijaksanaan—kerangka dalam melatih batin ini. Maksud sebenarnya bukan ditemukan dalam kata-kata tersebut, tetapi ada di kedalaman batin kita. Begitulah sila, samadhi, dan panna. Mereka berputar terus menerus. Jalan Mulia Berunsur Delapan akan melingkupi setiap pemandangan, suara, bau, rasa, sensasi tubuh, dan objek pikiran yang muncul. Namun demikian, apabila unsur-unsur dari Jalan Mulia ini lemah dan lesu, kotoran-batin akan menguasai pikiran kita. Sebaliknya, kalau Jalan ini kuat dan teguh, ia akan mengalahkan dan menghancurkan kekotoran tersebut. Jika kekotoran begitu kuat dan tangguh, sementara Jalan ini ringkih dan lemah, maka kekotoran bakal mengalahkan Sang Jalan. Mereka akan menguasai batin kita.

           Apabila the knowing kurang sigap dan gesit, begitu bentuk-bentuk pikiran, perasaan, persepsi serta buah-buah-pikir muncul, maka mereka akan segera menguasai dan menghancurkan kita. Sang Jalan dan kekotoran batin itu berjalan beriringan. Dengan berkembangnya latihan Dhamma dalam batin kita, kedua kekuatan itu mesti bertarung pada setiap langkahnya. Ini seperti dua orang yang bertengkar dalam pikiran kita. Tetapi ini hanyalah Jalan Dhamma dan kekotoran yang saling bergulat untuk menguasai batin. Jalan ini menuntun serta mengembangkan kemampuan kita untuk terus menyelidiki dengan perhatian-penuh. Selama kita mampu berkontemplasi secara tepat, kekotoran-batin akan kehilangan pijakannya. Namun bila kita goyah, seketika itu pula kekotoran bersatu-padu dan mendapatkan kekuatannya kembali. Sang Jalan akan terkepung ketika kekotoran kembali merebut posisinya. Kedua pihak ini akan terus bertempur hingga ada pemenangnya, serta seluruh urusan telah dirampungkan.

           Bila kita memusatkan usaha kita untuk mengembangkan Jalan Dhamma, kekotoran akan berangsur-angsur musnah. Begitu tumbuh secara penuh, Empat Kebenaran Mulia akan menetap dalam batin. Dalam bentuk apa pun penderitaan itu hadir, ia selalu berkaitan dengan suatu sebab. Itulah Kebenaran Mulia Ke dua. Dan apa penyebabnya? Lemahnya kebajikan, samadhi, dan kebijaksanaan. Saat Sang Jalan tak mampu bertahan, kekotoran menguasai pikiran. Ketika mereka menguasai, Kebenaran Ke dua berperan dan kekotoran ini menimbulkan beragam jenis penderitaan. Saat kita menderita, segala kualitas untuk menumpas penderitaan pun hilang.—Sebaliknya jika kondisi-kondisi yang menyokong Sila, Samadhi, dan Panna mencapai kekuatan maksimal, Jalan Dhamma tidak dapat dihentikan, melaju terus mengatasi kemelekatan dan keterikatan yang telah membuat kita begitu menderita. Penderitaan tidak dapat muncul karena Jalan telah melenyapkan kekotoran batin. Di sinilah berhentinya penderitaan. Mengapa Jalan dapat melenyapkan penderitaan? Karena sila, samadhi, dan panna telah mencapai puncak kesempurnaan, dan Sang Jalan telah membangun suatu momentum yang tidak dapat dibendung lagi. Semuanya hadir bersamaan tepat disini. —Bahkan saya mau katakan bahwa: siapa saja yang berpraktik seperti ini, segala ide teoritis [tentang pikiran] tidak bakalan muncul. Bila pikiran telah terbebaskan dari hal-hal ini, maka ia benar-benar dapat diandalkan dan pasti. Kini apa pun jalannya yang hendak ditempuh, kita tidak perlu lagi terlalu pusing mengendalikannya agar tetap lurus.

           Bayangkanlah daun-daun pohon mangga. Seperti apakah mereka? Dengan meneliti cukup satu daun saja kita akan tahu seperti apa yang lainnya walau mungkin terdapat sepuluh ribu daun. Yang lain pada dasarnya sama saja. Begitu juga dengan batangnya, kita hanya perlu melihat batang dari satu pohon mangga untuk mengetahui karakteristik semuanya. Hanya melihat pada satu pohon. Semua pohon mangga lainnya pada dasarnya tidaklah berbeda. Walaupun terdapat seratus ribu pohon, jika satu diketahui, maka semuanya juga diketahui. Inilah yang diajarkan Sang Buddha.

           Kebajikan, samadhi, dan kebijaksanaan memang membentuk Jalan Sang Buddha. Tapi Jalan ini sendiri bukanlah esensi dari Dhamma. Jalan ini bukanlah tujuan-akhir, bukan sasaran utama Sang Bhagava. Tetapi sekadar jalan yang menuntun ke dalam batin. Ini seperti saat anda berkunjung dari Bangkok ke vihara ini, Wat Nong Pah Pong. Bukanlah jalan itu yang hendak dicapai. Apa yang diinginkan adalah mencapai vihara, tapi untuk mencapainya anda memerlukan jalan tersebut. Jalan yang anda lalui bukanlah vihara, ini merupakan cara untuk tiba ke sana. Hal ini sama seperti kebajikan, samadhi, dan kebijaksanaan. Kita dapat mengatakan mereka bukanlah esensi dari Dhamma, tetapi merupakan jalan untuk tiba ke sana. Saat sila, samadhi, dan panna telah kita kuasai, hasilnya adalah kedamaian pikiran yang sangat mendalam. Itulah tujuannya. Begitu kita tiba di sana, walaupun ada kebisingan, pikiran tetap tenang seimbang. Saat kita mencapai kedamaian ini, tidak ada yang perlu dilakukan lagi. Sang Buddha mengajarkan untuk melepas. Apa pun yang terjadi, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Kemudian kita benar-benar yakin dan tahu sendiri. Kita tidak lagi sekadar memercayai perkataan orang lain.

Sumber: Damai Tak Tergoyahkan - Ajahn Chah

 _/\_
« Last Edit: 01 January 2011, 02:17:10 PM by DNA »
May these merits of mine lead me to the extinction of all defilements
May these merits of mine be conducive to my attainment of Nibbana
May all sentient beings obtain the share of my merits and be well and happy always. Sadhu3..

Offline icykalimu

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 115
  • Reputasi: 4
  • Gender: Male
  • from zero to hero
Re: Jalan Mulia Berunsur Delapan
« Reply #12 on: 01 July 2011, 06:11:20 PM »
DN 22 Mahāsatipaṭṭhāna Sutta

...
21. ‘Dan apakah, para bhikkhu, Kebenaran Mulia Jalan Praktik Menuju Lenyapnya Penderitaan? Yaitu, Jalan Mulia berfaktor Delapan, yaitu: Pandangan Benar, Pikiran Benar, Ucapan Benar, Perbuatan Benar, Penghidupan Benar, Usaha Benar, Perhatian Benar, Konsentrasi Benar.’

‘Dan apakah, para bhikkhu, Pandangan Benar?[85] [312] yaitu, para bhikkhu, pengetahuan tentang penderitaan, pengetahuan tentang asal-mula penderitaan, pengetahuan tentang lenyapnya penderitaan, dan pengetahuan tentang praktik menuju lenyapnya penderitaan. Ini disebut Pandangan Benar.’

‘Dan apakah, para bhikkhu, Pikiran Benar?[86] Pikiran meninggalkan keduniawian, pikiran ketidakbencian, pikiran ketidakkejaman. Ini, para bhikkhu, disebut Pikiran Benar.’

‘Dan apakah, para bhikkhu, Ucapan Benar? Menghindari berbohong, menghindari fitnah, menghindari ucapan kasar, menghindari kata-kata yang tidak berguna. Ini disebut Ucapan Benar.’

‘Dan apakah, para bhikkhu, Perbuatan Benar? Menghindari pembunuhan, menghindari mengambil apa yang tidak diberikan, menghindari melakukan hubungan seksual yang salah. Ini disebut Perbuatan Benar.’

‘Dan apakah, para bhikkhu, Penghidupan Benar? Di sini, para bhikkhu, seorang Siswa Ariya, setelah meninggalkan penghidupan salah, mempertahankan hidupnya dengan Penghidupan Benar.’

‘Dan apakah, para bhikkhu, Usaha Benar? Di sini, para bhikkhu, seorang bhikkhu membangkitkan kehendak, mengerahkan daya upaya, menggerakkan usaha, mengerahkan pikirannya dan berusaha untuk mencegah munculnya kondisi batin buruk yang belum muncul. Ia membangkitkan kehendak ... dan berusaha untuk mengatasi kondisi batin buruk yang telah muncul. Ia membangkitkan kehendak ... dan berusaha untuk memunculkan kondisi batin baik yang belum muncul. Ia membangkitkan kehendak, mengerahkan daya upaya, menggerakkan usaha, mengerahkan pikirannya dan berusaha untuk mempertahankan kondisi batin baik yang telah muncul, tidak membiarkannya memudar, menumbuhkan lebih besar, hingga sempurna dalam pengembangan. Ini disebut Usaha Benar.’

‘Dan apakah, para bhikkhu, Perhatian Benar? Di sini, para bhikkhu, seorang bhikkhu berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani, tekun, sadar jernih dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan segala keserakahan dan cengkeraman terhadap dunia; ia berdiam merenungkan perasaan sebagai perasaan ...; ia berdiam merenungkan pikiran sebagai pikiran ...; ia berdiam merenungkan objek-objek pikiran sebagai objek-objek pikiran, tekun, sadar jernih dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan segala keserakahan dan cengkeraman terhadap dunia. Ini disebut Perhatian Benar.’

‘Dan apakah, para bhikkhu, Konsentrasi Benar? Di sini, seorang bhikkhu, terlepas dari keinginan-indria, terlepas dari kondisi batin yang buruk, memasuki dan berdiam dalam jhāna pertama, yang disertai dengan awal-pikiran dan kelangsungan-pikiran yang muncul dari pelepasan, dipenuhi dengan kegirangan dan kegembiraan. Dan dengan melenyapkan awal-pikiran dan kelangsungan-pikiran, dengan mencapai ketenangan di dalam dan keterpusatan pikiran, ia memasuki dan berdiam dalam jhāna ke dua, yang tanpa awal-pikiran dan kelangsungan-pikiran, yang muncul dari konsentrasi, dipenuhi dengan kegirangan dan kegembiraan. Dan dengan meluruhnya kegirangan, tetap tidak terganggu, penuh perhatian dan sadar jernih, ia mengalami dalam dirinya apa yang dikatakan oleh Para Mulia: “Bahagialah ia yang berdiam dalam keseimbangan dan perhatian,” ia memasuki jhāna ke tiga. Dan, setelah meninggalkan kenikmatan dan kesakitan, dan dengan lenyapnya kegembiraan dan kesedihan sebelumnya, ia memasuki dan berdiam dalam jhāna ke empat, yang melampaui kenikmatan dan kesakitan, dan dimurnikan oleh keseimbangan dan perhatian. Ini disebut Konsentrasi Benar. Dan itu, para bhikkhu, disebut jalan praktik menuju lenyapnya penderitaan.’
...
...

Offline Kemenyan

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.759
  • Reputasi: 105
Re: Jalan Mulia Berunsur Delapan
« Reply #13 on: 14 April 2014, 03:48:43 PM »
Inti dari seluruh ajaran Sang Buddha adalah
Empat Kebenaran Mulia
(cattari ariya sacca)
Dengan mengerti Empat Kebenaran Mulia, dapat dikatakan seseorang telah mengerti agama Buddha.

Ketika Buddha menjelaskan Empat Kebenaran Mulia, beliau mula-mula menguraikannya satu per satu,
Empat Kebenaran Mulia ini yaitu:

I. Kebenaran Mulia tentang Dukkha (dukkha ariya sacca)
Hidup dalam bentuk dan kondisi apapun adalah Dukkha (penderitaan),
- Lahir, sakit, tua dan mati adalah Dukkha.
- Berhubungan dengan yang tidak kita sukai adalah Dukkha.
- Ditinggalkan oleh orang yang kita sayangi adalah Dukkha.
- Tidak mendapatkan yang kita inginkan juga merupakan Dukkha.
- Masih memiliki Lima khanda adalah Dukkha.

Dukkha dapat juga dibagi menjadi:
- dukkha-dukkha,
ialah penderitaan yang nyata, yang benar dirasakan sebagai penderitaan tubuh dan bathin, misalnya sakit kepala, sakit gigi, susah hati dll.
- viparinäma-dukkha
merupakan fakta bahwa semua perasaan senang dan bahagia --berdasarkan sifat ketidak-kekalan-- di dalamnya mengandung benih-benih kekecewaan, kekesalan dll.
- sankhärä-dukkha
lima khanda adalah penderitaan ; selama masih ada lima khanda tak mungkin terbebas dari sakit fisik.


II. Asal Mula Dukkha (dukkha samudaya ariya sacca)
Sumber dari penderitaan adalah tanhä, yaitu nafsu keinginan yang tidak ada habis-habisnya.
Semakin diumbar semakin keras ia mencengkeram.

Orang yang pasrah kepada tanhä sama saja dengan orang minum air asin untuk menghilangkan rasa hausnya.
Rasa haus itu bukannya hilang, bahkan menjadi bertambah, karena air asin itu yang mengandung garam.

Demikianlah, semakin orang pasrah kepada tanhä semakin keras tanhä itu mencengkeramnya.

Dikenal tiga macam tanhä, yaitu :
1.  Kämatanhä : kehausan akan kesenangan indriya, ialah kehausan akan :
a. bentuk-bentuk (indah)
b. suara-suara (merdu)
c. wangi-wangian
d. rasa-rasa (nikmat)
e. sentuhan-sentuhan (lembut)
f. bentuk-bentuk pikiran

2.  Bhavatanhä : kehausan untuk lahir kembali sebagai manusia berdasarkan kepercayaan tentang adanya "atma (roh) yang kekal dan terpisah" (attavada)

3.  Vibhavatanhä : kehausan untuk memusnahkan diri, berdasarkan kepercayaan, bahwa setelah mati tamatlah riwayat tiap-tiap manusia (ucchedaväda).

III. Lenyapnya Dukkha (dukkha nirodha ariya sacca)
Kalau tanhä dapat disingkirkan, maka kita akan berada dalam keadaan yang bahagia sekali,
Sang Buddha dengan jelas dan tegas mengajar kita, bahwa kita dapat bebas dari penderitaan dan mencapai kebebasan dan kebahagiaan Nibbana.

Istilah Nibbana secara harfiah berarti ‘padam’,
serta mengacu ke pemadaman api keserakahan, kebencian dan kegelapan-batin.

IV. Jalan Menuju Lenyapnya Dukkha (dukkha nirodha gamini patipada)
Jalan-nya adalah Jalan Mulia Berunsur Delapan (Ariya Atthangika Magga)
Disebut ‘Mulia’ karena bila dilaksanakan, maka akan menuntun seseorang ke kehidupan yang mulia;
Disebut ‘Berunsur Delapan’, karena terdiri dari Delapan Unsur,
Disebut ‘Jalan’, karena seperti jalan pada umumnya, akan menuntun seseorang dari satu tempat ke tempat lain, dengan hal ini dari Samsara ke Nibbana.

Delapan Jalan Utama (Jalan Mulia Berunsur Delapan) yang akan membawa kita ke Jalan Menuju Lenyapnya Dukkha, yaitu :

Wisdom (Paññā)
1. Pengertian Benar (sammä-ditthi) Right view
2. Pikiran Benar (sammä-sankappa) Right intention

Sila 
3. Ucapan Benar (sammä-väcä) Right speech
4. Perbuatan Benar (sammä-kammanta) Right action
5. Pencaharian Benar (sammä-ajiva) Right livelihood

Samädhi 
6. Daya-upaya Benar (sammä-väyäma) Right effort
7. Perhatian Benar (sammä-sati) Right mindfulness
8. Konsentrasi Benar (sammä-samädhi) Right concentration