Pikiran Positif Kunci Menuju Kebahagiaan
Hedi Kasmanto, S.Farm.,Apt.

Kita sebagai manusia tidak terlepas dari kemarahan. Sering kali kita dihadapkan persoalan baik masalah kerja, masalah keluarga, masalah percintaan yang menyebabkan kita kerap kali dilanda kemarahan. Ketidaksesuaian yang dilakukan orang lain dengan apa yang kita inginkan menyebabkan kita kecewa dan marah. Pertanyaan-pertanyaan seperti mengapa dia memperlakukan saya dengan buruk, mengapa dia menyakiti saya terus melanda kita. Dan semakin kita berusaha menjawab pertanyaan tersebut, semakin kita terlarut dalam kekecewaan tersebut. Selain itu, kita juga diliputi dengan keinginan untuk membalas dendam agar mereka dapat merasakan sakitnya seperti yang kita rasakan. Untuk ini kita perlu mengetahui dari mana semua ini berasal ? Apa yang menyebabkan diri kita ini marah ? Jawabannya adalah PIKIRAN.

Sebenarnya hal ini telah ditemukan oleh guru agung kita yakni Sang Buddha Gotama. Sang Buddha sendiri pernah bersabda bahwa pikiran adalah pelopor dan pembentuk yang merupakan ujung dari suatu tindakan. Intinya yang menyebabkan kita kecewa dan marah karena pelabelan pikiran akan suatu masalah. Masalah itu sendiri sifatnya netral. Mengapa bisa terjadi pelabelan oleh pikiran yang sifatnya negatif ? Hal ini tidak terlepas dari kamma dan kemelekatan kita sendiri. Kamma dan kemelekatan kita ini terjadi karena kebiasaan buruk yang sering kita lakukan akibat kita tidak mengendalikan pikiran. Kita selalu dilekati dengan keinginan-keinginan. Keinginan dihargai, keinginan dihormati, keinginan didengarkan. Bila keinginan tersebut tidak diwujudkan maka kita akan menderita. Padahal bila ditelusuri yang mewujudkan keinginan tersebut bukanlah kita, melainkan lawan interaksi kita. Dan masalah berikutnya kita sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikan lawan interaksi kita agar berbuat sesuai dengan yang kita inginkan.

Jadi kesimpulan yang dapat diambil di atas, ada dua komponen penting yang menyebabkan kita merasa kecewa dan marah, yaitu pelabelan pikiran yang bersifat negatif dan tindakan dari lawan interaksi kita. Dan seperti yang telah diuraikan, kita tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikan lawan interaksi kita. Jadi satu-satu caranya untuk menghindari terjadinya kekecewaan dan kemarahan adalah perubahan dari pelabelan pikiran kita sendiri. Pelabelan pikiran yang bagaimanakah yang dapat membantu kita menghindari kekecewaan dan kemarahan ? Jawabannya adalah pelabelan pikiran yang sifatnya positif.

Pelabelan pikiran positif dapat dilakukan dengan mengendalikan pikiran kita agar selalu berpikir positif. Berpikir positif dalam arti kita memandang segala sesuatu yang terjadi atau yang lawan interaksi lakukan sifatnya adalah membantu kita. Dengan berpikir positif dapat menciptakan suasana yang tenang dan damai dalam diri kita, dan kita pun merasa bahagia. Sebagai contoh, ketika seseorang memarahi kita, kita dapat berpikir secara positif mereka memarahi kita karena mereka peduli dengan kita, mereka mengharapkan kita agar menjadi lebih baik dengan kritik mereka. Selain itu dengan berpikir positif, kita dapat melihat seorang pemarah merupakan orang yang paling baik yang selalu memberikan kita latihan kesabaran. Bila kita renungkan, adakah uang yang bisa membeli sesuatu yang sama seperti hasil dari latihan kesabaran yang telah kita capai ? Jawabannya uang tidak akan dapat membelinya. Maka dalam hidup ini kita sangat membutuhkan pemarah-pemarah yang selalu memberikan kita latihan kesabaran agar dapat selalu berpikir positif.

Pertanyaan berikutnya, bagaimana caranya agar kita dapat selalu mengendalikan pikiran kita agar berpikir positif ? Caranya tidak lain dengan menyadari segala sesuatu yang sedang terjadi. Jadi biasakan diri kita untuk selalu bertanya pada diri kita sendiri apa yang sedang kita lakukan. Apakah hal yang kita lakukan ini sifatnya positif atau negatif? Dengan menyadari apa yang tengah kita lakukan, maka kita dapat mengatur pelabelan pikiran kita menjadi positif. Cara ini dapat juga dilakukan dengan praktek meditasi untuk memudahkan pikiran kita untuk fokus akan suatu hal. Dengan pelabelan pikiran positif, maka kita akan terlepas dari pikiran dan prasangka buruk dan otomatis akan membawa kebahagiaan untuk diri kita sendiri dan diri orang lain.

Tags: ,

9 Responses to “Pikiran Positif Kunci Menuju Kebahagiaan”

  1. 9
    johan3000 Says:

    Bagaimana dapat meningkatkan Pelabelan pikiran positif ?

    Belajar, belajar, belajar……………… terutama belajar dgn org bijaksana….

    Musuh termasuk di label mana menurut anda?
    Competitor termasuk di label mana menurut anda?
    Manusia menjengkelkan, menyebalkan termasuk di label mana?

    Kalau menurut Dalai Lama,
    MUSUH termasuk label guru kesabaran…..(guru yg memberi kesempatan bagi kita utk mempraktekkan kesabaran)

    bagaimana menurut yg lain?

  2. 8
    vava Says:

    hebat!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    i agree with u..
    but sometime i dun agree coz in this life,
    apa yang kita fikirkan kemabali lagi ke masing-masing dari kita..

  3. 7
    Hedi Kasmanto Says:

    Sang Buddha pernah mengajarkan mengenai Jalan Tengah, di mana menghindari dari kata “terlalu”

    Dalam hal ini IMO, kita juga harus menghindari “terlalu” berpikir positif.

    Sebagai contoh, kita berkunjung ke kebun binatang, kita melihat seekor macan. Kita dengan pikiran positif menjulurkan tangan ke dalam kandang macan tersebut. Apa yang terjadi ? Tangan kita akan putus dimangsa sang macan. Dalam hal ini menurut saya ini contoh terlalu berpikir positif.

    Hendaknya dalam berpikir positif diimbangi dengan kebijaksanaan / panna sehingga tidak berakhir dengan kekecewaan.

    Semoga dapat dipahami. Tolong koreksi bila ada kesalahan

  4. 6
    Tini Says:

    Saya mengerti maksud yang di sampaikan artikel ini. Tapi saya mempunyai 1 pertanyaan yang belum saya nemukan jawaban, bisa kah ada yg membantu menjawab pertanyaan saya ini?

    “Dengan berpikir positif sama dengan membohongi diri sendiri”.

    Saya selalu berusaha untuk berpikir positif, tetapi disisi lain saya merasa tengah membohongi diri sendiri dengan pikiran positif tersebut sehingga saya menjadi takut untuk berpikir positif, karena saya takut akan “kekecewaan”.

    Ketika kita sedang berpikir positif sementara kenyataan mengatakan sebaliknya yang menyakitkan sehingga menimbulkan kekecewaan.

    Please give me advice. Thanks

  5. 5
    felix Says:

    Good articel, hedi …

    Think Positif … Be Positif …

    _/\_
    Namaste.

  6. 4
    SILANANDA Says:

    Namo Buddhaya,
    Setuju saya.
    Sangat, sangat, setuju……!
    Namo Buddhaya.

  7. 3
    ROCH AKSIADI Says:

    Namo Buddhaya,
    Sungguh sangat menarik sekali artikel anda. Semoga mereka yang membaca dapat mengerti kebenaran ini. Terima kasih atas artikel perdananya mudah-mudahan artikel ini bisa bermanfaat bagi pembaca semuanya. Semoga kita semua dapat mengendalikan kemarahan dan kekotoran batin yang bisa meracuni pikiran kita. Semoga kita semua maju dalam dhamma.
    Namo Buddhaya.

  8. 2
    Hedi Kasmanto Says:

    Thanks.. tulisan perdana neh.. Maklum masih nubi.. Mohon koreksinya selalu

  9. 1
    Hikoza83 Says:

    be a good man.
    great, bro Hedi. ^^

    By : Zen

Leave a Reply

Powered by WP Hashcash