topic short url: http://dhct.ws/f14554

Author Topic: Sejarah Organisasi Buddhist dan Sangha di Indonesia  (Read 12814 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline williamhalim

  • Sebelumnya: willibordus
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.870
  • Reputasi: 134
  • Gender: Male
Sejarah Organisasi Buddhist dan Sangha di Indonesia
« on: 15 January 2010, 11:47:46 AM »
Saya lagi mengumpulkan data tentang Drs. Mochtar Rasyid, alm. dulu dikenal dengan nama Bhante Subbhato. Salah satu link yg sy temukan ketika mencari informasi mengenai Beliau adalah link ini:
Sorry, you are not allowed to see this part of the text. Please login or register.
. Link ini berisi artikel yg cukup informatif mengenai sejarah Sangha dan Organisasi Buddhist di Indonesia.

Sejarah yg baik adalah yg mencatat apa adanya, hitam atau putih telah berlalu. Mengetahui sejarah dan dapat belajar darinya adalah suatu kebijaksanaan.

Berikut sy repost artikel tersebut:

...
« Last Edit: 13 March 2010, 11:51:07 PM by gachapin »
Walaupun seseorang dapat menaklukkan beribu-ribu musuh dalam beribu kali pertempuran, namun sesungguhnya penakluk terbesar adalah orang yang dapat menaklukkan dirinya sendiri (Dhammapada 103)

Offline williamhalim

  • Sebelumnya: willibordus
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.870
  • Reputasi: 134
  • Gender: Male
Re: Sejarah STI
« Reply #1 on: 15 January 2010, 11:49:08 AM »
Sangha Agung Indonesia (SAGIN) dan Terbentuknya Sangha Theravada ‘Dhammayuttika’ Indonesia (STI)

Bhante Vin berjasa besar bagi pengembangan Theravada aliran Dhammayuttika (Sangha Raj) di Indonesia. Pada saat itu, Bhikkhu-bhikkhu muda seperti Bhante Subhato (Armahumah Mochtar Rashid), Bhante Khemiyo (sdh menjadi umat biasa), Bhante Aggabalo (Bpk Cornelis Wowor) dll, semua ditahbiskan di Wat Bovoranives,Thailand atas bantuan Bhante Vin .

Mungkin disinilah friksi, benih-benih perbedaan mulai muncul. Bapak Pdt. Dr. Hudoyo Hupudio (mantan biku aliran Dhammayuttika) dalam satu tulisan di forum Dhammachitta.org menulis:

Saya rasa, perkembangan yang tidak terduga ini mencemaskan Bhante Ashin … Soalnya sering kali bhikkhu-bhikkhu muda itu langsung pergi ke Thailand begitu saja dengan bantuan Bhante Win, tanpa minta pertimbangan Bhante Ashin; seolah-olah Bhante Ashin di-bypass begitu saja. (Ketika pada 1969 saya ditahbiskan menjadi Samanera oleh Bhante Ashin, lalu pada 1970 dibantu oleh Bhante Win pergi ke Thailand untuk menerima upasampada, Bhante Ashin hanya dipamiti saja, tidak dimintai pendapat.) …

Apa lagi, semua bhikkhu-bhikkhu muda itu ditahbiskan di Wat Bovoranives, garis keturunannya adalah Dhammayuttika. … dengan demikian semua bhikkhu yang berasal dari satu garis keturunan boleh mengikuti upacara patimokkha … bhikkhu yang bukan dari garis keturunan yang sama tidak boleh mengikuti patimokkha garis keturunan itu. … Misalnya, alm Bhante Girirakkhito juga ditahbiskan di Thailand, tapi garis keturunannya adalah Maha Nikaya … jadi beliau tidak bisa ikut patimokkha bhikkhu-bhikkhu Dhammayuttika. … Bhante Jinapiya yang ditahbiskan di Sri Lanka, tidak bisa ikut patimokkha bhikkhu-bhikkhu Dhammayuttika … sampai beliau bersedia ditahbiskan-ulang dalam garis keturunan Dhammayuttika sebagai Bhante Thitaketuko (saya tidak tahu, vassa beliau dihitung dari mana, dari penahbisan pertama atau dari penahbisan belakangan) … Tapi bisa dibayangkan kelak, kalau bhikkhu-bhikkhu muda Dhammayuttika mengadakan patimokkha, maka Bhante Ashin tidak bisa ikut, karena berbeda garis keturunan …

Perbedaan pandangan dan kondisi-kondisi inilah, yang mungkin menyebabkan pada tanggal 12 Januari 1972 biku-biku ‘lulusan’ Wat Bovoranives’ Thailand ini: bhikkhu Girirakhito, bhikkhu Sumanggalo, bhikkhu Jinapiya(sekarang bhikkhu Thitaketuko), bhikkhu Jinaratana (sekarang Pandhit Kaharudin), bhikkhu Subhato (armahumah Moctar Rashid) yang notabene adalah murid beliau memisahkan diri – membentuk Sangha Indonesia.

Tiga (3) Biku diantaranya  adalah pendiri in absentia, dalam arti tak hadir/tak berada di Indonesia:  B. Jinapiya(skr B.Thitaketuko), B. Jinaratana(skr Pandhit Kaharudin) dan  B. Sumanggalo.Yang terakhir ini, B.Sumanggalo sampai akhir hayatnya tak pernah kembali ke Indonesia.

Jadi yang berada di Indonesia dan benar-benar mengerti keadaan saat itu  mengapa perlu membuat Sangha baru dan berseberangan dengan gurunya hanyalah B.Girirakkhita dan B.Subhato (almahumah Mochtar Rasyid).

Namun dua tahun kemudian, tepatnya tahun 1974 murid-murid ini (Sangha Indonesia) melebur kembali pada gurunya, Sayadaw Ashin Jinarakkhita di Maha Sangha Indonesia. Nama Maha Sangha Indonesia diubah menjadi Sangha Agung Indonesia(Sagin).

Bhante Vidhurdhammabhorn yang juga akrab di panggil bhante Vin, kemudian juga menjadi upajjhaya yang mentahbiskan Husodo/Ong Tik Tjong(sekarang  Bhante Sri Pannavaro Mahathera) menjadi samanera Tejavanto di Vihara Dharmasurya, desa Kaloran, Temanggung pada tanggal 24 November 1974.

Konon, pemuda Husodo yang saat itu masih tercatat sebagai mahasiswa Psikologi UGM sebenarnya sudah lama memendam keinginan mulia ini.

Sebelum diterima bhante Vin sebagai murid, beliau  beberapa kali meminta pada Mahawiku Dharma-aji Uggadhammo (Murid Sayadaw Ashin Jinarakkhita) untuk diterima menjadi samanera. Namun, karena pertimbangan masih kuliah, Mahawiku Dharma-aji Uggadhammo yang merupakan Nayaka Sangha Tantrayana Indonesia dan Anu Nayaka Sangha Agung Indonesia ini memintanya  menyelesaikan studi dulu.

Jodoh dan karma memang  memiliki jalannya sendiri, sebelum menamatkan studi, pemuda Husodo bertemu dengan Bhante Vidhurdhammabhorn (bhante Vin), Oleh bhante Vin pemuda Husodo langsung diterima menjadi samanera.

Hadir dalam pentahbisan  samanera  bhante Girirakkhito dan bhante Jinapiya (sekarang bhante Thitaketukho) dan beberapa samanera Sangha Agung Indonesia, waktu itu (STI) Sangha Theravada Indonesia belum ada. Namun, mereka ini adalah cikal berdirinya STI (Sangha Theravada Indonesia).

Seperti biku-biku muda lainnya, 2 tahun menjadi samanera beliau dikirim bhante Vin untuk ditahbiskan  menjadi bhikkhu di Wat Bovoranives, Bangkok.

Kian hari, putra-putra Indonesia yang ditahbiskan menjadi biku di Wat Bovoranives kian banyak. Oleh sifat eksklusik aliran Dhammayuttika sebagai Sangha-nya Raja, sudah dipastikan konflik yang ada saat mereka kembali ke Indonesia dan bergabung dengan biku-biku lain yang non Dhammayuttika, biku Mahayana dan Tantra maupun Theravada non Dhammayuttika dalam satu Sangha tidaklah mudah. Sebagai contoh: Sayadaw Ashin Jinarakkhita yang Nayaka Sangha Agung Indonesia sebagai pemimpin paling tinggi sekalipun tak diperkenankan ikut Patimoka dengan mereka?  

Puncaknya tahun 1976, biku-biku ‘lulusan’ Wat Bovoranives yang merupakan murid binaan Bhante Vidhurdhammabhorn (bhante Vin) memutuskan keluar dari Sangha Agung Indonesia dan mendirikan Sangha Theravada Indonesia, atau lebih sering disingkat STI.

Dalam hal ini perlu diingat, mengingat eksklusifnya aliran Dhammayuttika, STI atau Sangha Theravada Indonesia lebih tepat diartikan Sangha Theravada ‘Dhammayuttika’ Indonesia.

Adapun ke-5 orang pendiri Sangha Theravada ‘Dhammayuttika’ Indonesia adalah: B.Aggabalo (Skr Bapak. Cornelis Wowor), B.Sudhammo, B. Khemiyo (Skr menjadi umat biasa), B.Khemmasarano, B.Nyanavuttho.

Adapun B.Sudhammo adalah murid dari B.Agga Jinametto (murid dari Sayadaw Ashin Jinarakkhita). Jadi masih kakak seperguruan dari B.Dharmasurya Bhumi Mahathera di Sangha Agung Indonesia saat ini.

Sejarah terus berulang. Dalam perkembangannya pun, Bhante Vidhurdhammabhorn (bhante Vin),satu dari 4 dharmaduta Thailand yang diundang U Ashin Jinarakkhita yang amat berjasa dalam mengembangkan Theravada Dhammayutika di Indonesia, yang sangat berjasa pada awal pengiriman biku-biku muda untuk ditahbis di Wat Bovoranives, yang sangat berjasa dalam mendirikan Sangha Theravada ‘Dhammayutika’ Indonesia (STI) pun akhirnya harus tersisih dari ’singasana’ kehormatan di STI. Konon katanya, ada dishamoni perbedaan ras biku orang Thailand dan biku orang Indonesia.

Dalam saat-saat sulit ini, umat dan sahabat terbaiknya justru berasal dari umat berumahtangga pengusaha Siti Hartati Murdaya. Biku-biku orang Thailand binaan bhante Vidhurdhammabhorn (bhante Vin) dan beliau sendiri aktif membantu Sangha Theravada Walubinya Siti Hartati Murdaya.

Setelah friksi orang Thai dan orang Indonesia, kabar terakhir yang berhembus adalah Cina dan Pribumi. Konon masalah rasia inilah yang menyebabkan  jabatan Mahanayaka di STI tiba-tiba ditiadakan. Kali ini yang terguling dari ’singasana’ adalah B.Pannyavaro Mahathera dari kursi Sanghanayaka (Ketua Umum Sangha).

Jasa B.Pannyavaro sendiri dalam membesarkan Sangha Theravada ‘Dhammyuttika’ Indonesia (STI) tiada terkira. Hal pertama yang orang ingat tentang B.Pannyavaro adalah ceramahnya yang lembut dan STI. Dan hal pertama yang orang ingat tentang STI seringkali adalah B.Pannyavaro

Entah ada hubungan dengan ini atau tidak , di suatu forum ditulis:

“baru-baru ini Bhante Pannyavaro pergi ke Thailand beberapa bulan untuk belajar menjadi upajjhaya (penahbis bhikkhu) … Sekarang beliau sudah mempunyai wewenang menahbiskan bhikkhu. … Sebelumnya di Indonesia yang punya wewenang itu hanyalah Bhante Sukhemo… “

Wewenang penabhisan ini menyebabkan biku-biku muda di STI semuanya adalah murid Bhante Sukhemo… suatu dukungan yang sangat menguntungkan bila terjadi pemungutan suara

...
« Last Edit: 15 January 2010, 11:55:01 AM by williamhalim »
Walaupun seseorang dapat menaklukkan beribu-ribu musuh dalam beribu kali pertempuran, namun sesungguhnya penakluk terbesar adalah orang yang dapat menaklukkan dirinya sendiri (Dhammapada 103)

Offline williamhalim

  • Sebelumnya: willibordus
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.870
  • Reputasi: 134
  • Gender: Male
Re: Sejarah STI
« Reply #2 on: 15 January 2010, 11:54:15 AM »
Sangha Mahayana Indonesia


Siti Hartati Murdaya

Umat berumah tangga yang banyak mensuport  berdirinya STI ‘Sangha Theravada “Dhammayuttika” Indonesia’ adalah Ibu Siti Hartati Murdaya.  Ini tak lain karena kedekatannya dengan Dharma Duta Thailand Ven. Phra Kru Pallad Attachariya Nukich yang kemudian memakai nama Chau Kun Vidhurdhammabhorn(yang juga akrab di panggil bhante Vin), dan Bhante Girirakhitto.

Wisma Narada dan Perpustakaan Narada yang berdiri di atasnya,  yang dikelola Bpk.Cornelis Wowor dan Vihara Mendut yang didiami B.Pannyavaro adalah sedikit contoh konstribusi Ibu Hartati Murdaya untuk STI. Kabarnya, semua pegawai perpustakaan Narada termasuk Bpk.Cornelis Wowor mendapat gaji dari beliau.

Sebaliknya beliau dan kroninya juga yang coba membubarkan Sangha Agung Indonesia (SAGIN) dan Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) secara sistematis pada jaman Orba dengan mengeluarkan keanggotaan Sagin dan MBI dari Walubi ‘lama’ pada 15 Oktober 1994 disertai kekerasan fisik.

Saksi sejarah mengatakan, saat itu Ashin Jinarakkhita termasuk target operasi yang akan diciduk. Jadi dia harus bergerilyar mengantar Ashin Jinarakkhita dari satu tempat ke tempat lain menghindari tukang ciduk.

Semua ini dimungkinkan oleh kekayaan dan kedekatan wanita ini dengan penguasa orba dan militer.

Jadi peran beliau untuk agama Buddha seperti pisau bermata dua, satu sisi cukup membantu sisi lain sangat mengacaukan.  Bagi kroninya beliau adalah wanita luar biasa, tapi bagi orang yang pernah dijaliminya, beliau adalah calon penghuni neraka avici.

Tiada yang abadi di dunia ini. Kemesraan simbiosis mutualisma beliau dengan Sangha Theravada ‘Dhammayuttika’ Indonesia (STI) berakhir setelah jaman reformasi.  Untuk mencuci dosanya  atas SAGIN dan MBI beliau membubarkan Walubi-lama (Perwalian Umat Buddha Indonesia) dan membentuk Walubi baru (Perwakilan Umat Buddha Indonesia).

Konon,  setelah kerusuhan  Mei 1998  berakhir, beliau yang sempat ‘menghilang’ ke luar negeri, saat kembali ke tanah air  sowan ke Bhante Arya Maitri Mahasthavira di Ekayana, Jakarta. Kongsinya dengan STI telah usai. Kini beliau  melirik SAGIN untuk bergabung di Walubi baru mililknya.

Biku Aryamaitri Mahasthavira yang merupakan Nayaka Sangha Agung  Indonesia saat itu, pihak yang pernah dijaliminya, menolak tawaran itu.

Dengan pertimbangan seharusnya Ulama/Biku yang memimpin Umat, bukan Umat yang memimpin Ulama/Biku, maka Sangha Agung Indonesia  bersama Sangha Theravada ‘Dhammayuttika’ Indonesia dan Sangha Mahayana Indonesia membentuk KASI (Konferensi Agung Sangha Indonesia).

Siti Hartati Murdaya sendiri tetap jalan dengan Walubi ‘miliknya’ sampai hari ini, yang bila diungkap asal-usul Sanghanya sangat kontroversial. Salah satu contoh segar  adalah kasus tewasnya penyanyi Alda Risma.  Diduga Fery Surya Perkasa atau YM Serlingpa Dharmakirti Yongdzin Tulku Rinpoche, pacar sekaligus teman kencannya di kamar 432 hotel Grand Menteng adalah petinggi Sangha Tantrayana di Walubi Hartati Murdaya.

Bagaikan teori gunung es, kisah yang bocor ke permukaan karena ‘kecelakaan’ ini hanyalah sebagian kecil, ada banyak desas-desus lain semisal beberapa biku yang bergabung adalah biku karir berseragam, dalam arti  mendapat tunjangan saku bulanan  ’si Ibu’ dan mereka memiliki anak / istri di rumah, jadi jubah just a uniform-seragam aja 

Di luar cerita di atas, sedikit informasi untuk Anda, tanah berdirinya Vihara Dhammacakkajaya Sunter pun memiliki  ‘kembarannya’ dan kisah tersendiri.

Konon Alm Bapak Anton Haliman (Pendiri Agung Podomoro Group) sewaktu mendonorkan tanah pada Sangha,  tak memahami Sangha sudah mengkotakkan diri.

Seperti kebanyakan donatur lain,  mereka masih berpikir semua biku adalah muridnya Ashin Jinarakkhita Mahathera dari Sangha Agung Indonesia.  Mereka tak mengetahui ada biku-biku ‘lulusan’ Wat Bovoranives  yang sudah memisahkan diri dari Sangha Agung Indonesia.

Jadi, tanah didanakan pada biku-biku ‘lulusan’ Wat Bovoranives tersebut, yang sekarang menjadi tempat berdirinya Vihara Dhammacakkajaya, Sunter.

Nah, belakangan setelah tanah itu terlanjur didanakan, barulah disadari biku-biku ‘lulusan’ Wat Bovoranives tersebut sudah memisahkan diri dari Ashin Jinarakkhita Mahathera di Sangha Agung Indonesia.

Karena perasaan tak enak hatinya pada Ashin Jinarakkhita Mahathera, Ibunda pendonor meminta anaknya kembali mendonorkan sebidang tanah yang sama pada Sangha, dalam hal ini pada Ashin Jinarakkhita Mahathera di Sangha Agung Indonesia.

Maka, donatur yang mendirikan perumahan elit di Sunter ini pun kembali mendonorkan sepetak tanah pada Sangha, kali ini pada Sangha Agung Indonesia. Lokasi tanah ini tak jauh dari Vihara Dhammacakkajaya, yakni di : JL. Agung Tengah 7 No.1 Blok B i/6 Sunter Agung Podomoro, dimana saat ini berdiri Sekolah Dharma Budi Bhakti.

Meski didanakan pada Sangha Agung Indonesia, dan seharusnya merupakan aset Sangha, sepertinya kepermilikan sekolah dan tanah itu kini ada pada individu perseorangan. Ini tak lain  karena simplesitas dan ketidakmelekatan Ashin Jinarakkhita pada benda-benda duniawi,  dengan mudah menyerahkan tanah itu pada orang yang ia percaya untuk membangun Sekolah Buddhis, meski mungkin atribut Buddhis pada sekolah itu kini maknanya hanyalah sebuah atribut.
Kabarnya juga, dalam perkembangannya saat ini  STI tak lagi cuma beranggotakan biku Dhammayuttika, contohnya B. Kusaladhamma (penyusun buku Knorologi Hidup Buddha) yang ditabhis dan belajar di Myanmar, tentu sayang kalau dibuang kalau beliau sekiranya ‘ogah’ ditabhis ulang. 
Tradisinya, oleh sifat eksklusifnya, STI (Sangha Theravada ‘Dhammayutika’ Indonesia) ‘ mewajibkan penabisan ulang secara Dhammayutika pada anggotanya yang ditabhis dengan sisilah lain, meskipun guru penabhis mereka dari sisilah lain memiliki vassa(umur kebikuan)  jauh lebih senior dari guru penabhis Dhammayutika di Indonesia. Tetapi untuk diterima sebagai anggota STI (Sangha Theravada ‘Dhammayutika’ Indonesia) saat  kembali ke Indonesia, mereka harus ditabhis ulang.
Selama pengembaraan penulis di Myanmar, dimana kita bersosialisasi tanpa terkotak aneka Sangha ‘made in’ Indonesia, penulis mendapatkan bahwa masalah ini jugalah membuat beberapa biku yang dikirim STI mengalami dilema untuk kembali ke Indonesia.
Kasus B.Kusaladhammo mungkin akan mengikuti cerita B. Girirakkhito dulu, dimana beliau menjadi anggota STI meski tidak ditabhiskan secara Dhammayutika.
Yang menjadi pertanyaan sekarang, apakah dalam Sanghakamma/upacara Sangha di STI (Sangha Theravada ‘Dhammayutika’ Indonesia) biku anggota STI non-Dhammayuttika bisa ikut?

...
Walaupun seseorang dapat menaklukkan beribu-ribu musuh dalam beribu kali pertempuran, namun sesungguhnya penakluk terbesar adalah orang yang dapat menaklukkan dirinya sendiri (Dhammapada 103)

Offline williamhalim

  • Sebelumnya: willibordus
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.870
  • Reputasi: 134
  • Gender: Male
Re: Sejarah Organisasi Buddhist dan Sangha di Indonesia
« Reply #3 on: 15 January 2010, 12:01:37 PM »
sumber: http://dhammadesana.blogspot.com/search/label/sejarah:

Berdirinya Magabudhi (dahulu Mapanbudhi)
Oleh R. Surya Widya

Didirikan oleh Romo Maha Pandita Khemanyana Karbono dan Romo Maha Pandita Sumedha Widyadharma pada tanggl 3 Oktober 1976 yang lalu di Bandung. Romo Karbono dibantu oleh Romo Drs Teja Mochtar Rashid (mantan bhikkhu Subbhato), dan dukungan juga datang dari Semarang/Jawa Tengah yaitu dari Romo Pandita Suratin dkk.

Berdirinya Mapanbudhi (Majelis Pandita Buddha Dhamma Indonesia) bertujuan untuk mempertahankan eksistensi mazhab Theravada di Indonesia. Serangan bertubi-tubi kearah para tokoh Buddhis yang memilih mazhab Theravada dengan tuduhan yang tidak masuk akal sangat mengancam keberadaan tradisi Theravada di Indonesia. Ada ancaman serius yang ditujukan kepada para pandita yang tidak mau menggunakan istilah SAB dalam kebaktian di vihara/cetiya. Mapanbudhi harus berdiri sebelum terbentuknya Majelis Agama Buddha Indonesia, agar bisa menjadi majelis agama Buddha yang mewakili mazhab Theravada.

Sekretaris Jenderal pertama Mapanbudhi adalah MP Khemanyana Karbono dan wakilnya adalah Pandita S. Widyadarma, BBA dibantu oleh Dr. Hudoyo Hupudio sebagai sekretaris, Dr. R.Surya Widya sebagai wakil sekretaris, Drs. Djamal Bakir (sekarang Bhikkhu Khantidaro Mahathera), Drs. Teja S.M. Rashid, dan Rama Herman S. Endro, S.H. sebagai ketua bidang-ketua bidang.

Proyek pertama adalah penerbitan sebuah buku kecil yang berjudul "Ketuhanan yang Maha Esa dalam agama Buddha", agar semua pihak memahami betul bahwa umat mazhab Theravada itu bukanlah atheis dan juga bukan komunis seperti yang dituduhkan sebelumnya. Mapanbudhi waktu itu kira-kira berfungsi sebagai "bemper mobil" untuk mazhab Theravada, agar para bhikkhu dan umat awam tidak terbentur atau terserang.

Selanjutnya adalah menerima anggota dari kota dan kabupaten yang ingin bergabung dengan Mapanbudhi, yaitu para rohaniwan dari seksi kerohanian Buddha Dharma Indonesia (Budhi) yang terombang-ambing dalam keraguan, akibat Bhante Girirakkhito (bhikkhu Theravada) yang menjadi wakil ketua SAI terbukti betul betul dipermainkan dalam pengambilan keputusan.

Pada tahun 1995, Mapanbudhi berganti nama menjadi Magabudhi (Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia). Para anggota Magabudhi sekarang membantu para bhiikhu dari STI untuk bersama-sama membina umat Buddha mazhab Theravada di Indonesia, juga melayani undangan ceramah dari vihara-vihara mazhab lainnya.

...
Walaupun seseorang dapat menaklukkan beribu-ribu musuh dalam beribu kali pertempuran, namun sesungguhnya penakluk terbesar adalah orang yang dapat menaklukkan dirinya sendiri (Dhammapada 103)

Offline williamhalim

  • Sebelumnya: willibordus
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.870
  • Reputasi: 134
  • Gender: Male
Re: Sejarah Organisasi Buddhist dan Sangha di Indonesia
« Reply #4 on: 15 January 2010, 12:03:01 PM »
...

Hingga pada pertengahan tahun 1970an umat Buddha di Indonesia terdiri dari banyak organisasi. Pada masa itu ada beberapa organisasi umat Buddha yang aktif di bidang pembinaan keagamaan tidak dibina oleh Sangha (yang ada waktu itu). Organisasi umat Buddha itu antara lain. Tridharma, Buddhis Indonesia, Persaudaraan Buddhis Indonesia, Federasi Buddhis Indonesia; juga ada banyak umat Buddha yang tadinya bergabung dengan organisasi umat Buddha yang telah ada, namun mereka keluar karena berpendapat tidak sesuai dengan kebijakan organisasinya. Para pimpinan organisasi umat Buddha ini sangat mendambakan agar umat Buddha anggota mereka mendapat pembinaan dari sangha, namun karena perbedaan organisasi (bukan organisasi yang dibina langsung oleh sangha) maka keinginan tersebut tidak terpenuhi. Keinginan mereka di antaranya adalah adanya khotbah, ceramah, penahbisan pandita, upasaka, pemberkahan perkawinan, rumah, kantor, dlsb. oleh sangha atau anggota sangha.

Di samping itu ada beberapa anggota sangha (dari sangha yang ada pada waktu itu berpendapat dalam banyak hal tidak ada persesuaian pemikiran, utamanya dalam hal kebijakan dalam pembinaan umat Buddha di Indonesia dan cara kepemimpinan. Dalam hal organisasi sangha menurut mereka pimpinan tidak terbuka, karena sudah beberapa tahun tidak ada rapat umum (mahasamaya), padahal mahasamaya seharusnya dilaksanakan setiap tahun.

Sementara itu ada beberapa bhikkhu muda yang baru beberapa tahun di upasampada di luar negeri dan telah berada di tanah air, juga ada beberapa bhikkhu yang di upasampada di Indonesia, yang umumnya bukan anggota (organisasi) sangha yang telah ada di Indonesia. Dalam pembinaan mereka terhadap umat Buddha di Indonesia selama beberapa tahun, telah melihat, mendengar dan menemukan kondisi umat Buddha yang tidak mendapat pembinaan dari organisasi sangha yang telah ada, begitu pula dengan informasi-informasi dari anggota sangha yang tidak sejalan dengan kebijakan organisasi dan pimpinan sangha yang ada. Di samping itu para bhikkhu baru ini dituntut oleh umat agar mematuhi dan melaksanakan vinaya kebhikkhuan sesuai dengan patimokkha yang tercantum dalam Tipitaka.

Berdasarkan adanya situasi dan kondisi umat Buddha di Indonesia  seperti itulah, maka pada sore hari tanggal 23 Oktober 1976, bertempat di Vihara Maha Dhammaloka (sekarang Vihara Tanah Putih), Semarang, beberapa orang bhikkhu dan tokoh umat yaitu: Bhikkhu Aggabalo, Bhikkhu Khemasarano, Bhikkhu Sudhammo, Bhikkhu Khemiyo dan Bhikkhu Nanavutto; Bapak Suratin MS, Bapak Mochtar Rasyid, dan Ibu Supangat, ketika sedang membicarakan hal yang penting ini, muncul  pertanyaan apakah para bhikkhu tega membiarkan umat tak dibina? Pada hal sesuai dengan perintah Sang Buddha kepada para bhikkhu yang dikirim sebagai dhammaduta pertama (yaitu 60 bhikkhu arahat, lihat Vinaya Pitaka IV) ke berbagai penjuru adalah untuk membabarkan dhamma! Juga banyak pertanyaan tentang permasalahan kehidupan beragama Buddha di Indonesia yang harus diselesaikan berdasarkan
kerjasama sangha dan umat. Demi memenuhi kehendak umat dan panggilan kewajiban, maka diskusi tercetuslah ide untuk membentuk sangha baru.


Pembentukan sangha baru perlu pertimbangan yang banyak, antara lain bukan dibentuk untuk menyaingi sangha yang sudah ada, namun hanya untuk memfasilitasi kebutuhan umat dalam hal pembinaan. Juga para bhikkhu yang akan membentuk sangha baru bukan anggota sangha yang telah ada. Bhikkhu Khemasarano telah menjadi anggota sangha yang telah ada, tetapi dalam pembicaraan akan membentuk sangha yang baru beliau menyatakan akan keluar dari sangha itu dan bergabung dengan sangha yang akan dibentuk. Syarat jumlah bhikkhu yang disebutkan dalam Tipitaka minimal berjumlah empat orang bhikkhu. Dengan demikian kuorum membentuk sangha dapat dipenuhi oleh empat bhikkhu yang telah hadir dan bukan anggota sangha yang telah ada di Indonesia. Maka dalam pertemuan itu empat orang bhikkhu ini sependapat untuk membentuk sangha baru, dan Bhikkhu Khemasarano menyetujuinya dengan menyatakan sekaligus keluar dari sangha terdahulu. Dengan demikian terbentuklah sangha baru yang dinamakan Sangha Theravada Indonesia (STI) oleh lima orang bhikkhu tersebut. Pembentukan STI ini disambut baik oleh tokoh-tokoh umat yang hadir dan yang tidak hadir, sebab setelah: sangha dibentuk langsung diinformasikan ke berbagai organisasi dan tokoh-tokoh umat Buddha di seluruh Indonesia.


Setelah STI terbentuk langsung disambung dengan rapat sangha yang menggariskan bahwa STI akan dipimpin oleh seorang Sekretaris Sangha (Maha Lekkhanadikari) dan bukan oleh Ketua (nayaka), karena pertimbangannya adalah semua anggota STI merupakan para bhikkhu muda dan baru terdiri dari lima orang bhikkhu yang kepengurusannya masih mudah. Tugas adalah melaksanakan pembinaan umat Buddha di mana saja anggota berada dan atas permintaan umat (untuk mencegah friksi yang dapat muncul di antara sangha dan organisasi umat Buddha lain). Namun sebagai dharmaduta harus melayani siapa saja yang mengundang, demi pembabaran Buddha Dhamma.

Beberapa hari kemudian, Bhikkhu Aggabalo dan Samanera Tejavanto menemui Bhikkhu Girirakkhito Thera (di Jakarta) untuk menyampaikan telah berdirinya Sangha Theravada Indonesia. Setelah informasi ini disampaikan beliau berkata antara lain " ... baiklah karena teman-teman telah mendirikan STI, saya bergabung." Setelah pertemuan dengan Bhante Girl, bersama beliau (bertiga) langsung menghadap Dirjen Bimas Hindu dan Buddha, Dep. Agama RI, yang diterima oleh Dirjen, Bapak Puja, MA dan Sekditjen, Bpk drg. Willy Prajnasurya di kantor. Dalam pembicaraan dengan Bapak Dirjen, pembentukan STI dikritik, namun akhirnya beliau menerima apa adanya. Dengan demikian absahlah keberadaan STI di Indonesia karena telah diterima oleh umat dan
pemerintah.

Sumber :
30 tahun Pengabdian Sangha Theravada Indonesia, hal. 98-99
Diambil dari : http://samaggi-phala.or.id/berita/awal_sti.html
Walaupun seseorang dapat menaklukkan beribu-ribu musuh dalam beribu kali pertempuran, namun sesungguhnya penakluk terbesar adalah orang yang dapat menaklukkan dirinya sendiri (Dhammapada 103)

Offline kusalaputto

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.285
  • Reputasi: 30
  • Gender: Male
Re: Sejarah Organisasi Buddhist dan Sangha di Indonesia
« Reply #5 on: 15 January 2010, 01:59:38 PM »
ribet ye agama buddha d tanah air. tp yang pasti jangan ada yg ikut2an berebut kekuasaan perbedaan pendapat boleh tp jangan menimbulkan perpecahan lagi. politik sudah dari dulu buruk jangan kita terseret kedalamnya ikutilah kata hati ingin masuk k mahzb yg mana tidak masalah selama itu masih ajaran murni dari sang buddha bukan mahluk rekayasa. _/\_

Offline Parami

  • Tamu
  • *
  • Posts: 43
  • Reputasi: 5
  • Gender: Male
  • Keep aware....
Re: Sejarah Organisasi Buddhist dan Sangha di Indonesia
« Reply #6 on: 05 March 2010, 11:49:51 AM »
Nice Ipho....

[at] atas, se-7........
Semoga saya sehat, berbahagia dan terbebas.
Semoga semua mahkluk sehat, berbahagia dan terbebas.

Offline dhammasiri

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 461
  • Reputasi: 44
  • Gender: Male
Re: Sejarah Organisasi Buddhist dan Sangha di Indonesia
« Reply #7 on: 05 March 2010, 01:06:11 PM »
Saya ingin memberikan sedikit komentar tentang penahbisan ulang. Sebenarnya yang terjadi, bukanlah penahbisan ulang atau reordinasi. Yang ada adalah konfirmasi keanggotaan secara resmi. Hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Di Sri Lanka juga berlaku hal tersebut. Dalam vinaya, hal itu disebut sebagai dalhikamma. Yang bertujuan untuk mengkonfirmasi kenggaotaan bhikkhu tersebut, bahwa secara vinaya mereka adalah sah dan akan tunduk kepada vinaya dan vatta yang berlaku dalm kelompok tersebut. Vassa bhikkhu tersebut tetap akan dipertahankan sepanjang dalam perjalanannya menjadi bhikkhu tidak ada kecacatan. Apabila ada kecacatan, legal procedure akan diambil, seperti tidak mengakui kevalidan vassa bhikkhu tersebut.
Kedamaian dunia tidak akan tercapai bila batin kita tidak damai

Offline Sunkmanitu Tanka Ob'waci

  • Sebelumnya: Karuna, Wolverine, gachapin
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.740
  • Reputasi: 234
  • Gender: Male
Re: Sejarah Organisasi Buddhist dan Sangha di Indonesia
« Reply #8 on: 06 March 2010, 12:01:40 AM »
terima kasih atas konfirmasinya samanera.
HANYA MENERIMA UCAPAN TERIMA KASIH DALAM BENTUK GRP
Fake friends are like shadows never around on your darkest days

Offline Riky_dave

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.237
  • Reputasi: -13
  • Gender: Male
Re: Sejarah Organisasi Buddhist dan Sangha di Indonesia
« Reply #9 on: 08 March 2010, 07:59:21 PM »
Benar2...Bagus..sekali...saya sampai..sedikitnya terkejut,...

Anumodana _/\_
Langkah pertama adalah langkah yg terakhir...

Offline kullatiro

  • Sebelumnya: Daimond
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.623
  • Reputasi: 89
  • Gender: Male
  • Ehmm, Selamat mencapai Nibbana
Re: Sejarah Organisasi Buddhist dan Sangha di Indonesia
« Reply #10 on: 08 March 2010, 08:26:52 PM »
terkejut yah belum soal usir dan mengusir jaman tersebut. pantes banyak yang tidak mengerti jadi soal sekte toh. juga soal undangan ke Borobudur.

Offline Riky_dave

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.237
  • Reputasi: -13
  • Gender: Male
Re: Sejarah Organisasi Buddhist dan Sangha di Indonesia
« Reply #11 on: 08 March 2010, 08:31:14 PM »
sebenarnya saya agak tahu tentang perdebatan antar sekte ini,saya tidak tahu ternyata permasalahnnya sampai segitu...

:)
Langkah pertama adalah langkah yg terakhir...

Offline kullatiro

  • Sebelumnya: Daimond
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.623
  • Reputasi: 89
  • Gender: Male
  • Ehmm, Selamat mencapai Nibbana
Re: Sejarah Organisasi Buddhist dan Sangha di Indonesia
« Reply #12 on: 08 March 2010, 08:35:43 PM »
yah yang u liat di medan meja makan pisah dua itu mah wajar soal vinaya doang.

Offline Riky_dave

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.237
  • Reputasi: -13
  • Gender: Male
Re: Sejarah Organisasi Buddhist dan Sangha di Indonesia
« Reply #13 on: 08 March 2010, 08:38:24 PM »
Jujur,setelah membaca ini saya merasa sangat malu sebagai umat Buddhisme,entah kontribusi apa yang telah saya berikan untuk keberlangsungan Buddha Dhamma itu sendiri..Jadi terpikir untuk menjadi Samanera saya..Semoga cita2ku terkabul..Sadhu..Sadhu..Sadhu..

_/\_
Langkah pertama adalah langkah yg terakhir...

Offline Riky_dave

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.237
  • Reputasi: -13
  • Gender: Male
Re: Sejarah Organisasi Buddhist dan Sangha di Indonesia
« Reply #14 on: 08 March 2010, 08:39:11 PM »
yah yang u liat di medan meja makan pisah dua itu mah wajar soal vinaya doang.

bukan,anda harus lihat sendiri..baru anda tahu..sebenarnya jujur perasaan gua sedih melihat fenomena tersebut..[semoga makhluk yang telah memecah belah Sangha,bisa kembali ke jalan Buddha]..

Anumodana _/\_
Langkah pertama adalah langkah yg terakhir...