topic short url: http://dhct.ws/f15204

Author Topic: Nanya sutra tentang 48 Ikrar Buddha Amitabha  (Read 7932 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline chingik

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 920
  • Reputasi: 44
Re: Nanya sutra tentang 48 Ikrar Buddha Amitabha
« Reply #30 on: 03 March 2010, 04:58:29 PM »
Quote
1) Apabila aku telah menjadi Buddha,andaikata,jika masih terdapat
Alam kesedihan seperti Neraka,setan kelaparan,hewan-hewan dan sebagainya di
negeriku,maka aku tak akan mencapai samyaksambuddha!.
isinya yang nggak logis atau salah terjemahan?

-Apabila aku telah menjadi Buddha :berarti belum menjadi Buddha
-jika masih terdapat Alam kesedihan seperti Neraka,setan kelaparan,hewan-hewan dan sebagainya di
negeriku,maka aku tak akan mencapai samyaksambuddha!
:berarti jika disana masih ada alam sengsara maka aku tak akan menjadi Buddha. alam sengsaranya hilang kemana?
- Apabila aku telah menjadi Buddha, jika...........dsbnya, maka aku tak akan mencapai samyaksambuddha: Aneh ? jika telah menjadi Buddha kok bisa tidak mencapai samyaksambuddha?

Apa salah terjemahan?

Dalam konsep Mahayana, ada 2 jenis Tanah Buddha:
1. Tanah Buddha Murni ---> tanpa alam buruk
2. Tanah Buddha tidak murni ----> memiliki alam buruk

Setiap Buddha memiliki Tanah Buddha yang murni dan tidak murni. Yang Murni merupakan manifestasi dari hasil adhitana dan pengumpulan paramitanya. Bila makhluk yang memiliki keselasaran dan jodoh karma yang tepat akan dapat terlahir di Tanah Murni Buddha. Sedangkan yang belum selaras akan berada di alam yang kondisinya tidak murni.

Contohnya Tanah Buddha Sakyamuni di sini skarang ini disebut Tanah Buddha SAHA, yang kondisinya tidak murni. Namun ada juga Tanah Buddha Sakyamuni yang murni yang merupakan hasil adhitana dan buah dari pengumpulan paramitanya.   Yang sanggup melihat Tanah Buddha murni atau tidak tergantung pada kondisi karma makhluk masing2.

Tanah Buddha Amitabha juga demikian. Yang murni itu tanpa alam2 buruk, seperti dalam Vimalakirti nirdesa Sutra menyebutkan bahwa fondasi dari tanah murni yg dikembangkan bodhisatva terletak pada elemen2 kebajikan. Pikiran lurus adalah tanah murni bodhisatva, karena makhluk yg memliki pikiran lurus akan terlahir di tanah murni itu. Di sini merefleksikan bahwa tanah murni yg dikembangkan oleh setiap bodhisatva adalah elemen2 batin yg bajik. Setelah dikembangkan hingga mencapai Samyaksambuddha, maka tanah murni itu termanifestasikan tanpa ada kondisi alam yg buruk. Bukan karena alam buruknya hilang. Karena pada dasarnya kemurnian batinnya telah memanifestasikan semua dimensi kemurnian, sehingga tidak ada dimensi keburukan (alam buruk). Jadi yang diadhitanakan oleh Bhiksu Dharmakara itu adalah logis dan akhirnya terwujud menjadi Sukhavati.  Ingat, perwujudan tanah murni demikian itu bersifat transenden, yang mana dalam hal ini merupakan jenis tanah murni dalam arti seperti yang dimiliki Buddha Sakyamuni dalam kondisi kemurniannya, bukan jenis yang tidak murni seperti Tanah Buddha  SAHA.  Dengan kata lain, Buddha Amitabha dalam perwujudan Nirmanakaya juga ada sisi alam yg tidak murni , yang bukan Sukhavati, di mana terdapat siswa2 utama, nama ayahnya, ibunya, dll. Ini disebutkan dalam salah satu sutra, saya lupa, nanti ada kesempatan akan dipost.

Mungkin ini terdengar tidak logis dari sisi Theravada, tapi saya tidak ingin lagi mendebatkan dua sudut pandang yg berbeda ini, karena masing2 berpegang pada logika masing2. Semua dikembalikan pada kecocokan masing2 saja. SEmoga dapat dipahami. :)

Offline Shinichi

  • Sebelumnya: Seniya
  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.550
  • Reputasi: 152
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Nanya sutra tentang 48 Ikrar Buddha Amitabha
« Reply #31 on: 03 March 2010, 05:26:06 PM »
Akhirny,para ahli Mahayana pun berbicara....
"Only through deduction does the real image of truth appear."
"When you have eliminated the impossible, whatever remains, however improbable, must be the truth."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline Indra

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.392
  • Reputasi: 441
  • Gender: Male
Re: Nanya sutra tentang 48 Ikrar Buddha Amitabha
« Reply #32 on: 03 March 2010, 05:38:52 PM »
Contohnya Tanah Buddha Sakyamuni di sini skarang ini disebut Tanah Buddha SAHA, yang kondisinya tidak murni. Namun ada juga Tanah Buddha Sakyamuni yang murni yang merupakan hasil adhitana dan buah dari pengumpulan paramitanya.   Yang sanggup melihat Tanah Buddha murni atau tidak tergantung pada kondisi karma makhluk masing2.

Saya tertarik dengan Tanah Buddha Sakyamuni ini, bisakah menjelaskan lebih jauh tentang Tanah Buddha Sakyamuni yg murni? karena selama ini yg sering kita dengar hanyalah Sukhavati yg merupakan domain dari Amitabha _/\_

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.756
  • Reputasi: 261
Re: Nanya sutra tentang 48 Ikrar Buddha Amitabha
« Reply #33 on: 03 March 2010, 05:47:27 PM »
Dalam konsep Mahayana, ada 2 jenis Tanah Buddha:
1. Tanah Buddha Murni ---> tanpa alam buruk
2. Tanah Buddha tidak murni ----> memiliki alam buruk

Setiap Buddha memiliki Tanah Buddha yang murni dan tidak murni. Yang Murni merupakan manifestasi dari hasil adhitana dan pengumpulan paramitanya. Bila makhluk yang memiliki keselasaran dan jodoh karma yang tepat akan dapat terlahir di Tanah Murni Buddha. Sedangkan yang belum selaras akan berada di alam yang kondisinya tidak murni.

Contohnya Tanah Buddha Sakyamuni di sini skarang ini disebut Tanah Buddha SAHA, yang kondisinya tidak murni. Namun ada juga Tanah Buddha Sakyamuni yang murni yang merupakan hasil adhitana dan buah dari pengumpulan paramitanya.   Yang sanggup melihat Tanah Buddha murni atau tidak tergantung pada kondisi karma makhluk masing2.

Tanah Buddha Amitabha juga demikian. Yang murni itu tanpa alam2 buruk, seperti dalam Vimalakirti nirdesa Sutra menyebutkan bahwa fondasi dari tanah murni yg dikembangkan bodhisatva terletak pada elemen2 kebajikan. Pikiran lurus adalah tanah murni bodhisatva, karena makhluk yg memliki pikiran lurus akan terlahir di tanah murni itu. Di sini merefleksikan bahwa tanah murni yg dikembangkan oleh setiap bodhisatva adalah elemen2 batin yg bajik. Setelah dikembangkan hingga mencapai Samyaksambuddha, maka tanah murni itu termanifestasikan tanpa ada kondisi alam yg buruk. Bukan karena alam buruknya hilang. Karena pada dasarnya kemurnian batinnya telah memanifestasikan semua dimensi kemurnian, sehingga tidak ada dimensi keburukan (alam buruk). Jadi yang diadhitanakan oleh Bhiksu Dharmakara itu adalah logis dan akhirnya terwujud menjadi Sukhavati.  Ingat, perwujudan tanah murni demikian itu bersifat transenden, yang mana dalam hal ini merupakan jenis tanah murni dalam arti seperti yang dimiliki Buddha Sakyamuni dalam kondisi kemurniannya, bukan jenis yang tidak murni seperti Tanah Buddha  SAHA.  Dengan kata lain, Buddha Amitabha dalam perwujudan Nirmanakaya juga ada sisi alam yg tidak murni , yang bukan Sukhavati, di mana terdapat siswa2 utama, nama ayahnya, ibunya, dll. Ini disebutkan dalam salah satu sutra, saya lupa, nanti ada kesempatan akan dipost.

Mungkin ini terdengar tidak logis dari sisi Theravada, tapi saya tidak ingin lagi mendebatkan dua sudut pandang yg berbeda ini, karena masing2 berpegang pada logika masing2. Semua dikembalikan pada kecocokan masing2 saja. SEmoga dapat dipahami. :)
Saya pikir dari sisi Theravada pun tetap logis. Dalam Tradisi Theravada misalnya ada Vemanika Peta (setengah deva setengah peta) yang dikatakan menjadi seperti sipir di neraka setengah waktu hidup (siang) dan menikmati kebahagiaan deva setengah hidup sisanya (malam). Di dalam neraka ini, yang konon apinya sangat mengerikan, mereka tidak terbakar. Jadi saya berpikir api neraka yang membakar makhluk di sana adalah hasil dari pikiran akibat kamma buruk mereka sendiri. Mereka yang tidak memiliki pikiran demikian, tidak terkena efeknya (atau mungkin juga bahkan tidak ada api).

Jadi menurut saya, sepertinya tanah murni Buddha menurut paham Mahayana adalah karena manifestasi pikiran baik, bukan tidak logis pula dari sisi Theravada.

Offline Riky_dave

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.237
  • Reputasi: -13
  • Gender: Male
Re: Nanya sutra tentang 48 Ikrar Buddha Amitabha
« Reply #34 on: 03 March 2010, 06:50:41 PM »
Saya rasa d sini hny lah perbedaan interpretasi thd kekuatan seorg Buddha. Menurut Theravada,Buddha itu memiliki kemampuan d atas manusia biasa tetapi msh dbatasi oleh hukum karma & yg lainny. Menurut Mahayana,Buddha itu lbh d atas itu lg shg bs melangkahi batasan hukum karma. Hal ini dsebabkan krn perbedaan penekanan pd kedua pandangan: Theravada menekankan pd aspek manusiawi Buddha yg walaupun pny kemampuan luar biasa msh bs dterima oleh org2 yg kebijaksanaanny lbh menonjol (panna-carita) atau yg tdk mudah percaya/yakin, Mahayana menekankan pd aspek adi-manusiawi Buddha yg seolah2 Beliau adl "Tuhan" & hal ini lbh menarik bg org2 yg mudah percaya (saddha-carita) atau umat awam yg percaya pd hal2 supranatural yg demikian.
saya tidak setuju dengan yang dibold diatas...atas dasar apa Mahayana memiliki pandangan seperti itu?bisa disharekan? Saya rasa Buddha tidak menganjurkan untuk "mudah percaya"[Buddha mengajurkan "saddha" yang didasari oleh pengertian,penyelidikan,pemahaman,dan pembuktian],Buddha mengajurkan didalam Kalama Sutta untuk "membuktikan" ajaranNya,dan Buddha dengan jelas melarang "pertunjukan gaib" untuk "mengaet" umat..

Ini :

BRAHMAVIHARAPHARANA

Aham sukhito homi
Semoga aku berbahagia   

Niddukho homi
Bebas dari penderitaan   

Avero homi
Bebas dari penyakit

Anigho homi
Bebas dari kesukaran   

Sukhi attanam pariharami
Semoga aku dapat mempertahankan kebahagianku sendiri   

Sabbe satta sukhita hontu
Semoga semua makhluk berbahagia

Niddukha hontu
Bebas dari penderitaan

Avera hontu
Bebas dari kebencian   

Abyapajjha hontu
Bebas dari kesakitan

Anigha hontu
Bebas dari kesukaran   

Sukhi attanam pariharantu
Semoga mereka dapat mempertahankan kebahagiaanku sendiri   

Sabbe satta dukkha pamuccantu
Semoga semua makhluk bebas dari penderitaan   

Sabbe satta ma laddhasampattito vigacchantu
Semoga semua makhluk tidak kehilangan  Kesejahteraan yang telah mereka peroleh   

Sabbe satta
Semoga semua makhluk   

Kammassaka
Memiliki karmanya sendiri   

Kammadayada
Mewarisi karmanya sendiri   

Kammayoni
Lahir dari karmanya sendiri   

Kammabandhu
Berhubungan dengan karmanya sendiri   

Kammapatisarana
Terlindung oleh karmanya sendiri   

Yam kammam karissanti kalyanam va
papakam va tassa dayada bhavissanti
Apapun karma yang diperbuatnya baik atau buruk itula yang akan diwarisinya


= Itu yang diboldkan jelas bahwa "manusia" tunduk pada Hukum Kamma,apakah Buddha melebihi Hukum Kamma itu sendiri?Saya rasa TIDAK,Buddha sendiri tidak bisa melawan Hukum Anicca,kalau Buddha melawan Hukum tersebut,maka saya akan mempertanyakannya lebih jauh lagi,bagaimana mungkin seorang MANUSIA yang NOTABENE menemukan[Bukan menciptakan] sesuatu KEBENARAN bisa merubah KEBENARAN tersebut atau melawan KEBENARAN tersebut? :)

Quote
Tetapi bkn berarti Theravada hny utk org2 "intelek" & Mahayana hny utk org2 "bodoh". Dlm Mahaparinibbana Sutta pun kt menemukan bibit adi-manusiawi saat Buddha mengatakan bhw Beliau bs hidup 1 kappa atau lebih sedikit. Walaupun dlm komentar,Theravada scr resmi menyatakan itu adl ayukappa (masa hidup yg wajar,yaitu sekitar 100/120 th),namun ad yg menginterpretasikan itu adl kappa dlm arti masa dunia krn istilah ayukappa tdk pernah dtemukan d sutta2 lain (umumny jk Buddha mengatakan ttg kappa mk masa 1 siklus dunia lah yg dmaksud). Di lain pihak sutra2 Mahayana bnyk jg yg memberikan ajaran "tingkat tinggi" spt ttg prajna & sunyata yg agak sulit dpahami scr intelektual.
= Nah,saya rasa karena memiliki 2 komentar maka komentar pertama saya "anggap" gugur,karena "tidak masuk" akal[terlebih lagi bagaimana badan jasmani ini bisa bertahan begitu lama,padahal jelas didalam RAPB by Dhammacitta press,tertulis ada Buddha yang masa pengajarannya bertahan lama ada yang tidak bertahan lama,dan Buddha Gotama adalah pengajarannya yang bertahan lama]..Coba anda bayangkan sendiri Petapa Sumedha yang berikrar dihadapan Buddha Dipankara[ingat ini adalah "sumpah" Petapa Sumedha,padahal kita ketahui bahwa ada ciri2 seseorang menjadi bakal Buddha,dan Sumedha memenuhi kriteria tersebut untuk mencapai Savaka Buddha pada masa Buddha Dipankara,tetapi entah atas dasar apa,Petapa Sumedha malah memilih menjadi SammaSambuddha dengan menyempurnakan "parami"nya berkalpa2..] untuk mencapai KeBuddhaan,setelah bersusah payah[dari yang saya baca di Jataka,Khuddaka Nikaya],masak dia meninggal begitu saja[kalau memang bisa hidup sampai 1 siklus dunia?]..Apakah "metta" Buddha Gotama kurang kali ya?sampai2 baru umur 80 tahun sudah meninggal dunia begitu saja[padahal masih banyak Makhluk yang BELUM TERCERAHKAN,lebih banyak daripada yang TERCERAHKAN..],agaknya kita tidak lupa dengan Ayacana Sutta :
Demikianlah telah saya dengar. Pada suatu ketika, sewaktu Sang Bhagava baru
saja mencapai Pencerahan Sempurna, beliau tinggal di Uruvela di tepi sungai
Neranjara, di kaki pohon Banyan Gembala Kambing. Kemudian, tatkala beliau
sedang sendirian dan dalam penyepian, jalan pikiran ini muncul dalam benak
beliau: "Dhamma yang telah kucapai ini dalam, sulit untuk dilihat, sulit... See More
untuk disadari, damai, halus, melampaui jangkauan penalaran, lembut,untuk
dialami oleh orang bijak. Namun generasi ini bergembira dalam kemelekatan,
bergairah oleh kemelekatan, menyenangi kemelekatan. Bagi sebuah generasi
yang bergembira dalam kemelekatan, bergairah oleh kemelekatan, menyenangi
kemelekatan, kebersebaban ini/itu dan kemunculan bersyarat
(paticcasamuppada) sulit untuk dilihat. Keadaan ini pun sulit untuk dilihat:
diamnya semua kondisi, lepasnya segala keberadaan, lenyapnya kehausan,
tiadanya nafsu, penghentian, Nibbana. Dan bila aku mengajarkan Dhamma dan
bila orang-orang lain tidak mampu mengerti, itu akan melelahkanku,
menyulitkanku."

Kemudian saja syair-syair ini, yang tidak pernah diucapkan pada masa lampau,
yang tidak pernah didengar sebelumnya, timbul pada Sang Bhagava:

"Mengapa kini mengajarkan
apa yang dengan sulit kucapai.
Dhamma ini tak mudah disadari
oleh mereka yang takluk
pada kebencian & nafsu.

Apa yang halus, lembut,
dalam, sulit untuk dilihat,
yang pergi melawan arus -
mereka yang bergembira dalam nafsu,
terselubung dalam kegelapan total,
takkan mampu melihat."

Ketika Sang Bhagava merenung demikian, pikirannya condong untuk berdiam
dalam kenyamanan, untuk tidak mengajarkan Dhamma.

Kemudian Brahma Sahampati, setelah mengetahui dengan benaknya sendiri jalan
pikiran dalam benak Sang Bhagava, berpikir: "Dunia kehilangan! Dunia runtuh!
Pikiran dari Sang Tathagata, Arahat, Tercerahi Sempurna condong untuk
berdiam dalam kenyamanan, untuk tidak mengajarkan Dhamma!" Kemudian,
sebagaimana seorang laki-laki yang kuat bisa menjulurkan lengannya yang
terlipat atau melipat lengannya yang terjulur, Brahma Sahampati lenyap dari
dunia Brahma dan tampak kembali di hadapan Sang Bhagava. Mengatur
jubah-atasnya menutup satu bahu, ia berlutut dengan lutut kanannya di atas
tanah, memberi hormat pada Sang Bhagava dengan tangannya di depan dada, dan
berkata pada beliau: "Bhante, sudilah Sang Bhagava mengajarkan Dhamma!
Sudilah Sang Sugata mengajarkan Dhamma! Terdapat makhluk-makhluk dengan
sedikit debu di mata mereka yang mengalami kemunduran karena mereka tidak
mendengar Dhamma. Akan ada mereka yang bisa mengerti Dhamma."

Itulah apa yang Brahma Sahampati katakan. Setelah mengatakannya, ia
melanjutkan berkata demikian:

"Pada masa lampau muncul di Magadha
Dhamma kotor yang ditemukan orang bernoda.
Bukakanlah pintu Nirmati (Amata)!
Biarkanlah mereka mendengar Dhamma
yang disadari oleh Yang Tak Bernoda!

Seperti layaknya orang berdiri di atas karang
dapat melihat orang-orang sekitar di bawah,
Maka, O sang arif, dengan melihat ke sekitar,
dakilah istana yang diciptakan Dhamma.
Bebas dari dukacita, pandangilah orang-orang
yang terbenam dalam dukacita,
yang terhimpit oleh kelahiran & penuaan.

Bangunlah, O pahlawan, pemenang pertempuran!
O Guru, mengembara tanpa beban dalam dunia.
Ajarkanlah Dhamma, O Sang Bhagava:
Akan ada mereka yang bisa mengerti Dhamma."

Kemudian Sang Bhagava, setelah memahami undangan Brahma, didorong rasa welas
asih kepada makhluk-makhluk, meninjau dunia dengan mata dari seorang Buddha.
Ketika beliau melakukannya, beliau melihat makhluk-makhluk yang dengan
sedikit debu di mata mereka dan yang banyak debu, yang dengan daya-daya yang
tajam dan yang tumpul, yang dengan sifat-sifat yang baik dan yang buruk,
yang mudah diajar dan yang sulit, beberapa dari mereka melihat aib dan
bahaya di dunia seberang. Sebagaimana dalam sebuah kolam teratai biru atau
merah atau putih, beberapa teratai - lahir dan tumbuh dalam air - dapat
tumbuh subur selagi terbenam dalam air, tanpa muncul dari air; beberapa
dapat berdiri pada tingkat yang rata dengan air; beberapa dapat muncul dari
air dan berdiri tanpa dilumuri oleh air - demikian pula, meninjau dunia
dengan mata dari seorang Buddha, Sang Bhagava melihat makhluk-makhluk yang
dengan sedikit debu di mata mereka dan yang banyak debu, yang dengan
daya-daya yang tajam dan yang tumpul, yang dengan sifat-sifat yang baik dan
yang buruk, yang mudah diajar dan yang sulit, beberapa dari mereka melihat
aib dan bahaya di dunia seberang.

Setelah melihat ini, beliau menjawab Brahma Sahampati dalam syair:

"Terbuka pintu-pintu Nirmati (Amata)
bagi mereka yang dapat mendengar.
Biarkan mereka memperlihatkan keyakinannya.
Mencerap kesulitan, O Brahma,
Aku dulu tidak mengajarkan umat manusia
Dhamma yang halus, agung.

Kemudian Brahma Sahampati, berpikir, "Sang Bhagava telah memberi
persetujuannya untuk mengajar Dhamma," memberi hormat kepada Sang Bhagava
dan, mengitari beliau di sebelah kanan, lenyap dari sana.

Quote
Mnrt sy kedua interpretasi tsb bkn saling bertentangan,melainkan saling melengkapi. Apalagi kt mengetahui bhw kemampuan seorg Buddha adl acinteyya (tdk terpikirkan oleh manusia biasa)
Dibagian mana yang "melengkapi" itu?saya rasa ada ketidakselarasaan paham antara saya dan anda..anda menyebut bahwa kemampuan Buddha sebagai acinteyya[tidak terpikirkan oleh manusia biasa],saya menyebut bukan "kemampuan" Buddha tetapi "Batin" Buddha sebagai acinteyya[tidak terpikirkan oleh manusia biasa],alasannya menurut hemat saya simple saja,dikarena Buddha adalah orang yang sudah "tersempurnakan" beda dengan manusia biasa yang notabene masih "meleket" terhadap "aku" dan noda2..Seperti cerita soal orang yang pernah makan apel dengan orang yang belum pernah makan apel,bagaimana mungkin orang yang belum pernah makan apel tahu rasa "apel" tersebut?

Anumodana _/\_
Langkah pertama adalah langkah yg terakhir...

Offline truth lover

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 392
  • Reputasi: 3
Re: Nanya sutra tentang 48 Ikrar Buddha Amitabha
« Reply #35 on: 03 March 2010, 06:53:33 PM »
Quote
Quote
1) Apabila aku telah menjadi Buddha,andaikata,jika masih terdapat
Alam kesedihan seperti Neraka,setan kelaparan,hewan-hewan dan sebagainya di
negeriku,maka aku tak akan mencapai samyaksambuddha!.
isinya yang nggak logis atau salah terjemahan?

-Apabila aku telah menjadi Buddha :berarti belum menjadi Buddha
-jika masih terdapat Alam kesedihan seperti Neraka,setan kelaparan,hewan-hewan dan sebagainya di
negeriku,maka aku tak akan mencapai samyaksambuddha!
:berarti jika disana masih ada alam sengsara maka aku tak akan menjadi Buddha. alam sengsaranya hilang kemana?
- Apabila aku telah menjadi Buddha, jika...........dsbnya, maka aku tak akan mencapai samyaksambuddha: Aneh ? jika telah menjadi Buddha kok bisa tidak mencapai samyaksambuddha?

Apa salah terjemahan?

Bro TL, ijinkan saya utk berkomentar :D.
Berdasarkan pandangan Mahayana, sebelum beliau menjadi Seorg Buddha, beliau pernah membuat 48 iklar (itu sebelum beliau jd Buddha), dan karena iklar beliau itulah, dan dengan usaha beliau, ahkirnya beliau menjadi Buddha. dan konon menurut pandangan Mahayana, di Surga Barat , Alam Sukhavati (alam Buddha Amitabha), tdk terdapat alam alam menderita, karena beliau selalu mengajarkan Dhamma yang ada, dan mahkluk mahkluk yang terlahir disana adalah mahkluk yang memiliki kualitas batin yang baik , dan penuh weles asih, karena berkat Kekuatan Buddha Amitabha maka alam disana tdk terdapat yg namanya alam penderitaan. ini menurut pandangan Mahayana. kira kira penjelasannya seperti itu,  coba baca Amitaba Sutra. disana ada. diceritakan....

tentu saja setiap org memiliki keyakinan masing masing mao yakin pada Buddha Amitabha atau tdk, semuanya diserahkan kepribadi masing masing

Coba mas teks perhatikan dan cerna tulisan saya, apabila aku telah menjadi Buddha (jadi jika telah menjadi), andaikata jika aku .... maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha. Sudah menjadi Buddha kok tidak akan mencapai Samyaksambuddha?

Banyak hal yang belum terjawab mengenai tanah Buddha Amitabha ini, Bagaimanakah cara terbentuknya tanah Buddha tersebut? apakah sudah ada begitu saja? kalau terbentuk sama seperti alam lain mengapa tak ada alam sengsara? Bila sebelumnya ada alam sengsara lalu tidak ada alam sengsara, bagaimana cara lenyapnya?
The truth, and nothing but the truth...

Offline Riky_dave

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.237
  • Reputasi: -13
  • Gender: Male
Re: Nanya sutra tentang 48 Ikrar Buddha Amitabha
« Reply #36 on: 03 March 2010, 07:01:07 PM »
Quote
Saya tahu,karena saya tidak memahaminya maka saya mempostingkannya di thread Mahayana,dengan tujuan agar dapat memahaminya dari orang yang memiliki keyakinan yang telah memahami tentang sutra itu..Tentunya dari sisi pemikiran saya,karena saya bukanlah orang yang telah tercerahkan ,saya masih hidup didalam dualisme ini..Dari ke 48 Ikrar tersebut,saya melihat ketika muncul Buddha Amitbha maka umatnya hanya perlu bersantai2 saja,dan saya lihat kalau orang yang membaca sutra tersebut,bisa jadi berpandangan keliru,karena dia akan santai2 menjalani kehidupan sekarang,dan melepas kesempatan emas pada kehidupan sekarang[sebagaimana kita tahu bahwa sulit terlahir sebagai manusia,dan sangat sulit terlahir sebagai manusia yang memperoleh kesempatan mendengarkan Dhamma Bhagava],dengan anggapan bahwa nanti semuanya akan terpenuhi pada kehidupan2 yang akan datang[tanpa tahu kapan kehidupan itu datang?setelah menikmati neraka avici?setelah menjalani kehidupan jadi makhluk alam apaya?setelah menjadi makhluk di alam binatang?

Tau darimana bahwa mereka hanya perlu bersantai2 dsb, pernahkah bro survey secara nyata?

Bro bond,kalau anda menggunakan kata "survei" tersebut maka perbandingannya menjadi harus sangat jauh,kita disini adalah orang yang berdiskusi berdasarkan "pemahaman" masing2..dan lagi yang saya tuliskan diatas bahwa dengan "sutra" tersebut sangat mungkin terjadi "penafsiran yang salah",saya rasa anda sendiri sudah membaca ke 48 ikrar tersebut..Dan oleh karena itu,untuk "mencegah" penafsiran yang salah maka disinilah diadakan "diskusi" di thread Mahayana berkaitan dengan ini adalah sutra Mahayana,untuk "mengklarifiskasikan" arti dari 48 ikrar ini..biar saya pun tidak bingung jikalau suatu saat ditanya oleh orang soal 48 ikrar ini..:)

Quote
Yang pasti saat ini pun entah mereka umat amithaba yg mahayanis atau theravada atau umat Buddha pada umumnya, sekalipun tau bahwa itu ajaran Sang Buddha, banyak yg belum sanggup melaksanakannya dengan baik...tetapi ada pula umat amithaba atau umat Buddha pada umumnya yg mengerti maksud kalimat tersebut atau hal yg diyakininya dan dapat menjalankan ajaran Sang Buddha dengan baik sesuai tujuan yg ingin mereka capai.
Bro..Ajaran Buddha perlu dipahami dulu baru bisa direalisasikan sesuai dengan "konsep" 4 Kebenaran Mulia[Ini adalah penderitaan,Penderitaan ini telah dipahami,Ini lah Akhir dari Penderitaan,Ini lah Jalan Menuju Pengakhiran Penderitaan(biasa disebut pariyatti,patipatti,pativedha)]

Quote
sebuah kalimat tidak bisa kita artikan secara mentah.....itu hanya menandakan kesungguhan tekad ... :).
Kesungguhan tekad?apa bisa saya artikan bahwa itu hanya "semangat" yang mengebu2 tetapi pada "perealisasiaannya" adalah mustahil?

Quote
Makanya saya tanya kembali, menurut bro ikrar yg bagaimana yg bukan pembodohan?
Ikrar Buddha Gotama tidak muluk2.. :-)

Anumodana _/\_
Langkah pertama adalah langkah yg terakhir...

Offline chingik

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 920
  • Reputasi: 44
Re: Nanya sutra tentang 48 Ikrar Buddha Amitabha
« Reply #37 on: 03 March 2010, 07:11:08 PM »
Contohnya Tanah Buddha Sakyamuni di sini skarang ini disebut Tanah Buddha SAHA, yang kondisinya tidak murni. Namun ada juga Tanah Buddha Sakyamuni yang murni yang merupakan hasil adhitana dan buah dari pengumpulan paramitanya.   Yang sanggup melihat Tanah Buddha murni atau tidak tergantung pada kondisi karma makhluk masing2.

Saya tertarik dengan Tanah Buddha Sakyamuni ini, bisakah menjelaskan lebih jauh tentang Tanah Buddha Sakyamuni yg murni? karena selama ini yg sering kita dengar hanyalah Sukhavati yg merupakan domain dari Amitabha _/\_

Mengenai Tanah Murni Hyang Buddha Sakyamuni, dapat ditemukan dalam Vimalakirti Nirdesa Sutra- Bagian Tanah Buddha, saat Sariputra berpikir "Jika dikatakan pikiran bodhisatva murni, maka tanah buddhanya menjadi murni, saat Hyang Bhagava sebagai bodhisatva apakah pikiranNya tidak murni sehingga mencapai Kebuddhaan di dunia yang tidak murni seperti ini? Hyang Buddha mengetahui pikiran Sariputra, lalu berkata, "Bagaimana pendapat mu, apakah Bulan dan matahari itu tidak bersih/jelas hingga orang buta tidak dapat melihatnya? Sariputra menjawab, "Tidak, itu kesalahan orang buta, bukan pada bulan mataharinya. "Karena kesalahan para makhluk hidup lah yang tidak dapat melihat kemurnian tanah Buddha Sang Tathagata, ini bukan kesalahan Tathagata. Oh Sariputra, Tanah Buddha Ku adalah murni sedangkan engkau tidak dapat melihatnya.

....kemudian Buddha Sakyamuni menggunakan kekuatan iddhi dengan jari kakinya menekan ke tanah lalu muncul pemandangan Tanah Buddha Sakyamuni yang murni dan cemerlang  dihiasi berbagai permata disaksikan oleh Sariputra dan para peserta pesamuan.

Selain itu, Hyang Buddha juga mengungkapkan tanah murninya di Maha Parinirvana Sutra dan Saddharmapundarika Sutra.

 

 

Offline Riky_dave

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.237
  • Reputasi: -13
  • Gender: Male
Re: Nanya sutra tentang 48 Ikrar Buddha Amitabha
« Reply #38 on: 03 March 2010, 07:12:04 PM »
Saya rasa d sini hny lah perbedaan interpretasi thd kekuatan seorg Buddha. Menurut Theravada,Buddha itu memiliki kemampuan d atas manusia biasa tetapi msh dbatasi oleh hukum karma & yg lainny. Menurut Mahayana,Buddha itu lbh d atas itu lg shg bs melangkahi batasan hukum karma. Hal ini dsebabkan krn perbedaan penekanan pd kedua pandangan: Theravada menekankan pd aspek manusiawi Buddha yg walaupun pny kemampuan luar biasa msh bs dterima oleh org2 yg kebijaksanaanny lbh menonjol (panna-carita) atau yg tdk mudah percaya/yakin, Mahayana menekankan pd aspek adi-manusiawi Buddha yg seolah2 Beliau adl "Tuhan" & hal ini lbh menarik bg org2 yg mudah percaya (saddha-carita) atau umat awam yg percaya pd hal2 supranatural yg demikian.

Tetapi bkn berarti Theravada hny utk org2 "intelek" & Mahayana hny utk org2 "bodoh". Dlm Mahaparinibbana Sutta pun kt menemukan bibit adi-manusiawi saat Buddha mengatakan bhw Beliau bs hidup 1 kappa atau lebih sedikit. Walaupun dlm komentar,Theravada scr resmi menyatakan itu adl ayukappa (masa hidup yg wajar,yaitu sekitar 100/120 th),namun ad yg menginterpretasikan itu adl kappa dlm arti masa dunia krn istilah ayukappa tdk pernah dtemukan d sutta2 lain (umumny jk Buddha mengatakan ttg kappa mk masa 1 siklus dunia lah yg dmaksud). Di lain pihak sutra2 Mahayana bnyk jg yg memberikan ajaran "tingkat tinggi" spt ttg prajna & sunyata yg agak sulit dpahami scr intelektual.

Mnrt sy kedua interpretasi tsb bkn saling bertentangan,melainkan saling melengkapi. Apalagi kt mengetahui bhw kemampuan seorg Buddha adl acinteyya (tdk terpikirkan oleh manusia biasa)

Benar sekali berbicara tentang Buddha itu acinteya..

Buddha pernah mengatakan bahwa segenggam daun yg ditangannya adalah inti dari ajaran yg mengarah pada kesucian dan itulah Dhamma yg mengarah pada aspek kesucian....
Dan daun2 simsapa lainnya adalah Dhamma juga sekalipun itu bukan inti dari mencapai kesucian tetapi tetaplah Dhamma. Dan jangan lupa ketika kita mulai menjalankan ajaran Sang Buddha...kita akan melewati Dhamma2 lainnya dan juga Dhamma yang mengarahkan kita mencapai kesucian.

Apakah ini yang anda maksudkan?
Pada suatu waktu,Yang Terberkati tinggal di Kosambi di tengah hutan simsapa.Beliau meraup dedaunan segenggam dan bertanya kepada para Bhikkhu,"O,para Bhikkhu,bagaimana menurut kalian,manakah yang lebih banyak[dedaunan yang saya gengam atau daun2 yang berada pada pohon2 di hutan]? "
'Dedaunan dalam genggaman Yang Terberkati lebih sedikit;daun2 di hutan lebih banyak'
"Demikian pula,O para Bhikkhu,hal2 yang Saya ketahui melalui pemahaman langsung adalah jauh lebih banyak;hal2 yang telah saya beritahukan kepadamu hanya sedikit saja."
"Mengapa saya tidak memberitahukanmu semua?Sebab hal2 tersebut tiada membawa manfaat,tidak membawa kemajuan dalam Kehidupan Suci,dan karena tidak menuju pada pupusnya hawa-nafsu,pada pemudaran,pada berakhirnya,pada heningnya,pada pemahaman langsung,pada pencerahan,pada Nibbana.Itulah sebabnya saya tidak memberitahukannya."

"Dan apakah yang telah saya beritahukan?[Mengenali bahwa] Inilah Penderitaan,Inilah Sumber Penderitaan,Inilah Berakhirnya Penderitaan,Inilah Jalan Menuju Berakhirnya Penderitaan.Itulah yang telah Saya beritahukan kepadamu.Mengapa saya memberitahumu?Karena hal2 tersebut membawa manfaat,membawa kemajuan dalam Kehidupan Suci,dan karena menuju pada pupusnya hawa-nafsu,pada pemudaran,pada berakhirnya,pada heningnya,pada pemahaman langsung,pada pencerahan,pada Nibbana.Itulah sebabnya saya memberitahukannya."

"Oleh karena itu wahai para Bhikkhu,buatlah demikian menjadi tugasmu :[Mengenali bahwa] Inilah Penderitaan,Inilah Sumber Penderitaan,Inilah Berakhirnya Penderitaan,Inilah Jalan Menuju Berakhirnya Penderitaan."

[Samyutta Nikaya,LVI,31]

Saya rasa Buddha tidak memberitahukannya jelas karena tidak membawa pada Nibbana.. :)


Quote
Nah banyak yg terjadi Dhamma2 itu muncul, karena keterbatasan kita menggunakan Dhammacakkhu, kita langsung memvonis itu bukan Dhamma karena hanya berpatokan pada teori saja. Tanpa menelaah pengalaman itu lebih lanjut sehingga mengalami stagnasi dalam pandangan. Sehingga ada sesuatu yg terlihat benar malah sebenarnya salah, karena belum meneliti keseluruhan aspek. Ada baiknya jika kita tidak tahu dgn pasti lebih baik wait and see sambil praktek sampai kita mencapainya. Mengenai keyakinan kembali kepada diri masing2.
Lihat yang diatas :)


Anumodana _/\_
Langkah pertama adalah langkah yg terakhir...

Offline Riky_dave

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.237
  • Reputasi: -13
  • Gender: Male
Re: Nanya sutra tentang 48 Ikrar Buddha Amitabha
« Reply #39 on: 03 March 2010, 07:14:37 PM »
[at] riky:
IMO jika seorg umat Mahayana krn sutra ini/ikrar2 ini berpikir bhw ia tdk perlu berusaha utk menjalankan Dharma lg krn sudah djamin oleh ikrar2 tsb pasti diselamatkan,mk sy katakan bhw yg bodoh itu adl sang umat,bkn sutra/ajaranny. Tdk mgkn hny mengulang2 nama Buddha scr membabi buta bs terlahir d Sukhavati, tanpa sila & samadhi yg benar.

Sebenarny ad artikel menarik ttg praktek yg benar atas penyebutan nama Buddha dr forum tetangga. D sana djelaskan bhw praktek yg benar lah yg bs membawa seseorg k Sukhavati. Bsk atau kpn sempat sy akan memposting artikel tsb. Thx

Makanya Seniya yang baik,maka uraikan lah artikel yang anda maksudkan disini,biar saya paham dan bisa memberitahukan kepada yang lainnya terhadap Ikrar Buddha Amitbha tersebut..

Saya melihat ada 3 aspek yang membawa orang pada pandangan salah[saya sangat berharap untuk tidak menyalahkan "pendengar" atau "umatnya" belaka]:
1.Aspek pertama bahwa memang ajarannya yang salah.
2.Aspek kedua bahwa memang penafsirannya yang salah.
3.Aspek ketiga bahwa memang manusianya yang salah.

Anumodana _/\_
Langkah pertama adalah langkah yg terakhir...

Offline Shinichi

  • Sebelumnya: Seniya
  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.550
  • Reputasi: 152
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Nanya sutra tentang 48 Ikrar Buddha Amitabha
« Reply #40 on: 03 March 2010, 07:49:28 PM »
 [at] riky_dave:
Menurut saya, lagi2 ini adalah perbedaan konsep dan penekanan dari kedua aliran. Mahayana sendiri meyakini bahwa Buddha Sakyamuni memiliki kemampuan luar biasa yang dapat mengatasi hukum karma dan kelahiran kembali seperti pada kutipan salah satu bab dari Saddharma Pundarika Sutra berikut

Quote

Panjang Kehidupan Sang Tathagata

(Sebuah Bab dari Saddharma Pundarika Sutra)
[/b]

Pada waktu itu Sang Buddha berkata kepada para Bodhisattva dan seluruh perkumpulan besar itu, “Orang-orang baik, kalian seharusnya meyakini dan memahami kata-kata Sang Tathagata yang bersungguh-sungguh dan jujur.” Sekali lagi Beliau berkata kepada perkumpulan besar tersebut, “Kalian seharusnya meyakini dan memahami kata-kata Sang Tathagata yang bersungguh-sungguh dan jujur.” Beliau berkata lagi kepada perkumpulan besar itu, “Kalian seharusnya meyakini dan memahami kata-kata Sang Tathagata yang bersungguh-sungguh dan jujur.”

Kemudian perkumpulan besar para Bodhisattva, yang dipimpin oleh Maitreya, mendekatkan telapak tangan mereka bersama dan berkata kepada Sang Buddha, “Yang Dijunjung Dunia kami hanya memohon agar Anda akan mengatakannya. Kami akan meyakini dan menerima kata-kata Sang Buddha.” Mereka mengulangi hal ini tiga kali.

Lagi mereka berkata, “Kami hanya memohon agar Anda akan mengatakannya. Kami akan meyakini dan menerima kata-kata Sang Buddha.”

Pada waktu itu Yang Dijunjung Dunia, mengetahui bahwa para Bodhisattva tidak akan berhenti dalam tiga permohonan, berkata kepada mereka, “Kalian harus mendengarkan dengan penuh perhatian.”

“Kekuatan penembusan spiritual Sang Tathagata diketahui oleh semua dewa, manusia, dan asura di dunia. Mereka mengatakan bahwa Sakyamuni Buddha, setelah meninggalkan istana kaum Sakya dan setelah pergi ke tempat yang tidak jauh dari kota Gaya untuk duduk di Bodhimanda, sekarang telah mencapai anuttarasamyaksambodhi.”

“Namun, orang-orang baik, Aku sesungguhnya telah merealisasi Kebuddhaan tak terhingga ratusan ribu sangat banyak koti nayuta kalpa yang lampau.”

“Misalkan seseorang akan menggiling menjadi partikel-partikel debu halus lima ratus ribu banyak sekali koti nayuta asamkhyeya dari tiga ribu sistem seribu dunia yang besar. Kemudian, misalkan ia berjalan ke timur melewati lima ratus ribu banyak sekali koti nayuta asamkhyeya negeri, dan di sana ia menyimpan satu partikel debu. Misalkan ia terus-menerus melakukan hal ini, berjalan ke timur, sampai semua partikel debu habis.”

“Orang-orang baik, apakah pendapat kalian? Dapatkah jumlah dunia yang ia lewati dapat dihitung?”

Maitreya Bodhisattva dan yang lainnya semuanya berkata kepada Sang Buddha, “Yang Dijunjung Dunia, sistem dunia yang demikian akan tak terhingga banyaknya, melebihi perhitungan, dan melebihi kekuatan pikiran untuk diketahui. Semua Sravaka dan Pratyekabuddha, dengan menggunakan kebijaksanaan mereka yang tidak mengalir keluar, tidak dapat membayangkan hal ini ataupun mengetahui batas atau jumlahnya.”

“Kami sekarang berdiam pada tingkat avaivartika, tetapi kami tidak dapat memahami hal ini, Yang Dijunjung Dunia, dan demikianlah sistem dunia yang seperti itu akan tak terhingga banyaknya.”

Pada saat itu Sang Buddha berkata kepada sekumpulan besar Bodhisattva, “Orang-orang baik, Aku sekarang akan menjelaskan hal ini dengan jelas untuk kalian. Jika semua sistem dunia ini apakah sebuah partikel debu disimpan padanya atau tidak dibuat menjadi partikel-partikel debu, dan setiap partikel debu sama dengan satu kalpa, waktu yang telah berlalu sejak Aku menjadi Buddha akan melampaui bahkan sampai ratusan ribu banyak sekali koti nayuta asamkhyeya kalpa.”

“Sejak saat itu, Aku selalu berada di Dunia Saha, mengatakan Dharma untuk mengajar dan mengubah makhluk-makhluk. Juga, di tempat-tempat lain, pada ratusan ribu banyak sekali koti nayuta asamkhyeya dunia, Aku telah membimbing dan memberi manfaat pada makhluk-makhluk hidup.”

“Orang-orang baik, selama periode waktu tersebut, Aku mengatakan tentang Buddha Dipankara dan yang lainnya, dan Aku lebih lanjut mengatakan tentang Mereka memasuki Nirvana, tetapi ini hanyalah pembedaan yang dibuat dengan bijaksana.”

“Orang-orang baik, jika suatu makhluk datang ke hadapan-Ku, Aku mengamati dengan mata Buddha-Ku keyakinan dan sifat-sifat lainnya, serta ketajaman dan kelambanan sifat-sifatnya, dan Aku membimbingnya dengan cara yang sesuai.”

“Di semua tempat, walaupun nama-nama yang Ku-gunakan pada diri-Ku sendiri berbeda dan Aku mungkin lebih tua atau lebih muda, Aku juga muncul dan mengumumkan bahwa Aku akan memasuki Nirvana. Aku juga menggunakan berbagai cara yang bijaksana, dengan mengatakan Dharma yang mendalam dan mengagumkan dan memungkinkan makhluk-makhluk hidup dibimbing menuju kebahagiaan dalam pikiran mereka.”

“Orang-orang baik, Sang Tathagata, dengan melihat makhluk-makhluk menyukai dharma-dharma yang lebih rendah, makhluk-makhluk yang sedikit kebajikannya dan tebal kekotoran batinnya, berkata kepada orang-orang ini, ‘Ketika masih muda, Aku meninggalkan kehidupan rumah dan mencapai anuttarasamyaksambodhi.’ Namun sesungguhnya, Aku menjadi Buddha lama sebelum itu. Aku berkata dengan cara ini semata-mata sebagai jalan yang bijaksana untuk mengajar dan mengubah makhluk-makhluk hidup dan menyebabkan mereka memasuki Jalan Buddha.”

“Orang-orang baik, Sutra-Sutra yang dikumandangkan oleh Sang Tathagata semuanya bertujuan untuk menyelamatkan dan membebaskan makhluk-makhluk hidup. Ia dapat mengatakan tentang tubuh-Nya sendiri, atau Ia dapat mengatakan tentang tubuh orang lain. Ia dapat menjelma dalam tubuh-Nya sendiri, atau Ia dapat menjelma dalam tubuh orang lain. Ia dapat memanifestasikan pekerjaan-Nya sendiri, atau Ia memanifestasikan pekerjaan orang lain, tetapi semua yang Ia katakan benar dan tidak salah.”

“Apakah alasannya? Sang Tathagata mengetahui dan melihat ketiga alam sebagaimana adanya. Tidak ada kelahiran atau kematian, tidak ada kemunduran atau kemajuan, tidak ada keberadaan di dunia atau jalan menuju peristirahatan. Tidak ada kenyataan atau ketidaknyataan, tidak ada kesamaan atau perbedaan. Ia melihat ketiga alam tidak seperti ketiga alam. Hal-hal seperti ini, Sang Tathagata dengan jelas melihat, tanpa kesalahan.”

“Makhluk-makhluk hidup memiliki berbagai sifat, berbagai keinginan, berbagai tingkah laku, dan berbagai gagasan, pemikiran, dan perbedaan. Berharap untuk membimbing mereka menghasikan akar-akar kebajikan, Ia menggunakan sebab dan kondisi, perumpamaan, dan ungkapan yang berbeda-beda untuk menjelaskan berbagai dharma, melakukan tugas Buddha tanpa henti.”

“Demikianlah sejak Aku merealisasi Kebuddhaan pada masa lampau yang sangat jauh, panjang kehidupan-Ku tak terhingga asamkhyeya kalpa, abadi dan tidak pernah habis. Orang-orang baik, panjang kehidupan yang Aku alami ketika dulu melaksanakan jalan Bodhisattva masih belum selesai dan dua kali dari jumlah di atas.”

“Seperti Aku sekarang mengumumkan bahwa Aku akan memasuki peristirahatan, Aku tidak benar-benar wafat. Sang Tathagata menggunakan kemangkatan ini hanya sebagai jalan yang bijaksana untuk mengajar dan mengubah makhluk-makhluk hidup.”

“Apakah alasannya? Jika Sang Buddha tetap berdiam di dunia ini dalam waktu yang lama, mereka yang sedikit kebajikannya yang tidak menanam akar kebajikan, yang rendah, yang mendambakan objek-objek lima nafsu keinginan, dan yang terperangkap dalam jaring pola pikir dan pandangan salah, dengan melihat Sang Tathagata selalu hadir dan tidak memasuki ketenangan, akan menjadi sombong, lalai, dan acuh tak acuh. Mereka tidak akan memikirkan betapa sulitnya untuk berjumpa-Nya, ataupun hati mereka akan tidak hormat.”

“Oleh sebab itu, Sang Tathagata dengan bijaksana berkata, ‘Para bhikshu, kalian harus mengetahui bahwa sulit untuk berjumpa dengan seorang Buddha yang muncul di dunia ini.’ Apakah alasannya? Mereka yang sedikit kebajikannya mungkin melewati tak terhingga ratusan ribu banyak sekali koti kalpa, selama waktu tersebut mereka dapat atau tidak dapat melihat seorang Buddha. Karena itu, Aku berkata kepada mereka, ‘Para bhikshu, Sang Tathagata sulit untuk dijumpai.’ Para makhluk hidup ini, dengan mendengarkan kata-kata ini, akan menyadari betapa sulitnya untuk menjumpai Sang Buddha dan akan memendam kerinduan untuk berjumpa dengan-Nya. Mereka akan menanam akar-akar kebajikan. Itulah sebabnya Sang Tathagata, walaupun Ia tidak memasuki ketenangan, mengatakan tentang peristirahatan.”

 “Lebih jauh, orang-orang baik, Dharma semua Buddha, Tathagata, adalah seperti ini dan digunakan untuk menyelamatkan makhluk-makhluk hidup. Ini sepenuhnya benar dan tidak salah.

“Ini bagaikan terdapat seorang tabib yang baik, bijaksana dan sangat menguasai ilmu pengobatan dan pandai, yang ahli menyembuhkan banyak penyakit. Orang ini juga memiliki banyak putra, sepuluh, dua puluh atau bahkan seratus. Kemudian, dipanggil dalam suatu urusan, ia mengadakan perjalanan ke negeri yang jauh.”

“Sementara itu, anak-anaknya meminum sejenis racun, yang menyebabkan mereka berguling-guling di tanah dalam keadaan mabuk.”

“Lalu ayah mereka pulang ke rumah. Karena mereka meminum racun tersebut, beberapa putranya kehilangan kesadaran, sedangkan yang lain tidak. Melihat ayah mereka dari jauh, mereka semua sangat gembira. Mereka membungkuk kepada sang ayah, berlutut, dan bertanya kepadanya,

“Selamat datang kembali dengan selamat. Karena kebodohan kami, kami salah meminum racun tertentu. Kami mohon ayah akan menyelamatkan dan menyembuhkan kami, dan mengembalikan kehidupan kami.’”

“Melihat anak-anaknya dalam penderitaan yang demikian, sang ayah membaca buku-buku pengobatannya dan kemudian mencari tanaman obat yang baik yang memiliki warna, bau, dan rasa yang baik. Lalu ia menggiling, mengayak, dan mencampurkan semuanya bersama, dan memberikan bahan campuran ini kepada putra-putranya untuk diminum.”

“Dan ia berkata kepada mereka, ‘Ini adalah obat yang bagus dengan warna, bau, dan rasa yang baik. Minumlah. Penderitaan kalian akan berkurang, dan kalian tidak akan menderita siksaan yang lebih jauh.’”

“Beberapa di antara anak-anak tersebut tidak kehilangan akal sehat mereka. Melihat obat yang bagus dengan warna dan bau yang baik, mereka langsung meminumnya dan penyakit mereka sepenuhnya disembuhkan.”

“Walaupun yang lain yang kehilangan akal sehatnya bergembira saat kedatangan ayah mereka, telah menanyakan tentang keadaan sang ayah, dan telah meminta agar disembuhkan dari penyakit mereka, mereka menolak untuk meminum obat tersebut. Apakah alasannya? Uap beracun telah merasuki mereka sangat dalam sehingga mereka kehilangan akal sehat mereka, dan dengan demikian mereka mengatakan bahwa obat dengan warna dan bau yang baik itu tidak bagus.”

“Sang ayah kemudian berpikir, ‘Kasihan sekali anak-anak ini! Racun telah mengacaukan pikiran mereka. Walaupun mereka bergembira bertemu denganku dan memintaku untuk menyelamatkan dan menyembuhkan mereka, mereka masih menolak obat yang baik seperti ini. Aku sekarang harus mengatur suatu cara yang bijaksana untuk membujuk mereka meminum obat ini.’”

“Segera ia berkata, ‘Kalian harus tahu bahwa aku sekarang sudah tua dan lemah, dan waktu kematianku telah tiba. Aku sekarang akan meninggalkan obat yang baik ini di sini agar kalian minum. Jangan khawatir tidak dapat sembuh.’ Setelah memberitahukan mereka dengan cara ini, ia kemudian kembali ke negeri yang jauh dan mengirimkan utusan kembali untuk mengumumkan, ‘Ayah kalian telah meninggal dunia.’”

“Ketika anak-anak tersebut mendengar bahwa ayah mereka telah meninggal dunia, hati mereka terpukul dengan kesedihan, dan mereka berpikir, ‘Jika ayah kita di sini, beliau akan mengasihi dan menyayangi kita, dan kita memiliki seorang seorang penyelamat dan pelindung. Sekarang beliau meninggalkan kita dan wafat di negari lain, dengan meninggalkan kita sebagai anak yatim, tanpa seorang pun untuk bergantung.’ Terus-menerus bersedih, pikiran mereka lalu menjadi tersadarkan. Mereka memahami bahwa obat tersebut memiliki warna, bau, dan rasa yang baik. Mereka meminumnya, dan penyakit beracun mereka sepenuhnya tersembuhkan.”

“Sang ayah, mendengar bahwa para putranya telah sembuh sepenuhnya, kemudian kembali, dan mereka semua bertemu dengan ayah mereka.”

“Orang-orang baik, apakah pendapat kalian, dapatkah seseorang berkata bahwa tabib yang baik ini telah melakukan kejahatan berdusta?”

“Tidak, Yang Dijunjung Dunia.”

Sang Buddha berkata, “Aku juga seperti itu. Aku telah mencapai Kebuddhaan tak terhingga ratusan ribu banyak sekali koti nayuta asamkhyeya kalpa yang lampau. Demi kepentingan makhluk-makhluk hidup, Aku menggunakan kekuatan kebijaksanaan dan berkata bahwa Aku akan memasuki peristirahatan. Tidak ada seorang pun yang dapat mengatakan dengan tepat bahwa Aku telah melakukan kejahatan berdusta.”

Pada waktu itu, Yang Dijunjung Dunia, bermaksud untuk mengulangi pemahaman ini, mengucapkan syair-syair berikut,

“Sejak Aku mencapai Kebuddhaan,
Kalpa-kalpa yang telah dilalui
Tak terhingga ratusan ribuan banyak sekali
Koti asamkhyeya jumlahnya.
Aku selalu mengatakan Dharma untuk mengajarkan dan mengubah
Tak terhitung jutaan makhluk hidup,
Hingga mereka memasuki Jalan Buddha.
Dan selama kalpa-kalpa tak terhitung ini,
Untuk menyelamatkan makhluk-makhluk hidup,
Aku dengan bijaksana memanifestasikan Nirvana.
Tetapi sesungguhnya Aku tidak memasuki peristirahatan.
Aku tetap di sini, selalu mengatakan Dharma.
Aku selalu berdiam di sini,
Dan menggunakan kekuatan penembusan spiritual,
Aku menyebabkan makhluk-makhluk hidup yang berbalik.
Walaupun berada di dekat-Ku, tidak melihat Aku.
Banyak orang melihat-Ku ketika memasuki peristirahatan.
Mereka secara besar-besaran memberikan persembahan kepada sharira-Ku.
Semuanya menyimpan kerinduan yang besar terhadap Aku,
Dan hati mereka mencari-cari Aku dalam dahaga.
Makhluk-makhluk hidup, kemudian menjadi yakin dan lembut,
Terus-menerus, dengan pikiran yang tunduk,
Dengan satu tujuan untuk berjumpa dengan Buddha,
Tidak mempedulikan kehidupan mereka saat ini juga.
Pada waktu itu Aku dan perkumpulan Sangha
Semuanya muncul bersama pada Gunung Burung Nazar Ajaib
Di mana Aku berkata pada makhluk-makhluk hidup
Bahwa Aku selalu di sini dan tidak pernah berhenti.
Tetapi menggunakan kekuatan cara yang bijaksana
Aku memanifestasikan ‘penghentian’ dan ‘bukan penghentian’.
Untuk makhluk-makhluk hidup di negeri lain,
Yang menghormati, yakin, dan memiliki cita-cita,
Aku mengatakan Dharma yang Tak Tertandingi.
Namun kalian yang tidak mendengar hal ini
Berpikir bahwa Aku telah memasuki peristirahatan.
Aku melihat makhluk-makhluk hidup
Tenggelam dalam penderitaan, dan masih
Aku menahan diri untuk bermanifestasi kepada mereka
Untuk menyebabkan mereka mencari-cari dalam kehausan,
Kemudian, ketika pikiran mereka dipenuhi dengan kerinduan,
Aku muncul dan mengucapkan Dharma.
Dengan penembusan spiritual yang demikian kuat,
Sepanjang ber-asemkhyeya kalpa,
Aku selalu berdiam pada Gunung Burung Nazar Ajaib
Dan juga berdiam di tempat-tempat lain.
Ketika makhluk-makhluk melihat akhir kalpa
Dan dihancurkan oleh api besar,
Negeri-Ku damai dan aman,
Selalu terisi oleh para dewa dan manusia,
Taman dan hutan, aula dan paviliun
Dan berbagai perhiasan berharga.
Terdapat pohon-pohon permata dengan banyak bunga dan buah
Di mana makhluk-makhluk hidup berkeliling dengan gembira.
Para dewa memainkan genderang surgawi,
Selalu menyanyikan berbagai jenis lagu,
Dan bunga-bunga mandarava
Bertaburan di atas Sang Buddha dan perkumpulan besar-Nya
Tanah Suci-Ku tidak hancur,
Tetapi banyak orang melihatnya terbakar seluruhnya.
Khawatir, ketakutan, dan menderita,
Orang-orang demikian ada di mana-mana.
Semua mahkluk ini dengan kejahatan-kejahatan,
Karena sebab dan kondisi karma buruk,
Melalui ber-asamkhyeya kalpa,
Tanpa mendengar nama Triratna.
Semua yang telah mengembangkan jasa dan kebajikan,
Yang tunduk, serasi, dan jujur
Mereka semuanya melihat-Ku
Di sini, mengucapkan Dharma.
Kadangkala untuk perkumpulan ini,
Aku mengatakan panjang kehidupan Buddha tak terbatas.
Kepada mereka yang melihat Buddha hanya setelah jangka waktu yang lama,
Aku mengatakan Buddha sulit untuk dijumpai.
Kekuatan kebijaksanaan-Ku
Pancaran kebijaksanaan-Ku yang tak terbatas
Adalah sedemikian sehingga panjang kehidupan-Ku satu kalpa tidak terhitung
Yang dicapai melalui pengembangan dan usaha yang panjang.
Kalian semua dengan kebijaksanaan,
Tidak seharusnya memiliki keraguan tentang hal ini.
Hapuskan semua sepenuhnya dan selamanya,
Karena kata-kata Sang Buddha adalah benar, tidak salah.
Ini bagaikan jalan bijaksana yang cekatan dari sang tabib
Yang, untuk menyembuhkan anak-anaknya yang hilang akal,
Sebenarnya masih hidup, tetapi mengatakan ia sudah meninggal,
Dan tidak ada yang dapat mengatakan bahwa ia berkata dusta.
Aku juga bagaikan bapak dunia,
Menyelamatkan semua dari penderitaan dan kesengsaraan.
Tetapi kepada makhluk-makhluk hidup, yang berbalik seperti mereka adanya,
Aku mengatakan penghentian, walaupun Aku sebenarnya tetap ada.
Jika tidak, karena mereka sering bertemu dengan-Ku,
Mereka akan berkembang menjadi sombong dan lalai.
Tidak patuh dan melekat pada lima nafsu keinginan,
Mereka akan jatuh ke dalam jalan kejahatan.
Aku selalu sadar akan makhluk-makhluk hidup
Mereka yang menjalankan Sang Jalan dan mereka yang tidak.
Aku mengatakan berbagai Dharma untuk kepentingan mereka
Untuk menyelamatkan mereka dengan cara yang sesuai.
Aku selalu berpikir,
‘Bagaimana Aku dapat menyebabkan makhluk-makhluk hidup
Untuk memasuki Jalan yang Tak Tertandingi
Dan dengan cepat menyempurnakan tubuh seorang Buddha?’”

Diterjemahkan dari: Lotus Sutra - Chapter Sixteen The Thus Come One's Life Span (
Sorry, you are not allowed to see this part of the text. Please login or register.
)

Buddha memang mengajarkan untuk tidak mudah percaya seperti dalam Kalama Sutta dan menurut saya konsep Mahayana tentang kekuatan tak terbatas seorang Buddha bukan untuk membuat orang mudah percaya, tetapi hanya untuk meneguhkan bahwa seorang Buddha jauh di atas kemampuan manusia biasa karena pencapaian Kebuddhaan-nya.

Mengenai hukum karma, memang manusia biasa tunduk pada hukum karma, tetapi tidak untuk seorang Buddha seperti pada kutipan di atas.

Soal mengapa Buddha yang bisa hidup berkalpa-kalpa cuma bisa hidup 80 tahun dalam sejarah yang kita kenal, pandangan anda sesuai dengan RAPB memang benar jika dilihat dari konsep Theravada. Namun konsep Mahayana memandang seorang Buddha memanifestasikan hukum ketidakkekalan untuk membuat semua makhluk lebih berjuang sungguh2 dalam Dharma seperti kutipan sutra di atas.
« Last Edit: 03 March 2010, 07:51:26 PM by seniya »
"Only through deduction does the real image of truth appear."
"When you have eliminated the impossible, whatever remains, however improbable, must be the truth."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline bond

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.665
  • Reputasi: 187
  • Buddhang Saranam Gacchami...
Re: Nanya sutra tentang 48 Ikrar Buddha Amitabha
« Reply #41 on: 03 March 2010, 08:07:28 PM »
Saya rasa d sini hny lah perbedaan interpretasi thd kekuatan seorg Buddha. Menurut Theravada,Buddha itu memiliki kemampuan d atas manusia biasa tetapi msh dbatasi oleh hukum karma & yg lainny. Menurut Mahayana,Buddha itu lbh d atas itu lg shg bs melangkahi batasan hukum karma. Hal ini dsebabkan krn perbedaan penekanan pd kedua pandangan: Theravada menekankan pd aspek manusiawi Buddha yg walaupun pny kemampuan luar biasa msh bs dterima oleh org2 yg kebijaksanaanny lbh menonjol (panna-carita) atau yg tdk mudah percaya/yakin, Mahayana menekankan pd aspek adi-manusiawi Buddha yg seolah2 Beliau adl "Tuhan" & hal ini lbh menarik bg org2 yg mudah percaya (saddha-carita) atau umat awam yg percaya pd hal2 supranatural yg demikian.

Tetapi bkn berarti Theravada hny utk org2 "intelek" & Mahayana hny utk org2 "bodoh". Dlm Mahaparinibbana Sutta pun kt menemukan bibit adi-manusiawi saat Buddha mengatakan bhw Beliau bs hidup 1 kappa atau lebih sedikit. Walaupun dlm komentar,Theravada scr resmi menyatakan itu adl ayukappa (masa hidup yg wajar,yaitu sekitar 100/120 th),namun ad yg menginterpretasikan itu adl kappa dlm arti masa dunia krn istilah ayukappa tdk pernah dtemukan d sutta2 lain (umumny jk Buddha mengatakan ttg kappa mk masa 1 siklus dunia lah yg dmaksud). Di lain pihak sutra2 Mahayana bnyk jg yg memberikan ajaran "tingkat tinggi" spt ttg prajna & sunyata yg agak sulit dpahami scr intelektual.

Mnrt sy kedua interpretasi tsb bkn saling bertentangan,melainkan saling melengkapi. Apalagi kt mengetahui bhw kemampuan seorg Buddha adl acinteyya (tdk terpikirkan oleh manusia biasa)

Benar sekali berbicara tentang Buddha itu acinteya..

Buddha pernah mengatakan bahwa segenggam daun yg ditangannya adalah inti dari ajaran yg mengarah pada kesucian dan itulah Dhamma yg mengarah pada aspek kesucian....
Dan daun2 simsapa lainnya adalah Dhamma juga sekalipun itu bukan inti dari mencapai kesucian tetapi tetaplah Dhamma. Dan jangan lupa ketika kita mulai menjalankan ajaran Sang Buddha...kita akan melewati Dhamma2 lainnya dan juga Dhamma yang mengarahkan kita mencapai kesucian.

Apakah ini yang anda maksudkan?
Pada suatu waktu,Yang Terberkati tinggal di Kosambi di tengah hutan simsapa.Beliau meraup dedaunan segenggam dan bertanya kepada para Bhikkhu,"O,para Bhikkhu,bagaimana menurut kalian,manakah yang lebih banyak[dedaunan yang saya gengam atau daun2 yang berada pada pohon2 di hutan]? "
'Dedaunan dalam genggaman Yang Terberkati lebih sedikit;daun2 di hutan lebih banyak'
"Demikian pula,O para Bhikkhu,hal2 yang Saya ketahui melalui pemahaman langsung adalah jauh lebih banyak;hal2 yang telah saya beritahukan kepadamu hanya sedikit saja."
"Mengapa saya tidak memberitahukanmu semua?Sebab hal2 tersebut tiada membawa manfaat,tidak membawa kemajuan dalam Kehidupan Suci,dan karena tidak menuju pada pupusnya hawa-nafsu,pada pemudaran,pada berakhirnya,pada heningnya,pada pemahaman langsung,pada pencerahan,pada Nibbana.Itulah sebabnya saya tidak memberitahukannya."

"Dan apakah yang telah saya beritahukan?[Mengenali bahwa] Inilah Penderitaan,Inilah Sumber Penderitaan,Inilah Berakhirnya Penderitaan,Inilah Jalan Menuju Berakhirnya Penderitaan.Itulah yang telah Saya beritahukan kepadamu.Mengapa saya memberitahumu?Karena hal2 tersebut membawa manfaat,membawa kemajuan dalam Kehidupan Suci,dan karena menuju pada pupusnya hawa-nafsu,pada pemudaran,pada berakhirnya,pada heningnya,pada pemahaman langsung,pada pencerahan,pada Nibbana.Itulah sebabnya saya memberitahukannya."

"Oleh karena itu wahai para Bhikkhu,buatlah demikian menjadi tugasmu :[Mengenali bahwa] Inilah Penderitaan,Inilah Sumber Penderitaan,Inilah Berakhirnya Penderitaan,Inilah Jalan Menuju Berakhirnya Penderitaan."

[Samyutta Nikaya,LVI,31]

Saya rasa Buddha tidak memberitahukannya jelas karena tidak membawa pada Nibbana.. :)


Quote
Nah banyak yg terjadi Dhamma2 itu muncul, karena keterbatasan kita menggunakan Dhammacakkhu, kita langsung memvonis itu bukan Dhamma karena hanya berpatokan pada teori saja. Tanpa menelaah pengalaman itu lebih lanjut sehingga mengalami stagnasi dalam pandangan. Sehingga ada sesuatu yg terlihat benar malah sebenarnya salah, karena belum meneliti keseluruhan aspek. Ada baiknya jika kita tidak tahu dgn pasti lebih baik wait and see sambil praktek sampai kita mencapainya. Mengenai keyakinan kembali kepada diri masing2.
Lihat yang diatas :)


Anumodana _/\_

belum nangkap juga maksud saya.... ^-^ 

Saya kasi clue...Bila ada Buddha muncul dalam meditasi anda/dihadapan anda, lalu memberi tahu sesuatu, apa reaksi anda...bagaimana anda mengetahui apa yg dikatakan Dhamma yg membawa pencerahan atau dhamma yg bukan membawa pencerahan, dan mengetahui itu Buddha atau bukan? nah ini harus dipilah daun yg mana membawa kita ke nibbana dan yg tidak....kedua jenis daun muncul pada hampir bersamaan....Anda tidak bisa menolak kemunculan fenomena itu...hanya sikap setelah kemunculan yg bisa kita lakukan....
Natthi me saranam annam, Buddho me saranam varam, Etena saccavajjena, Sotthi te hotu sabbada

Offline Riky_dave

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.237
  • Reputasi: -13
  • Gender: Male
Re: Nanya sutra tentang 48 Ikrar Buddha Amitabha
« Reply #42 on: 03 March 2010, 08:22:21 PM »
Benar seperti yang dikatakan bro Seniya. Tidaklah benar seorang praktisi Mahayana yang berkeyakinan pd metode praktik Sukhavati ini hanya terpaku pada keyakinan lalu tinggal santai2, atau Sukhavati vyuha Sutra itu adalah sutra pembodohan.  Mengkaji Sutra Mahayana tentu tidak bisa dilihat dari satu sisi, secara sepotong-potong.
Secara konsep, Sukhavati memang tidak terdapat dalam tradisi lain (Theravada) , tetapi utk garis besarnya masing2 memiliki prinsip yang sama seperti berkeyakinan pada Triratna, menjalani tiga aspek pelatihan Sila, Samadhi, Prajna, berpegang pd prinsip Tilakhana, mempraktikkan 8 jalan kebenaran, dll.
 Sedangkan perbedaan2 seperti konsep Tanah Buddha, Bodhisatva, Kearahatan, yang tidak sama itu tentu kembali pada kecocokan masing2. 
benar kalau sudah masuk ke "ranah" keyakinan,tetapi disini yang saya ajukan adalah "diskusi" soal 48 ikrar ini apakah "relevan" atau tidak,dan mencari tahu penjelasan atau makna dari ke 48 Ikrar Buddha Amitbha ini.. :)

Quote
Berbalik pada masalah keyakinan , misalnya dalam Theravada pun terdapat kisah Matthakundali yang hanya berkeyakinan pada Buddha tanpa melakukan kebajikan dapat terlahir di alam Surga. Jika mencernanya secara harafiah, maka mungkin saja dapat "menggiring" orang utk bersantai2 tanpa mau berbuat kebajikan, yang penting yakin dgn Sang Buddha. Tapi tentu tidak benar pemahaman demikian, bukan? 
Begitu juga saat mempraktikkan metode ajaran Sukhavati dalam tradisi Mahayana. Di dalamnya sebenarnya terdapat aspek2 penting lainnya utk dilatih agar pikiran selaras dengan Dharma, yang mengarah ke pengikisan keserakahan, kebencian dan kegelapan batin.
Kisah Matthakundali bisa dijelaskan sebagai berikut :

Syair 2 ( I:2. Kisah Matthakundali )

Seorang brahmana bernama Adinnapubbaka mempunyai anak tunggal yang amat dicintai dan disayangi bernama Matthakundali. Sayang, Adinnapubbaka adalah seorang kikir dan tidak pernah memberikan sesuatu kepada orang lain. Bahkan perhiasan emas untuk anak tunggalnya dikerjakan sendiri demi menghemat upah yang harus diberikan kepada tukang emas.

Suatu hari, anaknya jatuh sakit, tetapi tidak satu tabibpun diundang untuk mengobati anaknya. Ketika menyadari anaknya telah mendekati ajal, segera ia membawa anaknya keluar rumah dan dibaringkan di beranda, sehingga orang-orang yang berkunjung ke rumahnya tidak mengetahui keadaan itu.

Sebagaimana biasanya, di waktu pagi sekali, Sang Buddha bermeditasi. Setelah selesai, dengan mata Ke-Buddha-an Beliau melihat ke seluruh penjuru, barangkali ada makhluk yang memerlukan pertolongan. Sang Buddha melihat Matthakundali sedang berbaring sekarat di beranda. Beliau merasa bahwa anak itu memerlukan pertolongannya.

Setelah memakai jubah-Nya, Sang Buddha memasuki kota Savatthi untuk berpindapatta. Akhirnya Beliau tiba di rumah brahmana Adinnapubbaka. Beliau berdiri di depan pintu rumah dan memperhatikan Matthakundali. Rupanya Matthakundali tidak sadar sedang diperhatikan. Kemudian Sang Buddha memancarkan sinar dari tubuh-Nya, sehingga mengundang perhatian Matthakundali, brahmana muda.

Ketika brahmana muda melihat Sang Buddha timbullah keyakinan yang kuat dalam batinnya. Setelah Sang Buddha pergi, ia meninggal dunia dengan hati yang penuh keyakinan terhadap Sang Buddha dan terlahir kembali di alam surga Tavatimsa.

Dari kediamannya di surga, Matthakundali melihat ayahnya berduka-cita atas dirinya di tempat kremasi. Ia merasa iba. Kemudian ia menampakkan dirinya sebagaimana dahulu sebelum ia meninggal, dan memberitahu ayahnya bahwa ia telah terlahir di alam surga Tavatimsa karena keyakinannya kepada Sang Buddha. Maka ia menganjurkan ayahnya mengundang dan berdana makanan kepada Sang Buddha.

Brahmana Adinnapubbaka mengundang Sang Buddha untuk menerima dana makanan. Selesai makan, ia bertanya, "Bhante, apakah seseorang dapat, atau tidak dapat, terlahir di alam surga; hanya karena berkeyakinan terhadap Buddha tanpa berdana dan tanpa melaksanakan moral (sila)?"

Sang Buddha tersenyum mendengar pertanyaan itu. Kemudian Beliau memanggil dewa Matthakundali agar menampakkan dirinya. Matthakundali segera menampakkan diri, tubuhnya dihiasi dengan perhiasan surgawi, dan menceritakan kepada orang tua dan sanak keluarganya yang hadir, bagaimana ia dapat terlahir di alam surga Tavatimsa. Orang-orang yang memperhatikan dewa tersebut menjadi kagum, bahwa anak brahmana Adinnapubbaka mendapatkan kemuliaan hanya dengan keyakinan terhadap Sang Buddha.

Pertemuan itu diakhiri oleh Sang Buddha dengan membabarkan syair kedua berikut ini :

"Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk. Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran murni, maka kebahagiaan akan mengikutnya bagaikan bayang-bayang yang tak pernah meninggalkan bendanya."

Pada akhir khotbah Dhamma itu, Matthakundali dan Adinnapubbaka langsung mencapai tingkat kesucian sotapatti. Kelak, Adinnapubbaka mendanakan hampir semua kekayaannya bagi kepentingan Dhamma.


Saya rasa pernyataan anda kurang tepat,karena kita tahu bahwa Buddha Gotama memiliki kemampuan yang melebihi murid2nya salah 1 nya adalah kemampuan mengajarnya yang berbeda dengan murid2nya..Buddha Gotama jelas diatas "mensurvei" dunia dan mengetahui bahwa Matthakundali dapat mendapatkan manfaat dari kedatangan Buddha..

Saya rasa pemahaman disana sangat jelas,dan 3 hal yang mencirikan Sotapanna adalah hancurnya keraguan2 terhadap Tiratana,dan Matthakundali telah berhasil menghancurkan salah 1 dari ke 10 belenggu tersebut,adalah wajar dia bisa terlahir di alam surga..dan tepat seperti syair ke 2 yang dibabarkan oleh Buddha Gotama ,"Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk. Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran murni, maka kebahagiaan akan mengikutnya bagaikan bayang-bayang yang tak pernah meninggalkan bendanya."

Syair tersebut juga sesuai dengan Hukum kamma yang dijelaskan bagaimana seseorang dapat terlahir di alam tertentu..faktor2 yang menentukan salah satu adalah "pikiran" menjelang kematian.. :)

Sedangkan yang saya tangkap atau pahami sampai saat ini tentang 48 Ikrar tersebut,terlalu muluk2 menurut saya kecuali para pakar Mahayana disini bisa membantu saya untuk memahaminya dengan rujukan,referensi dari Sutra Mahayana.. :)

Anumodana _/\_
Langkah pertama adalah langkah yg terakhir...

Offline Riky_dave

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.237
  • Reputasi: -13
  • Gender: Male
Re: Nanya sutra tentang 48 Ikrar Buddha Amitabha
« Reply #43 on: 03 March 2010, 08:32:09 PM »
ijinkan saya utk berkomentar jg  ;D

dulu saya jg penganut mahayana, dalam mempraktekkan ajaran Mahayana, tdk ada namanya yg bersantai santai lgsg masuk sukkhavati,,,,  dari mana seseorg bisa mengclaim org lain bersantai santai sementara dia sendiri tdk bisa melihat kehidupan sehari hari secara penuh aktivitas seorg mahayanis........
Seseorg yg mempraktekkan Dharma sesuai pandangan Mahayana, dilakukan dengan mengembangkan cinta kasih yg tdk kalah dari praktek Theravada, latihan jg tdk kalah, didalamnya memang digunakan cara pelafalan, untuk membangkitkan Saddha dan konsentrasi, serta merenungi sifat sifat ke Buddha yg didalam Theravada dikenal sebagai Buddhanussati....... secara konsisten umat mahayana selalu menjaga keyakinan yg teguh terhadap Buddha, dan jg mempraktekkan cinta kasih dalam hal ini jalan yg ditempuh adalah melalui vegetarian sesuai dgn anggapan dan kecocokan mereka......\
selain itu jg mereka mempraktekkan kebijaksanaan yg disana disebut sebagai prajna... sama halnya dgn Theravada mempraktekkan kebijaksanaan yg disebut dgn Panna.

Disini pandangan mahayana mencangkup moralitas, Samadhi, dan jg Prajna. tentu hal ini jg merupakan praktek yang luar biasa.

yang di bold itu..jadi sekarang anda beraliran apa? :)

Anumodana _/\_
Langkah pertama adalah langkah yg terakhir...

Offline Riky_dave

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.237
  • Reputasi: -13
  • Gender: Male
Re: Nanya sutra tentang 48 Ikrar Buddha Amitabha
« Reply #44 on: 03 March 2010, 08:34:00 PM »
untuk yang Matthakundali lihat RAPB saya kira RAPB by Dhammacitta Press sangat bagus dijadikan referensi untuk hal semacam ini,karena penjelasannya sudah cukup untuk menjelaskan,alasan2 yang berkaitan dengan hal ini.. :)
Langkah pertama adalah langkah yg terakhir...