Diskriminasi Perempuan Buddhis
Willy Yandi Wijaya
Hampir di semua peradaban besar dunia, perempuan selalu mendapat posisi ke dua setelah pria. Mungkin bagi Anda yang perempuan, saat ini Anda tidak begitu merasakan diskriminasi tersebut karena seiring berkembangnya zaman, diskriminasi mulai ditinggalkan. Saat ini yang ada hanya sisa-sisa diskriminasi perempuan yang masih halus, namun belum lenyap sepenuhnya. Di sini penulis akan memberikan gambaran diskriminasi perempuan di dalam kehidupan kehidupan umat Buddha dahulu hingga sisa-sisanya saat ini. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk memojokkan suatu pihak tertentu, namun hanya memberikan gambaran realita yang ada saat ini sehingga diharapkan pola pikir atau pandangan kita dapat lebih terbuka.
India kuno sebelum adanya Buddha Gotama sangat mendiskriminasikan perempuan. Ketika suaminya meninggal, seorang istri juga harus ikut dikremasi hidup-hidup. Bahkan tradisi seperti itu ternyata masih ada hingga akhir abad ke-20 (mungkin sekitar 1970-an dunia terkejut ketika mengetahui bahwa di suatu daerah di India masih ada tradisi yang mengerikan yakni ketika suaminya meninggal, wanita tersebut ikut mengantar kepergian suaminya dengan ikut dibakar). Bukan hanya di India. Di Cina, sejak dinasti Sung hingga awal awal abad ke-20, perempuan mengalami siksaan berupa ikat kaki. Balutan kaki yang dilakukan semenjak kecil, menghalangi pertumbuhan kaki perempuan sehingga ketika dewasa, ukurannya hanya sekitar 10-13 sentimeter. Kala itu masyarakat Cina memandang perempuan berkaki kecil adalah ideal dan yang berkaki besar tidak disukai bahkan mengalami penghinaan. Selain itu masih banyak bentuk diskriminasi terhadap perempuan di berbagai belahan dunia: dijadikan budak, bayi perempuan yang dibuang atau bahkan dibunuh karena tidak diinginkan (bukan penerus keluarga), poligami, dijadikan alat pemuas pria, dsb.
Sejak Buddha Gautama menyebarkan ajarannya, banyak yang tertarik untuk mengikuti beliau karena mengutamakan keadilan. Buddha menentang ketidakadilan kasta dan pendiskriminasian perempuan. Hal tersebut dapat kita temukan di dalam ajaran Buddha. Dikatakan bahwa baik pria maupun wanita bisa mencapai nirwana. Hal tersebut benar karena nirwana adalah kondisi di dalam batin atau pikiran seseorang. Nirwana adalah pikiran tanpa kebencian, keserakahan dan ketidaktahuan.
Lalu pertanyaan yang timbul adalah adakah diskriminasi perempuan di dalam kehidupan buddhis? Ya! Diskriminasinya antara lain:
Buddha tidak ada yang perempuan (dalam artian Buddha tertinggi, seperti Gotama) karena seorang Buddha harus mempunyai ciri-ciri Buddha berjumlah 32 (maha purusa)
Setelah Buddha meninggal—mungkin beberapa abad setelahnya—timbul pandangan bahwa kelahiran sebagai perempuan lebih rendah karena karma buruk kelahiran sebelumnya. Jadi ada anggapan sampai saat ini bahwa kelahiran sebagai perempuan karena akibat karma buruk masa lampau dibanding kelahiran sebagai laki-laki.
Di Kitab Jataka Pali (cerita kehidupan lampau Buddha Gotama sebagai Bodhisatta) Bodhisatta tidak pernah terlahir sebagai seorang perempuan, padahal sebagai hewan ada dalam cerita tersebut. Jataka adalah cerita yang bukan dari Buddha sendiri atau dengan kata lain adalah teks tambahan yang disusun ketika penyusunan Tripitaka.
Semenjak Sangha Bhikkhuni ada, umur Sangha Bhikkhu akan menjadi setengahnya dari 1000 tahun menjadi 500 tahun.
Cerita penolakan Buddha sebanyak 3 kali terhadap ibu tirinya yang ingin ditahbiskan menjadi bikkhuni. Akhirnya Buddha menerima bhikkhuni dengan syarat 8 garu dhamma.
Delapan garu dhamma atau delapan aturan keras bagi bhikkhuni, dua diantaranya adalah:
Seorang bhikkhuni, walaupun sudah menjalankan sampai 100 tahun kebiksuniannya, harus menyapa dengan hormat terhadap seorang bhikkhu walaupun bhikkhu tersebut baru sehari menjadi biksu.Seorang bhikkhuni tidak diperbolehkan untuk menasehati seorang bhikkhu, namun seorang bhikkhu boleh menasehati seorang bhikkhuni.
Kita akan membahas diskriminasi perempuan buddhis seperti yang disebutkan dan akibatnya hingga saat ini. Ciri-ciri Buddha yang berjumlah 32 (mahapurusa) salah satunya adalah alat kelamin laki-lakinya terbungkus oleh selaput, membuat banyak penganut Buddha tradisi Therawada meyakini bahwa Buddha haruslah seorang pria. Padahal di dalam teks Therawada sendiri (Tripitaka Pali) dikatakan bahwa Buddha adalah orang yang tercerahkan yang mencapai nibbana (nirwana), yaitu terbebas dari keserakahan (lobha), kebencian (dosa) dan ketidaktahuan/kebodohan batin (moha). Bahkan di Tripitaka Pali banyak disebutkan bahwa perempuan juga bisa mencapai pencerahan. Jadi sangat tidak masuk akal jika dikatakan bahwa perempuan tidak bisa menjadi Buddha. Pemikiran inilah yang kemudian berkembang di dalam pemikiran buddhisme tradisi Mahayana sehingga ada konsep Buddha wanita. Dan mungkin kita perlu meragukan keaslian konsep mahapurusa atau 32 ciri Buddha apakah memang dari Buddha sendiri atau tambahan yang dibuat untuk meninggikan beliau sehingga masyarakat pada saat itu lebih bisa meyakini beliau.
Anggapan dilahirkan sebagai perempuan lebih rendah mungkin karena desakan kaum brahmanisme pada saat itu yang semakin kuat (sekitar abad ke-3 sebelum masehi). Apalagi ditambah dengan anggapan bahwa Buddha haruslah seorang laki-laki sehingga saat ini masih ada sebagian kecil umat Buddha yang menganggap kelahiran sebagai wanita adalah lebih rendah, padahal perempuan juga bisa mencapai nirwana atau setara dengan Buddha.
Mahayana adalah buddhime yang lebih liberal. Mahayana sendiri terdiri dari berbagai macam tradisi-tradisi kecil. Sebagian pemikiran Mahayana mengangkat kaum perempuan sehingga dalam Jataka Cina dapat ditemukan bodhisatta yang terlahir sebagai perempuan sebelum akhirnya terlahir sebagai laki-laki yaitu Buddha Gotama. Namun, hal tersebut dirasa tidak sesuai dengan ajaran Buddha sehingga pada akhirnya lahir konsep Buddha Perempuan di Cina yang terwujud dalam awalokiteswara (guan-yin). Untuk membuat kesejajaran gender, dikembangkan konsep bodhisatwa. Bodhisattva mempunyai pengertian yang lebih luas daripada bodhisatta, yaitu orang yang mampu menjadi Buddha namun tidak langsung memasuki nirwana, tetapi mengabdikan dirinya demi makhluk lain. Jadi Bodhisatwa bukan hanya ada satu orang seperti halnya dalam bodhisatta. Evolusi Bodhisatwa guan-yin menjadi perempuan juga memberikan dampak penghormatan terhadap perempuan dan memberikan arti bahwa perempuan juga bisa menjadi Buddha.
Diskriminasi selanjutnya adalah terhadap bhikkhuni. Dikatakan sejak awal kemunculan sangha perempuan, sangha bhikkhu akan berkurang umurnya. Namun, kenyataannya sangha Mahayana hingga saat ini yang mempunyai biksuni tetap bertahan dan bahkan salah satu biksuninya amat dihormati (biksuni Cheng-Yen, pendiri Tzu Chi).
Dikatakan juga Buddha menolak tiga kali permintaan ibu tirinya untuk menjadi bikkhuni. Mungkin pada kasus ini, ibu tirinya adalah seorang ratu sehingga jika Buddha menerimanya, akan terjadi ketidakstabilan politik kerajaan dan Sangha Bhikkhu akan mengalami masalah. Buddha adalah orang yang sangat bijaksana sehingga beliau berhati-hati ketika mengambil keputusan. Atau mungkin saja cerita penolakan tersebut belakangan timbul untuk maksud tertentu.
Selanjutnya adalah delapan garu dhamma atau delapan aturan keras yang dua diantaranya disebutkan sebelumnya. Ini terkesan sangat merugikan bikkhuni. Pertanyaannya adalah mengapa bhikkhuni tidak boleh menasehati bhikkhu? apakah kebijaksanaan bhikkhuni/perempuan lebih rendah dari bhikkhu/laki-laki? Tentunya kita semua sudah sangat jelas mengenai ajaran Buddha di mana kebijaksanaan seseorang tidak ditentukan oleh jenis kelaminnya. Jadi mengapa peraturan itu ada? Temuan terkini mulai meragukan sumber peraturan tersebut apakah memang dari Buddha Gotama sendiri atau dibuat belakangan.
Setelah kematian Buddha, ucapan-ucapan beliau belum ditulis. Hanya diturunkan melalui ucapan-ucapan dari satu generasi ke generasi selanjutnya, sehingga memungkinkan adanya penafsiran-penafsiran atau tambahan-tambahan di dalam kitab suci Tripitaka. Tripitaka Pali (Therawada) ditulis 4 abad setelah kematian Buddha sehingga ada kemungkinan tidak sama persisi seperti yang Buddha katakan. Begitu pula Tripitaka Cina (Mahayana) dan sutra-sutra tambahan dibuat beberapa abad setelah kematian Buddha. Namun demikian, bagi umat Buddha hal tersebut tidak menjadi masalah karena ajaran Buddha perlu dilaksanakan untuk dibuktikan bukan menerima mentah-mentah isi kitab suci. Saatnya kita mulai berpikir lebih kritis dan memandang biksuni sama ketika kita memandang biksu. Penghormatan seseorang terhadap biksuni juga harus sama dengan penghormatannya terhadap biksu.
Referensi:
- Dhammasiri,S. 2004. Wanita dan Persamaan Gender (Tinjauan Sosiologi Agama Buddha). Graha Metta Sejahtera.
- Jurnal Perempuan no. 32. 2003. Perempuan dan Fundamentalisme. Jakarta: YAYASAN JURNAL PEREMPUAN
- Sharma, Arvind. 2006. Perempuan Dalam Agama-Agama Dunia. Yogyakarta: SUKA-Press.
- Sinar Dharma Vol.5 No.3. 2007
- Eastern Horizon No.4
- Hikmahbudhi No.305/XXXI/1/2002

Entries (RSS)
November 2nd, 2008 at 17:23
Sepertinya diskusi akan lebih nyaman jika dilanjutkan di forum.
Silahkan ke sini
http://dhammacitta.org/forum/index.php?topic=5969.0
November 1st, 2008 at 21:54
Bro Pisa,
Itu kan cuma opini pribadi Anda…
Anda tidak akan dapat memprediksi bagaimana perspektif umat Buddha secara global beberapa dekade mendatang…
November 1st, 2008 at 19:29
Jadi pucing…..8-}
November 1st, 2008 at 13:19
adeline wrote:
Sangha bhikkhuni Theravada cepat atau lambat pasti akan terbentuk.
Hanya masalah waktu saja
Pisa:
Terbentuk ataupun tidak, “sangha bhikkhuni” tersebut tidak akan bisa dianggap sebagai penerus Sangha Bhikkhuni yang didirikan oleh Sang Buddha.
Walaupun diperjuangkan sampai perang berdarah pun, tetap tidak akan bisa dianggap sebagai penerus Sangha Bhikkhuni yang didirikan oleh Sang Buddha sampai kapan pun.
Ibarat sebuah DVD bajakan. Tidak akan bisa sebuah DVD bajakan dianggap sebagai DVD asli original sampai kapan pun.
November 1st, 2008 at 12:47
Sebagai umat awam, harusnya jangan mencampuri urusan Vinaya Sangha, biarlah para Sangha yang sendiri mengurus Vinaya mereka sendiri, karena sedikit ‘terpeleset’ saja baik melalui ucapan atau pikiran, bisa menyebabkan perpecahan Sangha, yang merupakan Kamma Buruk.
November 1st, 2008 at 10:49
Sangha bhikkhuni Theravada cepat atau lambat pasti akan terbentuk.
Hanya masalah waktu saja
October 31st, 2008 at 17:59
sdr/i Rileks, Anda cukup bijaksana, namun saya hanya sekedar ingin meluruskan aja :
Bila sdr/i Rileks masih memiliki pandangan bahwa ada sesuatu di atas sana yang mencipta manusia, menetukan takdir, dan sebagainya (memiliki pandangan salah miccha-ditthi yang bersifat eternalis) maka Anda tidak perlu berharap dapat mencapai Anuttara Samyak-Sambodhi (Samma-Sambuddha), berharap mencapai pencerahan sebagai Pacceka-Buddha, maupun Savaka-Buddha adalah sia-sia. Bahkan Anda tidak akan pernah mencapai tahapan tingkat kesucian sebagai seorang Anagami, Sakadagami, bahkan Sotapanna sekalipun (apalagi Samma-sambuddha, mustahil bro selama…) selama Anda masih memiliki pandangan salah tentang konsep Maha Pencipta, Maha Kuasa, Maha ini, Maha itu, dll.
Mohon maaf, pelajari kembali Inti-inti Ajaran Agama Buddha : 4 Kebenaran Mulia (Cattari Ariya Saccani), Jalan Mulia Berfaktor 8 (Ariya Atthangika Magga), 3 Corak Umum Samsara (Tilakkhana), dan Hukum Sebab Akibat Yang Saling Bergantungan (Paticca-Samuppada).
Sang Buddha mengajarakan kita untuk bersikap toleransi terhadap orang yang berkeyakinan lain, karena pada dasarnya keyakinan-keyakinan tersebut juga sedikit banyak mengajarkan kebajikan yang dapat mengantarkan kita pada kelahiran kembali di alam-alam yang lebih berbahagia nantinya, namun ini bukan berarti jadi alasan untuk dapat mencampur-adukkan Dhamma dengan ajaran-ajaran tersebut.
Kebijaksanaan Anda adalah bekal yang sangat baik untuk dapat memahami Buddha-Dhamma secara lebih mendalam, namun jangan sampai Kebijaksanaan itu terkotori akibat mencampur-adukkan Dhamma dengan dogma-dogma ajaran lain yang bisa membuat Anda SEMAKIN tersesat (kita semua masih tersesat) dalam lingkaran kelahiran Samsara yang tiada berujung.
Nibbanam Paramam Sukham
Vayadhammo Sankhara
Appamadena Sampadetha.
Nibbana adalah kebahagiaan yang tertinggi
Segala yang berkondisi sukar bertahan adanya
Maka dari itu berusahalah dengan sungguh-sungguh (untuk merealisasi Nibbana).
Pembahasan ini sudah tidak berkaitan dengan artikel lagi, semata-mata hanya ingin memberi sedikit nasihat bagi pandangan-pandangan sdr/i Rileks.
Sukhita hontu…
October 31st, 2008 at 11:04
Komentar dari Rileks rancu dan mencampurkan pandangan Buddhis dengan konsep Kristen. Pemikiran Rileks harus dimurnikan dulu dengan belajar memahami Hukum Sebab Akibat dan Perpaduan.
October 30th, 2008 at 11:27
Sdr. Rileks wrote :
“Kadang kala kita dilahirkan dalam keadaan fakir miskin (sengsara), karena Tuhan menghendaki kita belajar bersemangat pantang mundur dan berlatih keberanian diri.”
Adi Write :
Sdr. Rileks, kata nasehat kamu bagus, saya terima dan turut bergembira, karena anda mau berbuat kebajikan, dan berbuat kebajikan adalah Berkah Utama.
Tapi Sdr. Rileks perlu belajar atau Kursus Dasar Pokok Pengenalan Agama Buddha di vihara terdekat atau sering baca buku tentang Buddha Dhamma.
Dalam Dhamma dengan pedoman Tipitaka, tidak pernah mengenal sesosok yang namanya Tuhan, apalagi kita menggantungkan nasibnya terhadap sesosok Tuhan, jadi agak Rancu dan Salah Pengertian.
Fenomena alam semesta yang terjadi, semuanya pasti ada Sebab Akibat dan Tidak Berdiri Sendiri, jadi saya sarankan Sdr. Rileks harus banyak belajar dan pemahaman yang lebih mendalam tentang Buddha Dhamma,
Semua makhluk menggantungkan nasibnya sendiri masing-masing tanpa kepada makhluk lain manapun.
Semua Makhluk adalah pemilik perbuatan mereka sendiri,
terwarisi oleh perbuatan mereka sendiri
lahir dari perbuatan mereka sendiri
berkerabat dengan perbuatan mereka sendiri
tergantung pada perbuatan mereka sendiri
Perbuatan apa pun yang mereka lakukan baik atau buruk,
perbuatan itulah yang akan mereka warisi.
Inilah yang diajarkan Guru Agung, Sang Buddha Gotama.
October 30th, 2008 at 09:34
@Willy:
“Teguran dari orang lain merupakan suatu pujian!”
“Kita harus menemukan kekuatan kasih dalam diri kita terlebih dahulu, barulah kita dapat benar-benar mengasihi orang lain.”
@Sdr Adiharto, terima kasih atas feedbacknya
Saya seorang beragama Buddha. Saya disini bersifat netral. Semua ajaran agama diajarkan kepada kita untuk berbuat baik, saling tolong menolong, saling maaf-maafkan, kekeluargaan, bersikap terpuji, bertanggungjawab, rendah hati
“Jika kita tidak melekat, tidak tergila-gila kepada dunia ini, dengan sendirinya kita tidak akan kembali.”
“Segala sesuatu diciptakan oleh kita. Sehingga jika kita ingin menjalani kehidupan yang bahagia, kita harus menciptakan suasana yang bahagia.”
Manusia atau orang atau human beings atau humans terbuka terhadap emosi yang besar, yang mana sangat mempengaruhi keputusan serta tingkah laku mereka. Emosi menyenangkan seperti cinta atau sukacita bertentangan dengan emosi tak menyenangkan seperti kebencian, cemburu, iri hati atau sakit hati.
Orang yang tidak bisa memaafkan orang lain sama saja dengan orang yang memutuskan jembatan yang harus dilaluinya, karena semua orang perlu di maafkan. Betul tidak.
“Dunia adalah komedi bagi mereka yang melakukannya, atau tragedi bagi mereka yang merasakannya.”
From Adiharto:
Saya belum puas akan penempatanNya, karena ‘DIA’ tidak adil.
“Kadang kala kita dilahirkan dalam keadaan fakir miskin (sengsara), karena Tuhan menghendaki kita belajar bersemangat pantang mundur dan berlatih keberanian diri.”
“Apa itu semangat Zen? Hayatilah hari ini. Lakukan apa yang perlu dilakukan hari ini, betapapun susahnya atau senangnya adalah hari ini, pahamkah? Jangan peduli masa lampau, karena yang lalu tidak dapat ditarik kembali! Dan masa depan belum menjelma. Karena sangat jarang orang yang dapat dengan sepenuh hati menempatkan mentalnya pada saat kini, sehingga kita begitu menderita.”
“Kita harus peduli pada orang lain. Itulah tujuan hidup. Semakin kita peduli pada orang lain, semakin kita mengembangkan diri kita, berkembang hingga kita menjadi satu dengan segalanya, dan kita menjadi Buddha. Semakin Anda peduli pada diri sendiri, semakin sempit jadinya Anda.”
“Kita harus berbagi pahala yang muncul dari latihan rohani kita dengan dunia. Kita tidak berlatih hanya untuk kepentingan diri kita sendiri saja.”
“Bagaikan anak, kita harus menjaga kepolosan hati dan menerima dengan tangan terbuka, dengan demikian kita akan maju dengan pesat.”
From Adiharto:
Maaf, SANG BUDDHA juga tidak sanggup menolong Dunia, apalagi kita manusia biasa
“Memperbaiki diri kita adalah memperbaiki dunia.”
“Anda mesti bekerja sendiri, kalian semua, sampai Anda memahami apa adanya dirimu, dan tidak tergantung pada segala sesuatu. Bersikap teguhlah. Jangan terlalu banyak menaruh kepentingan pada keberadaan fisik Anda. Berikan makanan secukupnya; berikan tubuh makanan secukupnya, pakaian secukupnya, latihan secukupnya, hanya itu saja. Jadikan tubuh itu menyenangkan dan itu sudah cukup. Kalau tidak kita akan selamanya terikat pada dimensi fisik. Apapun yang terlalu kita perhatikan, kita akan terikat dengannya. Saya juga harus bekerja untuk pemahamanku. Kemungkinan saya bekerja lebih cepat dari Anda, tetapi cepat atau lambat Anda akan sampai.”
“Membantu orang lain adalah membantu kita sendiri. Kita senantiasa harus membersihkan pikiran kita, mengamalkan cinta kasih dan kasih sayang kita dengan tanpa syarat, tidak mengharapkan sesuatu imbalan, itulah jalan terbaik.”
“Membantu orang untuk mencapai Kebebasan Abadi dan mengenal Ajaran Sejati adalah bantuan yang terbesar, jasa yang tertinggi.”
“Jika masih memikirkan untuk membela nama baik kita, wibawa kita, agar orang tahu bahwa kita sangat baik, maka kita masih mempunyai ke-aku-an, masih belum terbebas dari konsepsi orang awam.”
“Kita bisa menipu seluruh dunia, namun menipu diri akan menjadi masalah yang semakin pelik. Mungkin saja kita dapat menipu Buddha, namun kita tidak dapat menipu diri sendiri. Di mana saja, kita akan mengetahui perilaku kita sendiri, mengetahui sampai mana kadar keburukan kita, dan di mana kebaikan kita; inilah kekuatan yang menciptakan surga dan neraka, yang berasal dari dalam diri kita, maka Buddha mengatakan, “Segalanya diciptakan oleh pikiran.”
Salam,
Rileks