To Give and To Receive
P.Md. R.Hardjon Dhammaraja, S.H., S.Ag.
Pada umumnya orang selalu berpendapat “Take and Give” artinya mengambil (atau lebih sopan dengan menggunakan istilah “menerima” dan kemudian baru memberi. Menurut ajaran Buddha hal ini cenderung bersifat ego dan serakah, maunya menerima, menerima, baru kemudian berkenan untuk memberi, sementara ajaran Buddha mengajarkan umatnya untuk setiap saat mengembangkan pikiran welas asih dan mempraktikkan kebenaran di dalam hidup ini. Ajaran Buddha adalah ajaran pragmatis bukan dogmatis artinya ajaran yang mengajarkan pentingnya praktik daripada mencekoki umatnya dengan teori-teori kebenaran. Buddha menekankan bahwa kualitas mempraktikkan Dhamma/ kebenaran lebih sempurna, lebih berkualitas daripada melakukan pujabhatti. Bukan berarti Buddha merendahkan nilai dari pelaksanaan pujabhatti.
Orang yang suka menerima saja tanpa mau memberi sebenarnya adalah orang yang tidak bijaksana, dikatakan demikian karena ia (yang suka menerima saja) sedang menggunakan buah kamma baik di masa lampau. Sesungguhnya tanpa memberi akan terus mengurangi bahkan menghabiskan sisa kamma baiknya yang sudah ada. Dan sebaliknya mereka yang suka memberi akan terus melakukan deposit kamma baik. Menurut ajaran Kamma seyogianya kita harus terus-menerus menciptakan kamma baik sebelum mencapai Penerangan Sempurna. Karena dengan menciptakan kamma baik (melalui pikiran, ucapan, dan tindakan), maka akan membuahkan kebahagiaan baik terlahir di alam manusia maupun di alam surga. Sementara dengan melakukan kamma buruk (melalui pikiran, ucapan, dan tindakan) maka akan berakibat terlahir di alam yang menyedihkan (alam setan, alam asura, alam binatang, dan alam neraka) atau bila terlahir kembali di alam manusia, maka hidup penuh kekurangan dan penderitaan.
Bila ditinjau dari sudut pandang kamma, maka umat Buddha bukan berpikir “Take and Give”, akan tetapi “Give and Receive” artinya memberi dan menerima. Dalam pandangan Buddhis memberi adalah perbuatan yang berharga, memberi bukan berarti kita kehilangan sesuatu (kendati secara nyata memang apa yang kita miliki diberikan kepada orang lain), akan tetapi kita telah berbuat untuk menghasilkan sesuatu yang baik untuk masa depan, untuk masa yang akan datang. Seperti orang yang sedang menanam benih, maka di masa depan akan menuai hasil. Contoh lain adalah bila kita melempar benda keras yang kecil ke dalam baskom yang terisi oleh air, maka air tersebut akan menimbulkan gelombang dari benda keras yang menyentuh air tadi. Kemudian gelombang tersebut dari titik awal akan menyebar ke tepian, dan selanjutnya gelombang tersebut akan kembali ke titik awalnya. Artinya apa yang telah kita lakukan sesungguhnya akan kembali kepada kita juga. Kebaikan yang dilakukan, maka buahnya adalah kebahagiaan, kejahatan yang dilakukan akan berakibat penderitaan. Dalam pandangan Buddhis, kepada orang yang menerima barang yang kita berikan atau bantuan dari kita, bukan mereka yang harus berterima kasih, tetapi kita yang memberilah yang harus berterima kasih atas kerelaan mereka menerima barang/bantuan. Kendatipun mereka juga mengucapkan terima kasih kepada kita sebagai balas budi atas pemberian kita, sehingga mereka juga telah menanam kebajikan walaupun kecil. Mengapa demikian ? Merupakan hal yang biasa terjadi adalah orang yang menerima sesuatu/bantuan akan mengucapkan terima kasih atas apa yang mereka terima sebagai balas jasa. Berbeda halnya dengan ajaran Buddha, berhubung karena orang yang menerima pemberian telah memberikan kesempatan emas kepada pemberi untuk berdana (sehingga si pemberi telah menciptakan kamma baik yang baru) maka si pemberi harus mengucapkan terima kasih kepada penerima. Dengan pemikiran jika mereka tidak mau menerima pemberian dari kita, maka kita tidak akan dapat menciptakan kamma baik dan tidak memiliki kesempatan untuk memetik buah dari kebaikan yang akan dilakukan.
Oleh karena itu, umat Buddha mempunyai prinsip “Indahnya memberi”, maka kita seyogyanya terus-menerus memberi dan memberi. Sesuai dengan prinsip hukum kamma, kendati kita tidak berpengharapan dari apa yang kita berikan, kita akan tetap menerima hasil atau buah dari kamma yang telah kita perbuat. Sesungguhnya orang akan menjadi mulia karena suka memberi.
Marilah kita budayakan tradisi indahnya memberi dan suka memberi, bukan indahnya pahala dari suka menerima. Dengan mempunyai prinsip indahnya memberi, berarti kita telah mempraktikkan Dhamma ajaran Buddha.
Semoga dengan uraian Dhamma yang singkat dan sekelumit ini, akan membawa dampak yang besar bagi pemikiran kita. Semoga akan membawa perubahan ke arah perbaikan diri bagi kita semua. Pengharapan kita adalah semoga semua makhluk berbahagia. Untuk kedua kalinya, pengharapan kita adalah semoga semua makhluk berbahagia selalu. Untuk ketiga kalinya, pengharapan kita adalah semoga semua makhluk akan tetap berbahagia selalu. Sadhu, Sadhu, Sadhu
Tags: Kamma, Memberi
Entries (RSS)
November 23rd, 2008 at 17:38
Namatthu Buddhassa, Judul artikel ini telah menjadi tema perayaan Kathinadana 2552 T.B. (dihadiri oleh 9 orang Bhikkhu) ‘Give and Receive’ oleh Yayasan Vihara Mahasampatti Medan tanggal 09 November 2008 yang diselenggarakan di Paramount Jl. Merak Jingga no. 2 B.
October 17th, 2008 at 13:44
Svatti Hottu Pak Rudi,
Anumodana atas artikel dan pengharapannya….
September 27th, 2008 at 14:47
Namatthu Buddhassa, terima kasih atas tanggapan dari Bryant, Only4u, Jon, Steven, Tjiu Ivan, Gim Hok, dan Ananda Wira OJ. Ini email Rama : r_h_dhammaraja@yahoo.com dan silakan kunjungi http://www.cetiyamahasampatti.wordpress.com
Dahhhhh
September 26th, 2008 at 12:06
Anumodana saya ucapkan atas uraian dhamma yang Bapak sampaikan melalui internet sehingga dapat dimengerti oleh semua orang akan makna berdana. Semoga semua mahluk berbahagia. sadhu 3X
August 23rd, 2008 at 07:36
Terima kasih banyak, benar2 bagus sekali. Saya tidak pernah berpikir seperti itu sebelumnya.
Semoga semua mahluk berbahagia.
Semoga semua mahluk berbahagia selalu.
Semoga semua mahluk akan tetap berbahagia selalu.
Namo Amitabha.
only4u
June 15th, 2008 at 12:35
gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!gak bagus bukunya !!!!!
April 30th, 2008 at 20:49
Wuah, mak nyuss… Sangat masuk akal dan mudah dimengerti…. Memang memberi lebih berArti dari Menerima . … Tanpa memberi tiada hasil…. Lg pula , hidup sbg manusia memang hrs memberi. Maksudnya Tuhan”" telah memberi kita jasmani & rohani , maka kita harus mampu menggunakan tubuh kitautk berbuat kebajikan. Bagaimana berbuat kebajikan ? Yeah, kesimpulannya , berikanlah kemampuan kita , saling berbagi kasih… Maka hasil akan kita dapatkan dan kita merasa puas dengan apa yang kita pernah berikan… Tanpa harus dengan materi…………..
January 17th, 2008 at 11:21
wah saya membaca semuanya jadi mengerti ajaran dharama sesungguhnya.
saya agama budha juga dari lahir tapi tak begitu mengenal ajarannya/
terima kasih atas artikel di atas itu membuat saya jadi tahu ajaran sebenarnya.
December 2nd, 2007 at 17:32
Halo, lama gak jumpa Pak Rudi, gimana kabarnya? Sekarang saya di Jakarta.
Terima kasih untuk artikelnya yang memberi pencerahan.
October 16th, 2007 at 14:53
Namathu Buddhasa,
Pak Pandita RHD is the best deh…
Regards,
Wira OJ