Hati yang Lembut

Hati yang Lembut
Willy Yanto Wijaya

Sewaktu penulis masih kuliah di ITB, biasanya setiap kali penerimaan mahasiswa baru, KMB (Keluarga Mahasiswa Buddhis) ITB seringkali mengadakan mentoring mengenai Buddhisme. Mentoring biasanya mencakup sharing mengenai riwayat hidup Buddha Gautama dan ajaran-ajaran dasar Beliau. Penjelasan mengenai riwayat hidup Sang Buddha tersebut biasanya selalu ditekankan pada aspek-aspek keajaiban (miracles) baik ketika masa Pangeran Siddharta maupun setelah Beliau menjadi Buddha. Penulis merasa heran kenapa pembahasan selalu difokuskan pada keajaiban-keajaiban seperti ini (sebagai contoh: keajaiban ganda api dan air, berjalan tujuh langkah, dsb)? Memang, tidaklah salah untuk membahas hal ini. Tapi bukankah ada dua keajaiban dalam riwayat hidup Buddha yang lebih ajaib dan lebih indah untuk dibahas? Dua keajaiban ini adalah Kebijaksanaan dan Belas kasih (Wisdom and Compassion).

Sang Buddha sendiri telah mengajarkan pada kita bahwa Dhamma bukanlah agar kita memiliki keajaiban berjalan di atas air; Dhamma adalah untuk mengikis kualitas-kualitas mental negatif dalam diri kita. Dhamma is the miracle of education. Dhamma adalah suatu keajaiban pembelajaran bagi kita. Keajaiban Dhamma itu sendiri terletak pada kualitas pendidikannya, pada bagaimana Dhamma itu diterapkan dan dimanfaatkan bagi kebaikan diri kita dan semua makhluk.

Mereka yang semakin mendalami esensi dari Dhamma, hidupnya akan semakin simpel dan menyejukkan. Sederhana, tanpa pamrih, penuh semangat, namun memberikan kesejukan. Bacalah buku-buku Bhante Thich Nhat Hanh, Anda akan merasakan spirit yang begitu manusiawi dan menyentuh akar-akar spiritual kita. Ketika penulis mendengar ceramah Master Cheng Yen (pendiri Tzu Chi), penulis merasa begitu tersentuh, kata-kata Beliau terasa begitu lembut, sederhana, namun menggetarkan hati. Inilah “the real miracle” dari Buddha Dharma: kelembutan hati. Sebuah spirit dari welas asih dan kebijaksanaan.

Ketika masih menjadi pangeran, Buddha pun telah menunjukkan hati Beliau yang begitu lembut. Beliau memiliki belas kasih yang mendalam dan pandangan hidup yang penuh prinsip, sebagaimana tertuang dalam kisah berikut:

Suatu hari Pangeran Siddharta meninggalkan Rajagraha menuju sebuah kaki gunung tempat tinggal para petapa. Di tengah perjalanan, ia melihat debu berjatuhan dari gunung di tengah-tengah suara derap langkah hewan. Ketika mendekat, ia melihat ternyata kerumunan panjang itu adalah domba dan kambing yang sedang bergerak beriringan seperti sebarisan awan-awan. Hewan-hewan itu sedang diarahkan menuju kota. Di barisan belakang dari kerumunan itu, seekor anak domba berjalan tertatih-tatih dan pincang kesakitan, salah satu kakinya terluka dan berdarah. Pangeran Siddharta memperhatikan anak domba tersebut dan ibunya yang berjalan di depannya yang terus menerus melihat ke belakang, mengkhawatirkan anaknya yang masih kecil itu. Hati Pangeran Siddharta dipenuhi oleh rasa haru dan kasihan. Ia kemudian menggendong domba kecil yang kakinya terluka tersebut, dengan lembut merawatnya sambil berjalan di belakang mengikuti kerumunan hewan tersebut.

Ketika Pangeran Siddharta melihat si penggembala, ia bertanya, “Kemana kamu akan membawa kerumunan hewan ini? Bukankah biasanya mereka digiring pulang ketika hari menjelang senja?! Mengapa kamu menggiringnya di saat siang terik begini?” Si penggembala menjawab, “Raja akan mengadakan upacara pengorbanan besar-besaran hari ini, dan kami telah diperintahkan membawa seratus ekor domba dan seratus ekor kambing ke kota sebelum tengah hari.” Siddharta berkata, “Saya akan ikut denganmu.” Dia membawa domba kecil tersebut dengan kedua lengannya sepanjang jalan menuju kota. Berjalan di belakang kawanan domba, Siddharta akhirnya tiba di kota; kemudian ia pergi menuju istana tempat akan dilangsungkannya upacara pengorbanan.

Raja dan sekelompok pendeta pemuja api sedang menguncarkan ayat-ayat, ketika api yang besar bernyala-nyala di atas altar. Mereka akan segera membunuh kerumunan domba sebagai kurban, tapi ketika pemimpin dari pendeta pemuja api mengangkat pedangnya untuk menggorok leher domba pertama, Siddharta segera bergerak dan menghentikannya. Dengan sikap yang kalem dan penuh belas kasih, Siddharta berkata kepada Raja Bimbisara, “Yang Mulia, mohon jangan membiarkan para pendeta ini menghancurkan hidup hewan-hewan yang malang ini.” Kemudian ia berkata kepada orang-orang yang sedang berdiri sebagai saksi peristiwa tersebut, “Semua makhluk hidup bergantung pada kehidupannya. Mengapa manusia mesti melakukan kekerasan yang brutal terhadap hewan-hewan yang baik hati ini? Penderitaan dari kelahiran, penuaan, penyakit dan kematian sendiri secara alamiah akan mengakhiri kehidupan mereka.” Siddharta melanjutkan, “Jika manusia mengharapkan kebaikan dan belas kasih, semestinya mereka juga menunjukkan kebaikan dan belas kasih, sebab sebagaimana Hukum Sebab Akibat, ia yang membunuh, akan dibunuh. Kalau kita mengharapkan kebahagiaan di masa depan, tidaklah semestinya kita menyakiti makhluk apapun. Sebab siapapun yang menyemai benih-benih kesengsaraan dan kesedihan, niscaya akan memanen buah yang sama.” Sikap dan ucapan Siddharta membawakan rasa sejuk dan hati yang damai serta penuh welas asih, juga terdengar lugas dan berwibawa. Ia berhasil sepenuhnya mengubah pandangan Raja dan para pendeta pemuja api sehingga upacara pengorbanan dibatalkan.

Raja Bimbisara kemudian meminta Siddharta tinggal di negerinya untuk mengajar para penduduk agar menjadi welas asih. Pangeran Siddharta sangat berterima kasih secara mendalam, namun karena ia belum mencapai tujuannya, Pencerahan Sempurna, ia dengan rendah hati menolak undangan tersebut dan pergi.”

  • willy

    namo budhaya..
    memang benar, inti dari dhamma bukanlah untuk mendapatkan kemampuan2 gaib seperti berjalan diatas air,dll.
    tapi mungkin pengungkapan aspek2 keajaiban sengaja ditujukan kepada umat yang belum banar2 memahami dhamma -yang masih terikat dengan pentingnya mukjizat2-
    Sama seperti upacara2 ritual selalu dilaksanakan,tujuannya sebagian besar untuk memuaskan hasrat keagamaan. bukan artinya upacara2 tersebut sangat berarti/penting dalam budha dhamma, tapi untuk lebih meyakinkan umat(yang belum begitu paham) agar tetap memiliki keyakinan pada tiratana dan tidak berpindah kepercayaan. sampai saatnya nanti umat itu lebih memahami dhamma dan akhirnya dengan sendirinya ia melepaskan pandangan yang melekat terhadap keajaiban2..

  • Willy Yanto Wijaya

    Namo Buddhaya,

    terima kasih atas comment nya :)
    btw, ini willy siapa ya? he…he…

    Ya, memang benar sekali, manusia menyukai sesuatu yang menakjubkan, seperti keajaiban dan hal-hal di luar kelaziman.

    Tapi saya merasa Welas Asih dan Kebijaksanaan lah sebenarnya keajaiban yg jauh lebih indah, yang seringkali tidak kita sadari…
    Dua keajaiban inilah sebenarnya “essence” dari semua kedamaian hati dan kebahagiaan yang sejati…

    Salam, ;)

    –compassion is the heart of all peace and happiness–

  • indra

    namo buddaya willy,
    posting yg menarik :p
    aku rasa jg dhamma lebih menarik bukan dalam kemasan supranatural atau keajaiban2
    cia yoo…

    ohana means family,
    indra

  • Willy Yanto Wijaya

    Namo Buddhaya,
    ;) Ini Indra FT02 ya? Gimana kabar?

    Ternyata aktif juga di DC ya?
    Thanks ya atas comment nya ^^,

    -ohana means family. family means nobody left behind or forgotton-

  • johan3000

    Panitia KMB, mungkin bekas dukun2… jadi seneng dgn yg sakti2…

    spt dikatakan Buddha… kesaktian yg terhebat adalah membuat org jadi baik!…
    bukan makan kaca, dicambuk, dipukul, dibakar….. ataupun membuka durian..

    dasar ajaran Buddha yaitu 4M8J (mulai/jalan)…
    kalau cerita keajaaiban… itu lebih baik lihat kuda kepang makan beling aja…

    Panitia KMB mungkin sebaiknya konsultasi sama bante Utamo dulu…

    bagaimana menurut yg lain…

  • Willy Yanto Wijaya

    Ha…ha…

    Sebenarnya tidak bisa disalahkan juga panitia KMB… ^_^

    seperti comment no.1 dari bro willy, masih banyak yang terikat dengan keajaiban-keajaiban… itu hal alamiah dari psikologi manusia…

    Hanya saja sangat baik sekali apabila diskusi riwayat hidup Buddha Gautama juga diselingi dengan kisah-kisah yang mengajarkan kebijaksanaan dan kebajikan, seperti tentang Kisah Kisagotami, Perebutan Air Sungai Rohini, dsb.

    Dengan demikian, teman-teman mahasiswa yang baru juga memetik benefit dari Buddha Dhamma ^^

    Untuk bro Johan3000, thanks atas comment nya ;)

    Salam,

  • johan3000

    sedikit tambahan….bro…

    Kalau utk mahasiswa/siswi ITB
    keajaiban = mengerti tentang anica (tidak kekal, selalu berubah)…
    kebijaksanaan kan mengerti akan tidak ada yg kekal di dunia ini….

    Jadi kalau memperkenalkan ajaran Buddha melalui jalur KESAKTIAN…. wah itu malah salah kaprah…… jadi saya kurang setuju dgn comment #1……….. mSiswa/i ITB adalah manusia2 yg mampu berpikir jernih, analitis, praktis…. jadi sekali lagi jangan MEMPERKERUH… ajaran Buddha deh!…

    Umumnya manusia2 yg senang teknis (berpikir logis) sangat mudah menerima ajaran Buddha koq…

    (Buddha aja melarang muridnya mempraktekkan kesaktian… nah sekarang Panitia malah MEMPERKENALKAN/MENCERITAKAN hal2 tsb….)..

    gimana menurut yg lain?

  • Willy

    –compassion is the heart of all peace and happiness– ;)

  • Mr. Bagus

    Bagus,Bagus :D
    Sy spendapat dg Mas Willy,semua org memiliki latar belakang &ketertarikan pd object yg bebeda-beda.Jadi cerita keajaiban jg perlu namun lebih baik jg dilengkapi dg cerita wisdom,dll.
    Uda ada yg baca komik Boddhi No 1 dari Ehipassiko Foundation,yayasan nirlaba? di nomor perdana tsb hampir semuanya megambarkan kesaktian.cobalah kita renungkan alasan2nya mengapa sampai demikian.komik Boddhi adalah salah 1 proyek ekstra luar biasa dari Ehipassiko.saya sendiri meski bukan anak2 lagi,namun membaca komik Boddhi terasa sangat megetarkan hati.saya berpikir “proyek ini pasti membuat bangsa Indonesia menjadi lebih bijak di ultahnya yg ke 100 nanti,dimana orang2 mengenal/mlaksanakan dhamma tidak harus Budhist”.Bukankah proyek yg kita semua harus dukung dg cara kita masing2?

  • Selfy Parkit

    Mo ikutan donk,
    saya juga setuju dengan pendapat sdra. Willy 1, memang tidak semua orang punya pandangan dan pengertian yang sama dan itu tentunya membedakan kebijaksanaan masing2 orang. Memang ada kalanya ada orang yang menyukai agamanya dari segi2 kesaktiaan, dan mungkin malah ada orang yang percaya dengan guru spiritualnya yang punya kesaktiaan. Jadi, tidak disalahkan juga jika ada umat Buddha yang membahas Riwayat Hidup Buddha dari segi kesaktiannya. Namun memang pesan yang disampaikan Buddha kepada para muridnya untuk tidak menggunakan kesaktian ataupun memamerkan kesaktiannya, karena Buddha tahu hal itu bukanlah jalan untuk menuju kepembebasan (Nibbana).