Filosofi Phoenix
Sumita

Teman, tahukah kau mengenai phoenix (baca: finiks)? Yup, phoenix adalah burung api mistik dalam mitologi. Mitologi phoenix ini nampaknya terdapat di beberapa negara seperti Mesir, Libanon, Yunani, China, sampai Jepang. Phoenix

Dikatakan dalam mitos, selain memiliki bulu berwarna merah dan keemasan, phoenix disebut burung api karena ia bisa mengeluarkan api dari dalam dirinya untuk mengkremasikan dirinya sendiri ketika menjelang kematiannya. Tapi teman, ada deskripsi lain yang mengatakan bahwa ia benar-benar memiliki tubuh yang terbuat dari api. Tubuh phoenix yang indah ini, dikatakan dapat beregenerasi (pulih kembali) ketika ia terluka.

Juga dalam mitos dikatakan bahwa seekor phoenix memiliki usia panjang sekitar 500 tahun bahkan ada yang mengatakan selama 1461 tahun. Ketika menjelang kematiannya ia akan membuat sarang dari ranting-ranting pohon kayu manis, dan ia bersama dengan sarangnya akan terbakar sampai menjadi abu. Tapi dari sisa-sisa abu inilah muncul kehidupan baru dari seekor anak phoenix.

Teman, dari mitos inilah, phoenix sering dijadikan simbol dari kebangkitan, keabadian, dan kelahiran kembali (rebirth). Lalu, pelajaran apa yang bisa kita ambil dari phoenix yang menyimbolkan kebangkitan, keabadian, dan kelahiran kembali (rebirth)?

Ketika kita menghadapi kemalangan, keterpurukan, kita butuh bangkit kembali untuk melanjutkan kehidupan kita. Jika tidak, kita akan semakin memperparah kondisi kehidupan kita. Kita akan terus menderita. Inilah nilai dari suatu kebangkitan yang disimbolkan oleh phoenix.

Tapi teman, apakah keabadian dan kelahiran kembali akan hidup kita di dunia ini adalah sesuatu yang menyenangkan? Sekilas iya, tapi semakin dipikirkan sepertinya tidak, teman.

Kehidupan di dunia ini selalu diliputi oleh suka dan duka, kebahagiaan dan penderitaan. Keduanya selalu ada. Tidaklah mungkin keduanya berjalan sendiri-sendiri, tidaklah mungkin hanya ada kebahagiaan atau hanya penderitaan dalam kehidupan kita. Setiap kebahagiaan akan diikuti oleh penderitaan. Teman, coba kita bayangkan ketika kita terus-menerus hidup atau dilahirkan kembali dan mengalami penderitaan, berpisah dengan apa yang kita cintai, mengalami sakit, dan sebagainya, apa yang kita rasakan? Lelah.

Oleh karena itu, teman, keabadian maupun kelahiran kembali juga merupakan suatu yang melelahkan, menderitakan.

-SP-

Tags:

4 Responses to “Filosofi Phoenix”

  1. 4
    WillyYandiWijaya Says:

    saya setuju jika umat Buddha menggunakan kata ‘kelahiran kembali’ daripada ‘tumimbal lahir’ karena ‘kelahiran kembali’ lebih jelas maksudnya.
    kata ‘reinkarnasi’ sebaiknya tidak digunakan oleh umat Buddha karena lebih terkesan ada jiwa yang terlahir kembali seperti dalam konsep Hindu. jadi teman-teman Hindu menggunakan kata reinkarnasi sedangkan buddhis dapat menggunakan kata ‘kelahiran kembali’

  2. 3
    ferry5191 Says:

    Lahir, sakit, tua, mati adalah Dukkha.
    Bagi yang telah mengerti akan hal ini, seharusnya berjuang untuk mencari sebabnya, hingga bisa terbebas dari kondisi-kondisi tersebut.

  3. 2
    Alex Chandra Says:

    Menurut seorang teman penerjemah, istilah rebirth lebih cocok diterjemahkan menjadi kelahiran kembali daripada tumimbal lahir.

    Karena kata “tumimbal” memiliki makna seperti “memantul”, sehingga terkesan seolah ada sesuatu yang memantul ke dalam kelahiran berikutnya. Padahal kurang cocok jika diartikan demikian.

    Oleh karena itu lebih baik diterjemahkan menjadi kelahiran kembali.

    Trims

  4. 1
    oddiezz Says:

    Rebirth dengan tumimbal lahir, apakah berbeda pengertian ?

    Mohon pencerahan

    Anumodana.

Leave a Reply

Powered by WP Hashcash