Ember Bocor yang Merasa Sedih
Willy Yanto Wijaya

Udara dingin pegunungan menyusup di sela deraian daun. Kemilau jingga keemasan mentari senja tampak memantul berganti-gantian di permukaan air yang beriak dalam dua ember yang dipikul seorang petani. Sebuah rutinitas yang tampaknya dijalani dengan keriangan hati.

Dalam hempasan nafas lelah yang panjang, tersirat binar kepuasan dalam raut wajah sang petani pembawa ember air tersebut. Akan tetapi, suatu kala terjadi sesuatu di antara dua ember yang dipikul petani tersebut. Salah satu ember berujar kepada ember yang lain, “Hei, cobalah lihat dirimu ember bocor, bercerminlah. Sadarkah engkau setiap hari membuang setengah dari air yang terisi penuh?” Ember bocor kaget dan menyadari ada sebuah lubang halus pada dirinya. Sepanjang perjalanan, air yang dibawanya perlahan menetes keluar dan tersisa setengahnya ketika sampai di tujuan.

Kesedihan mulai mengaduk-aduk perasaan ember bocor. Ia mulai merasa dirinya ember yang tidak berguna. Ia tidak dapat memberikan yang terbaik kepada sang petani. Setiap hari ia hanya merasa menjadi beban, merugikan petani setengah dari kapasitas yang mestinya bisa ia bawa. Hari demi hari, batin ember bocor terasa semakin hampa dan tersiksa.

Suatu hari, petani menyadari ember bocor yang sedang menangis. Petani menanyakan alasan mengapa ember bocor merasa sedih. Setelah memahami semuanya, petani tersenyum sambil memandang hamparan langit biru kemudian berujar, “Tahukah engkau kenapa aku bahagia memilikimu? Meskipun sepanjang perjalanan engkau meneteskan separuh air yang dibawa…”

Ember bocor terperanjat dan bergumam, “Ke-ke-kenapa??” Petani melanjutkan, “Lihatlah hamparan jalan yang kita lalui setiap hari. Salah satu sisi jalan ditumbuhi oleh bunga-bunga yang indah bukan? Tahukah engkau bunga-bunga itu tumbuh karena tetesan air yang jatuh darimu? Karena ‘ketidaksempurnaan’ yang engkau milikilah, bunga-bunga indah tersebut tumbuh berkembang.”

Suatu perasaan ringan spontan menggelora dalam diri ember bocor. Ya, dalam segenap kekurangan dan keburukan, ternyata masih ada keindahan yang dapat tumbuh. Keindahan yang mengalir bersama kuntum-kuntum bunga yang tersenyum.

Tags: , ,

13 Responses to “Ember Bocor yang Merasa Sedih”

Pages: [2] 1 » Show All

  1. 13
    only4u Says:

    Bagus buangeett cerita, thanks a lot!!!

    Saya tidak dapat mengerti diawal2, sampai habis cerita, barulah bisa mengerti (melihat dari sisi lain, susah sekali ya). Musti diasah nih.

    Best regards,
    Me as human

  2. 12
    Willy Yanto Wijaya Says:

    Oh, terima kasih lani ^^,

    Hmm, ya, karena tokoh utama nya jelas adalah si ember bocor :D

    Lain halnya dalam “senja terakhir” ga dinyatakan secara eksplisit…

    Sedang bereksperimen dalam berbagai macam gaya menulis :p

  3. 11
    lani Says:

    Hmm, willy :D

    Kelebihan willy dalam menulis cerpen adalah tentang makna yang sebenarnya sederhana tapi kadang membingungkan maksudnya, jadi lebih hidup.

    Dalam kisah ember bocor ini tidak sesulit mengartikannya seperti senja terakhir :D

  4. 10
    Sumedho Says:

    Memang benar, system seperti ini bisa menggunakan nama siapa saja. untuk mengatasi ini, user yang ingin membuat komentar harus login, tentu ini akan mempersulit user untuk memberikan komentar juga.

    Mungkin sekarang ini masih akan diperlakukan seperti apa adanya.

    Untuk link ke site lain, sudah ada system pengamanannya juga.

    Terima kasih atas masukannya, semoga tidak ada yang iseng lagi.

  5. 9
    Willy Yanto Wijaya Says:

    Pantesan, aku juga heran :D

    masa Willy Yandi ga bisa memahami makna dari cerita Ember Bocor yang simpel begitu?? he…he…

    Ternyata orang lain yang iseng toh :D

  6. 8
    Willy Yanto Wijaya Says:

    Untuk Willy Yandi,

    Oh ya? wah aneh ya… tapi emang sebenarnya sistem komentar seperti ini sangat vulnerable (rentan dan berbahaya), sebab siapa aja bisa sesuka hati ngasih komentar atas nama apa aja…

    dan juga link nya bisa saja merefer ke situs-situs aneh yang mungkin saja tidak layak.

    Gimana nih bro Benny Sumedho?

    Sepertinya perlu ada suatu sistem pengamanan untuk hal ini??

  7. 7
    Willy Yanto Wijaya Says:

    Untuk Bro Hikoza :)

    No Problem ^^,

  8. 6
    WillyYandiWijaya Says:

    Kok aneh ya????
    padahal saya tidak merasa ada komentar atau pertanyaan seperti yang di atas respon no.1

    siapa yang pakai nama saya??
    pada tanggal segitu dan jam sekitar jam13:33 saya tidak sedang online
    Jadi mustahil saya kasih komentar…

    untungnya komentarnya tidak aneh2..

    bagi yang melakukannya, apa susahnya pakai nama asli.
    atau jangan2 cuma iseng.
    asal tidak negatif, tidak terlalu jadi masalah.

    salam,
    Willyyandi

  9. 5
    Hikoza83 Says:

    positif thinking. :)

    eh, aku baru sadar kalo komentar gw perlu di atas dikoreksi.
    strory maksudnya story… ^^
    maklum deh, english pas-pas an…

    be a good man!

    By : Zen

  10. 4
    Willy Yanto Wijaya Says:

    Ah, thanks bro hikoza :)

Pages: [2] 1 » Show All

Leave a Reply

Powered by WP Hashcash