Vegetarian
Aguslina
Di dalam kehidupan kita saat ini, sering kali kita bertemu dengan orang-orang yang tidak memakan hewan (herbivora gitu lho). Kalau dulu, banyak orang tidak makan hewan mungkin karena terpaksa, misalnya dengan alasan ekonomi. Tapi zaman sekarang, trendnya beda lagi. Bukan karena tidak mampu membeli, tapi karena keinginan sendiri. Tentu saja di luar faktor dengan alasan kesehatan, misalnya.
Bilamana saya ketemu dengan orang-orang seperti ini, muncul rasa kagum yang mendalam dari lubuk hati dan sayapun mencari kesempatan untuk bertanya-tanya. Koq bisa sich menempuh jalan ini? Apakah sanggup menahan godaan dengan makanan-makanan yang sangat merangsang? Ada ikan bakar, udang goreng, kepiting saos tiram, ayam panggang, dan lain-lain, apa yakin tidak tergoda? Saya jadi penasaran, apalagi kalau mereka masih muda. Dengan asumsi, jangka waktu makan hewannya belum habis, koq sudah di-cut.
Akhirnya, saya pun mulai mencoba, sebulan hanya 2 kali yakni setiap penanggalan Cina tgl 1 dan 15. Wah! Sungguh, susahnya minta ampun. Rasa-rasanya selera makan langsung down. Terasa hari-hari penyiksaan (nafsu makan) datang. Alangkah senangnya, bila hari-hari tersebut segera berlalu. Dan kesempatan makan apapun terbuka lebar.
Sampai suatu hari, saya berkenalan dengan seseorang, dia menawarkan saya VCD tentang penjagalan hewan, bagaimana sengsaranya hewan-hewan tersebut menjelang pembunuhan masal. Mereka menangis, merintih, menahan rasa sakit, menahan penyiksaan yang dilakukan manusia-manusia yang dengan nafsu membunuh yang sangat dahsyat. Sehingga pengampunan dan permohonan mereka tak digubris sama sekali. Mereka benar-benar tidak diberi kesempatan untuk hidup. Mereka tak punya pilihan lain, selain kata ‘MATI’ yang sudah menanti di depan mata. Saya sendiri sungguh terharu melihat keadaan tersebut. Memang selama ini, kita berpikir, toch hewan yang kita beli di pasar sudah mati, sudah tak bernyawa. Tapi, pernahkah kita berpikir, itu bukan pilihan mereka. Tapi kitalah yang telah memaksanya untuk mati hanya untuk memuaskan nafsu kita.
Setelah menonton adegan tersebut, keesokan harinya saya mencoba tidak makan daging (apapun hewannya). Ternyata hari pertama saya lolos. Kemudian saya lanjutkan di keesokan harinya, lolos lagi. Tidak terasa, sudah seminggu nich… Wah! Ternyata ada hikmah baru, tidak sesudah dan sesulit yang saya bayangkan.
Suatu hari ada undangan dari saudara yang ulang tahun, makanannya ‘all u can eat’. Makanan di sana sangat merangsang, dari babi panggang, bebek peking, ikan asam manis, kepiting saos tiram, udang mayonais, ayam goreng, cumi goreng tepung dan masih banyak lagi. Gimana nich? Semua undangan sibuk mengisi piringnya dengan aneka macam masakan, saya cuma mengisi dengan bubur dan sayur kailan. Wah! Yang undang benar-benar rugi dech, bayar mahal-mahal cuma makan itu, tapi tentunya ada yang merasa untung dengan ulah saya, yakni si pemilik restaurant. Inilah cobaan, tapi sungguh, saya sama sekali tidak tergoda dan tidak ada rasa ingin menyantap makanan-makanan tersebut. Semua berjalan apa adanya tanpa paksaan dan tanpa tekanan. Kini, saya sudah menjalaninya beberapa bulan. Semoga keadaan ini akan terus dan terus berlanjut.
Berbahagialah bagi anda yang sudah vegetarian, selamat! Bagi anda yang belum, silakan mencoba sekali-kali, ternyata nikmat lho! Selain lebih irit, hati dan pikiran juga lebih tenang. Selamat mencoba! Semoga bermanfaat!
Tags: Makan, Vegetarian
Entries (RSS)
January 6th, 2009 at 00:20
Kalau dengan vegetarian pikiran bisa tenang,berarti kita salah mengikuti ajaran Sang Buddha karena Sang Buddha mengajarkan kita untuk mencapai ketenangan harus dengan latihan meditasi.apa mungkin seorang Samma Sambuddha bisa salah yah,pasti gak mungkin yg suka ngarang2 gak karuan yg pasti saalah
January 5th, 2009 at 23:46
kalau masalah misalkan kita menjadi vegetarian tidak akan mengurangi jumlah penjagalan hewan itu tidak sepenuhnya benar dan tidak sepenuhnya salah.. Tidak salah karena masih banyak orang lain yang membutuhkan daging hewan tersebut jadi tempat penjagalan tidak akan mengurangi kuota pemotongan sedangkan tidak benar karena walaupun hanya satu orang saja yang menjadi vegetarian berarti ini sudah mengurangi nilai permintaan, mungkin kalau hanya 1 belum berarti tapi misalkan vegetarian terus berkembang hingga 1000 orang misalnya berarti sudah mengurangi banyak sekali nilai permintaan yah otomatis tempat penjagalan juga harus mengurangi kuota penjualannya karena permintaan lebih sedikit. Kalau kata orang bijak perubahan harus dimulai dari kita sendiri baru kita dapat membuat perubahan untuk orang banyak.
buat nonton film-film seperti itu juga tidak sepenuhnya salah karena membuat kita lebih memahami dan merasakan Duka makhluk hidup lain yang disebabkan nafsu kita (keinginan buat mengkonsumsi daging)
Dari segi kesehatan daging apapun mempunyai banyak kotoran yang menyebabkan penyakit (lebih banyak daripada sayur2an) sehingga menkonsumsi sayuran akan membuat tubuh lebih sehat (relatif)
Dan yang terakhir saya sendiri bukan vegetarian, bahkan penggemar berat daging, ingin sekali melepaskan diri daging tapi terlalu berat karena saya tidak menyukai sayuran (kalo ga makan daging ga tau harus makan apa..), but i keep trying, someday i would be a vegetarian ^_^
namaste
January 5th, 2009 at 23:42
kalau masalah misalkan kita menjadi vegetarian tidak akan mengurangi jumlah penjagalan hewan itu tidak sepenuhnya benar dan tidak sepenuhnya salah.. Tidak salah karena masih banyak orang lain yang membutuhkan daging hewan tersebut jadi tempat penjagalan tidak akan mengurangi kuota pemotongan sedangkan tidak benar karena walaupun hanya satu orang saja yang menjadi vegetarian berarti ini sudah mengurangi nilai permintaan, mungkin kalau hanya 1 belum berarti tapi misalkan vegetarian terus berkembang hingga 1000 orang misalnya berarti sudah mengurangi banyak sekali nilai permintaan yah otomatis tempat penjagalan juga harus mengurangi kuota penjualannya karena permintaan lebih sedikit
buat nonton film-film seperti itu juga tidak sepenuhnya salah karena membuat kita lebih memahami dan merasakan Duka makhluk hidup lain yang disebabkan nafsu kita (keinginan buat mengkonsumsi daging)
January 3rd, 2009 at 22:23
Sangat tidak logis yang mengatakan populasi hewan2 akan mengancam manusia. Hewan2 yang dimakan manusia tidak lahir dan tumbuh secara alami, tapi melalui PRODUKSI. Jadi sangat tidak logis jika hewan2 tidak dimakan trus akan mengancam kehidupan manusia. Untuk vcd itu kalo gak salah namanya Crying Life, bisa didapatkan di IVS (indonesia Vegetarian Society) webnya http://www.ivs-online.org
October 31st, 2008 at 22:48
Hati-hati aja kalo nonton film-film pembantaian seperti itu, itu bisa menjadi suatu kecenderungan citta bila terlalu dihayati, akibatnya ketika cuti-citta (kesadaran menjelang kematian) muncul dan gambaran-gambaran pembantaian seperti itu yang muncul bisa fatal karena dapat menyebabkan kelahiran kembali di alam-alam menyedihkan seperti peta & ashura.
Kalo memang mau vegetarian, bulatkan tekad aja (adhittana), memangnya perlu liat film-film gituan?? Saya pribadi sangat tidak menyarankan sdr/i se-Dhamma untuk melihat film-film seperti itu.
Vegetarian atau tidak itu terserah, namun cara-cara yang ditempuh dalam praktek yang kita yakini juga jangan sampai salah.
Akhir kata, tidak ada praktek Dhamma yang lebih baik dan memberikan hasil langsung kecuali Vipassana Bhavana…
October 31st, 2008 at 01:26
kalau pembunuhan yg dijadikan patokan apakah dengan tidak mengkomsumsi makanan yg bernyawa penjagalan. binatang tidak akan terjadi? bagaimana dengan jumlah populasi binatang yg luar biasa yg bisa mengancam kehidupan manusia.apakah pembunuhan makhluk hidup bisa dihentikan.bagaimana dengan kendaraan bermotor yg setiap harinya merenggut nyawa makhluk hidup termasuk manusia.apakah ketika memasak sayuran tidak ada makhluk hidup yg terbunuh?.cobalah direnungkan kembali alasan2 yg lebih logis lagi yg berdasarkan kebenaran bukan karena mencari pembenaran karena saya rasa vegetarian atau tidak adalah pilihan bukan keharusan,karena Sang Buddha sendiri tidak pernah mengharuskan murid2nya untuk vegetarian atau tidak.thank’s
October 28th, 2008 at 14:55
menurut saya itu semua datangnya dari hati,saya pribadi dibilang vegetarian yah masih suka makan daging tapi saya kebalikan dari bung parkit soalnya dirumah saya hampir semuanya vegetarian hanya saya sama papa saya yang nggak veggie tapi orang yang masak makanan yaitu mama vegie yah jadi lebih sering makan vegie dah enak juga kok. thanks namo buddhaya
pikiran,perasaan dan tindakan
buddha bless u
October 4th, 2008 at 18:14
Eh, Lina yang beruntung, tolong apa bisa saya dapatkan copy dari vcd tersebut, kebetulan saya mau buat materi masalah vegetarian
kalau bisa bagaimana caranya ?
Tq,
harmanto
September 5th, 2008 at 16:44
devadatta juga vegetarian………………bgs bgt kok.
September 5th, 2008 at 12:47
aku juga ingin vegetarian hanya aku belum pernah melakukan. aku memang jarang makan daging tapi masih tetap makan dan tidak beraturan.