Dhamma Niyama
Willy Yanto Wijaya
Kisah-kisah yang tercatat dalam kitab-kitab agama Buddha seringkali mengungkapkan hal-hal yang aneh dan tidak lazim. Misalnya ketika Pangeran Siddhatta terlahir di dunia ini; bunga-bunga bermekaran tidak pada musimnya, teratai menyembul dari dalam tanah, ranting-ranting pohon merunduk dan suara merdu mengalun di ketinggian angkasa.
Juga dalam kisah perjalanan Bhiksu Ksitigarbha (Ti Cang Wang) dimana kuncup-kuncup pepohonan semuanya menghadap ke arah timur ketika Beliau pulang ke kerajaan Tang.
Dalam agama Buddha, semua yang mengatur hal-hal yang menyimpang dari hukum-hukum fisis yang semestinya disebut Dhamma Niyama. Kita mungkin pernah bertanya dan bahkan masih mempertanyakan apa hubungannya menolong dan menyelamatkan makhluk hidup dengan memperoleh umur panjang dan kesehatan yang baik. Kedengarannya absurd memang. Tentu saja pada akhirnya semuanya diserahkan kembali pada diri masing-masing untuk mempercayai atau tidak.
Akan tetapi, ada satu kisah nyata yang menarik yang terjadi di Tiongkok yang dimuat dalam buku The Love of Life…
…………………………
“Apakah kamu merasa lebih baik hari ini?” Fan tahu istrinya menderita penyakit TBC yang tidak mudah untuk disembuhkan, tetapi dia menjaganya dengan lembut dan sepenuh hati.
“Terimakasih….atas…perhatianmu,” istrinya berkata sambil terengah-engah kesakitan. Fan meminta dokter terbaik di Chingkou, Chen Shihying untuk mengobati istrinya. Dokter Chen memeriksa istrinya dengan hati-hati dan menyuruh Fan untuk menunggu.
“Ada satu cara untuk mengobatinya, sebab dia cukup parah,” kata dokter tersebut. “Ambil seratus kepala burung pipit, dan buat mereka menjadi obat sesuai resep ini. Kemudian hari ketiga dan ketujuh makan otak burung pipit tersebut. Ini adalah rahasia turun-temurun dari nenek moyangku, dan tidak pernah gagal. Tetapi ingat, kamu harus mempunyai seratus burung pipit. Tidak boleh kekurangan satu pun.”
Fan ingin sekali menolong istrinya, sehingga ia langsung pergi membeli seratus burung pipit. Burung-burung itu berdesakan dalam satu sangkar yang besar. Mereka menciap-ciap dan berlompatan sangat memilukan, sebab tempatnya terlalu sempit bagi mereka untuk menikmati diri mereka sendiri. Bahkan mungkin mereka tahu kalau mereka akan dibunuh.
“Apa yang kau lakukan pada burung-burung tersebut?” tanya Nyonya Fan.
“Ini adalah resep special dokter Chen! Kita akan membuat mereka menjadi obat dan kamu akan segera sembuh,” suaminya dengan gembira menjawab.
“Tidak, jangan lakukan itu!” Nyonya Fan duduk di atas ranjangnya. “Kamu tidak boleh mengambil seratus nyawa untuk menyelamatkan satu nyawa saya! Saya lebih baik mati daripada membiarkan kamu membunuh semua burung pipit itu untukku!”
Fan tidak tahu apa yang harus dia lakukan.
“Jika kamu benar-benar mencintai saya,” dia melanjutkan, “Lakukan sesuai permintaan saya. Buka sangkarnya dan lepaskan semua burung pipit itu pergi. Lalu jika saya mati, maka saya akan meninggal dengan tentram.” Apa yang dapat Fan lakukan? Fan membawa sangkar itu ke hutan kemudian ia membebaskan semua seratus burung pipit itu. Mereka terbang ke dalam semak-semak dan pohon-pohon dan bernyanyi serta berciap-ciap. Mereka terlihat amat senang karena bebas.
Dalam beberapa hari, Nyonya Fan dapat bangun dari ranjang lagi, walaupun dia tidak minum obat apa-apa. Teman-teman dan saudara-saudaranya berdatangan untuk memberinya selamat karena kesembuhannya yang cepat dan relatif singkat dari penyakit mengerikan itu. Semuanya sangat bahagia.
Tahun berikutnya, keluarga Fan mendapat bayi laki-laki. Dia amat sehat dan lucu, tetapi yang lucu adalah di setiap lengannya terdapat sebuah tanda lahir berbentuk seperti burung pipit!
Tags: Burung, Fang Sen, Niyama
Entries (RSS)
September 1st, 2008 at 16:43
Ya, secara sederhana Citta Niyama adalah fenomena-fenomena dari aspek pikiran, mind, batin.
Ilmu psikologi adalah salah satu fragmen kecil yang mempelajari bagian dari Citta Niyama…
Sebenarnya kelima niyama ini berkaitan erat satu sama lainnya. Aspek Fisis (fisika) sebagai contoh diperlukan kondisi tertentu agar memungkinkan timbulnya denyut kehidupan/ kesadaran…dan pikiran.
Bagian dari Tripitaka yang banyak mengulas tentang Citta Niyama ini yaitu Abhidhamma Pitaka.
Salam
August 31st, 2008 at 11:53
Saya mau tanya, Kamma Niyama di dalam agama hindu di sebut hukum karma phala, lalu apakah yg di maksud Citta Niyama, apakah itu hukum pikiran, mohon penjelasan agak detail.
June 14th, 2008 at 15:30
Untuk znk_buddhism_atheist:
(wah, anda memakai nick-name yang panjang sekali, jadi sulit mengetiknya ^_____^- )
Namaste,
Saya kira cerita tentang Pangeran Siddharta dilahirkan dan Bhikshu Ksitigarbha di atas juga tidak ada kaitannya dengan masalah percaya kepada Tuhan atau tidak.
Apakah saya menyebutkan Tuhan dalam cerita di atas?
Tidak masalah apakah Anda ingin memakai ucapan “Namaste” atau “Namo Buddhaya” atau “Amituofo”. Kalau Anda lebih suka pakai “Namaste” ya silahkan…
ha…ha…
Alasan “Namo Buddhaya” terlalu panjang adalah dilebih-lebihkan… Nick-name Anda sendiri saja sudah lebih panjang
Malah, sekedar tambahan info, setahu saya, “Namaste” itu ucapan salam yang dipakai secara umum di India, bukan ucapan khas (monopoli) umat Buddha.
Di Myanmar, umat Buddha biasa memakai salam “Namo Buddhasa”.
Lain padang, lain belalang…
Terima kasih. ^____^
sincere compassion,
wyw
June 13th, 2008 at 13:02
@znk_buddhism_atheist
Namaste taken literally, it means “I bow to you”. The word is derived from Sanskrit (namas): to bow, obeisance, reverential salutation, and (te): “to you”.
kalo ente suka ama Namaste..dan ada orang laen yg suka pake owlohwaakhbar..kita semua harus ngikut gitu?
namane juga Buddhist..kita sukane Namo Buddhaya..
cape deh..
June 12th, 2008 at 21:10
Namaste,
ucapan namo buddhaya or namo omituofo bukannya ga berhubungan dengan dha(r/m)ma / kebenaran???
Hubungannya apa ya sdr.Ali???
Lantas klo saya tidak memakai namo buddhaya or namo omituofo adalah sebuah dosa???
Brarti saya melanggar suatu kebenaran???
Kata sapaan yang “menyanjung” koq disebut kebenaran…
Hmmm….
Kebenaran macam apa ini….
…………
Apa yang rancu dari postingan saya, bro nyana??
Mungkin bisa jadi bahan koreksi diri saya…
Tapi klo yang anda maksud rancu adalah pendapat saya terhadap cerita-cerita “tidak logis” pada kitab buddhisme,, saya rasa saya tak akan mengoreksi diri…
Inilah pemahaman yang benar menurut saya…
Wong ga logis,, mau diapain lagi….
Cukup menyerap KEBENARAN like; hukum kesunyataan, panca sila, sad paramita, etc yg “sejenis”…
Yah…. saya terima pendapat rancunya, klo bukan tentang cerita2 yang tidak logis…
Silahkan anda katakan…
Trims sdr. nyanadhana…
With mudita,
znk_buddhism_atheist
June 10th, 2008 at 08:38
To znk_buddhism_atheist
Ternyata benar bukan saya saja yang menganggap beberapa tulisan postingan anda memiliki sedikit kerancuan dan mungkin membawa pemahaman yang rancu.
June 9th, 2008 at 11:37
To znk_atheism_buddhist
Anda termasuk orang yang KONYOL suka mempermainkan dhamma/dharma/kebenaran!
June 7th, 2008 at 17:12
Namaste,
Bagaimana klo namo buddhaya qta ganti dgn namaste saja??
namo buddhaya kepanjangan, apalagi namo omitofo(amituofo)..
Namaste paling enak didengar + simple..
Setuju??
Hehe..^_~
with mudita,
znk_atheism_buddhist
June 7th, 2008 at 16:54
Namaste,
Ya, saya tau 5 niyama…
Tapi yg saya maksud berhubungan dgn tuhan bukan cerita the love of life,,
Tapi cerita yang anda katakan, “saat pangeran siddharta terlahir;bla3…
“saat Bhiksu Ksitigarbha;bla3…”
Saat saya menulis “Cerita nyata dari china?”
bru saat itu saya mulai mengomentari cerita love of the life tersebut…
Got it?? ^___^
N… ya, terima kasih sudah menanggapi dgn netral dan jujur…
with mudita,
znk_buddhism_atheist
June 5th, 2008 at 12:17
Namaste,
Terima kasih atas komentarnya
Seperti disebutkan di atas, kisah tsb diambil dari buku “The Love of Life”, atau yang dalam versi bhs. Indo nya berjudul “Mencintai Kehidupan”.
Buku ini yang mengatakan bahwa kisah tersebut adalah kisah nyata.
Saya kira kisah ini tidak ada hubungan nya dengan masalah percaya kepada Tuhan atau tidak.
Bisa saja kisah ini hanya karangan fiktif, namun bisa saja benar-benar kisah nyata yang pernah terjadi.
Fenomena-fenomena yang terjadi di luar hukum-hukum Fisika (Utu Niyama), Biologi (Bija Niyama), Kamma Niyama, dan Citta Niyama itulah yang kita sebut Dhamma Niyama. Seringkali kelima niyama ini juga disebut sebagai Dhamma Niyama.