Memahami Kurikulum Pendidikan Buddhis

Memahami Kurikulum Pendidikan Buddhis
Willy Yandi Wijaya

Pendidikan memegang peranan yang sangat fundamental bagi pengembangan berbagai ilmu, termasuk pengembangan ajaran Buddha. Pendidikan erat kaitannya dengan kurikulum dan tidak dapat dipisahkan. Hubungan kurikulum dan pendidikan adalah hubungan antara isi dan tujuan pendidikan.

Pengertian Kurikulum
Banyak sekali definisi kurikulum yang dikemukakan oleh para ahli pendidikan. Namun, secara garis besar kurikulum mempunyai dua arti. Arti pertama kurikulum mencakup pengertian yang sempit, yaitu: seperangkat mata pelajaran (materi) yang diajarkan pada lembaga pendidikan. Arti yang ke dua mempunyai pengertian yang lebih luas, yaitu: segala metode, cara, atau sistem pembelajaran yang diterapkan pada lembaga pendidikan, termasuk materi atau mata pelajaran yang diajarkan dan tempat pelaksanaan pendidikan. Dalam tulisan ini, penulis menggunakan pengertian kurikulum dalam arti luas.

Pengertian Pendidikan Buddhis
Pendidikan mempunyai arti proses pengubahan sikap atau tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Dalam arti singkat adalah proses atau cara dalam mendidik. Sedangkan kata “buddhis” menurut KBBI artinya penganut buddhisme (ajaran Buddha Gautama). Jadi pendidikan buddhis dapat diartikan sebagai suatu proses atau cara mendidik yang berlandaskan pemahaman terhadap ajaran Buddha. Selanjutnya, dalam tulisan ini pengertian pendidikan buddhis mengacu pada arti tersebut.

Tujuan Pendidikan Buddhis
Menurut Bhiksu Chin Kung, tujuan dari pendidikan buddhis adalah untuk mencapai kebijaksanaan. Kebijaksanaan yang dimaksud diukur dari sejauh mana tingkat delusi seseorang. Semakin seseorang menyadari dan memahami realitas kehidupan, maka tingkat kebijaksanaanya semakin tinggi pula.

Kurikulum Pendidikan Buddhis
Kurikulum pendidikan buddhis berarti segala metode, cara, atau sistem dalam suatu proses mendidik yang berlandaskan pemahaman terhadap ajaran Buddha dalam suatu lembaga pendidikan. Dari pengertian kurikulum dan pendidikan, dapat dilihat kaitannya, yaitu kurikulum dapat dipandang sebagai alat (metode) dan pendidikan dapat dipandang sebagai tujuan. Berarti kurikulum buddhis dapat dipandang sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan buddhis, atau kurikulum buddhis dapat dipandang sebagai alat bagi proses pembelajaran yang berlandaskan ajaran Buddha.

Materi Kurikulum Pendidikan Buddhis
Materi kurikulum pendidikan buddhis yang dimaksud mencakup mata pelajaran atau mata kuliah yang dipelajari oleh siswa/mahasiswa. Penulis akan membahas hal-hal yang fundamental yang diperlukan dalam menyusun materi kurikulum buddhis. Landasan materi kurikulum buddhis tentunya harus berdasarkan ajaran Buddha atau interpretasinya.

Materi kurikulum untuk siswa sekolah dasar adalah poin penting yang sangat perlu diperhatikan. Berdasar faktor psikologis, pola berpikir dan tindakan seseorang yang telah dewasa sangat dipengaruhi oleh pengalaman masa kanak-kanaknya. Oleh sebab itu, dalam merancang materi belajar bagi siswa sekolah dasar perlu diperhatikan faktor psikologis mereka. Materi buddhisme yang sangat penting bagi anak-anak usia sekolah dasar adalah materi yang realistis, bukan teori-teori buddhisme yang rumit. Materi untuk anak-anak sekolah dasar seharusnya sederhana dengan banyak contoh nyata dalam kehidupan.

Beda halnya dengan materi yang diajarkan pada siswa menengah atau mahasiswa. Materi dapat lebih bersifat teoritis, dari konsep-konsep dasar ajaran Buddha sampai konsep ajaran Buddha yang lebih rumit seperti Abhidhamma/Abhidharma.

Sebagai dasar, materi penting yang perlu diajarkan adalah:
Brahmavihara atau catur paramita, yang meliputi cinta kasih (metta/maitri), belas kasih/welas asih/kasih sayang (karuna), turut-berbahagia (mudita), keseimbangan-batin (upekkha/upeksha). Dalam materi ini, penekanan terutama pada konsep cinta kasih dan welas asih. Terutama untuk siswa sekolah dasar, konsep ini memegang peranan yang sangat penting bagi pembentukan karakter mereka, sehingga akan membentuk karakter yang berbudi ketika dewasa. Untuk tingkat yang lebih lanjut pengembangannya adalah pengajaran tentang etika atau moralitas buddhis, seperti contoh sila dan dana.

Kamma atau karma, yaitu hukum sebab-akibat. Konsep ini penting untuk mengajarkan seorang siswa/anak berpikir logis dan realistis. Dalam menjelaskan tentang hukum sebab-akibat ini, poin penting yang tidak boleh terlupakan adalah bahwa hakikat segala sesuatu adalah saling-keterkaitan yang mempunyai hubungan sebab-akibat. Konsep saling-keterkaitan artinya adalah bahwa segala sesuatu dipengaruhi dan mempengaruhi. Tak lupa konsep ehipassiko juga diberikan dengan pemahaman yang benar, yaitu jangan percaya apa pun sebelum dibuktikan bahwa hal tersebut benar. Bukan menolak mentah-mentah suatu konsep yang belum terbukti, namun menyimpan konsep tersebut untuk diselidiki lebih lanjut.

Dua materi di atas mewakili dua aspek dalam pikiran (mental) manusia, yaitu logis dan psikologis. Dua aspek tersebut sangat penting dalam pendidikan buddhis sehingga akan menciptakan keseimbangan atau keharmonisan kehidupan.

Materi kurikulum seperti yang disebutkan di atas sudah ada dalam kurikulum agama Buddha saat ini. Namun, ada materi yang sangat penting yang kurang disadari oleh para pendidik buddhisme, yaitu tentang ekologi buddhis. Ekologi buddhis mengajarkan manusia agar menghargai lingkungan tempat hidup dan sumber kehidupan manusia. Materi tentang lingkungan, menurut penulis sangat penting untuk diajarkan kepada anak-anak sejak dini. Efek dari kehancuran lingkungan akan menghantam kembali kepada manusia dan mungkin menghancurkan kehidupan di bumi. Materi ekologi buddhis (lingkungan) dapat diajarkan sejak dini kepada siswa sekolah dasar dengan contoh nyata, yaitu buang sampah pada tempatnya. Bagi tingkat lanjut diberikan pemahaman bahwa sangat penting untuk menghargai lingkungan dengan menyadari tindakan sehari-hari yang tidak merusak lingkungan.

Metode Pendidikan Buddhis
Untuk memberikan materi pendidikan, diperlukan cara. Cara inilah yang dinamakan metode pendidikan. Terkait dengan materi pendidikan buddhis, maka metodenya dinamakan metode pendidikan buddhis. Metode pendidikan buddhis didefinisikan sebagai suatu cara atau sistem yang digunakan untuk pelaksanaan pendidikan buddhis, sehingga diharapkan tujuan pendidikan buddhis tercapai. Metode pendidikan juga termasuk dalam kurikulum pendidikan buddhis dalam arti luas. Dalam pelaksanaan pendidikan, banyak metode pendidikan yang dapat digunakan. Metode yang dapat digunakan dalam pelaksanaan pendidikan buddhis antara lain:

Metode langsung (belajar sendiri)
Metode ini mengharapkan siswa/anak belajar sendiri dan mencari materi sendiri melalui alat-alat pendukung pembelajaran buddhisme. Metode ini tepat jika diterapkan bagi siswa menengah atas dan mahasiswa.

Metode ceramah (searah)
Metode satu arah ini efektif bagi siswa/anak yang baru mengenal buddhisme. Metode ini cocok bagi siswa dasar terutama masih kanak-kanak.

Metode diskusi (dua arah)
Metode ini bisa dimanfaatkan dari siswa sekolah dasar sampai lanjut (mahasiswa atau orang tua). Metode ini lebih efektif untuk siswa sekolah menengah dan mahasiswa. Metode ini adalah metode yang sangat efektif bagi proses pembelajaran karena para peserta bisa menambah wawasan dan bertukar pengalaman.
Metode pendidikan buddhis yang paling sering digunakan dalam pembelajaran adalah metode ceramah (satu arah). Untuk siswa menengah dan lanjutan, metode diskusi sangat efektif dan diharapkan digunakan sesering mungkin.

Alat Pendukung Metode Pendidikan Buddhis
Untuk mendukung terlaksananya metode pendidikan, diperlukan sesuatu yang disebut alat pendukung. Alat pendukung dimanfaatkan dalam proses pendidikan, termasuk pendidikan buddhis. Alat-alat pendukung tersebut dapat dikategorikan dalam 2 golongan, antara lain:

Manusia, terdiri dari: orang tua, para pemuka agama/pendidik. Peranan orang tua, para pendidik sangat besar dalam mendukung metode pendidikan buddhis. Orang tua dan para pendidik akan dijadikan teladan bagi para siswa.

Benda, terdiri dari: buku, kaset, cd, internet, dan media pembelajaran lainnya. Dengan majunya kecanggihan teknologi, kecenderungan alat pendukung metode pendidikan akan bergeser ke media internet. Segala informasi dapat diakses melalui internet, sehingga informasi negatif pun dengan sangat mudah didapat melalui internet. Oleh sebab itu, pengembangan pendidikan buddhis yang akan datang harus memperhatikan segi yang satu ini, sehingga hal yang kurang baik dapat dihindari.

Wihara Sebagai Lembaga Pendidikan Buddhis
Sebagai alat, kurikulum pendidikan buddhis dilaksanakan oleh lembaga pendidikan. Biasanya materi kurikulum diberikan ketika pelajaran agama Buddha di sekolah atau di wihara. Bagi sebagian siswa, wihara merupakan tempat pembelajaran. Namun sayangnya masih banyak wihara yang belum memanfaatkan tempatnya sebagai tempat pembelajaran buddhisme.
Untuk mendukung wihara sebagai tempat pendidikan buddhis, diperlukan tenaga pendidik yang mendukung. Tenaga pendidik bisa berupa bhikkhu/bhiksu, guru agama Buddha atau siapa pun yang dianggap mampu. Tentunya para pendidik tersebut harus mampu memahami kurikulum pendidikan buddhis dan mampu mengembangkannya sesuai situasi dan kondisi. Saatnya bagi para pemuka buddhis mulai memanfaatkan wihara sebagai media pendidikan buddhis, selain sebagai tempat ritual.

Untuk mendukung wihara sebagai tempat pendidikan, diperlukan pengertian dan dukungan dari para orang tua dan juga metode pendidikan yang sesuai. Walaupun sudah ada orang tua yang mendukung pendidikan buddhis di wihara, namun masih terdapat banyak orang tua yang kurang peduli terhadap pendidikan buddhis anak-anaknya.

Tiga Metode pendidikan buddhis yang telah disebutkan sebelumnya dapat diterapkan di wihara. Metode ceramah biasanya paling banyak digunakan dalam pembelajaran buddhisme. Namun, jangan melupakan ke dua metode yang lain. Pada beberapa wihara, metode langsung (belajar sendiri) dapat diterapkan karena telah tersedianya alat pendukung seperti buku di perpustakaan. Metode diskusi biasanya jarang digunakan padahal metode ini yang paling efektif untuk menambah pengetahuan siswa. Diharapkan banyak wihara yang mulai aktif memanfaatkan metode diskusi sebagai salah satu metode pendidikan buddhis.

Oleh sebab itu diperlukan reformasi dalam organisasi wihara sehingga wihara bukan hanya sebagai tempat ritual, namun juga sebagai tempat pendidikan buddhis yang bisa menerapkan suatu kurikulum pendidikan buddhis yang baik, sehingga diharapkan generasi buddhis selanjutnya akan lebih baik dalam memahami ajaran Buddha dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Keluarga Sebagai Pusat Pendidikan Buddhis
Salah satu tempat yang sangat penting sebagai pusat dari segala pendidikan buddhis adalah keluarga. Keluarga adalah poin terpenting dalam pembentukan karakter.

Pendidikan dalam keluarga dapat dilihat sebagai suatu sistem yang dapat menerapkan poin penting kurikulum pendidikan buddhis seperti yang telah disebutkan, yaitu etika buddhis, sampai ekologi buddhis. Di dalam keluarga, tiga metode pendidikan buddhis bisa diterapkan sesuai dengan situasi dan kondisi. Untuk anak-anak (balita) sampai sekolah dasar kelas metode ceramah (satu arah) dapat dimanfaatkan, walaupun metode diskusi juga bisa.

Untuk itulah orang tua harus memahami hakikat ajaran Buddha sehingga bisa diajarkan kepada anak-anaknya. Materi yang perlu diajarkan sejak dini kepada anak-anak adalah konsep cinta-kasih dan bagaimana berpikir bijaksana. Tidak lupa ketika beranjak dewasa, anak-anak diberi pengertian yang jelas tentang hakikat dunia yang saling keterkaitan yang mempengaruhi dan dipengaruhi (sebab-akibat yang saling keterkaitan) dan bahwa segala sesuatu akan selalu berubah.

Para orang tua juga harus memberikan contoh yang baik, seperti membuang sampah pada tempatnya, mengajak anaknya ke wihara, mengajarkan sopan-santun, dan berbagai hal yang positif. Jangan sampai sebagai orang tua, memberikan contoh yang buruk, seperti membuang sampah lewat jendela mobil, malas ke wihara, dan sebagainya. Jadi, diharapkan dukungan orang tua terhadap pendidikan buddhis anak-anaknya untuk saat ini dan masa mendatang akan semakin baik.

Kesimpulan
Kurikulum pendidikan buddhis erat kaitannya dengan pendidikan buddhis. Kurikulum dapat dipandang sebagai proses, alat, atau metode dan pendidikan dapat dipandang sebagai hasil atau tujuan. Untuk mencapai tujuan pendidikan buddhis diperlukan dukungan dari kurikulum pendidikan buddhis yang baik. Kurikulum pendidikan buddhis meliputi materi kurikulum, metode pendidikan, alat pendukung metode, dan tempat pelaksanaan kurikulum (wihara dan keluarga).

Materi kurikulum yang baik mencakup dua aspek yaitu logis dan psikologis. Konsep cinta kasih dan kebijaksanaan merupakan konsep dasar yang perlu diberikan. Konsep kesalingterkaitan (sebab-akibat) sangat penting dipahami dan sebagai tambahan yang penting yang jangan sampai dilupakan adalah tentang lingkungan (ekologi buddhis).

Untuk memberikan materi kurikulum, diperlukan metode pendidikan. Metode yang dapat digunakan dalam pendidikan buddhis ada tiga yaitu: metode langsung (belajar sendiri), metode ceramah (satu arah), dan metode diskusi (dua arah).

Metode yang digunakan disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Dan dalam pelaksanaannya, diperlukan alat pendukung antara lain orang tua, para pendidik termasuk pemuka agama dan media pembelajaran (buku, kaset, cd, internet).

Tempat pelaksanaan kurikulum pendidikan buddhis adalah di sekolah atau wihara dan sebagai pusat pendidikan buddhis adalah keluarga. Keluarga memegang peranan yang sangat fundamental dalam pembentukan karakteristik seorang anak. Oleh sebab itulah orang tua harus menjadi teladan bagi anak-anaknya.

Daftar Pustaka
Dakir, H. 2004. Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum. Jakarta: Rineka Cipta.
Kung, Chin. 2006. Buddhisme Sebagai Sebuah Pendidikan. Jakarta: Dian Dharma.
Nasution, S. 1999. Asas-asas Kurikulum. Jakarta: Bumi Aksara.
Nurgiyantoro, Burhan. 1988. Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum Sekolah (Sebuah Pengantar Teoritis dan pelaksanaan). Yogyakarta: BPFE.
Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. 2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Jakarta: Balai Pustaka.
Lihat Nurgiyantoro (1988), hal. 1
Lihat Nasution (1999), hal. 4 dan Dakir (2004), hal. 4
Lihat KBBI(2003), hal. 617
Lihat KBBI(2003), hal. 263
Lihat Dakir (2004), hal. 22
Ekologi buddhis artinya adalah ekologi perspektif buddhis.
Baru-baru ini para ilmuwan membuat pernyataan bahwa kerusakan lingkungan (pemanasan global, pencemaran udara, dan lain-lain) yang dibuat oleh manusia dalam paruh abad-20 telah berakibat kenaikan suhu udara (sedang terjadi) sampai suhu tertentu sehingga akan terjadi kenaikan permukaan laut antara 18 cm sampai 59 cm dalam abad-21. Prediksi para ilmuwan, kemungkinan tahun 2030, 2000 pulau di Indonesia akan tenggelam. Efek selanjutnya berbagai flora dan fauna akan mati dan kemungkinan akan terjadi kelaparan secara besar-besaran! Dan mungkin efek lanjutannya terjadi kekacauan (perang) karena kelaparan. (Kompas, Jumat, 13 April 2007)
Kata “wihara” sesuai dengan KBBI. Kata “vihara” sendiri berasal dari bahasa Pali. Jika menggunakan kata “vihara”, sesuai dengan aturan bahasa Indonesia harus dimiringkan, karena merupakan bahasa asing.

  • http://PENYEJUKSADDHABUDDHANI Ali Sasana Putra

    To Willy Yandi

    Namo Buddhaya,

    Pada dasarnya artikel anda sudah mencukupi nilai-nilai di bidang pendidikan menurut cara pandang agama Buddha.

    Namun kalu boleh saya tambahkan, bahwa pendidikan Buddhis saat ini sudah mulai berkembang. Memang standarnya belum memenuhi kualitas bila dibandingkan dengan saudara-saudara kita non Buddhis yang sudah mulai berkiprah dibidang pendidikan sejak dulu kala.

    Kalau saya lihat langsung di sekolah maupun di vihara-vihara ada 2 hal pendidikan Buddhis yang masih sangat-sangat dikembangkan yaitu:
    1. Kualitas guru pengajar sebagai nara sumber ataupun fasiltator masih harus banyak mengikuti training-training pedagogik umum maupun konsep dasar Buddha Dhamma. Contoh: masih ada guru agama Buddha yang notabenenya bukan dari jurusan Dharmacariya, namun ia hanya sering datang ke vihara ataupun sekedar beragama Buddha mengetahui sedikit Dhamma, Sorry, sudah berani mau mengajar Buddha Dhamma. Mungkin kurangnya guru agama Buddha jurusan Dharmacariya. Bagaimana jadinya siswa-siswi Buddhis kita???
    2. Pendekatan atau transfer ilmu yang harus di kuasai oleh seorang guru.
    Ada beberapa kualitas siswa-siswi yang harus kita ketahui di dalam kelas sewaktu mengajar:
    a. Siswa jenis visual artinya siswa-siswi ini dalam pembelajarannya harus menggunakan pendekatan melalui visual/gambar. Sebagai guru yang baik seyogyanya kita harus memakai teaching aid berupa gambar-gambar. Bila tidak, betapa tidak fairnya kita sebagai guru! Inilah yang sering terjadi di dalam kelas terhadap siswa Buddhis yang mengatakan bahwa agama Buddha sangat sulit dimengerti. Untuk saudara kita yang Kristiani mereka sudah mengunakan metode ini untuk anak-anak dengan memakai Bible Gambar. Bagaimana dengan Buddhis???
    b. Siswa jenis audio artinya siswa-siswi dalam pembelajarannya cukup hanya dengan mendengar saja maka ia sudah mampu menangkap materi yang disampaikan. Sehingga bila kita menerangkan materi dengan teliti menggunakan gambar atau yang lainnya ia akan merasa bosan dan cenderung mengganggu temannya sehingga ada guru yang mengatakan bahwa siswa ini sangat nakal. Sungguh tidak fair mengatakan anak ini adalah anak ‘nakal’ . Kita sering mendengar bahwa anak pintar cenderung nakal. Apakah sebagai guru kita telah mengetahuinya???
    c. Siswa Kinestetik artinya siswa-siswi dalam pembelajarannya harus melakukan sesuatu untuk mencapai target pembelajaran ataupun melihat bentuk konkretnya (3 Dimensi). Contoh: materi berdana, Siswa ini harus melakukan dana kepada teman atau guru sebagai bentuk kinestetiknya untuk mencapai target pembelajaran.

    Hal ini bukan berati bahwa anak audio lebih pintar dari pada visual ataupu anak visual lebih pandai daripada anak kinestetik!!!

    Melainkan cara guru melalui pendekatan tersebut sehingga anak didik kita mengerti! Apabila mereka telah mengerti maka materi yang telah kita sampai akan terus mereka praktrikkan sebagai bentuk hasil dari pengertian kurikulum secara luas.

    Terima kasih
    Best regard
    Ali

  • johan3000

    trims bro Willy atas posting yg amat panjang….

    Dapatkah semua guru2 Buddhist se Indonesia diberi kesempatan 6 menit menerangkan 4K (kebenaran mulia) dan direkam dlm DVD… nah yg terbaik (mudah dimengerti, menarik, dan BENAR penjelasannya) selain mendapatkan juara juga menjadi bahan MULTIMEDIA LEARNING yg dibagikan secara gratis ke semua sekolah Buddhist…

    Sehingga semua sekolah2 Buddhist memiliki cuplikan2 video tentang pembelajaran ajaran Buddha yg sangat berkwalitas, menyenangkan, dll…..

    Kemudian dpt dibuat pertandingan lagi…. murid2 mengajukan pertanyaan2 tentang ajaran tsb (spt 4K)… nah pertanyaan-pertanyaan yg bagus2 tsb akan disisipkan dlm DVD tsb …. sehingga murid yg baru bukan hanya belajar dari guru, tetapi juga belajar dari murid sendiri….(yg kira2 spt weblog… begitulah)… dan saya yakin selain biaya pembuatannya tidak mahal, sekolah dpt mendapatkan “guru”(DVD) terbaik….

    Mutu belajar yg baik bagi murid tidak HARUS MAHAL koq!

    Bagaimana menurut yg lain?

  • Adiharto

    Komentar dan ide sdr. Ali cukup bagus, tapi saya melihat bahwa pendidikan pelajaran Agama Buddha di Indonesia masih jauh untuk bisa MENARIK MINAT dalam arti Para siswa-i yang sesudah belajar BUDDHA DHAMMA, harusnya sudah punya Keyakinan yang lebih bagus terhadap Dhamma yang pernah dipelajari, tapi kenyataan TIDAK DEMIKIAN.
    Mengapa ? pendapat pribadi saya, bahwa pelajaran AB, perlu REFORMASI TOTAL dalam hal mengenai 1.) Staf/Guru Pengajar (Penguasaan Dhamma seperti penjelasan Sdr. Ali), kemudian 2.) Cara Mengajar dan 3.) Materi Pelajaran (penting sekali) tetapi untuk cara ke-3 ini susah diubah, karena masih terkait dengan ‘kondisi’ di Indonesia, dan masalah yang ke 3 ini, membuat saya jadi pepsimis untuk pendidikan AB bisa bagus, sehingga sesuai dengan ajaran Buddha Gotama, dimana para umat Buddhis bisa melaksanakan ajarannya dengan baik serta memahami pengertian 4 KB dengan benar, memahami sutta-sutta yang penting, misalnya Mangala Sutta, Metta Sutta, Ratana Sutta ( dari ketiga sutta ini saja kalau dipahami dengan benar pasti banyak banyak menghasilkan siswa-i yang baik dan benar)

    Tapi kenyataan di Indonesia hanya mengharapkan umat Buddhis yang punya niat belajar sendiri yang lebih mengenai Buddha Dhamma (Ehipasiko).
    Dan kenyataan lebih banyak umat Buddhis disini yang masih mempercayai adanya ‘makhluk pencipta/pengatur alam semesta ini’ dan sehari-hari dalam ‘sembahyang’ (pegang hio) lebih banyak ‘meminta’ dari pada berbuat, misalnya menjalankan praktek Dhamma seperti jalankan 5 sila dan belajar meditasi.

  • willyyandi

    saran-saran dari rekan-rekan sangat bagus

    mudah-mudahan ada pendidik atau para pembaca ikut berpartisipasi mendukung model pendidikan buddhis yan baik.

    trims
    salam

  • http://www.thematrix.org Neo

    Menurut saya, untuk memberikan pelajaran Agama Buddha (ini kalau diasumsikan ajaran Guru Buddha adalah sebuah agama) tidak bisa dilakukan dengan cara yang sama dengan yang lain.

    Hal ini terhubung erat dengan dasar-dasar dari apa yang diajarkan oleh Sang Buddha itu sendiri.
    Kalau belum apa2 sudah dicekoki oleh Catur Ariya saccani, Panca niyama Dhamma, de el el…
    Tentunya hal itu langsung menjadi teori yang membosankan.

    Sedangkan landasan dasar ajaran dari Buddha Dhamma adalah Ehipassiko.

    Saya bersetuju bilamana memang harus ada dan diajarkan mulai tingkat bawah (SD/SMP) maka pengertian moralitas dan rasionalitas itulah yang paling cocok diajarkan.

    Agar anak2 kita menjadi manusia yang realistis, rasional dan mempunyai kecintaan terhadap kebenaran dan menghormati alam semesta beserta segala isinya.

    dan tidak harus juga mempunyai istilah pali yang mungkin masih asing untuk seumuran mereka.

    Mengajarkan moralitas dan rasional pun harus dengan praktek seperti halnya kita belajar Buddha dhamma harus selalu kita selami dan renungkan dengan mempraktekannya didalam kehidupan sehari-hari…

    Neo

  • willyyandi

    sdr. Neo
    benar yang anda katakan. konsep2 buddhis perlu dipahami pendidik sehingga bisa menjelaskannya dengan bahasa awam. semakin paham seseorang, ia akan bisa menjelaskan dengan bahasa yang amat sangat sederhana

  • andini tiks

    aku mo tny donk…

    dimana aku bisa dptin buku yg berjudul “memahami agama buddha dan tri dharma dgn cara yg benar”

  • Taridi

    bener yang di sampaikan pak sasana. tetapi kita perlu ikut serta terlibat bagaimana mengembangkan pendidikan agama buddha yang sesuai dengan perkembangan jaman. khususny apabila di kaitkan dengan teknologi agar para siswa mampu mengaplikasikan ajaran buddha dalam kehidupan saat ini. kebanyakan kita mengajar hanya memfokuskan pada kemampuan kogniktif saja, hal itu yang menyebabkan PAB kita sulit untuk berkembang. masalah lain kurangnya kepedulian terhadap guru agama pun perlu mendapat sorotan yang besar. sekarang sudah banyak lulusan PTAB-PTAB tetapi masih kurang di perhatikan, tidak sedikit dari mereka yang nganggur sampai sekarang. sebagian dari mereka yang berkerja pun merasakan kebosanan menghadapi siswa yang terlalu sedikit dan gaji yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup apabila mengandalkan dari gaji mengajar saja.