Karma dan Kasta
Willy Yanto Wijaya

Kasta atau sistem kasta. Apa yang ada di bayangan Anda ketika mendengar kata ini? Tentu kebanyakan dari Anda akan memandang sistem kasta ini sebagai suatu sistem kuno yang sudah ketinggalan zaman. Tapi, pernahkah Anda berpikir kritis mengapa sistem yang kuno dan usang ini (dalam pandangan Anda saat ini) bisa bertahan sedemikian lamanya di India… selama ribuan tahun bahkan sampai detik ini!!! Apakah orang-orang India sedemikian bodohnya mau hidup dalam sistem seperti ini?

Logika apa yang dipakai golongan brahmana untuk menopang cengkraman sistem kasta ini dalam alam bawah sadar masyarakat India? Tidak lain pilar utamanya adalah karma!! Kelahiran Anda sekarang tentu akibat dari karma-karma kehidupan Anda yang lalu bukan? Artinya jika Anda terlahir dalam keluarga kasta rendah seperti budak; itu karena timbunan karma-karma buruk Anda di kelahiran sebelumnya. Atas dasar itulah kasta-kasta rendah sudah selayaknya diperlakukan rendah dan hina sebagai balasan (buah) dari karma-karma buruk yang mereka lakukan pada kehidupan sebelumnya.

Logika inilah yang membuat sistem kasta bertahan sampai dengan hari ini! Para kasta rendah yang meyakini hukum karma ini terpaksa hanya pasrah dan menerima keadaan dan perlakuan buruk terhadap mereka. Bagaimana pandangan Sang Buddha terhadap sistem kasta ini? Sang Buddha mengakui kebenaran tentang adanya hukum karma dan tumimbal lahir akan tetapi Beliau dengan tegas menolak sistem kasta! (padahal sebelum mencapai keBuddhaan, Beliau terlahir di kasta Ksatria yang cukup terhormat). Tapi Sang Buddha tidak menghiraukan kedudukan kastanya yang tinggi dan tetap menolak sistem kasta. Mengapa? Bukankah logika golongan brahmana di atas cukup masuk akal??

Ini karena setiap makhluk bahkan yang paling rendah sekalipun memiliki Bodhicitta (benih-benih keBuddhaan). Ada benih-benih kebajikan yang dapat dilatih dan ditumbuhkan dari dasar batin yang paling mendalam setiap makhluk. Pandangan Sang Buddha telah menembus sekat-sekat duniawi dan melihat potensi bodhicitta yang indah pada setiap makhluk; Beliau tidak lagi melihat rendah-tinggi, kaya-miskin, cantik-jelek. Semua dilimpahi oleh kelembutan dan kasih sayang, oleh perasaan simpati dan welas asih. Keindahan Bodhicitta inilah yang tidak dapat dilihat oleh mata para brahmana yang tertutupi oleh debu kemelekatan duniawi.

Alasan kedua adalah karena karma bukanlah segalanya. Keadaan kita saat ini tidaklah hanya bergantung pada karma semata. Kondisi dan faktor-faktor kesalingbergantungan juga berkontribusi dalam menentukan keadaan kita saat ini. Bukankah selain Karma Niyama; kita juga mengenal adanya Utu Niyama, Bija Niyama, Citta Niyama, dan bahkan Dhamma Niyama! Jadi, meskipun penting dan berpengaruh, karma hanyalah salah satu elemen yang mempengaruhi kondisi kita.
Berikutnya, sistem kasta telah menciptakan satu rantai fatalisme. Dengan alasan karma-karma buruk kehidupan sebelumnya, orang-orang yang terlahir di keluarga bercap kasta rendah diperlakukan sangat buruk dan pada umumnya hidup dalam himpitan kemiskinan, tekanan sosial dan depresi batin yang menyiksa. Akibat tekanan sosial dan batin seperti ini, banyak warga kasta rendah melakukan kriminalitas (seperti pencurian, dsb). Lantas kapan mereka akan bisa keluar dari kasta yang rendah ini? Kondisi hidup yang buruk akan menekan mereka untuk melakukan keburukan dan mereka kemudian terlahir lagi dalam keburukan dan seterusnya dst… sampai kapan??

Tambahan pula, kaum brahmana tidak menyadari kebenaran dari Paticcasamuppada (kesaling-terkaitan). Bukankah kebutuhan hidup mereka seperti makanan, pakaian, kenyamanan bisa tersedia juga karena adanya kontribusi dari para golongan bawah, dari para kasta rendahan tersebut? Sudah selayaknyalah mereka menghargai dan menghormati para kasta rendahan.
Inilah beberapa alasan mengapa Sang Buddha dengan tegas menolak sistem kasta.

Siraman hangat sang mentari…
Arakan awan putih baris-berbaris…
Sepoi angin mengalun lembut…
Terhiasi oleh Bodhicitta segenap makhluk
Marilah kita semua, mulai momen ini juga, mulai saat ini juga, mencoba berlatih dan berlatih, menumbuhkan hati yang bajik.

Mungkin banyak kegagalan ‘kan menghadang
Mungkin banyak kesulitan ‘kan menerjang
tapi… seraya tersenyum, kita akan mencoba… dan… mencoba lagi…

Tags: ,

12 Responses to “Karma dan Kasta”

Pages: [2] 1 » Show All

  1. 12
    Cia you Says:

    Ingat Red, “Menghormati org yg patut dihormati itu berkah termulia,” kan… Jangan kan, Bikkhu ortu juga Ladang penghormatan, betul…
    hatRed juga kalo sikap/prilakunya sesuai dengan norma/sila, juga patut dihormati. Meskipun hormatnya gak pakai kata “banget.” :)

    Bukankah sikap saling menghormati adalah sikap yang terpuji.

  2. 11
    Nadinefei Says:

    Satu kepala, Satu Budha… terlahir untuk mendapatkan pencerahan sesuai dgn kapasitas nya masing masing…..

  3. 10
    Willy Yanto Wijaya Says:

    untuk mas/om/bro Wandhy :)

    terima kasih atas komentar dan pertanyaan2nya…

    1. Karena saat ini kita tidak lahir dalam masyarakat yang mengadopsi sistem kasta, kita tidak ada masalah dengan sistem kasta toh. Boleh saja kita menyebut keadaan/ kelahiran kita saat ini pun sebagai “takdir”/ akibat dari karma-karma sebelumnya… lalu tentu saja poin terpenting adalah bagaimana kita mengubah “takdir”/ keadaan ini menjadi “takdir”/ keadaan yang lebih baik, bukankah begitu? ;)

    2. Konsep Ketuhanan dalam Agama Buddha agak berbeda dari konsep Ketuhanan dlm agama-agama lainnya. Akan cukup panjang untuk mendiskusikannya… Coba bro Wandhy baca di forum DC yang membahas tentang hal ini… banyak pakar, suhu, dan para sesepuh DC yang pasti siap melayani :p

    3. Bagaimana jika sistem kasta diaplikasikan pada saat ini? Kayanya bro wandhy yang cerdas juga uda tau jawabannya deh, he…he…

    Salam ^^,

  4. 9
    wandhy Says:

    :> trims Mas/om willy..

    banyak penjelasannya yang jelas.. :)

    Salam..

    Betul, jika hanya untuk “kasta2 sosial” kita masih memiliki banyak peluang untuk merubahnya..

    maf mas/om Will, dan untuk sahabat semua.., bisakah kasta2 tersebut yang lahir (dianugerahkan) untuk

    kita disebut “takdir”.

    Jikapun bersifat “absolut” maka kita tidak bisa “merubah”nya.., lalu bagaimanakah kita menjalani

    kehidupan ini dengan keoptimisannya…,

    “Sang Buddha mengakui kebenaran tentang adanya hukum karma dan tumimbal lahir akan tetapi Beliau

    dengan tegas menolak sistem kasta! (padahal sebelum mencapai keBuddhaan, Beliau terlahir di kasta

    Ksatria yang cukup terhormat). Tapi Sang Buddha tidak menghiraukan kedudukan kastanya yang tinggi

    dan tetap menolak sistem kasta.”

    kemudian bagaimanakah keterkaitannya dengan segala penciptaan Tuhan..

    Jika sistem pengkastaan diterapkan untuk di zaman kerajaan / kerajaan2 memang sangat “tepat”sekali,

    dan struktur kepemerintahan akan berjalan dengan sistem yang jelas..
    Bagaimana jika diaplikasikan pada saat ini..
    ——————
    Maaf jika ada kata2 saya yang agak tidak berkenan..
    komen ini hanya untuk pencerahan (wacana) pengetahuan saya khususnya, dan sahabat semua yang membacanya.. serta semoga dapat kita amalkan bersama..
    and
    terimakasih sekalilagi untuk (info2nya) penjelasannya..
    thx a lot..
    -Salam Damai dan Sejahtera Bumi Indonesia :)-
    –.

  5. 8
    Willy Yanto Wijaya Says:

    Buat rekan-rekan semua :)

    Thanks atas commentnya…

    Sebenarnya ada satu poin penting yang perlu kita telisik lebih mendalam…
    Sistem kasta yang saya ulas disini bukanlah maksudnya sistem “kelas sosial” seperti yang tentunya ada di semua masyarakat di seluruh dunia.

    Satu poin dari sistem kasta adalah “absolutisme”, artinya jika Anda terlahir di kasta Sudra, Anda tidak mungkin bisa migrasi ke kasta Waisya (sebagai contoh) sekalipun Anda sangat kompeten dan berbakat untuk bidang lainnya tsb.

    Tidak hanya itu, pernikahan antar kasta juga tidak memungkinkan… dan pelanggaran thd nya akan berakibat diusir menjadi golongan Paria (paling rendah).

    Memang… tentu saja seperti yg bro Eddy katakan, edukasi sejak kecil sangatlah baik.. sehingga kelak si anak memiliki bekal… tapi apakah si anak kelak berminat thd bidang pekerjaan yg sama dengan orang tua nya?? Bagaimana jika ia tidak berminat dan merasa tidak bahagia? Pada zaman dahulu di India, ketika sistem kasta sangat dominan, tidaklah banyak pilihan baginya untuk pindah.

    Selain faktor minat, juga faktor bakat. Umumnya, zaman dahulu kebanyakan model pemerintahan adalah bentuk kerajaan. Bagaimana jika pewaris tahta kerajaan tidak becus menjadi pemimpin yang baik? Semestinya kah keturunan Raja itu terus memimpin?

    Jika Anda pernah membaca buku dari Bhante Thich Nhat Hanh, ketika Beliau berkunjung ke India beberapa dekade silam, perspektif sistem kasta masih lah sangat dominan… seorang India yang dari kasta rendah yang bertemu Bhante selalu merasa rendah diri dan merasa dirinya tidak berharga… Anda dapat membayangkan, bagaimana kuatnya cengkraman sistem kasta ini dalam masyarakat India pada zaman dahulu (wong sekarang aja masih eksis).

    Bahkan ketika Mahatma Gandhi memimpin India dan berusaha menghapuskan sistem kasta, ternyata sangatlah sukar.. sepertinya sudah berurat akar mendalam…

    Kalau saja definisi “Sistem Kasta” hanyalah “Kelas-kelas sosial”, tentulah tidak akan ada masalah, karena dimanapun di dunia ini ya pasti ada kelas-kelas sosial. Tapi, sistem kasta lebih dari sekedar itu, ia telah memberikan implikasi yg teramat kuat thd masyarakat India.

    Misalkan kita terlahir di kasta Budak, apakah selamanya kita mau hidup sebagai budak? Atas dasar rasionalitas seperti apa kita diwajibkan untuk terus menjadi budak?

    Mohon maaf jika ada kata-kata saya yg menyinggung. Tentulah saya akan dicecar habis-habisan dan menjadi Paria jika comment saya ini disampaikan pada zaman baheula di India di kala cengkraman Sistem Kasta masih teramat kuatnya… ;p

    Terima kasih buat comments dari rekan-rekan sekalian… saya sungguh menghargainya karena kita bisa saling membuka wawasan dan berdiskusi secara konstruktif…

    Warm regards,

  6. 7
    wandhy Says:

    Salam..
    sesungguhnya sistem peng”kastaan” terlihat jelas diseluruh penjuru dunia..

    agar bisa terjapai satu kesatuan bangsa yang adil dan menyeluruh, maka kita harus bersama saling membantu kasta2 “bawah”
    INDONESIA elok bersama..

    “Ini karena setiap makhluk bahkan yang paling rendah sekalipun memiliki Bodhicitta (benih-benih keBuddhaan). Ada benih-benih kebajikan yang dapat dilatih dan ditumbuhkan dari dasar batin yang paling mendalam setiap makhluk.”

    Mari bersama capai kebajikan…
    Bye..

  7. 6
    Osheen Says:

    Sebenarnya bukan di India saja yang memiliki kasta, di sekitar kehidupan sehari-hari juga terkadang kita jumpai “kasta”..

  8. 5
    marshall.deity Says:

    Argumen yang menarik dari saudara Eddy…
    Hmmm…
    Jadi saya simpulkan kasta bukan bertahan karena karma semata (maaf ya penulis. he he he) , bukan logika yang seperti itu… Tapi karena masih banyak yang percaya bahwa kasta itu berfungsi untuk mengelompokkan masyarakat dalam kategorisasi fungsinya masing - masing sehingga bisa menciptakan masyarakat yang baik… :)
    Tapi setelah saya pikir - pikir benar juga… Tujuan kasta tidak selalu negatif…
    Ini adalah karena orang - orangnya / pemainnya… Banyak penyimpangan karena memang para brahmana merasa bertingkat paling tinggi… ;)
    Tapi untuk zaman kontemporer ini, saya rasa sistem kasta sudah tidak terlalu sesuai dengan konteks kehidupan masyarakat…
    Sekarang semuanya harus diperlalukan sama… Bahkan pria maupun wanita juga memiliki derajat yang sama!
    Dan orang2 dari kasta rendah (yg masih sangat percaya dengan kasta), sering menganggap dirinya lebih rendah… Mungkin inilah kejelekan kasta…

    With Regards,
    Deity

  9. 4
    Perpustakaan Says:

    Mohon maaf yah, salah tulis :) . sudah diperbaiki _/\_

  10. 3
    Willy Yanto Wijaya Says:

    Walah Suhu Medho, penulis artikelnya ketuker :p he…he…

Pages: [2] 1 » Show All

Leave a Reply

Powered by WP Hashcash