Puasa Dalam Agama Buddha
Willy Yandi Wijaya
Dalam agama Buddha, juga dikenal sebuah istilah yang dapat diartikan sebagai “puasa”. Namun, hendaknya jangan ditafsirkan sebagai puasa tidak makan dan minum selama sekitar 15 jam seperti dalam agama Islam.
Puasa dalam agama Buddha sedikit berbeda dan diperbolehkan minum. Dalam agama Buddha puasa itu disebut Uposatha. Puasa ini tidak wajib bagi umat Buddha, namun biasanya dilaksanakan dua kali dalam satu bulan (menurut kalender buddhis dimana berdasarkan peredaran bulan), yaitu pada saat bulan terang dan gelap(bulan purnama). Namun ada yang melaksanakan 6 kali dalam satu bulan, tetapi puasa (uposatha) tersebut tidak wajib.
Uposatha artinya hari pengamalan (dengan berpuasa) atau dengan pelaksanaan uposatha-sila pada hari atau waktu tertentu (dapat disebut hari uposatha). Puasa tersebut dilaksanakan dengan menjalani uposatha-sila. Uposatha-sila(aturan yang berjumlah delapan) antara lain:
Tidak membunuh
Artinya adalah tidak melakukan pembunuhan atau melukai makhluk hidup. Makhluk hidup di sini adalah manusia dan binatang. Tumbuhan tidak termasuk)
Tidak mencuri
Artinya adalah tidak melakukan perbuatan yang mengambil barang tanpa seizin pemiliknya.
Tidak melakukan hubungan seks
Artinya adalah tidak melakukan hubungan badan baik dengan apa pun juga, dan tidak melakukan kegiatan seks sendiri(masturbasi). Intinya adalah tidak boleh melakukan kegiatan yang memuaskan diri secara seksual.
Tidak berbohong
Pengertian ini jelas. Artinya tidak berbohong sehingga merugikan orang lain secara langsung atau pun tidak langsung dengan niat buruk.
Tidak berkonsumsi makanan yang membuat kesadaran lemah dan ketagihan (alkohol, obat-obatan terlarang)
Artinya jelas. Jika seseorang mengkonsumsi untuk tujuan medis dalam jumlah kecil dan tidak hilang kesadaran, maka tidak terjadi pelanggaran.
Tidak makan pada waktu yang salah
Pengertian di sini adalah bahwa seseorang tidak boleh makan setelah lewat tengah hari hingga subuh/dinihari. Patokannya adalah untuk tengah hari, ketika matahari tepat diatas kepala atau pukul dua belas. dan untuk subuh/dinihari adalah ketika tanpa lampu, seseorang dapat melihat garis tangannya sendiri atau ketika matahari terbit.
Jadi seseorang boleh makan (berapa kali pun) hanya pada waktu dinihari/subuh sampai tengah hari (sekitar jam 12).
Tidak bernyanyi, menari atau menonton hiburan. Juga tidak memakai perhiasan, kosmetik, atau parfum.
Pengertiannya jelas dan untuk mendengarkan musik pun tidak diperbolehkan. Jika musik atau kosmetik digunakan untuk terapi atau untuk menolak penyakit, maka seseorang tidak menjadi melanggar aturan.
Tidak duduk atau berbaring di tempat duduk atau tempat duduk yang besar dan tinggi
Pengertiannya di sini adalah tidak tidur di atas tempat yang tingginya lebih dari 20 inci termasuk juga duduk. Tidur atau duduk di tempat yang mewah juga tidak diperbolehkan.
Jadi puasa (uposatha) seorang umat Buddha dinyatakan sah, apabila ia mematuhi ke-8 larangan tersebut seperti yang tertulis di atas. Jika salah satu larangan tersebut dilanggar—baik sengaja atau tidak— berarti ia puasanya (uposatha-nya) tidak sempurna.
Ada satu jenis kegiatan lagi dalam agama Buddha yang bisa disebut “puasa”, yaitu vegetaris. Vegetaris berarti tidak makan makanan bernyawa (dalam hal ini daging). Atau bisa dikatakan hanya memakan sayur-sayuran. Dalam pelaksanaan vegetaris ini, umat Buddha yang vegetarian ini tidak makan daging, termasuk jenis bawang-bawangan. Untuk telur atau susu, ada vegetarian yang masih makan, ada yang tidak. Namun vegetarian murni tidak makan telur atau pun susu. Dalam melaksanakan puasa ini (vegetaris), seseorang boleh makan kapan pun dalam 24 jam, namun hanya makan sayur-sayuran, tidak boleh daging dan bawang-bawangan. Puasa ini (melaksanakan vegetaris) tidak wajib bagi umat Buddha. Biasanya umat Buddha melaksanakannya tanggal 1 dan 15 berdasar kalender lunar (berdasar revolusi bulan), ketika bulan purnama menurut perhitungan Cina.
Kesimpulannya dalam agama Buddha, terdapat puasa namun definisinya berbeda. Puasa jenis I, disebut Uposatha intinya tidak makan dari setelah siang hari sampai subuh. Puasa jenis II, disebut vegetaris intinya tidak makan makanan yang berasal dari makhluk hidup (dalam hal ini daging).
Tags: Puasa, Uposatha
Entries (RSS)
November 23rd, 2008 at 01:15
terus terang, masih ada satu hal lagi yg tidak dibahas, apa manfaat melaksanakan atthasila?
kemudian, puasa adalah istilah dari agama islam, jadi tidak ada kaitan dengan ajaran Buddha, walaupun mau coba di sepadankan, namun terlalu memaksa.
arti puasa: menghindari makan, minum, dsb dng sengaja (terutama bertalian dng keagamaan); 2 n Isl salah satu rukun Islam berupa ibadah menahan diri atau berpantang makan, minum, dan segala yg membatalkannya mulai terbit fajar sampai terbenam matahari; saum;
sedangkan melaksanakan atthasila kita makan dan minum, dan konteks pembicaraan berbeda dimensi agama.
Semoga kita berhati-hati dalam menggunakan istilah, jangan menciptakan ambiguitas. semoga bermanfaat.
salam
November 22nd, 2008 at 17:24
kok ga ada yg tanya tentang bagaimana prosedur mengambil delapan sila ya?
bagaimana umat pada zaman buddha mengambil atthasila?
saya rasa, justru bagian ini yg perlu di tulis oleg bro willy.
selamat mencari jawabannya.
salam damai,
September 14th, 2008 at 10:26
umur manusia siapa yang tahu? lihat pek ji lah? dinosaurus makan daging gak? masih ada gak dinosaurus saat ini hehehehe
September 14th, 2008 at 10:24
yang penting hati hrs bersih “kita tidak berbuat baik juga tidak berbuat jahat sama orang lain sudah cukup lah , tapi klo bisa perbanyak kebajikan dong ya gak teman teman
September 14th, 2008 at 10:20
makan ato tidak gak ada hubungan dgn kanker lah dokterpun belum dapat memastikan penyebab kanker gitu aja kok repot hehhehe
September 14th, 2008 at 10:11
makan daging ato tidak terserah jangan sok pintar bisa kena kanker segala. dokter sampai sekarangpun belum bisa memastikan penyebab kankerheeee
August 14th, 2008 at 10:51
Puasa daging boleh juga, tapi suka terhalang sama keadaan
June 24th, 2008 at 16:05
To : Sdr.Ali
thanx loh pa Ali atas hasil analisanya, menambah pengetahuan saya. Saya juga sadar sepenuhnya kalo dengan bervegetarian memang tidak dapat menghentikan proses pembunuhan dimana pun, dan juga tidak menjamin metta kita berkembang apalagi menjadi suci.
To : Valy
Mo sharing aja, kalo kita bingung2 ma bahasa, mendingan kita masing2 cek dulu aja arti puasa di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kan beres. nah kalo udah ketemu arti puasa itu sendiri, baru lanjutin komentarnya. he…he… biar nyambung pengertian antara satu dengan lainnya.
June 19th, 2008 at 19:14
untuk saudara valy
coba anda baca lagi tulisan saya.
saya katakan ada yang sejenis/mirip dengan ‘puasa’ dalam islam, NAMUN DEFINI BERBEDA
jadi artinya lebih ke makna bahasa.
memang artikel ini saya tulis pada waktu itu untuk kalangan umum (nonbuddhis, mayoritas Islam), namun saya merasa cocok di Dhammacitta karena untuk umum, bukan hanya buddhis.
Dan berkali-kali di tulisan saya, saya mengatakan bahwa berbeda dengan puasa dalam Islam yang tidak makan dan minum. Hanya hanya menawarkan suatu konsep buddhis yang bisa disejajarkan/mirip bentuknya denga puasa Islam.
untuk sdr. Ali sasana putra
bervegetarian juga bisa untuk mengembangkan metta atau cinta kasih.
ketika seseorang vegetarian, ada 2 jenis orang. yang pertama adalah orang yang sekedar vegetatarian dan orang jenis ke dua menyadari bahwa ia bervegetarian karena untuk mengurangi ‘pembunuhan tidak langsung’ karena mengurangi jumlah pembunuhan
(jika sekelompok orang jumlahnya ribuan kaya organisasi agama Maitreya, Chinghai, kelompok Mahayana, dsb yang tadinya vegetarian, tiba2 makan daging, mau tidak mau, harus kita akui bahwa ternak yang dibunuh dan pesanan ternak untuk dibunuh akan meningkat)
Nah, orang ke dua yang merasa hal tersebut secara tidak langsung termasuk membunuh, akhirnya bervegetarian karena cinta kasihnya.
(kalau anda merasa vegetarian tidak berguna atau metta, ketika anda melaksanakan, anda tidak akan mengembangkan cinta kasih/metta karena perasaan cinta kasih atau welas asih dalam pikiran.)
justru ketika ada rasa kasihan, metta bisa timbul (walau lebih tepat karuna/welas asih)
June 19th, 2008 at 17:01
Menanggapi artikel Sdra. Willy Yandi Wijaya tentang puasa dalam agama Buddha.
Disini saya cuman mau sharing saja. Waktu saya menjalankan atthasila sama teman-teman non Buddhis ditanya “ kok ndak makan val, lagi diet yah..tumben val..?” Supaya mereka mengerti dengan mudah maka saya menjawab ”ndak diet lagi puasa.” Trus mereka dengan raut muka yang agak bingung dan ngomong ” oh agama Buddha ada puasanya juga yah val…tapi kok a’neh yah..puasa kok beda sama puasanya di agamanya kita..puasa kok bisa minum?” karena bingung jawabnya saya pun menjawab ”sebenarnya saya sedang latihan atthasila. Dimana salah satu silanya melatih diri menghindari makan makanan setelah tengah hari. Jadi masih bisa tetap minum.” Mereka pun ngomong lagi ” val itu sih namanya bukan puasa, kalo puasa itu ndak boleh makan ama ndak boleh minum val..” Aku pun tersenyum sambil ngomong ” hehehe iya, bukan puasa sih..saya bilang seperti itu supaya kalian bisa mengerti dengan mudah. Takutnya kalian bingung.” Mereka pun menjawab ” oooh jadi sebenarnya lagi latihan atthasila val..” Trus mereka banyak bertanya tentang apa itu atthasila, kenapa harus menjalankan atthasila, dan bla..bla..bla…dengan sangat antusias. Jadi buat Sdra.Willy puasa dalam agama Buddha sebenarnya tidak ada. Kalo memang ada di Tipitaka bagian mana yah dicantumkan yang menyatakan kalo di dalam agama Buddha ada puasa? Yang ada latihan atthasila ama vegetarian di hari Uposatha. Jadi sebaiknya dibilang latihan atthasila dan vegetarian saja. Hal ini supaya tidak menjadi salah pengertian bagi umat non Buddhis kalo ditanya karena menurut mereka puasa itu tidak makan dan tidak minum. Beberapa teman saya yang non Buddhis juga ada yang vegetarian lho…mereka vegetarian karena tidak suka makan daging sejak kecil katanya baunya tidak enak. Mau muntah katanya. Mereka tidak bilang kalo mereka puasa makan daging. Ntar kalo dibilang puasa makan daging bisa diketawain tuh…malah ntar mereka bilangnya seperti ini ” Kalo tidak makan daging dibilang puasa….wah berarti saya yang tidak suka makan daging sejak kecil dibilang puasa setiap hari..ndak makan dan minum donk. Ntar bisa masuk rumah sakit…” hehehe…istilah atthasila yang bagi kalangan non Buddhis adalah kata yang asing, sekarang sudah menjadi kata yang populer dikalangan teman-teman saya yang non Buddhis. Sekarang mereka kalo melihat saya tidak makan langsung bilang ” lagi latihan atthasila yah val?”. Saya pun menjawab ”iya kayak tahu a’jaa hehehe…”
Demikian sharing saya tentang atthasila, semoga bermanfaat. ^o^
Terima kasih…
With metta
valy