Puasa Dalam Agama Buddha

Puasa Dalam Agama Buddha
Willy Yandi Wijaya

Dalam agama Buddha, juga dikenal sebuah istilah yang dapat diartikan sebagai “puasa”. Namun, hendaknya jangan ditafsirkan sebagai puasa tidak makan dan minum selama sekitar 15 jam seperti dalam agama Islam.

Puasa dalam agama Buddha sedikit berbeda dan diperbolehkan minum. Dalam agama Buddha puasa itu disebut Uposatha. Puasa ini tidak wajib bagi umat Buddha, namun biasanya dilaksanakan dua kali dalam satu bulan (menurut kalender buddhis dimana berdasarkan peredaran bulan), yaitu pada saat bulan terang dan gelap(bulan purnama). Namun ada yang melaksanakan 6 kali dalam satu bulan, tetapi puasa (uposatha) tersebut tidak wajib.

Uposatha artinya hari pengamalan (dengan berpuasa) atau dengan pelaksanaan uposatha-sila pada hari atau waktu tertentu (dapat disebut hari uposatha). Puasa tersebut dilaksanakan dengan menjalani uposatha-sila. Uposatha-sila(aturan yang berjumlah delapan) antara lain:

Tidak membunuh
Artinya adalah tidak melakukan pembunuhan atau melukai makhluk hidup. Makhluk hidup di sini adalah manusia dan binatang. Tumbuhan tidak termasuk)

Tidak mencuri
Artinya adalah tidak melakukan perbuatan yang mengambil barang tanpa seizin pemiliknya.

Tidak melakukan hubungan seks
Artinya adalah tidak melakukan hubungan badan baik dengan apa pun juga, dan tidak melakukan kegiatan seks sendiri(masturbasi). Intinya adalah tidak boleh melakukan kegiatan yang memuaskan diri secara seksual.

Tidak berbohong
Pengertian ini jelas. Artinya tidak berbohong sehingga merugikan orang lain secara langsung atau pun tidak langsung dengan niat buruk.

Tidak berkonsumsi makanan yang membuat kesadaran lemah dan ketagihan (alkohol, obat-obatan terlarang)
Artinya jelas. Jika seseorang mengkonsumsi untuk tujuan medis dalam jumlah kecil dan tidak hilang kesadaran, maka tidak terjadi pelanggaran.

Tidak makan pada waktu yang salah
Pengertian di sini adalah bahwa seseorang tidak boleh makan setelah lewat tengah hari hingga subuh/dinihari. Patokannya adalah untuk tengah hari, ketika matahari tepat diatas kepala atau pukul dua belas. dan untuk subuh/dinihari adalah ketika tanpa lampu, seseorang dapat melihat garis tangannya sendiri atau ketika matahari terbit.
Jadi seseorang boleh makan (berapa kali pun) hanya pada waktu dinihari/subuh sampai tengah hari (sekitar jam 12).

Tidak bernyanyi, menari atau menonton hiburan. Juga tidak memakai perhiasan, kosmetik, atau parfum.
Pengertiannya jelas dan untuk mendengarkan musik pun tidak diperbolehkan. Jika musik atau kosmetik digunakan untuk terapi atau untuk menolak penyakit, maka seseorang tidak menjadi melanggar aturan.
Tidak duduk atau berbaring di tempat duduk atau tempat duduk yang besar dan tinggi
Pengertiannya di sini adalah tidak tidur di atas tempat yang tingginya lebih dari 20 inci termasuk juga duduk. Tidur atau duduk di tempat yang mewah juga tidak diperbolehkan.

Jadi puasa (uposatha) seorang umat Buddha dinyatakan sah, apabila ia mematuhi ke-8 larangan tersebut seperti yang tertulis di atas. Jika salah satu larangan tersebut dilanggar—baik sengaja atau tidak— berarti ia puasanya (uposatha-nya) tidak sempurna.

Ada satu jenis kegiatan lagi dalam agama Buddha yang bisa disebut “puasa”, yaitu vegetaris. Vegetaris berarti tidak makan makanan bernyawa (dalam hal ini daging). Atau bisa dikatakan hanya memakan sayur-sayuran. Dalam pelaksanaan vegetaris ini, umat Buddha yang vegetarian ini tidak makan daging, termasuk jenis bawang-bawangan. Untuk telur atau susu, ada vegetarian yang masih makan, ada yang tidak. Namun vegetarian murni tidak makan telur atau pun susu. Dalam melaksanakan puasa ini (vegetaris), seseorang boleh makan kapan pun dalam 24 jam, namun hanya makan sayur-sayuran, tidak boleh daging dan bawang-bawangan. Puasa ini (melaksanakan vegetaris) tidak wajib bagi umat Buddha. Biasanya umat Buddha melaksanakannya tanggal 1 dan 15 berdasar kalender lunar (berdasar revolusi bulan), ketika bulan purnama menurut perhitungan Cina.

Kesimpulannya dalam agama Buddha, terdapat puasa namun definisinya berbeda. Puasa jenis I, disebut Uposatha intinya tidak makan dari setelah siang hari sampai subuh. Puasa jenis II, disebut vegetaris intinya tidak makan makanan yang berasal dari makhluk hidup (dalam hal ini daging).

  • http://PenyejukSaddhaBuddhani Ali Sasana Putra

    To SAUDARA Willy Yandi.

    Puasa jenis II, disebut vegetaris intinya tidak makan makanan yang berasal dari makhluk hidup (dalam hal ini daging).

    Anda mesti lihat dulu tentang kriteria makhluk hidup. Menurut Abhidhamma, yg disebut makhluk hidup secara umum adalah : Adanya tubuh dan batin. Namun nanti kita akan bertemu dengan makhluk yang hanya memiliki batin saja tanpa tubuh, tapi itu hanya ada di alam arupa Brahma, dan ada makhluk yang hanya memiliki tubuh (rupa) saja, dan itu hanya ada di alam Rupa Brahma (Asanna Satta Bhumi).

    Baiklah kita bahas makhluk hidup secara umum dulu:
    BATIN + TUBUH = MAKHLUK HIDUP

    *Batin adalah kesadaran yang berproses akan mengetahui suatu obyek. Batin terdiri dari Perasaan (Vedana), Bentuk-bentuk pikiran (Sankhara), Ingatan (Sanna) dan Kesadaran (Vinnana). Bila PERASAAN timbul maka otomatis BENTUK-BENTUK PIKIRAN muncul, dan otomatis INGATAN muncul, selanjutnya itulah yang disebut dengan KESADARAN (mengetahui obyek yang terjadi walaupun hanya dalam ingatan-mimpi-bayangan-dll).

    TUBUH/BENTUK (rupa) ialah Sseuatu yang dapat berubah karena panas atau dingin.

    Jadi, baik BATIN maupun TUBUH selalu dapat berproses/berubah kapan saja.

    BAGAIMANA DENGAN DAGING??? DAGING bukan makhluk Asannasatta Bhumi!

    Setelah kita mengatahui Batin dan Jasmani, maka dapat kita simpulkan bahwa DAGING bukan makhluk hidup!!!

    Memang daging berasal dari makhluk hidup. Tapi DAGING hanyalah MATERI SAJA. Karena DAGING tidak memiliki KESADARAN/BATIN/PIKIRAN.

    Bila anda makan DAGING itu sama saja ANDA makan KANGKUNG/BAYAM/GULA/DLL. SAMA-SAMA MATERI LHO!

    Jadi buat apa puasa Vegetarian??? Kalo untuk terapi agar tidak darah tinggi, kolestero, dll mungkin itu bisa dipraktikkan dalam segi kedokteran.

    NAMUN BERPUASA DAGING???

  • Zaki

    Hmmm… Pemikiran yang cerdas..
    Daging bukan makhluk hidup,meskipun dia berasal dari makhluk hidup..

    Ada beberapa Fakta yang menyatakan bahwa kita bukan makluk Pemakan Daging :

    1. Bahwa gigi manusia diciptakan bukan untuk merobek daging,tidak seperti hewan pemakan daging pada umumnya..
    2. Usus kita panjangnya 12 jari, bukan halnya 6 jari seperti hewan pemakan daging..
    3. Tipikal Pemakan daging adalah dapat menahan lapar setelah makan selama 1-2 minggu, sedangkan manusia setelah makan daging paling lama adalah 5-7jam akan makan lagi..
    4. Silahkan lihat lebih jelasnya di situs2 kedokteran..

    Nah dari teori kedokteran diatas dapat disimpulkan bahwa manusia adalah bukan tipikal pemakan daging..

    Jadi mana yang benar..Silahkan Jawab dengan kebijaksanaan teman-teman sendiri..

  • http://dhammacitta.org Sumedho

    Kalau kita lihat dari sudut yang lain,

    1. Gigi manusia memang tidak utk merobek daging karena manusia adalah omnivora. Struktur gigi itu kan tergantung dari evolusi. Nanti akan berubah sesuai adaptasi.
    2. Usus kita lebih pendek dibandingkan hewan pemakan tumbuhan dan lebih panjang dari hewan pemakan daging.
    3. Tentang lama makan itu sangat tergantung dari jumlah kalori dan cara kerja tubuh dari mahluk itu sendiri. Agak aneh kalau kita mengambil kesimpulan dari situ. Ada hewan yang makan tumbuhan tetapi maka bisa bertahan lama juga.
    4. Dari sisi kedokteran juga sudah cukup jelas jika manusia itu omnivora. Yang lebih penting adalah keseimbangannya.

  • http://PENYEJUKSADDHABUDDHANI Ali Sasana Putra

    hEMM….

    Menurut ku begini aja…

    Gimana kalu kita lihat menunya dulu…

    Kalo menunya lebih enak vegetarian yah kita makan deh ama vegetarian food…
    Tapi kalu menunya lebih enak yang pakai daging yah… hantam deh yang daging dulu baru vegetarian foodnya…

    Seingat aku, saya gak pernah makan makanan yang ber NYAWA… daging yang saya makan itu sudah mati atau gak ada kesadarannya lagi…

    Jadi saya sudah setiap hari dan seumur hidup berpuasa gak makan yang ber NYAWA…

    HE HE HE…

  • andyjkt

    Bisa aja…

  • willyyandi

    menanggapi komentar sdr. ali sasana putra

    saya hanya menawarkan suatu pemikiran yang bisa disejajarkan dengan puasa islam yang tidak makan.
    seseorang yang melaksanakan uposatha sila mirip dengan puasa (dalam islam) karena tidak makan (dari siang sampai keesokan paginya)
    vegetarian juga bisa dikatakan puasa, karena tidak makan (daging), terlepas dari pernyataan anda daging itu makhluk hidup ato bukan, nyatanya ada yang melaksanakan puasa daging (dari hewan). jadi mirip dengan puasa tidak makan dalam islam, walau cuma tidak makan daging.
    jadi saya hanya menwarkan suatu pandangan kegiatan yang dilaksanakan oleh umat Buddha yang mirip dengan puasa (islam)

    daging bukan makhluk hidup namun berasal dari makhluk hidup yang mati (kecuali daging buatan atau bioteknologi masa depan dimana daging bisa diperbanyak tanpa membunuh makhluk hidup)

    kalau dianggap daging cuma materi, berarti daging manusia juga materi dan boleh dimakan?hehehe…. (mana tau ada yang kaya ‘sumanto’ suka makan daging manusia.hehehe…)

    manusia bisa makan daging ato sayur tergantung pilihannya. kaya anjing sekarang yang harusnya makan daging, bisa juga makan nasi, roti dan lain2..hehe…walau belum mau makan sayur. :)

    evolusi manusia dari sejenis ‘kera’ yang pada masa awalnya juga berkembang dari hewan lainnya yang mirip secara fisiologi dan lebih sederhana. jadi memang pada awalnya manusia makan tumbuh2an (bagi yang ahli biologi evolusi mohon dicek kebenarannya) namun seiring dengan perkembangan dan lingkungan yang memaksa seleksi alam manusia sehingga menjadi pemakan hewan sekaligus tumbuh2an.

    terima kasih.
    terima kasih.

  • http://PENYEJUKSADDHABUDDHANI Ali Sasana Putra

    To willyyandi:

    Artikel anda:
    jadi saya hanya menwarkan suatu pandangan kegiatan yang dilaksanakan oleh umat Buddha yang mirip dengan puasa (islam)

    Ya gak lah saudara Willyyandi, puasa itu sebenarnya tidak makan dari jam tertentu sampai jam yang ditetapkan. Namun bila ‘puasa’ buddhis itu sesungguhnya bukan PUASA. Tapi melatih diri. Namun pernyataan ini hanya berlaku untuk umat awam bukan umat VIHARAWAN. Karena mereka tidak menyebutkan sikkhapadam samadiyami tapi menyebutkan VERAMANI. contoh:
    PANATIPATA VERAMANI (Saya bertekad untuk tidak membunuh makhluk hidup).

    Contoh dalam Atthangasila (8 peraturan), salah satunya adalah:
    Nacagita vadita visukadassana Veramani sikkhapadam samadiyami yang artinya Saya bertekad akan melatih diri menghindari bernyanyi, menari, bermain musik, melihat tontonan.

    Apabila seseorang yang melakukan Atthangasila pada hari uposatha, namun karena kelalaiannya, sewaktu ia mendengar musik dan ikut bernyanyi sampai habis 1 bait, itu namanya kurang pengendalian diri/pikirannya. Tapi bukan berarti batal atau nikmat/berkah tentang hal tersebut. Naumn, ia harus menyadari bahwa itu adalah tindakan Lobha dan ia boleh mengulangi tekadnya itu dengan mengatakan di dalam hati atau di depan altar mengenai peraturan nomor 7 dalam atthangasila, agar lebih kuat lagi kesadaran bertekadnya. Dan selanjutnya, laksanakan kembali atthangasilanya sampai pada hari yang telah ditentukan.

    Berbeda dengan saudara kita yang muslim, apabila mereka sedang berpuasa lalu sipelaksana ini lupa/lalai bahwa ia hari itu sedang berpuasa lalu ia menyetop tukang bubur membelinya sampai habis 1 mangkok dilahapnya. Ia benar-benar lupa akan berpuasanya, itu namanya berkah dan nikmat dari Tuhannya, selanjutnya ia masih boleh melaksanakan puasanya tanpa adanya penyadaran tentang LOBHA yang mengintai. Namun bila hal tersebut disengaja ia telah membatalkan puasanya.

    Untuk Buddhis melatih Atthangasila berarti melatih diri untuk dirinya sendiri.
    Namun bila saudara Muslim kita berpuasa hanya KARENA ALLAH (Lillahi Ta ala).

    Dua hal yang berbeda namun sulit dilihat, karena dua hal tersebut terletak di dalam BATIN manusia masing-masing.

    Masalah DAGING di dalam aliran Theravada, DAGING tidak dipermasalahkan yang penting ada 3 syarat seseorang boleh menyantap daging, antara lain:
    1. Tidak melihat pembunuhannya
    2. Tidak mendengar pembunuhannya
    3. Tidak menyangka bahwa pembunuhan tersebut dipersembahkan oleh dirinya.
    (3 syarat tersebut terdapat dalam Jivaka Sutta.)

    Namun saya kurang paham bila saudara Buddhis yang beraliran Mahayana, mereka memang berpantang daging. Namun bagi saudara Buddhis kita yang beraliran Tantrayana mereka Omnivora sama dengan Theravada. Dalai Lama itu makan Daging lho…

    Artikel anda:
    kalau dianggap daging cuma materi, berarti daging manusia juga materi dan boleh dimakan?hehehe?. (mana tau ada yang kaya ?sumanto? suka makan daging manusia.hehehe?)

    Memang daging manusia itu dapat dimakan! Namun Sang Buddha menganjurkan kepada para Bhikkhu bahwa: ada 10 daging yang sebaik tidak dimakan! Mengapa karena bukan hal yang umum/layak. Antara lain:
    1. Daging manusia
    2. Daging kuda
    3. Daging Gajah
    4. Daging Ular
    5. Daging Anjing
    6. Daging Harimau
    7. Daging Hyena
    8. Daging Panther
    9. Daging Buaya
    10. Daging …saya lupa nanti dilhat lagi refernesinya..

    Pokoknya daging yang gak layak dimakan deh… dan satu lagi alasan Buddha untuk tidak memakan daging di atas adalah karena bila seseorang/bhikkhu pergi ke hutan untuk berlatih meditasi, maka ia akan mudah terkena celaka karena memakan salah satu dari daging tersebut. Bau dari aroma daging itu mampu merangsang penciuman binatang buas untuk menerkam bhikkhu/orang tersebut.

    Anda minat makan daging harimau??? Ngambil dagingnya aja kita kudu tarung ama mbah MACAM JAMBRONG. he he he …

    Yang kasihan ayam… udah daging di makan, telornya dia rebus/digoreng…kulitnya buat cemilan, terus kepalanya buat jimat ama cekernya buat obat gatal dipunggung alias garukan atau buat nyolok mata orang yang ngantuk… he he he …

    Ngelantur nih…

    udah banyak nih ngetiknya nanti ngelantur lagi…

  • Selfy

    To Ali Sasana Putra,

    Menanggapi pernyataan demi pernyataan2 yang menarik. Saya ingin memberikan juga pernyataan untuk saudara Ali..
    Wah kelihatannya anda Meat Lover sekali. he…he….
    Bagi saya, makan daging ato tidak itu adalah pilihan. memang benar daging kalo sudah ga ada nyawanya ya cuma sebatas materi doang. kata siapa makan daging itu sama dengan makan kangkung, bayam atau gula. jelas dari segi gizi pun berbeda. Rata2 orang pemakan daging punya kecendrungan kena penyakit kanker, berdasarkan penelitian yang saya kebetulan ga bawa filenya he..he.. wanita yang makanan utamannya daging merah lebih cendrung terkena cancer payudara dibanding wanita yang makanan utamannya kacang2an.
    Daging memang bukan makhluk hidup, tapi kan asalnya dari makhluk hidup. kalo setiap orang berfikir daging yang memang untuk dimakan, pasti setiap orang akan terus melakukan pembunuhan demi daging tersebut. coba sebaliknya bayangkan, kalau saja ayam punya pola pikir ingin membantai semua makhluk yang namanya manusia dari muka bumi ini, apa ga repot semua bangsa ayam pada nyusun rencana berboyong2 menciptakan senjata pemusnah manusia.. ha..ha… (apa ada ayam kaya gitu ya!!)
    yang jelas dengan melaksanakan vegetarian, ato apalah namanya itu, puasa kek, ato sebutlah melatih diri… setidaknya qta dalam waktu tersebut sudah yang namanya mengurangi korban pembunuhan dan terlebih lagi menjalani hidup sehat. Walau sehari atau dua hari itu sangat bermanfaat untuk kelangsungan hidup makhluk lain termasuk anda
    terima kasih.

  • http://PENYEJUKSADDHABUDDHANI Ali Sasana Putra

    To Selfi:

    Thank’s udah kasih saya julukan ‘Meat Lover’. He he he Meat Lover.
    Saya sangat setuju sekali bila vegetarian itu dilihat dari segi medis/kedokteran. Namun bila bervegetarian itu sama dengan mengurangi pembunuhan, kayanya itu gak masuk akal deh???

    PENASARAN YAH….

    BEGINI:
    1. Saya makan daging atau gak makan daging, pembunuhan terus saja merajalela. Dalam artian: Saya akan makan daging apapun kecuali 10 daging, bila tidak melanggar 3 syarat yg telah saya ketik. Artinya: kalao saya ke rumah makan terus saya pesan Mie Goreng lalu di dalam Mie goreng ada daging ayam atau babinya yah saya makan. Namun ketika saya pesan Mie Goreng tapi gak ada dagingnya ya gak apa-apa, saya makan juga tuh Mie Gorengnya. Sama seperti Buddha Pindapatta, ketika ada umat yg kasih sate babi ke mangkoknya Buddha, ya diterima ama Buddha, pada kesempatan lain, ketika Buddha cuma dapat bubur basi dari gelandangan/pengemis yah diterima juga.
    2. Apakah bervegetarian itu dapat meningkatkan metta (cinta kasih universal)?
    Tidak, karena vegetarian tidak sama dengan metta.
    Ada orang bervegetarian tapi :
    a. Mulutnya kasar bila bicara
    b. Tindakannya kejam
    c. Pakaian dan alat-alat keperluan hidupnya banyak memakai bahan-bahan dari binatang. Contoh: jam kulit, sepatu kulit, baju kulit, topi kulit, kipas kulit, pasta gigi yang mengandung lemak hewani, sabun rata2 campurannya terbuat dari lemak hewani, dll.
    d. Bila ia melakukan ritual, di tempat ritualnya terdapat kulit sapi/kambing untuk beduk/tamburnya, dlll deh kasihan nyebutinnya.
    3. Mari kita bandingkan lebih banyak mana makhluk yang mati akibat dari vegetarian dengan mereka yang tidak bervegetarian
    a. Mereka yang tidak vegetarian:
    Makan daging bila ada di meja makan/piring namun bila gak ada daging yah gak apa. Misalnya: Saya makan nasi goreng eh ternyata di dalam makanan tersebut terdapat daging ayam beberapa potong. Katakanlah ayam yang mati itu 1 ekor.
    b. Mereka yang vegetarian:
    Mereka harus dan wajib makan sayur. Dalam sebidang tanah di kebun, anda tahu bahwa petani harus menyemprotkan tanaman/sayur tersebut dengan pestisida. Selfi tahu berapa banyak hama dan belalang yang mati akibatnya? ribuan!. Sebelumnya, petani tersebut harus mencangkul sebidang tanah agar tanah tersebut menjadi gembur dan mudah ditanami sayuran. Selfi tahu ada berapa banyak ekor kah cacing-cacing yang mati dan binatang lain mati akibat cangkulan petani atau mesin traktor? Belum lagi bila membajak tanahnya dengan kerbau, sudah berapa kali kah kerbau tersebut dicambuki oleh petani kita hingga tubuhnya yang gembrot itu sakit-sakit dan pegal-pegal? Selfi mau mijitin badan kerbau yang pegal-pegal tersebut???

    He he he cuma analisa doang.
    Kalo mau vegetarian silakan aja, namun pakailah alasan untuk medis bukan untuk metta yah Selfi.

    Salam
    Ali

  • andyjkt

    Ayo.. sebelum berlanjut lebih jauh..mari sama2 membaca postingannya bang Sumedho yang terbaru berjudul PANDANGAN SANG BUDDHA TENTANG MAKAN DAGING pasti dijamin mengenyangkan rasa lapar rekan2 sekalian. Saya aja sampai nambah bacanya. He..He..He..

    Peace.

  • valy

    Menanggapi artikel Sdra. Willy Yandi Wijaya tentang puasa dalam agama Buddha.
    Disini saya cuman mau sharing saja. Waktu saya menjalankan atthasila sama teman-teman non Buddhis ditanya “ kok ndak makan val, lagi diet yah..tumben val..?” Supaya mereka mengerti dengan mudah maka saya menjawab ”ndak diet lagi puasa.” Trus mereka dengan raut muka yang agak bingung dan ngomong ” oh agama Buddha ada puasanya juga yah val…tapi kok a’neh yah..puasa kok beda sama puasanya di agamanya kita..puasa kok bisa minum?” karena bingung jawabnya saya pun menjawab ”sebenarnya saya sedang latihan atthasila. Dimana salah satu silanya melatih diri menghindari makan makanan setelah tengah hari. Jadi masih bisa tetap minum.” Mereka pun ngomong lagi ” val itu sih namanya bukan puasa, kalo puasa itu ndak boleh makan ama ndak boleh minum val..” Aku pun tersenyum sambil ngomong ” hehehe iya, bukan puasa sih..saya bilang seperti itu supaya kalian bisa mengerti dengan mudah. Takutnya kalian bingung.” Mereka pun menjawab ” oooh jadi sebenarnya lagi latihan atthasila val..” Trus mereka banyak bertanya tentang apa itu atthasila, kenapa harus menjalankan atthasila, dan bla..bla..bla…dengan sangat antusias. Jadi buat Sdra.Willy puasa dalam agama Buddha sebenarnya tidak ada. Kalo memang ada di Tipitaka bagian mana yah dicantumkan yang menyatakan kalo di dalam agama Buddha ada puasa? Yang ada latihan atthasila ama vegetarian di hari Uposatha. Jadi sebaiknya dibilang latihan atthasila dan vegetarian saja. Hal ini supaya tidak menjadi salah pengertian bagi umat non Buddhis kalo ditanya karena menurut mereka puasa itu tidak makan dan tidak minum. Beberapa teman saya yang non Buddhis juga ada yang vegetarian lho…mereka vegetarian karena tidak suka makan daging sejak kecil katanya baunya tidak enak. Mau muntah katanya. Mereka tidak bilang kalo mereka puasa makan daging. Ntar kalo dibilang puasa makan daging bisa diketawain tuh…malah ntar mereka bilangnya seperti ini ” Kalo tidak makan daging dibilang puasa….wah berarti saya yang tidak suka makan daging sejak kecil dibilang puasa setiap hari..ndak makan dan minum donk. Ntar bisa masuk rumah sakit…” hehehe…istilah atthasila yang bagi kalangan non Buddhis adalah kata yang asing, sekarang sudah menjadi kata yang populer dikalangan teman-teman saya yang non Buddhis. Sekarang mereka kalo melihat saya tidak makan langsung bilang ” lagi latihan atthasila yah val?”. Saya pun menjawab ”iya kayak tahu a’jaa hehehe…”
    Demikian sharing saya tentang atthasila, semoga bermanfaat. ^o^

    Terima kasih…

    With metta
    valy

  • willyyandi

    untuk saudara valy

    coba anda baca lagi tulisan saya.
    saya katakan ada yang sejenis/mirip dengan ‘puasa’ dalam islam, NAMUN DEFINI BERBEDA

    jadi artinya lebih ke makna bahasa.

    memang artikel ini saya tulis pada waktu itu untuk kalangan umum (nonbuddhis, mayoritas Islam), namun saya merasa cocok di Dhammacitta karena untuk umum, bukan hanya buddhis.

    Dan berkali-kali di tulisan saya, saya mengatakan bahwa berbeda dengan puasa dalam Islam yang tidak makan dan minum. Hanya hanya menawarkan suatu konsep buddhis yang bisa disejajarkan/mirip bentuknya denga puasa Islam.

    untuk sdr. Ali sasana putra

    bervegetarian juga bisa untuk mengembangkan metta atau cinta kasih.
    ketika seseorang vegetarian, ada 2 jenis orang. yang pertama adalah orang yang sekedar vegetatarian dan orang jenis ke dua menyadari bahwa ia bervegetarian karena untuk mengurangi ‘pembunuhan tidak langsung’ karena mengurangi jumlah pembunuhan
    (jika sekelompok orang jumlahnya ribuan kaya organisasi agama Maitreya, Chinghai, kelompok Mahayana, dsb yang tadinya vegetarian, tiba2 makan daging, mau tidak mau, harus kita akui bahwa ternak yang dibunuh dan pesanan ternak untuk dibunuh akan meningkat)

    Nah, orang ke dua yang merasa hal tersebut secara tidak langsung termasuk membunuh, akhirnya bervegetarian karena cinta kasihnya.
    (kalau anda merasa vegetarian tidak berguna atau metta, ketika anda melaksanakan, anda tidak akan mengembangkan cinta kasih/metta karena perasaan cinta kasih atau welas asih dalam pikiran.)

    justru ketika ada rasa kasihan, metta bisa timbul (walau lebih tepat karuna/welas asih)

  • Selfy

    To : Sdr.Ali

    thanx loh pa Ali atas hasil analisanya, menambah pengetahuan saya. Saya juga sadar sepenuhnya kalo dengan bervegetarian memang tidak dapat menghentikan proses pembunuhan dimana pun, dan juga tidak menjamin metta kita berkembang apalagi menjadi suci. :)

    To : Valy

    Mo sharing aja, kalo kita bingung2 ma bahasa, mendingan kita masing2 cek dulu aja arti puasa di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kan beres. nah kalo udah ketemu arti puasa itu sendiri, baru lanjutin komentarnya. he…he… biar nyambung pengertian antara satu dengan lainnya. :)

  • http://notyet Gandhy

    Puasa daging boleh juga, tapi suka terhalang sama keadaan

  • http://--- sontoloyo

    makan daging ato tidak terserah jangan sok pintar bisa kena kanker segala. dokter sampai sekarangpun belum bisa memastikan penyebab kankerheeee

  • http://-- jimmy

    makan ato tidak gak ada hubungan dgn kanker lah dokterpun belum dapat memastikan penyebab kanker gitu aja kok repot hehhehe

  • http://-- jimmy

    yang penting hati hrs bersih “kita tidak berbuat baik juga tidak berbuat jahat sama orang lain sudah cukup lah , tapi klo bisa perbanyak kebajikan dong ya gak teman teman

  • http://-- jimmy

    umur manusia siapa yang tahu? lihat pek ji lah? dinosaurus makan daging gak? masih ada gak dinosaurus saat ini hehehehe

  • nb

    kok ga ada yg tanya tentang bagaimana prosedur mengambil delapan sila ya?
    bagaimana umat pada zaman buddha mengambil atthasila?
    saya rasa, justru bagian ini yg perlu di tulis oleg bro willy.
    selamat mencari jawabannya.

    salam damai,

  • http://nyanabhadra.wordpress.com nb

    terus terang, masih ada satu hal lagi yg tidak dibahas, apa manfaat melaksanakan atthasila?
    kemudian, puasa adalah istilah dari agama islam, jadi tidak ada kaitan dengan ajaran Buddha, walaupun mau coba di sepadankan, namun terlalu memaksa.
    arti puasa: menghindari makan, minum, dsb dng sengaja (terutama bertalian dng keagamaan); 2 n Isl salah satu rukun Islam berupa ibadah menahan diri atau berpantang makan, minum, dan segala yg membatalkannya mulai terbit fajar sampai terbenam matahari; saum;
    sedangkan melaksanakan atthasila kita makan dan minum, dan konteks pembicaraan berbeda dimensi agama.

    Semoga kita berhati-hati dalam menggunakan istilah, jangan menciptakan ambiguitas. semoga bermanfaat.

    salam

  • tiara

    saya ingin bertanya, saya ingin melaksanakan uposattha dan berdasarkan yg saya baca “Tidak duduk atau berbaring di tempat duduk atau tempat duduk yang besar dan tinggi.Pengertiannya di sini adalah tidak tidur di atas tempat yang tingginya lebih dari 20 inci termasuk juga duduk.” hanya saja saya tinggal di asrama dimana ranjang itu berada di atas(ranjang bertingkat) dan dibawahny meja belajar. apabila saya mau melaksanakan uposattha apa dgn keadaan seperti ini (krn td dikatakan tingginy >20 inchi, dn disini kira2 sktr 2 meter tingginy) termasuk pelanggaran atau tidak?

    terima kasih

  • Ciputra

    Bro/Sis Tiara, bila memungkinkan (masih ada tempat), sediakan matras di atas lantai untuk digunakan sebagai tempat tidur disaat menjalankan uposathasila/ atthasila. Bila tidak memungkinkan (karena keterbatasan ruang kamar asrama), dan kasur yang dipakai itu cukup empuk, bisa diganti sementara dengan matras yang seadanya. Pada prinsipnya kita berlatih menjalani kehidupan sederhana. Sepintas terkesan repot sekali ya mau menjalankan uposathasila/ atthasila, tetapi ini sangat membantu kita sendiri dalam berlatih mengembangkan kebajikan dan akan baik sekali dibarengi dengan latihan meditasi (samadhi dan/atau vipassana). Semoga Anda tambah maju dalam Dhamma.

  • novi

    Artikel yang bagus….

    Saya mau tanya,, yang sila ke enam itu,, memang bisa makan kapan saja yah?

    asal gak lewat tengah hari…

  • Pingback: Hayuk Berdakwah #1: Teringat Ucapan Gus Dur | Damnant Quod Non Intellegunt

  • tricia

    Sepengetahuan saya..
    saat melakukan uposatha sila, kita boleh makan dalam kurun waktu setelah matahari terbit sampai tengah hari, dan bukan berarti kita sudah dapat makan lagi setelah jam 12 malam.
    semoga membantu :)