Saya ingin secepatnya melupakan 'seseorang'.
Bagaimanakah seharusnya mengendalikan pikiran ini,
disaat pikiran mulai teringat padanya,
apakah sebaiknya membiarkan saja apa adanya,
atau mengalihkan ke hal2 yg lain?
Yg saya lakukan saat ini adalah mengalihkan ke hal2 yg lain,
tapi kyknya seperti menipu diri.... dan akhirnya balik lagi.... inget lg......
Tolong saran temen2 semua....
Thx...
Ada dua sutta yang sangat menarik untuk dipraktikkan dalam menghadapi situasi semacam ini. Pertama adalah Sabbāsavasutta (M. I, 6 dst.)dan yang kedua adalah Vitakkasaṇṭhānasutta (M. I, 118 dst.). Kedua sutta ini memberikan tekhnik yang berbeda.
Dalam Sabbāsavasutta, disebutkan ada tujuh tekhnik yang dapat dipilih untuk melenyapkan noda batin.
1. Dieliminasi dengan cara melihat (dassanā pahātabbā)
Saat kita sedang menghadapi suatu masalah, kita cenderung terobsesi oleh masalah itu. Kita sulit tidur; tidak punya selera makan; tidak punya keingin untuk melanjutkan kehidupan dan masih banyak lagi yang lainnya. Mengapa kita bisa terobsesi? Kita dapat terobsesi karena kita tidak bisa melihat bahaya akan pikiran yang terobsesi. Karena itu, kita perlu melihat bahwa pikiran semacam itu hanyalah menimbulkan penderitaan.
2. Dieliminasi dengan cara pengendalian diri (saṃvarā pahātabbā)
Kita tidak mampu melupakan seseorang karena kita tidak mengendalikan indera-indera kita. Artinya, kita mengumbar begitu saja indera-indera yang kita miliki. Karena itu, kita perlu memiliki pengendalian terhadap indera-indera yang kita miliki (indriyasaṃvara), termasuk pengendalian idera pikiran (manindriyasaṃvara).
3. Dieliminasi dengan cara penggunaan (paṭisevanā pahātabbā)
Ini adalah semacam mengalihkan pikiran kita ke objek yang sedang kita pergunakan. Dalam sutta, objek yang dijadikan sebagai sarana perenungan adalah empat kebutuhan pokok (catupaccaya: pakaian, obat, makanan, dan tempat tinggal) yang biasa kita pakai dalam kehidupan sehari-hari. Kita harus menyadari manfaat dari empat kebutuhan pokok tersebut. Inti dari teknik ini adalah kita harus mempunyai kesadaran terhadap apa yang kita pergunakan. Karena itu, teknik ini juga bisa diimplementasikan pada aktivitas sehari-hari. Kalau teknik ini harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, kita harus memiliki komitmen sepenuhnya (total engagement) terhadap apa yang sedang kita lakukan. Saat kita memiliki total engagement, dengan mudah kita akan mendapatkan kebahagiaan; kita tidak akan terobsesi lagi oleh apa yang telah terjadi di masa lampau.
4. Dieliminasi dengan cara menahan (adhivāsanā pahātabbā)
Mungkin teknik ini sangat sulit untuk diterapkan. Akan tetapi saya sangat menyukainya. Dalam hal ini, kata "adhivāsanā" saya terjemahkan sebagai "menahan". Saya tidak tahu kalau ini adalah istilah yang pas. Dalam bahasa Inggris, kata "adhivāsanā" biasanya diterjemahkan sebagai "endure". Dalam hal ini, kita harus menahan, kita harus memiliki kesabaran saat kita menghadapi masalah semacam itu. Memang akan terasa menyakitkan, tetapi rasa sakit itu sangat indah kalau kita bisa menikmatinya. Biasanya, saya hanya akan diam bila ada masalah; saya tidak akan banyak bicara karena saya ingin menikmati moment yang menyedihkan itu. Cepat atau lambat, masalah itu akan berlalu, penderitaan itu akan lenyap.
5. Dieliminasi dengan cara menghindari (parivajjanā pahātabbā)
Cobalah menghindari objek-objek yang berkenaan dengan masalah tersebut. Kalau kita sedang kacau, sedang stress karena seseorang, hindarilah foto, tulisan atau barang apa pun yang ada hubungannya dengan dia. Mungkin untuk sementara, bisa menghindari untuk membicarakan tentang dia.
6. Dieliminasi dengan cara melenyapkan (vinodanā pahātabbā)
Dengan menggunakan teknik ini, kita tidak menoleransi pikiran-pikiran yang menimbulkan penderitaan. Kita berusaha sekuat mungkin untuk melenyapkan pikiran-pikiran semacam itu dari dalam pikiran kita. Mungkin akan tampak sadis, mungkin akan terasa tidak memiliki belas kasihan. Namun, kita harus menyadari manfaat melenyapkan pikiran-pikiran semacam itu.
7. Dieliminasi dengan cara pengembangan (bhāvanā pahātabbā)
Kita terobsesi pada apa yang telah terjadi karena kita tidak memiliki kesadaran (sati), penyelidikan terhadap kebenaran (dhammavicaya), semangat (vīriya), kegiuran (pīti), ketenangan (passaddhi), konsentrasi (samādhi) dan keseimbangan batin (upekhā). Karena itu, tujuh faktor ini perlu dikembangkan agar kita tidak mudah terjebak ke dalam jeratan obsesi pikiran.
Dalam Vitakkasaṇṭhānasutta, dijelaskan bahwa untuk mencapai sebuah konsentrasi kita perlu memperhatikan beberapa teknik berikut ini:
1. Apabila sedang memperhatikan beberapa tanda kemudian muncul pikiran-pikiran yang jahat yang berhubungan dengan nafsu indra, kebencian dan kebodohan, ia harus memperhatikan beberapa tanda lainnya yang berhubungan dengan apa yang baik.
2. Jika cara ini tidak dapat mengatasinya, ia harus memeriksa bahaya dari pikiran-pikiran jahat tersebut demikian: ini pikiran-pikiran jahat patut dicela dan menimbulkan penderitaan.
3. Apabila metode ini tidak mujarab, ia harus berusaha melupakan dan tidak memperhatikan pikiran-pikiran itu.
4. Jika hal ini masih belum membuat pikiran dapat terkonsentrasi, ia harus memberi perhatian untuk menenangkan pikiran-pikiran tersebut.
5. Namun bila cara-cara tersebut tidak membuahkan hasil, dengan menggertakkan gigi dan lidah menekan ke langit-langit mulutnya, ia harus menekan dan menghancurkan pikiran-pikiran jahat tersebut.
Semoga kedua sutta ini bisa membantu Sdr. Nick untuk menyelesaikan masalah.
Semoga Anda selalu berbahagia.