Mari kita lihat Batin kita masing-masing (Penilikan Batin)
Shwe U Min Sayadaw

Umumnya orang menjadi baik ketika orang2 disekitarnya baik. Tetapi menjadi baik hanya saat orang lain baik terhadap anda bukanlah sifat sejati seorang manusia bajik. Seorang manusia bajik adalah seseorang yang benar-benar berbudi luhur tak peduli bagaimana tingkah laku orang-orang disekitarnya; apakah baik atau buruk. Itulah manusia bajik sejati.

Ketika anda tinggal disuatu komunitas, anda harus hidup rukun bersama orang2 dikomunitas tersebut. Seorang manusia berbudi luhur hidup dengan sadar (sati), bijaksana dan penuh metta. Jika hidup dengan
sati, bijaksana dan metta, anda akan hidup rukun dengan siapa saja. Semua makhluk hidup menginginkan
kebahagiaan, kedamaian, kesejahteraan, terbebas dari penderitaan namun kenyataan mereka masih menderita karena issa(iri hati) dan macchariya(kikir).

Menumbuhkan rasa dengki saat melihat keberuntungan atau kesejahteraan orang lain itulah issa.tidak senang dengan kemajuan orang lain dalam Dhamma itulah issa. Seseorang yang merasa senang melihat kesusahan(kemalangan)orang lain,orang ini takkan pernah merasa tentram.

Bila seseorang menggenggam erat2 pemilikannya itulah macchariya(kikir). Bila pihak lain baik, sukses dan maju dalam Dhamma, orang seyogianya turut berbahagia atas keberuntungan mereka. Namun sejumlah orang tidak memandangnya demikian, mereka hanya bisa mengais kesalahan, memandang dari sisi negatif saja. Senang bila bisa mempermalukan atau membeberkan kesalahan orang lain.

Iri hati adalah DOSA. Meninggal dengan batin diliputi dosa akan langsung terlahir dialam neraka. Kikir adalah LOBHA. Meninggal dengan batin diliputi lobha akan terlahir dialam peta(setan kelaparan). Anda
bermeditasi untuk mengurangi LOBHA dan DOSA, namun lobha dan dosa tetap muncul. Apabila anda tak dapat hidup rukun bahkan dengan diri sendiri(batin), bagaimana dapat hidup rukun dengan orang lain? Tak
sanggup bersabar bahkan sedikit saja. Setiap hal harus sesuai dengan selera sendiri, sesuai dengan keinginan sendiri. Bila seseorang masih terus saja mengikuti tingkah DOSA, keinginan-keinginannya dapat dipenuhi di
neraka.

Bila hidup dengan metta seseorang dapat lebih bersabar terhadap orang lain, lebih mudah memaafkan orang lain. Sebatang pohon akan memberikan keteduhan kepada penebang pohon sampai akhirnya dirinya ditumbangkan. Sepotong kayu cendana akan terus menyebarkan wanginya sampai terbakar habis.

Sang Bodhisatta dalam kelahirannya sebagai seekor Raja kera, menolong seorang pemburu yang jatuh kedalam sebuah parit besar. Karena kehabisan tenaga setelah mengeluarkan pemburu ini, ia beristirahat sebentar dipangkuan sang pemburu. Pemburu tersebut berpikir, hari ini tidak berhasil menangkap apa-apa, daging keralah yang akan dibawanya pulang ke rumah. Dengan sebongkah batu, pemburu ini menghantam kepala Bodhisatta, menciderai kepalanya. Sang Bodhisatta menyadari niat pemburu ini lalu menyelamatkan diri kepuncak pohon. Bodhisatta berpikir kalau dia meninggalkan pemburu itu begitu saja di hutan mungkin si pemburu akan dimangsa harimau. Oleh karena itu Sang Bodhisatta menyuruh pemburu itu mengikuti bekas ceceran darahnya ditanah untuk keluar dari hutan sehingga selamatlah si pemburu itu. Seorang makhluk berbudi luhur adalah seseorang yang akan memberikan pertolongan bahkan kepada penyerangnya dengan keringat dan darahnya sendiri

(wejangan Shwe U Min Sayadaw).

Terima kasih kepada
Adhigunadharo/Henry Chen

Tags: , ,

8 Responses to “Mari kita lihat Batin kita masing-masing”

  1. 8
    Hikoza83 Says:

    kadang kita lebih suka mencari-cari kesalahan yang lain, ketimbang melihat ke dalam batin masing-masing…

    _/\_

    By : Zen

  2. 7
    Sumedho Says:

    Terima kasih bhante atas penjelasannya.

  3. 6
    B. Thitayanno Says:

    Sumber pernyataan ini berasal dari transkrip “dhammatalk” Shwe U Min Sayadaw. Mungkin kalau diungkapkan dalam pernyataan yang lebih lengkap adalah “Iri hati ini adalah termasuk dalam kelompok kotoran batin (kilesa) ‘dosa’”. (Kalau kita mau membagi kotoran batin menjadi tiga kelompok saja.)

    Sukhihontu
    B. Thitayanno

  4. 5
    Willibordus William Halim Says:

    mengenai mengapa “iri” termasuk kedalam dosa, lebih baik kita diskusikan ke dalam forum. Ini termasuk ke dalam pembedahan faktor2 mental secara mendetil; sudah menapak ke zona Abhidhamma.

    Sis/Bro Vercillit, jika tertarik akan sama2 kita pindah ke forum saja dan buat thread khusus untuk ini. Topik ini akan sangat bermanfaat bagi kita.

    Oke, jika iya, mungkin dapat langsung buka topik di forum ato mungkin bisa menghubungi moderator dulu.

    Anumodana
    Willibordus

  5. 4
    Sumedho Says:

    Kalau definisi karena bodoh menjadi iri, maka semua lobha dan dosa merupakan karena moha. bukan begitu ?

    Iri hati itu agak kompleks, didasarkan pada kebodohan batin, iri hati itu ada komponen benci (tidak suka karena orang lain memiliki lebih dari kita) dan serakah (ingin memiliki) juga.

  6. 3
    Vercillit Says:

    “Pernyataan tersebut saya rasa tidak salah. Itu bukan petunjuk untuk menjadi sadar (sati), bijaksana dan penuh metta. Tetapi jika seseorang berbudi luhur maka hidup demikian.”
    >>>
    Terima kasih atas penjelasannya Bapak Sumedho yang terhormat.

    “Kalimat iri hati adalah dosa bukan berarti iri hati merupakan terjemahan dari Dosa. Tetapi iri hati termasuk dalam Dosa.”
    >>>
    Anda salah, Pak. Iri hati bukan “dosha”. Samasekali tak ada benci dalam irihari.
    Sebenarnya iri hati termasuk dalam “Moha” (kebodohan). Karena ia bodohlah maka ia menjadi iri.

  7. 2
    Sumedho Says:

    Saya sendiri bukan yang menterjemahkan tulisan tersebut akan tetapi saya coba berikan pandangan saya

    Macchariya sendiri kalau tidak salah diartikan berbeda-beda.

    Tetapi pengartian macchariya bisa meanness. Berikut ini salah satu pengartiannya.

    Macchariya is meanness to the point of keeping one’s possessions secret

    Dari hasil googling sih memang berbeda-beda.

    “Seorang manusia berbudi luhur hidup dengan sadar (sati), bijaksana dan penuh metta.” Terbalik.
    Yang benar, seorang manusia sadar hidup dengan berbudi luhur. Jadi, perlu sadar dulu untuk bisa berbudi luhur.

    Pernyataan tersebut saya rasa tidak salah. Itu bukan petunjuk untuk menjadi sadar (sati), bijaksana dan penuh metta. Tetapi jika seseorang berbudi luhur maka hidup demikian.

    “iri hati adalah dosha.” Salah.
    Dosha = Kebencian.
    Dosha berasal dari kemelekatan pada hal-hal yang membuat susah hati.

    Kalimat iri hati adalah dosa bukan berarti iri hati merupakan terjemahan dari Dosa. Tetapi iri hati termasuk dalam Dosa.

    Mungkin kita bisa berdiskusi di forum dengan teman-teman yang lain.

    Terima kasih atas masukannya.

  8. 1
    Vercillit Says:

    Saya baru melihat situs http://www.yellowrobe.com/love_and_hatred. Di situ ‘macchariya’ diartikan meanness. kenapa di situs ini meanness diartikan ‘kikir’?

    “Seorang manusia berbudi luhur hidup dengan sadar (sati), bijaksana dan penuh metta.” Terbalik.
    Yang benar, seorang manusia sadar hidup dengan berbudi luhur. Jadi, perlu sadar dulu untuk bisa berbudi luhur.

    “iri hati adalah dosha.” Salah.
    Dosha = Kebencian.
    Dosha berasal dari kemelekatan pada hal-hal yang membuat susah hati.

Leave a Reply

Powered by WP Hashcash