Makna Hari Raya Waisak

Makna Hari Raya Waisak
Willy Yandi Wijaya

Salah satu hari raya agama Buddha adalah hari raya Trisuci Waisak. Kata “Waisak” sendiri berasal dari bahasa Pali “Vesakha” atau di dalam bahasa Sansekerta disebut “Vaisakha”. Nama “Vesakha” sendiri diambil dari bulan dalam kalender buddhis yang biasanya jatuh pada bulan Mei kalender Masehi. Namun, terkadang hari Waisak jatuh pada akhir bulan April atau awal bulan Juni.

Hari Raya Waisak sendiri dikalangan umat Buddha sering disebut dengan hari raya Trisuci Waisak. Disebut demikian karena pada hari Waisak terjadi tiga peristiwa penting, yakni kelahiran Pangeran Sidhartha Gautama, tercapainya penerangan sempurna oleh Pertapa Gautama, dan mangkatnya sang Buddha Gautama. Tiga kejadian tersebut—kelahiran, penerangan, kematian— terjadi pada hari yang sama ketika bulan purnama di bulan Waisak.

Biasanya pada hari waisak, umat Buddha merayakannya dengan pergi ke wihara dan melakukan ritual puja-bhakti. Harus dimengerti bahwa umat Buddha melaksanakan ritual puja-bhakti adalah bertujuan untuk mengingat kembali ajaran sang Buddha, menyontoh perilaku sang Buddha dan melaksanakan ajaran agama Buddha. Bagi umat Buddha, hal tersebut berarti menaati peraturan moral, seperti menghindari pembunuhan makhluk hidup, mencuri, berbuat asusila, berbohong dan mabuk-mabukkan. Selain kelima larangan tersebut, umat Buddha ketika hari Waisak biasanya mengembangkan cinta-kasih dengan cara membantu fakir-miskin atau mereka yang membutuhkan, melepas hewan (biasanya burung) sebagai simbol cinta-kasih dan penghargaan terhadap lingkungan, serta merenungkan segala perbuatan yang telah dilakukan apakah baik atau buruk sehingga diharapkan di masa mendatangkan tidak mengulangi perbuatan yang buruk yang dapat merugikan.

Waisak sebagai sebuah hari raya agama Buddha bisa memberikan contoh yang positif kepada setiap orang. Contoh positif yang dapat diteladani adalah pengembangan cinta-kasih kepada setiap makhluk hidup. Wujudnya bisa berupa berdana membantu mereka yang membutuhkan, mendonorkan darah, menjaga lingkungan sekitar dengan hidup sederhana atau perbuatan-perbuatan baik lainnya. Akhirnya satu harapan besar dari hari Waisak tersebut adalah bahwa setiap manusia diharapkan dapat merenungi segala perbuatannya dan setiap saat selalu hidup dengan rasa cinta-kasih tanpa kebencian, seperti yang tertulis di dalam Dhammapada, “Kebencian tidak akan selesai jika dibalas dengan kebencian, tetapi hanya dengan memaafkan dan cinta-kasihlah maka kebencian akan lenyap.”

  • sinato

    salam bahagia selalu…..saya Sinato dari majalah Sinar Padumuttara…. saya mau tanya, kl saya mau menyadur atau mengambil artikel yg ada di web ini dan di publikasikan di majlah kita caranya bagaimana….? dan saya harus menghubungi siapa????? Terima kasih Sinato ( 021. 92660952 )

  • sinato

    Majalah Sinar Padumuttara
    Pesan: hai… teman2 salam bahagia selalu…
    Vihara Padumuttara akan menerbitkan
    Majalah Sinar Padumuttara yang akan di
    launcing tanggal 08 Mey 2008. Majalah
    ini akan dikerjakan secara profesional,
    dimana majalah ini akan dibagikan
    secara geratis sebagian besarnya dan
    sebagian kecilnya akan di jual di bursa
    vihara2 dan toko buku ternama. nah
    sumber dananya sendiri terbagi 3, yang
    pertama dari Iklan( sponsor ) donatur,
    dan penjualan majalah itu sendiri.
    nah… bagi teman2 yang ingin turut
    berpatisipasi dalam penyebaran buddha
    dhamma melalui majalah Sinar
    Padumuttara dapat membantu dengan cara
    menjadi sponsor ( iklan ) berdana. Dan
    tidak kalah penting jika teman2 punya
    artikel yang bagus mengenai
    Buddhadhamma dapat dikirimkan ke email
    kita di
    redaksi_sinarpadumuttara@yahoo.co.id,
    sedankan jika teman2 ingin membantu
    dari segi pendanaan majalah dapat
    menghubungi Sinato di No tlp.
    021.92660952 atw 081310542902.
    partisipasi dan dukungan dari rekan2
    sedhamma akan selalu menjadi semangat
    kerja team majalah Sinar
    Padumuttara… Salam Bahagia dan
    Semangat selalu…. Sinato