Diskriminasi Perempuan Buddhis

Diskriminasi Perempuan Buddhis
Willy Yandi Wijaya

Hampir di semua peradaban besar dunia, perempuan selalu mendapat posisi ke dua setelah pria. Mungkin bagi Anda yang perempuan, saat ini Anda tidak begitu merasakan diskriminasi tersebut karena seiring berkembangnya zaman, diskriminasi mulai ditinggalkan. Saat ini yang ada hanya sisa-sisa diskriminasi perempuan yang masih halus, namun belum lenyap sepenuhnya. Di sini penulis akan memberikan gambaran diskriminasi perempuan di dalam kehidupan kehidupan umat Buddha dahulu hingga sisa-sisanya saat ini. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk memojokkan suatu pihak tertentu, namun hanya memberikan gambaran realita yang ada saat ini sehingga diharapkan pola pikir atau pandangan kita dapat lebih terbuka.

India kuno sebelum adanya Buddha Gotama sangat mendiskriminasikan perempuan. Ketika suaminya meninggal, seorang istri juga harus ikut dikremasi hidup-hidup. Bahkan tradisi seperti itu ternyata masih ada hingga akhir abad ke-20 (mungkin sekitar 1970-an dunia terkejut ketika mengetahui bahwa di suatu daerah di India masih ada tradisi yang mengerikan yakni ketika suaminya meninggal, wanita tersebut ikut mengantar kepergian suaminya dengan ikut dibakar). Bukan hanya di India. Di Cina, sejak dinasti Sung hingga awal awal abad ke-20, perempuan mengalami siksaan berupa ikat kaki. Balutan kaki yang dilakukan semenjak kecil, menghalangi pertumbuhan kaki perempuan sehingga ketika dewasa, ukurannya hanya sekitar 10-13 sentimeter. Kala itu masyarakat Cina memandang perempuan berkaki kecil adalah ideal dan yang berkaki besar tidak disukai bahkan mengalami penghinaan. Selain itu masih banyak bentuk diskriminasi terhadap perempuan di berbagai belahan dunia: dijadikan budak, bayi perempuan yang dibuang atau bahkan dibunuh karena tidak diinginkan (bukan penerus keluarga), poligami, dijadikan alat pemuas pria, dsb.

Sejak Buddha Gautama menyebarkan ajarannya, banyak yang tertarik untuk mengikuti beliau karena mengutamakan keadilan. Buddha menentang ketidakadilan kasta dan pendiskriminasian perempuan. Hal tersebut dapat kita temukan di dalam ajaran Buddha. Dikatakan bahwa baik pria maupun wanita bisa mencapai nirwana. Hal tersebut benar karena nirwana adalah kondisi di dalam batin atau pikiran seseorang. Nirwana adalah pikiran tanpa kebencian, keserakahan dan ketidaktahuan.

Lalu pertanyaan yang timbul adalah adakah diskriminasi perempuan di dalam kehidupan buddhis? Ya! Diskriminasinya antara lain:

Buddha tidak ada yang perempuan (dalam artian Buddha tertinggi, seperti Gotama) karena seorang Buddha harus mempunyai ciri-ciri Buddha berjumlah 32 (maha purusa)

Setelah Buddha meninggal—mungkin beberapa abad setelahnya—timbul pandangan bahwa kelahiran sebagai perempuan lebih rendah karena karma buruk kelahiran sebelumnya. Jadi ada anggapan sampai saat ini bahwa kelahiran sebagai perempuan karena akibat karma buruk masa lampau dibanding kelahiran sebagai laki-laki.

Di Kitab Jataka Pali (cerita kehidupan lampau Buddha Gotama sebagai Bodhisatta) Bodhisatta tidak pernah terlahir sebagai seorang perempuan, padahal sebagai hewan ada dalam cerita tersebut. Jataka adalah cerita yang bukan dari Buddha sendiri atau dengan kata lain adalah teks tambahan yang disusun ketika penyusunan Tripitaka.

Semenjak Sangha Bhikkhuni ada, umur Sangha Bhikkhu akan menjadi setengahnya dari 1000 tahun menjadi 500 tahun.

Cerita penolakan Buddha sebanyak 3 kali terhadap ibu tirinya yang ingin ditahbiskan menjadi bikkhuni. Akhirnya Buddha menerima bhikkhuni dengan syarat 8 garu dhamma.

Delapan garu dhamma atau delapan aturan keras bagi bhikkhuni, dua diantaranya adalah:
Seorang bhikkhuni, walaupun sudah menjalankan sampai 100 tahun kebiksuniannya, harus menyapa dengan hormat terhadap seorang bhikkhu walaupun bhikkhu tersebut baru sehari menjadi biksu.

Seorang bhikkhuni tidak diperbolehkan untuk menasehati seorang bhikkhu, namun seorang bhikkhu boleh menasehati seorang bhikkhuni.

Kita akan membahas diskriminasi perempuan buddhis seperti yang disebutkan dan akibatnya hingga saat ini. Ciri-ciri Buddha yang berjumlah 32 (mahapurusa) salah satunya adalah alat kelamin laki-lakinya terbungkus oleh selaput, membuat banyak penganut Buddha tradisi Therawada meyakini bahwa Buddha haruslah seorang pria. Padahal di dalam teks Therawada sendiri (Tripitaka Pali) dikatakan bahwa Buddha adalah orang yang tercerahkan yang mencapai nibbana (nirwana), yaitu terbebas dari keserakahan (lobha), kebencian (dosa) dan ketidaktahuan/kebodohan batin (moha). Bahkan di Tripitaka Pali banyak disebutkan bahwa perempuan juga bisa mencapai pencerahan. Jadi sangat tidak masuk akal jika dikatakan bahwa perempuan tidak bisa menjadi Buddha. Pemikiran inilah yang kemudian berkembang di dalam pemikiran buddhisme tradisi Mahayana sehingga ada konsep Buddha wanita. Dan mungkin kita perlu meragukan keaslian konsep mahapurusa atau 32 ciri Buddha apakah memang dari Buddha sendiri atau tambahan yang dibuat untuk meninggikan beliau sehingga masyarakat pada saat itu lebih bisa meyakini beliau.

Anggapan dilahirkan sebagai perempuan lebih rendah mungkin karena desakan kaum brahmanisme pada saat itu yang semakin kuat (sekitar abad ke-3 sebelum masehi). Apalagi ditambah dengan anggapan bahwa Buddha haruslah seorang laki-laki sehingga saat ini masih ada sebagian kecil umat Buddha yang menganggap kelahiran sebagai wanita adalah lebih rendah, padahal perempuan juga bisa mencapai nirwana atau setara dengan Buddha.

Mahayana adalah buddhime yang lebih liberal. Mahayana sendiri terdiri dari berbagai macam tradisi-tradisi kecil. Sebagian pemikiran Mahayana mengangkat kaum perempuan sehingga dalam Jataka Cina dapat ditemukan bodhisatta yang terlahir sebagai perempuan sebelum akhirnya terlahir sebagai laki-laki yaitu Buddha Gotama. Namun, hal tersebut dirasa tidak sesuai dengan ajaran Buddha sehingga pada akhirnya lahir konsep Buddha Perempuan di Cina yang terwujud dalam awalokiteswara (guan-yin). Untuk membuat kesejajaran gender, dikembangkan konsep bodhisatwa. Bodhisattva mempunyai pengertian yang lebih luas daripada bodhisatta, yaitu orang yang mampu menjadi Buddha namun tidak langsung memasuki nirwana, tetapi mengabdikan dirinya demi makhluk lain. Jadi Bodhisatwa bukan hanya ada satu orang seperti halnya dalam bodhisatta. Evolusi Bodhisatwa guan-yin menjadi perempuan juga memberikan dampak penghormatan terhadap perempuan dan memberikan arti bahwa perempuan juga bisa menjadi Buddha.

Diskriminasi selanjutnya adalah terhadap bhikkhuni. Dikatakan sejak awal kemunculan sangha perempuan, sangha bhikkhu akan berkurang umurnya. Namun, kenyataannya sangha Mahayana hingga saat ini yang mempunyai biksuni tetap bertahan dan bahkan salah satu biksuninya amat dihormati (biksuni Cheng-Yen, pendiri Tzu Chi).

Dikatakan juga Buddha menolak tiga kali permintaan ibu tirinya untuk menjadi bikkhuni. Mungkin pada kasus ini, ibu tirinya adalah seorang ratu sehingga jika Buddha menerimanya, akan terjadi ketidakstabilan politik kerajaan dan Sangha Bhikkhu akan mengalami masalah. Buddha adalah orang yang sangat bijaksana sehingga beliau berhati-hati ketika mengambil keputusan. Atau mungkin saja cerita penolakan tersebut belakangan timbul untuk maksud tertentu.

Selanjutnya adalah delapan garu dhamma atau delapan aturan keras yang dua diantaranya disebutkan sebelumnya. Ini terkesan sangat merugikan bikkhuni. Pertanyaannya adalah mengapa bhikkhuni tidak boleh menasehati bhikkhu? apakah kebijaksanaan bhikkhuni/perempuan lebih rendah dari bhikkhu/laki-laki? Tentunya kita semua sudah sangat jelas mengenai ajaran Buddha di mana kebijaksanaan seseorang tidak ditentukan oleh jenis kelaminnya. Jadi mengapa peraturan itu ada? Temuan terkini mulai meragukan sumber peraturan tersebut apakah memang dari Buddha Gotama sendiri atau dibuat belakangan.

Setelah kematian Buddha, ucapan-ucapan beliau belum ditulis. Hanya diturunkan melalui ucapan-ucapan dari satu generasi ke generasi selanjutnya, sehingga memungkinkan adanya penafsiran-penafsiran atau tambahan-tambahan di dalam kitab suci Tripitaka. Tripitaka Pali (Therawada) ditulis 4 abad setelah kematian Buddha sehingga ada kemungkinan tidak sama persisi seperti yang Buddha katakan. Begitu pula Tripitaka Cina (Mahayana) dan sutra-sutra tambahan dibuat beberapa abad setelah kematian Buddha. Namun demikian, bagi umat Buddha hal tersebut tidak menjadi masalah karena ajaran Buddha perlu dilaksanakan untuk dibuktikan bukan menerima mentah-mentah isi kitab suci. Saatnya kita mulai berpikir lebih kritis dan memandang biksuni sama ketika kita memandang biksu. Penghormatan seseorang terhadap biksuni juga harus sama dengan penghormatannya terhadap biksu.

Referensi:

  • Dhammasiri,S. 2004. Wanita dan Persamaan Gender (Tinjauan Sosiologi Agama Buddha). Graha Metta Sejahtera.
  • Jurnal Perempuan no. 32. 2003. Perempuan dan Fundamentalisme. Jakarta: YAYASAN JURNAL PEREMPUAN
  • Sharma, Arvind. 2006. Perempuan Dalam Agama-Agama Dunia. Yogyakarta: SUKA-Press.
  • Sinar Dharma Vol.5 No.3. 2007
  • Eastern Horizon No.4
  • Hikmahbudhi No.305/XXXI/1/2002
  • http://senasana.wordpress.com senasana

    Mohon konfirmasi;
    pada teks,
    “Ciri-ciri Buddha yang berjumlah 32 (mahapurusa) salah satunya adalah alat kelamin laki-lakinya terbungkus oleh selaput, membuat banyak penganut Buddha tradisi Therawada meyakini bahwa Buddha haruslah seorang [b]wanita[/b].”

    ??? apa tdk ada kekeliruan ???

  • Parkit

    Thanx bgt, tulisan sdra Willy banyak memberikan pandangan2 yang mungkin kita sendiri tak pernah memikirkan itu semua, walaupun memang pada zaman sekarang kedudukan kaum perempuan sudah mulai disejajarkan dengan kedudukan kaum laki-laki. Namun saya rasa pandangan2 dan pemikiran2 tersebut perlulah diutarakan kepada masyarakat, agar masyarakat tidak berpikiran sempit.
    Saya pernah baca di dalam sebuah buku bahwa apalah artinya jenis kelamin jika perempuan ataupun laki-laki telah merealisasi pencerahan tertinggi (nibbana), toh karena batinnya memang telah sempurna, mereka tak akan merasa mereka adalah seorang laki-laki ataukah perempuan. :)

  • Adiharto

    Dalam peradaban manusia, memang banyak terjadi diskriminasi terhadap kaum wanita, tetapi dalam ajaran Buddhis sudah pasti tidak ada diskriminasi terhadap makhluk hidup apapun (Metta Sutta), apalagi terhadap seorang manusia yang berlabel ‘Wanita’, karena seseorang bisa lahir menjadi wanita karena adanya proses kamma, begitu juga makhuk-makhluk lainnya. Dan sudah pasti Sammasambuddha (Manusia Buddha) itu laki-laki, kemudian ada wanita buddhis yang bisa mencapai pencerahan karena ajaran Beliau tidak boleh disebut Sammasambuddha tetapi disebut Savaka Buddha (Arahat). Jadi kalau ada pandangan bahwa diskriminasi di dalam Buddha Dhamma, jawabannya, tidak ada, jadi harus dibedakan antara peradaban manusia dan Buddha Dhamma, jadi mengenai aturan Bhikkhuni lebih berat dari Bhikkhu, pasti ada alasan lainnya, karena Buddha lebih tahu, dan untuk lebih mengetahui anda bisa melihat di Tipitaka bahasa Pali. Terima kasih

  • willy yandi wijaya

    untuk saudara senasena:
    trim atas koreksinya. seharusnya laki-laki.

    Mohon bantuan moderator untuk menggantinya

  • Gister

    Yah, semoga penulis artikel ini menjadi perempuan di masa mendatang.

  • willy yandi wijaya

    itu kalau ada yang namanya kelahiran kembali.
    kalau tidak?
    :)

  • Daniel SW

    Sesungguhnya hanya orang-orang tertentu saja seperti anda, yang menganggap hal-hal tersebut diatas sebagai sesuatu yang mendiskriminasikan kaum wanita, pada kenyataannya :

    – 32 mahapurissa lakkhana sebenarnya sudah tertulis dalam kitab Veda kaum Brahmana, bahkan para brahmana yang sakti saja dapat mengetahui hal-hal tersebut dengan kesaktian mereka jauh sebelum Sang Buddha lahir (apalagi para Arahanta) sehingga ketika Sang Buddha lahir dengan memiliki 32 mahapurisa lakkhana dapat dipastikan Ia seorang Samma-sambuddha. Jadi itu adalah hukum alam semesta, bukan sesuatu yang ditentukan oleh Sang Buddha apalagi para Arahanta karena mereka bukan tuhan, dengan demikian para Arahanta yang menulis Tipitaka Kanon Pali sama sekali tidak ada maksud mendiskriminasikan kaum wanita, mereka hanya menulis sebagaimana adanya.

    – Dalam kitab Jataka Pali ini adalah kisah-kisah yang menggambarkan riwayat hidup Bodhisatta dalam pemenuhan Parami-nya & cerita-cerita ini diceritakan langsung oleh Sang Buddha dalam berbagai kesempatan selama Ia mengajarkan Dhamma selama 45 tahun. Jadi pendapat bahwa kisah Jataka adalah cerita yang bukan berasal dari Buddha sendiri atau dengan kata lain adalah teks tambahan yang disusun ketika penyusunan Tripitaka adalah tidak benar.

    – Dalam kitab Jataka Pali, tidak pernah diceritakan Bodhisatta terlahir sebagai seorang perempuan. Hal ini memang benar adanya, namun perlu diketahui bahwa kurang-lebih 500 kisah-kisah Jataka yang terdapat dalam Tipitaka Kanon Pali sesungguhnya hanyalah menggambarkan contoh-contoh kehidupan Bodhisatta, sejatinya jumlah kehidupan yang dilalui dalam usaha pemenuhan Parami semenjak dari seorang petapa Sumedha yang bertekad menjadi Buddha sampai kehidupannya sebagai dewa Setaketu (sebelum kelahiran terakhir sebagai pangeran Sidhatta) adalah tidak terhitung & tidak akan habis diceritakan bahkan jika Sang Buddha sendiri ingin menceritakannya seumur hidup. Demikian agar hal ini dapat dimengerti.

    – Dengan terbentuknya Sanggha Bhikkuni maka usia Dhamma (yang diajarkan oleh Sang Buddha Gautama) akan berkurang dari 10000 tahun menjadi 5000 tahun. Pendapat bahwa semenjak Sangha Bhikkhuni ada, umur Sangha Bhikkhu akan menjadi setengahnya dari 1000 tahun menjadi 500 tahun adalah tidak benar (karena pada kenyataannya Sanggha bhikku masih bertahan sampai saat ini).

    – Cerita penolakan Buddha sebanyak 3 kali terhadap ibu tirinya yang ingin ditahbiskan menjadi bikkhuni. Akhirnya Buddha menerima bhikkhuni dengan syarat 8 garu dhamma. Delapan garu dhamma atau delapan aturan keras bagi bhikkhuni, dua diantaranya adalah:
    *Seorang bhikkhuni, walaupun sudah menjalankan sampai 100 tahun kebiksuniannya, harus menyapa dengan hormat terhadap seorang bhikkhu walaupun bhikkhu tersebut baru sehari menjadi biksu.
    *Seorang bhikkhuni tidak diperbolehkan untuk menasehati seorang bhikkhu, namun seorang bhikkhu boleh menasehati seorang bhikkhuni.

    Untuk hal ini Sang Buddha tentu memiliki alasannya sendiri (karena beliau adalah Vijjacarana-Sampanno, yang sempurna pengetahuan serta perilakunya) & hal ini sesungguhnya telah banyak dibahas dalam kitab-kitab komentar dan sub-komentar.
    Apakah mungkin hal-hal tersebut bukan berasal dari Sang Buddha sendiri (ditambahkan atas dasar kepentingan-kapentingan tertentu)??
    Sampai saat ini belum seorang pun yang mampu membuktikan, namun berbicara Agama Buddha tidak ada sumber yang lebih valid dibandingkan Tipitaka Kanon Pali (jika dilihat dari rasio kontradiksi-kontradiksi yang dimiliki Tipitaka) itu sendiri karena pada dasarnya semua Tipitaka yang ditulis belakangan semuanya juga banyak yang merujuk Kanon Pali termasuk Kanon Sansekerta milik sekte Mahayana.

    – Setelah Buddha meninggal—mungkin beberapa abad setelahnya—timbul pandangan bahwa kelahiran sebagai perempuan lebih rendah karena karma buruk kelahiran sebelumnya. Jadi ada anggapan sampai saat ini bahwa kelahiran sebagai perempuan karena akibat karma buruk masa lampau dibanding kelahiran sebagai laki-laki.
    Mengenai timbulnya pandangan-pandangan seperti ini memang patut disesalkan, namun sesungguhnya hal-hal seperti ini timbul melainkan dari moral manusia yang memang semakin lama semakin merosot sejak Sang Buddha telah tiada, dimana sesuatu yang baik dikatakan tidak baik, yang tidak baik dikatakan baik, yang Dhamma diakui sebagai Adhamma (bukan Dhamma) & yang Adhamma diakui sebagai Dhamma, sehingga akhirnya timbul pandangan-pandangan salah seperti ini, bukan disebabkan kesalahan dari agama apalagi kitab suci manapun.

    Demikian hal-hal diatas dapat lebih jelas, dengan penjelasan ini agar kita lebih mampu menilai apakah hal tersebut diskriminasi atau tidak, karena sesungguhnya dalam ajaran Sang Buddha tidak ada diskriminasi terhadap mahluk apapun (apalagi kepada manusia perempuan).
    Mengenai pandangan bahwa mazhab yang satu lebih liberal daripada mazhab yang lainnya karena mazhab tertentu mengangkat derajat kaum wanita (dan sebagainya) ini kembali lagi (terserah) kepada penilaian masing-masing.

    “Selama ajaran masih mengandung 4 Kebenaran Mulia & Jalan Mulia Berfaktor 8, sesungguhnya dunia tidak akan pernah sepi dari para Arahanta (laki-laki maupun perempuan).”

    Demikianlah pernyataan kebijaksanaan Sang Buddha.

  • willy yandi wijaya

    Untuk Saudara Daniel SW

    Jika umat Buddha mempunyai pandangan seperti anda, tentu diskriminasi akan hilang.
    kenyataannya karena salah interpretasi terhadap Tripitaka Pali, makanya timbul diskriminasi.

    namun, perlu anda pahami bahwa Kitab Jataka memang dibuat belakangan (anda bisa tanyakan kepada para ilmuwan, bikkhu atau biksu yang anda kenal jika anda tidak percaya).
    Maksud saya hanya ingin memperlihatkan bahwa bentuk diskriminasi lahir secara kontekstual ada di Jataka (walaupun bukan Buddha sendiri yang mengatakan)

    Sejak awal saya berpendapat Buddha tidak pernah mendiskriminasikan wanita, namun kitab komentar2 yang akhirnya mendiskriminasikan wanita karena pengaruh pandangan turun-temurun/budaya.

    Buddha adalah manusia, apakah ada manusia seperti monster yang mempunyai 32 tanda aneh???
    Kita harus melihatnya secara simbolis dan setiap tanda Buddha mengandung makna seperti yang tertulis dalam Sutta Pitaka.

    namun, sangat disayangkan, sekali lagi saya tekankan bahwa interpretasi belakangan yang akhirnya mendiskriminasikan wanita. padahal kalau umat Buddha merujuk pada Tripitaka Pali, hal tersebut sangat jelas. jangan mengacu pada kitab komentar dngan mentah-mentah karena beberapa interpretasi yang ditulis sudah tidak sesuai dengan zaman.

  • Pisa Kendro

    Dari awal, Anda menyatakan bahwa buddhis dengan sumber2nya (termasuk Tipitaka Pali) telah mendiskriminasikan kaum perempuan. Sekarang Anda masi bersikukuh namun sumber Tipitaka Pali sudah Anda terima.

    Dari sini Anda tidak konsisten untuk menyuarakan diskriminasi kaum perempuan.

    Lalu, masalah kitab komentar yang Anda sebutkan itu, bagi saya, sangat tidak logis jika Anda bersikap tidak meyakininya sementara Tipitaka Pali Anda meyakininya 100%. Karena toh, Tipitaka Pali pun sebenarnya baru ditulis berabad2 lamanya setelah Pasamuan Sangha Pertama.

    Jadi, jika Anda menganggap wajar Tipitaka Pali, maka selayaknya Anda menganggap wajar kitab komentar yg memang ditulis belakangan oleh bhikkhu2 Thera, seperti Bhikkhu Buddhaghosa Thera.

    Satu hal yang ingin saya sampaikan adalah kalau memang diskriminasi, beranikah Anda secara terang2an mengatakan bahwa Sang Buddha telah melakukan diskriminasi terhadap perempuan, mengingat dalam Tipitaka Pali banyak menyebutkan tindakan Sang Buddha melakukan diskriminasi terhadap perempuan?

    Sedangkan, kalau memang alam semesta ini mengharuskan seorang Sammasambuddha atau bodhisatta adalah pria, mengapa yang harus dipersalahkan adalah Sang Buddha dan ajaran Nya?

    Bagi saya, timbulnya persepsi diskriminasi itu adalah sangat berlebihan dan mencerminkan keraguan terhadap Buddha Sasana. Hal ini tentunya akibat dari kesalahan persepsi terhadap ajaran Sang Buddha. Ini sih wajar karena untuk mendalami ajaran Sang Buddha sangatlah sulit.

    Namun herannya, mengapa seperti “bhikkhuni” Santini masi saja mengajarkan ajaran Sang Buddha, sedangkan beliau sendiri sedang meragukan Sang Buddha karena telah mendiskriminasikan kaum perempuan di dalam kitab suci Tipitaka Pali?

    Munafik? Opportunities? Hmm… I dont know, no comment.

  • http://PENYEJUKSADDHABUDDHANI Ali Sasana Putra

    To Willy Yandi Wijaya

    Namo Buddhaya,

    Saya sangat menghargai anda dengan artikel yang mengangkat tema tentang “Diskriminasi Perempuan Buddhis’.

    Pada dasarnya artikel anda sangat baik untuk dibahas dan sangat baik untuk dimengerti agar tidak mengandung ditthi.

    Namun, ketika saya telah membaca semua artikel dan komentar para pembaca, saya terkesan bingung dan tujuan anda itu apa yah?

    1. Anda kadang menulis Tipitaka dan Tripitaka yg selalu dicampur adukan. Menurut saya hal itu tidak bisa dicampurkan adukan bung! walaupun Theravada dan Mahayana adalah 1 akar namun sulit untuk disamakan persepsinya.
    2. Anda selalu mengetik Bhikkhu dan Bhikkhuni, terkadang Bhikshu dan Bhikshuni, hal ini gak bener….anda harus konsisten yg anda maksud itu Bhikkhu/Bhikkhuni atau Bhikshu/Bhikshuni yg mana yg anda mau pakai karena istilah Bhikkhu dengan bhikshu itu sangat-sangat beda!!! Pelajari lagi Vinaya Kebhikkhuan dan Vinaya Kebhikshuan!!! Apalagi Bhikkhuni dan Bhikshuni itu sangat-sangat berbeda bung!!!!
    3. Anda mengatakan 32 ciri manusia agung itu seperti MONSTER!!! Waduh anda itu telah menghina seorang Sammasambuddha bung!!!! Maksudnya apa?? Apakah anda sudah ketemu langsung dengan salah satu Sammasambuddha???
    4. Untuk saudari Selfi Parkit, anda harus banyak belajar tentang POKOK-POKOK DASAR AGAMA BUDDHA THERAVADA maupun MAHAYANA. Jangan sampai dicampur aduk antara 2 aliran itu. Nanti bisa jadi kayak umat BUddhayana umat Buddha BUNGLONISME!!!
    5. Kalo boleh saya kasih saran untuk penulis:
    a. Tema anda sudah sangat menarik
    b. Bahasa anda diperjelas kalo memang mau pakai rujukan bahasa Pali teruslah pakai bahasa Pali, kalo mau pakai rujukan bahasa Sansekerta teruslah pakai sansekerta, jangan diaduk-aduk yg baca enek tau!!!

    Itu aja semoga umat Buddha dapat menjadi umat Buddha tidak memiliki Miccha Ditthi.

    Ali

  • Ciputra

    Terima kasih kepada Saudara Willy Yandi Wijaya yang telah banyak menulis artikel di Dhammacitta. Tulisan Anda mengenai diskriminasi perempuan Buddhist ini ternyata mengundang cukup banyak response dari para pembaca. Response yang diberikan umumnya memberikan koreksi (seperti yang ditulis oleh Sdr. Senasana) ataupun pelurusan pandangan (seperti yang ditulis oleh Sdr.Adiharto, Sdr.Daniel SW, Sdr.Pisa Kendro, dan Sdr.Ali Sasana Putra). Hendaknya semua ini bisa diterima sebagai bahan masukan bagi Anda dalam penulisan artikel-artikel Anda selanjutnya.

    Seperti dalam agama lainnya dimana para umatnya memiliki pegangan yaitu kitab suci. Kita sebagai umat Buddha memiliki kitab suci Tipitaka yang telah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh teman-teman se-dhamma kita di Wisma Sambodhi. Saya yakin umat Buddha dari Theravada, Mahayana maupun Vajrayana memiliki pegangan yang sama yaitu Tipitaka. Jadi kitab Tipitaka terjemahan ini bisa dibaca oleh semua umat Buddha di Indonesia tanpa memandang dari mazhab mana tentunya.

    Satu hal yang harus kita akui adalah sebagai umat Buddha di Indonesia jarang sekali ada umat yang telah mempelajari kitab suci Tipitaka. Kebanyakan kita pelajari agama Buddha dari tulisan-tulisan dalam terbitan buku maupun majalah yang ditulis oleh Bhikkhu, pandita maupun penulis umum lainnya. Ini tidak ada salahnya, hanya saja kita harus hati-hati dalam mencerna semua tulisan itu. Pegangan kita tetap pada sabda-sabda Sang Buddha yang terdapat dalam kitab suci Tipitaka.

    Bhikkhu Dhammavuddho Mahatera menyarankan kita para umat Buddha untuk mempelajari kitab suci Tipitaka mulai dari Anguttara Nikaya dan Samyutta Nikaya karena menurut beliau banyak sekali sutta yang terkandung dalam kedua Nikaya tersebut. Masih ada tiga Nikaya yang bisa kita pelajari juga yaitu Digha Nikaya, Majjhima Nikaya dan Khuddaka Nikaya. Khusus Khuddaka Nikaya beliau menyarankan kita membaca Dhammapada, Sutta Nipata, Theragatha, Therigatha, Itivuttaka dan Udana. Nah… yang kita kenal luas selama ini umumnya Dhammapada. Ternyata masih banyak ya :)

    Mengapa kita perlu repot-repot mempelajari kitab suci Tipitaka yang ternyata begitu banyak bukunya? Tak lain dan tak bukan untuk menghindari pandangan yang salah. Pandangan salah sangat berbahaya karena tidak bisa mengantarkan kita mencapai nibbana. Bukankah kita menjadi umat Buddha tidak hanya sekedar masuk surga, tetapi merealisasikan pencapaian tertinggi yaitu nibbana?

    Tetap semangat ya Saudara Willy Yandi Wijaya. Kita tunggu tulisan-tulisan Anda selanjutnya.

  • Pisa Kendro

    Mungkin komentar ini agak menyimpang dari topik. Membaca komentar pak Ali Sasana Putra, saya jadi tergelitik untuk menambahkan satu hal, yaitu mengenai Theravada Mahayana, dan Tipitaka Pali maupun Tripitaka Sanskrit.

    Dulu sewaktu saya aktif berdiskusi di beberapa milis buddhis, saya selalu menyatakan bahwa Theravada dan Mahayana berbeda 180 derajat. Saya juga selalu bilang bahwa Tipitaka Pali dan Tripitaka Sanskrit bagaikan air dan minyak.

    Namun banyak sekali teman2 milis waktu itu berbondong2 protes keras dan menentang pernyataan dan penjelasan bukti2 dari saya. Malah banyak sekali mereka mengirimkan posting yg menyuguhkan buku2 yang bernuansa non sekterian, seraya disertai kata2 hujatan kepada saya.

    Tapi saat sekarang saya membaca komentar pak Ali Sasana Putra serta membaca ulang posting sdr. Willy, saya mulai sadar bahwa ternyata sdr. Willy memang sedang menjagokan Tripitaka Sanskrit sebagai dasar kuat untuk mengatakan bahwa Tipitaka Pali penuh dengan kekurangan dan buruk. Ini tentu saja dikaitkan dengan pembicaraan soal diskriminasi perempuan.

    Dengan kata lain, Tripitaka Sanskrit mendukung kaum perempuan karena sampai sekarang masi banyak bhiksuni dan cerita2 bodhisatva yg ada kaum perempuannya dalam sekte Mahayana. Sedangkan Tipitaka Pali dan sekte Theravada sama sekali telah mendiskriminasikan kaum perempuan sedemikian rupa karena Sangha bhikkhuni sudah punah dan cerita bodhisatta semuanya pria beserta Sutta tentang 32 Mahapurissa.

    Tanpa bermaksud untuk bersikap ‘parno’, saya merasa sdr. Willy meyakini adanya jiwa non sekte. Namun mengapa justru issue sekte dihembuskan manakala sedang membahas hal yang lain (seperti membahas diskriminasi kaum perempuan)?

    Ini sangat2 opportunities dan sikap yg plintat plintut tidak ada konsistensinya.

    Dari dulu sampai sekarang, saya tidak pernah mendengar dari pihak penganut Mahayana (entah umat maupun para bhiksu nya) membuktikan secara lantang bahwa Theravada dan Mahayana adalah sekte yang berbeda jauh sekali. Rata2 mereka masi takut untuk berbicara lantang dengan bersembunyi di balik “baju” non sekte agar tidak dihujat.

    Ibarat lempar batu sembunyi tangan.

    Pengecut? Hmm… no comment lagi ah… :)

  • Adiharto

    Saudara Willy, jika anda sudah benar-benar mempelajari dan memahami Sutta-sutta Tipitaka asli terjemahan Kanon Pali seperti di sarankan Saudara Ciputra, saya yakin anda pasti akan merivisi sebagian tulisan anda di media ini, tidak percaya silahkan saja.

  • Daniel SW

    My comment :

    1) ‘namun, perlu anda pahami bahwa Kitab Jataka memang dibuat belakangan (anda bisa tanyakan kepada para ilmuwan, bikkhu atau biksu yang anda kenal jika anda tidak percaya).
    Maksud saya hanya ingin memperlihatkan bahwa bentuk diskriminasi lahir secara kontekstual ada di Jataka (walaupun bukan Buddha sendiri yang mengatakan)’

    Sekali lagi saya ulangi : ‘dalam kitab Jataka Pali, tidak pernah diceritakan Bodhisatta terlahir sebagai seorang perempuan. Hal ini memang benar adanya, namun perlu diketahui bahwa kurang-lebih 500 kisah-kisah Jataka yang terdapat dalam Tipitaka Kanon Pali sesungguhnya hanyalah menggambarkan contoh-contoh kehidupan Bodhisatta, sejatinya jumlah kehidupan yang dilalui dalam usaha pemenuhan Parami semenjak dari seorang petapa Sumedha yang bertekad menjadi Buddha sampai kehidupannya sebagai dewa Setaketu (sebelum kelahiran terakhir sebagai pangeran Sidhatta) adalah tidak terhitung & tidak akan habis diceritakan bahkan jika Sang Buddha sendiri ingin menceritakannya seumur hidup. Demikian agar hal ini dapat dimengerti.’

    Jadi, dalam usaha pemenuhan Parami apakah Bodhisatta pernah terlahir sebagai wanita? Mengapa tidak??

    2) ‘Buddha adalah manusia, apakah ada manusia seperti monster yang mempunyai 32 tanda aneh???
    Kita harus melihatnya secara simbolis dan setiap tanda Buddha mengandung makna seperti yang tertulis dalam Sutta Pitaka.’

    Buddha adalah manusia, hal ini tidak perlu diragukan lagi namun beliau bukanlah manusia biasa seperti kita semua, Beliau adalah seorang Maha-purissa (mahluk Agung, Agung dalam artian Beliau satu-satunya mahluk yang pada saat itu telah memenuhi Parami selama 4 asankhyeyya kappa + 100rb kappa, Samma-sambuddha), jadi 32 ciri-ciri agung itulah menandakan Ia seorang Maha-purissa. Mungkin saja orang-orang seperti sdr. Willy melihat Beliau berwujud seperti monster, pada kenyataannya wujud tersebut sangat indah & anggun karena tidak ada seorangpun di zaman Sang Buddha yang menyebut Beliau seperti monster. Justru sebaliknya, setiap orang yang bertemu langsung dengan Sang Buddha tidak ada yang tidak terkesan dengan keanggunan Beliau terkecuali 6 petapa berpandangan salah yang selalu menentang Ajaran Beliau, namun mereka sekalipun tidak berkomentar tampang Beliau seperti monster.
    Masing-masing ciri-ciri tersebut memang demikianlah adanya, namun setiap ciri-ciri tersebut juga betul memiliki arti secara simbolis sebagaimana yang saudara Willy katakan. Riwayat Agung Para Buddha karya Sayadaw Vicittasarabhivamsa menjelaskan hal-hal ini dengan sangat baik, namun hendaknya kita tidak terlalu terobsesi dengan keinginan untuk membuktikan hal ini karena sesungguhnya tidak ada yang lebih penting bagi kita umat Buddha selain daripada membuktikan (menembus) 4 Kebenaran Mulia & mencapai ke-Arahatan (ke-Buddhaan? silahkan saja jika tekad anda cukup kuat). Dengan tercapainya ke-Arahatan, dengan sendirinya kita akan mampu membuktikan hal-hal tersebut (jika seorang Arahat menginginkan).

    3) ‘Namun herannya, mengapa seperti “bhikkhuni” Santini masi saja mengajarkan ajaran Sang Buddha, sedangkan beliau sendiri sedang meragukan Sang Buddha karena telah mendiskriminasikan kaum perempuan di dalam kitab suci Tipitaka Pali?’

    Hal ini memang aneh juga, bahwa peluang menjadi bhikkuni itu sekarang udah tertutup (Sanggha bhikkuni udah musnah sepeninggal bhikkuni terakhir di zaman Raja Ashoka) namun untuk menjadi bhiksuni kan masih bisa, jadi kalo beliau meragukan Tipitaka Pali mengapa beliau tidak merubah aja acuannya ke Tripitaka Sanskrit (menjadi bhiksuni) alih-alih menjadi ‘bhikkuni’ yang gak jelas asal-usulnya..?
    Namun sebagai murid-murid Raja Para Bijaksana, hendaknya kita hanya mengambil apa yang baik dari orang lain dan apa yang buruk dari orang lain janganlah kita tiru, karena tidak seorang pun yang sempurna melainkan Sang Buddha & para Arahanta.
    Terlepas dari segala kontroversinya, bhikkuni Santini telah banyak memberikan sumbangsih ajaran-ajaran kebajikan yang bermanfaat bagi kebahagiaan banyak orang, terhadap ajaran-ajaran kebajikan inilah seharusnya kita memandang & meneladani beliau.

    4) ‘Untuk saudari Selfi Parkit, anda harus banyak belajar tentang POKOK-POKOK DASAR AGAMA BUDDHA THERAVADA maupun MAHAYANA. Jangan sampai dicampur aduk antara 2 aliran itu. Nanti bisa jadi kayak umat BUddhayana umat Buddha BUNGLONISME!!!’

    Well, semoga mereka umat Buddha sekte Buddhayana dapat menanggapi pernyataan ini dengan penuh kebijaksanaan…

  • willyyandi

    hahaha….

    saya sekarang yakin bahwa sebagian yang mengkritik saya mempunyai keyakinan yang mendalam terhadap Buddha Dharma.

    Dan yang tidak mengkritik berarti menerima realitas yang saya kemukakan. serta saya rasa yang tidak mengkritik lebih banyak. Jadinya pro kontra itu biasa.

    Untuk sdr Pisa Kendro:
    Saya tidak pernah bilang bahwa saya yakin 100% Tripitaka pali sebagai kebenaran. Kalau Tripitaka Pali (4 kitab dari Sutta Pitaka) lebih dapat dipercaya, saya yakin demikian karena jika anda belajar ilmu sejarah dan arkeologi, hal tersebut akan jelas. di Tripitaka Pali maupun Sanskerta (4 kitab dari Sutta Pitaka khususnya seperti yang disebutkan Sdr. Ciputra ) hal tersebut menunjukkan kemiripan. Jadi saya tetap bersumber pada Tripitaka Pali langsung, karena komentar-komentar dibuat oleh biksu2 belakangan.

  • Willy Yandi Wijaya

    mohon lebih teliti membaca tulisan saya ini
    saya menulis diskriminasi oleh masyarakat/kehidupan buddhis. buddhis di KBBI adalah penganut agama Buddha. Jadi saya tidak pernah bilang ajaran Buddha mendiskriminasikan perempuan walau beberapa teks seolah-olah ada dan di sinilah maksud saya untuk lebih melihat teks lebih kritis dan dengan pandangan luas karena beberapa teks mempunyai makna simbolis

  • Pisa Kendro

    Baiklah Anda bisa saja mengatakan itu. Lalu Anda bilang, dalam Tipitaka Pali Anda HANYA percaya 4 kitab saja, selebihnya ragu2 atau menolak. Tolong sebutkan apa saja kah 4 kitab yang Anda percayai itu?

    Lalu, dasar apakah Anda meyakini 4 kitab tersebut, padahal Anda dan para ahli sejarah tidak berada pada zaman Sang Buddha? Apalagi bhikkhu2 yang menyusun Tipitaka Pali juga sama, hidupnya juga bukan pada zaman Sang Buddha, melainkan berabad2 lamanya setelah Sang Buddha Parinibbana.

    Kemudian, kalau Anda menganggap kesamaan dari 4 kitab antara Tipitaka Pali dan Tripitaka Sanskrit, lantas bagaimana nasib dari kitab2 lainnya yang ada di Tripitaka Sanskrit, apakah Anda juga meragukannya seperti Anda meragukan kitab2 lain di Tipitaka Pali?

  • Pisa Kendro

    Willy wrote:
    mohon lebih teliti membaca tulisan saya ini
    saya menulis diskriminasi oleh masyarakat/kehidupan buddhis. buddhis di KBBI adalah penganut agama Buddha. Jadi saya tidak pernah bilang ajaran Buddha mendiskriminasikan perempuan walau beberapa teks seolah-olah ada dan di sinilah maksud saya untuk lebih melihat teks lebih kritis dan dengan pandangan luas karena beberapa teks mempunyai makna simbolis.

    Pisa:
    Sebelum menulis komentar ini saya sudah benar2 membaca kembali artikel Anda secara kritis. Anda memang tidak bilang bahwa ajaran Sang Buddha mendiskriminasikan kaum perempuan.

    Namun jangan lupa bro! Sebuah tulisan mempunyai sifat inplisit dan explisit. Setiap penulis sangat jarang sekali bahkan tidak pernah menuliskan maksud tulisannya secara gamblang, karena penulis ingin menggambarkan maksud tulisannya tersebut melalui jabaran2 kalimat demi kalimat secara luas.

    Jadi, memang benar dalam tulisan Anda itu tidak ada tertulis bahwa ajaran Sang Buddha mendiskriminasikan kaum perempuan. Namun ketika orang membaca tulisan Anda, maka yang terbayang adalah seperti itu.

    Bahkan terakhir, waktu setelah pak Ali Sasana Putra berkomentar, saya kemudian membaca artikel Anda kembali. Dan ternyata baru menyadari bahwa Anda sedang ingin menyampaikan sesuatu yang lebih lebar dan lebih luas lagi, yaitu Anda ingin mengunggulkan Mahayana dan membuktikan juga bahwa Theravada adalah sekte yang payah dalam hal emansipasi perempuan.

    Bro Willy, orang lain boleh saja Anda kelabui, namun tidak bagi diri Anda sendiri.

    Bro Willy, Anda tidak bisa mengelabui diri Anda sendiri.

  • Willy Yandi Wijaya

    hahaha…

    baiklah jika anda ingin saya menyatakan dengan tegas soal perempuan dalam tradisi buddhisme.

    memang dalam hal perempuan berdasarkan teks2 lanjutan dan masyarakatnya kita dapat melihat KENYATAAN bahwa Tradisi dalam masyarakat Therawada lebih mendiskriminasikan Perempuan!!
    Buktinya kenapa biksuni Therawada lenyap??Padahal perempuan di dalam masyarakat buddhis Therawada seharusnya banyak. Lalu kenapa biksuni Mahayana terus bertahan sedangkan dalam lingkungan Therawada, biksuninya tidak bisa bertahan???Kita semua dapat merenungkannya.

    Kemudian ketika mau berdiri kembali, sebagian masih menolak biksuninya??Kenapa demikian??Sebagian masyarakat akan mengatakannya sebagai DISKRIMINASI. KENYATAAN-nya ada sebagian Masyarakat Therawada yang berpikiran terbuka dapat menerima biksuni Therawada dan saya rasa semakin banyak penerimaan.

    Namun, saya tidak mengatakan bahwa Mahayana lebih baik dari Therawada dalam segala hal!
    Dalam beberapa hal Mahayana atau Wajrayana perlu belajar dari Tradisi Therawada.

  • http://PENYEJUKSADDHABUDDHANI Ali Sasana Putra

    To: Willy Yandi Wijaya

    Wih… anda termasuk orang yg tidak memperhatikan bahasa yang baik dan benar…selalu tidak berdasarkan kata-kata yang lurus. Saya cuma ingin meluruskan…bahwa jangan campyr adukan kata-kata.

    Contoh:
    Buktinya kenapa biksuni Therawada lenyap??Padahal perempuan di dalam masyarakat buddhis Therawada seharusnya banyak. Lalu kenapa biksuni Mahayana terus bertahan sedangkan dalam lingkungan Therawada, biksuninya tidak bisa bertahan???Kita semua dapat merenungkannya.

    Bro Willy mana ada bhiksuni Therawada??? Yang ada adalah Bhikkhuni Theravada!!! Itu aja yang mau saya sampaikan.

    Mengapa? karena bayak bahasa dan kata yang gak sesuai sehingga masyarakat Buddhist gak paham tujuannya!

    Contoh:

    1. Jalan Mulia Berunsur 8 bukan Delapan Jalan Utama. Hal ini berbeda bung!
    2. 4 Kebenaran Mulia bukan 4 Kebetulan Mulia. Sangat berbeda

    INI CUMA CONTOH AJA!!!

    Masalah mengapa bhikkhuni Theravada sudah gak ada lagi? (bhikkhuni bukan bhiksuni). Hal itu karena Sang Buddha menetapkan cara pentahbisan yang sesuai dengan Dhamma dan Vinaya. Untuk bhikkhuni sudah dijelaskan oleh Sdr Pisa Kendro, karena bhikkhuni nya habis untuk dikondisikan lagi sudah tak mungkin lagi.

    Thank’s

  • Adiharto

    Utk Sdr. Pisa & Sdr. Ali, kita tidak usah lagi memperdebatkan lagi tulisan Sdr. Willy, karena di bahas tidak akan berakhir, malah tambah kamma buruk, sifat dan bathin manusia itu lain-lain, sebentar lagi Penulis juga akan sadar akan kesalahannya dan merenungkan yang mana boleh yang mana tidak.
    Biarlah faktor alam yang akan SELEKSI untuk seseorang jadi Penulis itu berbobot atau tidak !

  • http://PENYEJUKSADDHABUDDHANI Ali Sasana Putra

    ANUMODANA kepada sdr.Adiharto atas ingatannya.

  • willy yandi wijaya

    biksuni karena dalam KBBI sebagai padanan Indonesianya dari kata bhikkhuni (bahasa Pali) atau Bhikshuni(sanskerte). Jadi sebagai orang Indonesia, editor dan mengerti tata bahasa Indonesia akan sangat setuju dengan pendapat saya.

    memang menggunakan Bhikkhuni tidak menjadi masalah asalkan dimiringkan karena dalam konteks bahasa asing

    Silahkan cek di KBBI

  • willy yandi wijaya

    Berbahagialah bagi anda yang luar biasa yang mengetahui bahwa yang mana yang salah dan mana yang benar

    anda telah setingkat orang suci
    mungkin bagi saya yang belum suci salah, saya tidak menyadari apakah saya salah atau tidak. yang jelas saya mengemukakan suatu pandangan saya berdasarkan fakta-fakta yang ada. silahkan terima bagi yang setuju dan anda boleh berbeda bagi yang tidak setuju. yang jelas kebebasan berpikir sangat dijunjung tinggi oleh Buddha

  • Daniel SW

    Tanpa mengurangi rasa hormat & dengan tetap menjunjung tinggi kebebasan berpikir & berekspresi, apa yang telah dituliskan sdr.Willy sebenarnya adalah isu yang sarat dengan kontroversi namun tidak ada salahnya sesekali hal-hal yang bersifat kontroversi namun dengan tetap menjaga etika & perasaan pihak lain dalam mengungkapkan pendapat, demikian juga dengan penggunaan bahasa.

    Pada kenyataannya, sdr.Willy memang sedang mengintimidasi suatu sekte tertentu & mengagungkan sekte lainnya sedari awal, hal ini sangat jelas terungkap lewat kalimat ‘Mahayana adalah Buddhime yang lebih liberal…dst…’ & juga sdr.Willy telah mengakui secara terang-terangan ‘memang dalam hal perempuan berdasarkan teks2 lanjutan dan masyarakatnya kita dapat melihat KENYATAAN bahwa Tradisi dalam masyarakat Therawada lebih mendiskriminasikan Perempuan!!’

    Satu harapan saya agar hal-hal seperti ini tidak sebaiknya dilakukan. Dalam analisis saya, sebenarnya saya tidak menangkap maksud jelek sedikitpun dari apa yang Anda ungkapkan, namun semakin lama berdebat alih-alih mencapai tujuan, sdr. justru terbawa suasana dan semakin lama melontarkan argumen-argumen yang bersifat menjatuhkan.

    Anda mengatakan bahwa semua itu berdasarkan fakta, namun jika Anda ingin berbicara mengenai fakta sebenarnya dengan sangat berat hati saya ingin mengatakan, apa yang sdr. agungkan mengenai konsep Buddha wanita masih terlalu banyak ‘fakta’ yang masih simpang siur, sebagai contoh Avalokitesvara (Guan-Yin) kenyataannya tidak jelas asal-usulnya & jika Anda mau meneliti lebih jauh sebenarnya Beliau melainkan hanyalah perwujudan dari sifat welas asih Sang Buddha itu sendiri (simbolis).

    Lebih jauh lagi sejatinya Beliau selalu digambarkan sebagai lelaki di zaman-zaman awal Mahayana, hanya setelah Buddhisme Mahayana masuk ke Tiongkok, Beliau diwujudkan dalam sosok Guan-Yin yang feminim. Pada kenyataannya jika Anda melihat lebih jelas lagi, tidak ada yang feminim dari wujud Guan-Yin selain daripada wajahnya, selebihnya wujud Beliau sepenuhnya maskulin.

    Jika ingin berbicara fakta, inilah sesungguhnya fakta yang tidak terbantahkan.
    (Sumber : Avalokitesvara, karya Piyasilo Mahathera, Penerbit Karaniya, 2007).

    Masih terlalu banyak fakta lainnya, namun saya merasa fakta diatas sudah cukup memberi sedikit gambaran bagaimana konsep Buddha wanita itu sesungguhnya.

    Harapan saya, perdebatan ini cukuplah sampai disini. Setiap sekte memiliki perbedaan & tidak sepantasnya kita memunculkan isu yang bersifat mengagungkan sekte tertentu apalagi sampai menyudutkan sekte lainnya, yang ujung-ujungnya dapat memecah belah umat Buddha (lagi). Hargailah perbedaan tersebut dengan tetap berpegang kepada Sutta & Vinaya yang kita yakini masing-masing. Dengan demikian Umat Buddha dapat bersatu dibawah 1 panji Buddhis. Theravada,Mahayana or Vajrayana,selama masih mengajarkan 4 Kebenaran Mulia & Jalan Mulia berfaktor 8, that’s OK!

    (Yang penting aliran ‘buddha jadi-jadian’ seperti ‘Maitreya’ kita harus zero tolerance terhadap ajaran sesat yang sifatnya merusak Dhamma seperti itu alias Adhamma)

    Kepada sdr.Willy, Tipitaka & Tripitaka memang selayaknya tidak dicampur-aduk, karena statement yang ada didalamnya (baik Tipitaka maupun Tripitaka) akan menjadi tidak konsisten bila hal tersebut dilakukan. Teruslah berkarya untuk Buddha-Dhamma.

    Anumodana…

  • pisakendro

    Ya pak Adiharto, saya mengerti maksud Anda. Komentar saya selama ini hanyalah ingin membuat artikel sdr. Willy menjadi ‘telanjang bulat’ agar kebenaran dapat terungkap dengan baik sehingga tidak menjadi kesesatan.

    Saya juga melihat bahwa sdr. Willy sudah sangat terpojok dan memberontak akibat cecaran demi cecaran dari saya atau dari teman2 lain. Sehingga untuk menutupi rasa malu, sdr. Willy berusaha untuk tampil ‘cool’ dan seolah2 tidak merasa “telanjang bulat”.

    Yup, ini memang sangat sulit untuk diterima. Namun demikianlah ketika kita mengeluarkan ide pendapat, artikel, bahkan fakta bukti, haruslah konsisten dan dewasa. Jika tidak, maka sudah jelas akan terjadi penelanjangan seperti ini.

    Untuk itu, saya pribadi, meminta maap jika sdr. Willy merasa terluka hati akibat dari cecaran saya selama ini.

    Sama sekali tidak ada maksud apapun selain mengingatkan bahwa hati2lah dalam hal mengeluarkan ide pendapat, opini, atau pembuktian ke khalayak umum, karena orang yang membaca atau yang mendengarkan bisa menjadi tersesat.

    Ini bukannya kamma baik yang PENULIS terima, melainkan kamma buruk karena sudah menyesatkan orang lain bahkan menyesatkan orang banyak.

    Komentar saya selesai sampai di sini. Terima kasih.

  • Adiharto

    Sedikit komentar, kalau tidak salah TRIPITAKA ada 3 kitab suci, yaitu bahasa Pali, bahasa Sankrit, bahasa Kawi yang diakui di Indonesia oleh Buddhayana, kemudian TIPITAKA hanya bahasa Pali yang isinya hanya Vinaya, Sutta & Abhidhamma Pitaka, jadi kalau dilihat dari sumbernya memang Tripitaka lebih lengkap, semua jenis kitab suci 3 bahasa dirangkul jadi satu.
    Sdr. Pisa & Sdr. Ali sudah mengakhiri komentar yang terakhir, saya kira berakhir sudah masalah pembahasann ‘DPB’ yang cukup panjang, dan disini saya tambahkan, maksud Para Komentator mengkritik isi sebuah penulisan tidak lain agar sebuah penulisan tentang Buddha Dhamma tidak menyimpang dari Kebenaran, dan bila penulis juga jangan merasa di cela, karena sebagai Penulis harus SIAP DIKRITIK apabila ada isi penulisan yang kurang sesuai dengan kebenaran yang ada dan tidak adil, dan ini memang sebuah pengalaman berharga bagi penulis dan kenyataan seperti itu, jadi semuanya ini perlu di renungkan oleh bathin masing-masing, salam Metta Sdr. Willy, Sdr. Pisa dan Sdr. Ali, terima kasih

  • Andi

    Sebenarnya maksud yang ingin disampaikan oleh penulis adalah baik…
    sungguh sangat disayangkan justru menimbulkan mis-interpretasi oleh beberapa rekan pembaca…

  • Siwu

    Namo Amituofo,

    Bukan utk ikut rame2 berdebat, hanya sekedar menambahkan apa yang saya tahu.

    Dlm Mahayana tidak pernah dikatakan seorang wanita dapat menjadi Buddha. Wanita memang juga bisa mencapai pencerahan, tapi itu bukan pencerahan sempurna menjadi Buddha, karena pencerahan itu merujuk pada pengalaman batin memahami kebenaran Dharma, dan pencerahan itu juga berjenjang. Untuk menjadi Buddha, wanita yang telah tercerahkan dlm kehidupan terakhirnya juga harus terlahir sebagai pria.

    Ttg kurang setujunya Buddha menyanggupi keinginan wanita utk menjadi anggota Sangha (bhikkhuni/bhiksuni) itu lebih menjurus pada kondisi fisik wanita secara UMUM yang lebih lemah dari pria, setiap bulan mengalami kesakitan; segi keamanan yang mana seorang anggota Sangha wanita tidaklah aman bila melakuan pelatihan diri menyendiri di hutan; pun kondisi kejiwaan wanita yang secara UMUM juga lebih labil dibanding pria. Dengan kata lain, bila wanita menjalani kehidupan selibat, maka akan lebih banyak aral rintangan dibanding pria. Jadi Buddha akhirnya menyetujui terbentuknya Sangha Bhikkhuni dengan catatan itu adalah kehendak sendiri dari para kaum wanita, meski mereka tahu akan menjalani kehidupan yang beart untuk itu. Jadi semua itu bukan karena wanita asal ikut2an atau hanya sekedar kejiwaan yang hangat2 tahi ayam.

    Ttg Sangha Bhikkhuni yang sekarang tak diakui oleh Theravada, itu karena Theravada berpandangan Sangha Bhikkhuni telah terputus sejak kemusnahan Sangha Bhikkhuni di India, sedang penahbisan itu harus dilakukan turun temurun oleh Sangha Bhikkhu dan Sangha Bhikkhuni. Tepatnya, ini bukan merupakan bentuk diskriminasi terhadap wanita. Sedang Mahayana tetap menerima kehadiran Sangha Bhiksuni karena berpandangan mata rantai Sangha Bhiksuni belum terputus karena berasal dari silsilah Bhikkhuni Srilanka (putri Raja Asoka). Jadi ini hanya permasalahan sejarah, bukan diskriminasi.

    Utk masalah Bodhisattva dan Bodisatta, itu adalah sama. Bedanya hanya di Mahayana disebutkan bahwa Bodhisattva melakukan penyelamatan Jalan Bodhisattva dengan kemampuan batin (penjelmaan dan penampakan yang sesuai), tapi ini hanya bisa dilakukan oleh Bodhisattva tahap tertentu, bukan Bodhisattva pemula. Sedang dalam Theravada, konsep Bodhisatta lebih menekankan pada kehidupan umum, bukan yang bersifat supranatural.

    Itu yang bisa saya tambahkan. Buddhisme tidak mengenal diskriminasi. Diskriminasi itu merupakan budaya peninggalan hampir semua bangsa di dunia ini karena demikianlah posisi wanita yang lebih lemah yang telah dikenal sejak jaman baheula. Kalaupun ada perbedaan antara pria dan wanita dalam Buddhisme, itu tak lebih hanya masalah fisik dan kejiwaan yang memang tak bisa dipungkiri secara umum tetap ada perbedaan antara pria dan wanita.

    Akhir kata, apa perbedaan pria dan wanita dalam pertandingan olahraga mencerminkan diskriminasi? Bukan, kan?

    Salam, siwu

  • pisakendro

    Andi wrote:
    Sebenarnya maksud yang ingin disampaikan oleh penulis adalah baik…
    sungguh sangat disayangkan justru menimbulkan mis-interpretasi oleh beberapa rekan pembaca…

    Pisa:
    Maksudnya memang baik, tapi belum tentu mengandung kebenaran. Justru karena mengandung ketidakbenaran maka beberapa pembaca malah mengalami mis-interpretasi, salah satunya sdri. Parkit.

    Kasihan dengan teman2 pembaca yang menerima info yang salah karena keterbatasan pengetahuan mereka, ini tentunya sangat berbahaya bagi mereka. Nah, tentunya kalau sudah seperti itu, tidak dapat dibiarkan dan mesti dikomentari secara blak2an agar tidak menjadi kesesatan pandangan bagi teman2 pembaca yang minim pengetahuan.

    Anda sendiri harus hati2 dalam menerima sesuatu, jangan sampai menjadi tersesat. Sekali tersesat, Anda sulit untuk mengarah ke jalan Kebenaran Dhamma.

  • willy yandi

    Untuk Sdr. Daniel SW.
    Memang pada kenyataannya Mahayana lebih liberal. Saya sadar bahwa sebagian orang akan menanggapinya kalimat tersebut seolah-olah saya melebih-lebih Mahayana. Padahal yang saya katakan adalah kenyataan. Dalam hal winaya saja kita bisa lihat bahwa Tradisi Mahayana lebih bebas dan liberal walau untuk winaya-winaya kecil. Dan Memang Tradisi Therawada lebih kaku dalam hal winaya, dalam artian lain mempertahankan winaya seperti tetap adanya. Bukankah demikian?!

    Jelas saya sangat tahu bahwa Guan-Yin cumalah mitos belaka! Dan memang secara historis TIDAK ADA yang namanya Guan Yin (Kwan Im–hokkien)

    Untuk Sdr. Adihartono
    Memang pada awalnya Tripitaka ada 2, yakni Tripitaka Pali dan Sanskerta (di KBBI ed.3, Sansekerta atau Sanskrit tidak baku. Yang benar Sanskerta). Namun, Saat ini Tripitaka Sanskerta sudah tidak ada, dan yang ada adalah Tripitaka Tibet dan Tripitaka Cina sebagai bentuk terjemahannya. Untuk Tripitaka Kawi, saya kurang tahu. Hanya setahu saya, dalam Bahasa Kawi (Jawa Kuno) ada teks tambahan seperti Sanghyang Kahamanikayan(?). Jadi Setelah dengan berlalunya waktu, dengan tambahan-tambahan teks, Teks Pali menjadi bertambah, begitu pula Teks Mandarin dan Tibetan sehingga banyak Teks yang timbul belakangan namun diakui seperti Visudhimagga (Teks Jalan Kesucian), Sutra-sutra dalam Tibetan dan Mandarin (Avamtaka Sutra, dll.).

    Untuk Sdr. Siwu
    Mungkin Anda bisa mengecek lagi bahwa bodhisatwa tingkat tertinggi setara dengan Buddha (Mungkin ini hanya pada tradisi/Aliran tertentu dalam Mahayana), yang belum merealisasikan nirwana karena welas asih (konsep ini lebih menekankan makna psikologis).

    Pernyataan Anda tentang perempuan harus menjadi Pria dahulu untuk mencapai ke-Buddha-an perlu dipertanyakan karena dalam Prajnaparamita Sutra laki-laki dan perempuan itu hanyalah suatu bentuk luar (bukankah pencerahan hanyalah kondisi batin?).

    Memang secara garis sejarah, biksuni Therawada telah terputus (begitu pula dengan Vajrayana(?)). Yang ingin saya katakan adalah bahwa telah ada Biksuni Therawada kembali, namun masih ada pendiskriminasian terhadap mereka. Bukankah ini KENYATAAN?? Saat ini Sangha Therawada belum mengakui, tapi saya yakin cepat lambat akan diakui karena daripada mempermasalahkan, bukankah alangkah lebih baik bila Sangha Therawada (khususnya Thailand) memikirkan model Sangha Biksuni Therawada yang sesuai. Karena Jika Sangha Therawada Thailand mengakui, yang lain kemungkinan akan mengikuti. Walaupun tetap tidak diakui saya yakin Biksuni Therawada tetap ada. Dunia Barat terbuka bagi mereka dan penerimaan terhadap mereka telah sama dengan Biksu Therawada.

    Untuk Sdr.Pisakendro
    Mungkin Sdri.Parkit (dari namanya sepertinya perempuan) mewakili kaum perempuan yang merasa tertindas.
    Memang tulisan saya belum tentu mengandung kebenaran, namun bagaimana Anda tahu bisa menyesatkan orang?
    Anda boleh bicara blak-blakan, tidak masalah untuk saya. Saya sungguh sangat berterima kasih. Namun, saya tetap yakin dengan tulisan saya.

    Walau saya Anda anggap tersesat, saya memilih sesuai dengan pemikiran ada yaitu tersesat :) karena saya tidak mau melihat pendiskriminasian perempuan dan saya selalu berharap bahwa kaum perempuanlah yang harusnya membela kaum mereka sendiri. :D

    —————————————————————————-
    Terima Kasih,
    Saya rasa saya sudahi saja. Karena perdebatan ini tidak akan berakhir. Manusia mempunyai perbedaan pandangan.
    Jika ada yang menyinggung hati Anda semua, saya mohon maaf sebessr-besarnya.

    Salam.
    ——————————————————————————————

    Pandangan yang tidak berdasar kebencian, kebodohan dan keserakahan itulah Pandangan Benar.
    Menerima bahwa orang lain mempunyai pandangan berbeda itulah Pandangan Benar.
    Membuka diri untuk melihat bermacam-macam hal dan dari sisi berbeda itulah Pandangan Benar.

    ——————————————————————————————-

  • Ciputra

    Saya secara tidak sengaja menemukan tulisan di internet dengan alamat http://www.mbld.org/bbs/viewtopic.php?f=11&t=155 Coba dibaca dan mungkin sedikit petunjuk mengapa Sang Buddha menambahkan beberapa aturan untuk bhikkhuni yang tujuannya melindungi para bhikkhuni.

    Saya juga ingat kembali majalah yang pernah saya baca beberapa waktu lalu yaitu majalah buddhist Sinar Padumuttara edisi kedua bulan Juli 2008. Dalam majalah ini terdapat tulisan Sdr. Willy Yandi Wijaya juga dengan judul Kesejajaran Evolusi dengan Buddhisme. Tetapi yang bikin saya ingat majalah ini adalah karena ada profil bhikkhuni Santini. Terbersit rasa heran, Sdr. Willy tidak memasukkan majalah ini sebagai salah satu referensi :)

    Mengenai 32 ciri mahapurisa. Mahapurisa adalah seorang Samma Sambuddha, yang terlahir bukan dalam 1 kalpa tetapi ber-kalpa-kalpa. Samma Sambuddha tidak sama dengan Savaka Buddha atau Pacceka Buddha. Kedua yang disebut terakhir ini adalah arahat. Tetapi mereka semua ini adalah Buddha (yang tercerahkan). Jadi seorang wanita bisa jadi Buddha itu benar, tetapi jangan dicampuradukkan dengan 32 ciri mahapurisa.

    Jadi, Sdr. Willy, tulisan Anda saya kutip di sini:
    “Jadi sangat tidak masuk akal jika dikatakan bahwa perempuan tidak bisa menjadi Buddha. Pemikiran inilah yang kemudian berkembang di dalam pemikiran buddhisme tradisi Mahayana sehingga ada konsep Buddha wanita. Dan mungkin kita perlu meragukan keaslian konsep mahapurusa atau 32 ciri Buddha apakah memang dari Buddha sendiri atau tambahan yang dibuat untuk meninggikan beliau sehingga masyarakat pada saat itu lebih bisa meyakini beliau.”

    Apakah pernyataan/ pendapat Anda dalam tulisan ini hendak Anda revisi setelah Anda mengetahui hal yang disebutkan diatas? Pilihan ada ditangan Anda.

    Saya kutip tulisan Sdr. Willy lagi:
    “Anggapan dilahirkan sebagai perempuan lebih rendah mungkin karena desakan kaum brahmanisme pada saat itu yang semakin kuat (sekitar abad ke-3 sebelum masehi). Apalagi ditambah dengan anggapan bahwa Buddha haruslah seorang laki-laki sehingga saat ini masih ada sebagian kecil umat Buddha yang menganggap kelahiran sebagai wanita adalah lebih rendah, padahal perempuan juga bisa mencapai nirwana atau setara dengan Buddha.”

    Saya coba share komentar istri saya yang menurut saya sangat menarik untuk direnungkan. Dia katakan bahwa terlahir sebagai wanita tidak seenak pria. Wanita dewasa akan mengalami haid berpuluh-puluh tahun. Ditambah lagi bila sedang hamil, sengsara banget. Waktu mau melahirkan, mempertaruhkan nyawa. Jadi siapa yang mau dilahirkan sebagai wanita? Kenapa dilahirkan sebagai wanita? Lalu bagaimana dengan yang waria/banci? Memangnya mereka mau dilahirkan seperti itu? Lalu apa yang menyebabkannya? Wanita terlahir dengan sejumlah keterbatasan yang tidak dimiliki oleh pria. Haid, hamil, melahirkan adalah hukum alam yang harus diterima oleh wanita. Ini bukan merendahkan wanita, ini adalah hukum alam. Lalu diskriminasi apa yang dipermasalahkan? Diskriminasi kerja? Diskriminasi sosial? Yang jelas Buddha tidak mendiskriminasikan perempuan!

    Pandangan benar yang sesungguhnya adalah pandangan yang tidak mengandung “ke-aku-an/anatta”

    Attracted by light and heat, a moth flies into a flame.
    Stunned by the sound of a guitar, a deer stands unaware of a hunter.
    Drawn by the scent of a flower, a bug is trapped inside.
    Attached to taste, a fish rushes to a hook.
    Pulled to mud, an elephant cannot escape.
    –Paltrul Rinpoche’s sacred word–

  • Pisa Kendro

    Willy Yandi wrote:
    Untuk Sdr.Pisakendro
    Mungkin Sdri.Parkit (dari namanya sepertinya perempuan) mewakili kaum perempuan yang merasa tertindas.

    Pisa:
    Hmm… Anda tidak bisa berasumsi demikian mengingat sdri. Parkit nyata2 masih awam terhadap hal2 yang demikian. Karena dia memang masih awam, jadi wajar saja dia berpendapat seperti itu.

    Willy Yandi wrote:
    Memang tulisan saya belum tentu mengandung kebenaran, namun bagaimana Anda tahu bisa menyesatkan orang?

    Pisa:
    Sudah jelas, berbagai pertentangan yang dikatakan oleh teman2 lain termasuk saya terhadap tulisan Anda, menceminkan bahwa tulisan Anda sarat kekeliruan (tidak benar). Tulisan yg keliru jika dilihat oleh orang awam, bukankah mengandung penyesatan jika orang awam tersebut menyetujui (apalagi mempraktekkan) tulisan yang keliru itu?

    Ingat Bro, kekeliruan itu adalah salah satu bentuk kebodohan (MOHA).

    Willy Yandi wrote:
    Anda boleh bicara blak-blakan, tidak masalah untuk saya. Saya sungguh sangat berterima kasih. Namun, saya tetap yakin dengan tulisan saya.

    Pisa:
    Ternyata Anda itu tergolong orang yang auban, keras kepala.

    Willy Yandi wrote:
    Walau saya Anda anggap tersesat, saya memilih sesuai dengan pemikiran ada yaitu tersesat :) karena saya tidak mau melihat pendiskriminasian perempuan dan saya selalu berharap bahwa kaum perempuanlah yang harusnya membela kaum mereka sendiri. :D

    Pisa:
    Justru karena Anda bersikap keras kepala, Anda sudah tutup mata tidak peduli bahwa artikel Anda sebenarnya sudah tidak bisa mewakili aspirasi emansipasi perempuan karena artikel Anda banyak penyesatan. Banyak sekali teman2 yang mengatakan bahwa artikel Anda banyak kekeliruan.

    Bagaimana bisa Anda melepaskan kebodohan (MOHA) dan menuju ke Pandangan Benar (Sammaditthi) jika Anda keras kepala seperti ini?

    Bagaimana bisa Anda mencapai Pandangan Benar (Sammaditthi), jika Anda tidak mau membuka diri untuk melihat bermacam-macam hal dan dari sisi berbeda, termasuk kritikan dari teman2 atas kekeliruan yang Anda buat?

  • Adiharto

    Sdr. Willy, pernahkan anda menjadi Bhikkhu mazhab Theravada atau anda pernah menjadi Bhiksu Mahayana ?, mengapa Anda memvonis bahwa ‘Vinaya Bhikkhu Theravada lebih kaku dan Vinaya Bhiksu Mahayana lebih bebas(liberal).
    Seharusnya sebagai umat awam, kita tidak berhak memberi komentar secara TERBUKA masalah Vinaya Bhikkhu mazhab manapun, karena itu urusan masing-masing Vinaya, apalagi anda sendiri juga bukan seorang Bhikkhu ataupun mantan Bhikkhu !
    Pendapat saya, seorang Bhikkhuni harus ditabhiskan oleh Sangha Bhikkhu dan Sangha Bhikkhuni, sedangkan sekarang ini Sangha Bhikkhuni sudah tidak ada, jadi kalau mau mentabhiskan seorang Bhikkhuni, berarti harus ada persetujuan anggota persaudaraan Sangha Theravada Sedunia, berarti juga harus merubah dan membuka kembali Vinaya. pertanyaan ! siapa yang mau jadi pelopor untuk memulai masalah ini ??? apakah sdr. Willy berkenan ?
    Jadi kalau ada Bhikkhuni Mazhab Theravada di Indonesia, itu sah-sah saja, dan ternyata tidak ada protes dari Sangha Bhikkhu Mazhab manapun juga, jadi yang bikin heboh sebenarnya Umat-umat Buddhis aja, suka usil, atau juga ingin tahu karena penasaran saja tentang adanya Bhikkhuni di Mazhab Theravada, dan kemudian disitulah timbul isu-isu.
    Sebenarnya kita umat awam jangan mempermasalahkan Bhikkhu atau Bhikkhuni, yang kita lihat adalah seseorang (pria atau wanita) yang mau menjalankan kehidupan suci dan mempunyai pandang benar, maka kita sebagai umat harus mendukung penuh orang itu agar berhasil tujuan orang itu, bukankah begitu ?

  • Halim

    Tulisan Sdr. Willy Yandi ini sangat bagus sekali sebagai bahan refleksi bagi kita semua…

    Memang tidak semua hal dalam tulisan ini adalah benar, tapi juga tidak semuanya salah…

    Penulis artikel ini bisa memiliki pemikiran sedemikian rupa, tentu karena ada faktor-faktor penyebabnya: mungkin dari pengalaman, observasi, dan hal-hal yang dirasakan secara langsung oleh penulis artikel ini.

    Rasanya tidak adil menuduh penulis “keras kapala” karena bukankah kita semua juga “keras kepala” dan merasa yakin dengan kebenaran pemikiran/ pengetahuan kita sendiri? Darimana kita yakin bahwa apa yg kita pikirkan itu sudah pasti benar?

    Juga tidaklah adil menuduh penulis artikel ini “tersesat”, apakah kita sendiri tidak tersesat? Kita semua tersesat di dunia ini, saling meributi hal-hal sepele yang tidak membawa kemajuan batin…dan terlena dengan asumsi superioritas intelektualitas kita.

    Apakah kita semua ingin mengulangi pengalaman otoritas Gereja yang mencap para ilmuan sebagai “sesat” karena menentang “kebenaran”?

    Bukankah kita semua selalu mengelu-elukan “Ehipassiko”?
    Bukankah Buddha selalu meminta kita melakukan analisis mendalam dan tidak mempercayai secara langsung bahkan terhadap ucapan Beliau sendiri?

    Lakukanlah analisis dan refleksi, ambil nilai-nilai positif dan kebajikan yang dapat dipetik…

    Tentu saja Buddha tidak melakukan diskriminasi terhadap wanita, dan diskriminasi yang terkesan ada dalam komunitas Buddhis pun, tidak bukan (sebagaimana yg telah Sdr. Siwu katakan) adalah hasil dari aspek kultural.
    Bagaimanapun, aspek kultural adalah salah satu elemen yang sangat dominan dalam menentukan wajah peradaban manusia..

  • Pisa Kendro

    Baik, saya tunjukan kekeliruan, penyesatan, dan keras kepala dari sdr. Willy.

    Artikel Willy: “Buddha tidak ada yang perempuan (dalam artian Buddha tertinggi, seperti Gotama) karena seorang Buddha harus mempunyai ciri-ciri Buddha berjumlah 32 (maha purusa)”

    Kenyataan: Ciri2 32 Mahapurissa nyata2 dibabarkan oleh Sang Buddha sendiri di Maha Purissa Lakkhana Sutta, Digha Nikaya IV, Sutta Pitaka, Tipitaka Pali. Itu artinya secara tidak langsung sdr. Willy menyatakan bahwa SANG BUDDHA TELAH MELAKUKAN DISKRIMINASI PEREMPUAN.

    =====

    Artikel Willy: “Di Kitab Jataka Pali (cerita kehidupan lampau Buddha Gotama sebagai Bodhisatta) Bodhisatta tidak pernah terlahir sebagai seorang perempuan, padahal sebagai hewan ada dalam cerita tersebut. Jataka adalah cerita yang bukan dari Buddha sendiri atau dengan kata lain adalah teks tambahan yang disusun ketika penyusunan Tripitaka.”

    Kenyataan: Sangat naif jika hal ini dijadikan alasan diskriminasi, karena dalam Jataka selalu disebutkan bahwa Sang Buddha sedang menceritakan sendiri tumimbal lahir Beliau. Apalagi Tipitaka Pali dengan Jataka sama2 ditulis setelah berabad2 lamanya Sang Buddha Parinibbana, jadi bukanlah Sang Buddha yang menulis Tipitaka Pali dan Sanskrit. Kalau sdr. Willy meragukan Jataka, berarti sdr. Willy juga harus meragukan Tipitaka Pali secara keseluruhan, sekaligus meragukan Tripitaka Sanskrit pula.

    =====

    Artikel Willy: “Semenjak Sangha Bhikkhuni ada, umur Sangha Bhikkhu akan menjadi setengahnya dari 1000 tahun menjadi 500 tahun.”

    Kenyataan: Lucu sekali ramalan Sang Buddha dianggap sebagai bukti diskriminasi terhadap perempuan, apalagi ramalan Sang Buddha memang terbukti terjadi. Ini artinya sdr. Willy juga menganggap Sang Buddha SENGAJA MELAKUKAN DISKRIMINASI TERHADAP PEREMPUAN.

    =====

    Artikel Willy: “Cerita penolakan Buddha sebanyak 3 kali terhadap ibu tirinya yang ingin ditahbiskan menjadi bikkhuni.”

    Kenyataan: Ini juga sama, sdr. Willy menganggap Sang Buddha sendiri SUDAH MELAKUKAN DISKRIMINASI TERHADAP PEREMPUAN.

    =====

    Artikel Willy: “Seorang bhikkhuni tidak diperbolehkan untuk menasehati seorang bhikkhu, namun seorang bhikkhu boleh menasehati seorang bhikkhuni.”

    Kenyataan: Ini adalah salah satu aturan tetap dari Sang Buddha. Secara tidak langsung sdr. Willy menganggap Sang Buddha sendiri SUDAH MELAKUKAN DISKRIMINASI TERHADAP PEREMPUAN.

    ======

    Artikel Willy: “Bahkan di Tripitaka Pali banyak disebutkan bahwa perempuan juga bisa mencapai pencerahan. Jadi sangat tidak masuk akal jika dikatakan bahwa perempuan tidak bisa menjadi Buddha.”

    Kenyataan: sdr. Willy lupa bahwa pencapaian pencerahan bukanlah menjadi Sammasambuddha. Pencerahan itu sendiri adalah pencapaian kesucian yaitu: Arahat, Anagami, Sakadagami, dan Sotapana. Dalam nas Theravada, banyak sekali disebutkan pencapaian pencerahan Arahat wanita (Savaka Buddha) pada zaman Sang Buddha.

    =====

    Artikel Willy: “Mahayana adalah buddhime yang lebih liberal. Mahayana sendiri terdiri dari berbagai macam tradisi-tradisi kecil. Sebagian pemikiran Mahayana mengangkat kaum perempuan sehingga dalam Jataka Cina dapat ditemukan bodhisatta yang terlahir sebagai perempuan sebelum akhirnya terlahir sebagai laki-laki yaitu Buddha Gotama. Namun, hal tersebut dirasa tidak sesuai dengan ajaran Buddha sehingga pada akhirnya lahir konsep Buddha Perempuan di Cina yang terwujud dalam awalokiteswara (guan-yin).”

    Kenyataan: Mahayana adalah sekte yang dibangun dari sakit hatinya kaum Vajjiputtaka yang memisahkan diri dari Sangha pada Pasamuan Sangha ketiga setelah Parinibbana Sang Buddha, karena kaum Vijjiputtaka ingin merubah Vinaya Sang Buddha namun ditolak Sangha. Kemudian, kaum Vajjiputtaka mendirikan Sangha sendiri bernama Mahasangika, memisahkan diri ke arah utara yang pada akhirnya menjadi sekte Mahayana. Jadi tentu Mahayana tidak dapat dijadikan referensi karena ajaran Mahayana nyata2 sarat dengan ajaran2 yang menyimpang dari ajaran Sang Buddha. Menggelikan, sudah menyimpang, mengapa masih dipakai?

    =====

    Artikel Willy: “Diskriminasi selanjutnya adalah terhadap bhikkhuni. Dikatakan sejak awal kemunculan sangha perempuan, sangha bhikkhu akan berkurang umurnya. Namun, kenyataannya sangha Mahayana hingga saat ini yang mempunyai biksuni tetap bertahan dan bahkan salah satu biksuninya amat dihormati (biksuni Cheng-Yen, pendiri Tzu Chi).”

    Kenyataan: Seperti yang sudah dijelaskan di atas, bahwa sekte Mahayana sudah jelas2 memisahkan diri dari Sangha Sang Buddha dan kemudian mendirikan Sangha tandingan. Tentu saja tidak heran jika sampai sekarang Mahayana masih mempunyai bhiksuni. Namun tentunya bhiksuni Mahayana (termasuk bhikkhuni sekarang) tidak bisa disamakan dengan bhikkhuni yang dibentuk oleh Sang Buddha, yang sudah lama punah secara alami itu.

    =====

    Artikel Willy: “Dikatakan juga Buddha menolak tiga kali permintaan ibu tirinya untuk menjadi bikkhuni. Mungkin pada kasus ini, ibu tirinya adalah seorang ratu sehingga jika Buddha menerimanya, akan terjadi ketidakstabilan politik kerajaan dan Sangha Bhikkhu akan mengalami masalah.”

    Kenyataan: Ini adalah asumsi yang ngawur ga karuan. Jelas2 ibu tiri Nya (Mahapajapati Gotami) sudah masuk jadi bhikkhuni, apa iya terjadi ketidakstabilan politik kerajaan? Apa iya Sangha bhikkhu mengalami masalah ketika nyata2 Mahapajapati Gotami sudah ditahbiskan menjadi bhikkhuni oleh Sang Buddha? Ngawur deh…

    =====

    Artikel Willy: “Pertanyaannya adalah mengapa bhikkhuni tidak boleh menasehati bhikkhu? apakah kebijaksanaan bhikkhuni/perempuan lebih rendah dari bhikkhu/laki-laki? Tentunya kita semua sudah sangat jelas mengenai ajaran Buddha di mana kebijaksanaan seseorang tidak ditentukan oleh jenis kelaminnya. Jadi mengapa peraturan itu ada? Temuan terkini mulai meragukan sumber peraturan tersebut apakah memang dari Buddha Gotama sendiri atau dibuat belakangan.”

    Kenyataan: Ini juga ngawur. Sudah jelas pertama sdr. Willy menyetujui Sang Buddha menolak Mahapajapati Gotami menjadi bhikkhuni, tapi setelah melihat peraturan Garudhamma, sdr. Willy malah meragukannya. Padahal cerita penolakan Sang Buddha dengan peraturan Garudhamma adalah di dalam satu alur cerita. Jadi terkesan, sdr. Willy semaunya sendiri dalam melakukan penilaian. Ini menggelikan dan tidak profesional.

    =====

    Artikel Willy: “Setelah kematian Buddha, ucapan-ucapan beliau belum ditulis. Hanya diturunkan melalui ucapan-ucapan dari satu generasi ke generasi selanjutnya, sehingga memungkinkan adanya penafsiran-penafsiran atau tambahan-tambahan di dalam kitab suci Tripitaka.”

    Kenyataan: Sdr Willy sendiri sebenarnya tidak bisa membuktikan secara ehipassiko mengenai isi kitab suci Tipitaka Pali. Aneh sekali bila sdr. Willy mempercayai sebagian isi kitab, sementara yang lain tidak, hanya karena asumsi pribadi seorang Willy. Dan lucunya, ada beberapa ajaran yg dianggap sdr. Willy sebagai ajaran yang sdh tidak sesuai dengan ajaran Sang Buddha, tapi masi tetap saja dijadikan referensi untuk memperkuat alasannya menggugat diskriminasi kaum perempuan, seperti contoh ajaran Mahayana tentang Kuan Im. Ini menggelikan sekali.

    ===== END

    Karena hal2 demikianlah, saya berani menyatakan bahwa artikel sdr. Willy banyak kekeliruan dan tidak konsisten. Bagaimana bisa sebuah informasi yang keliru dan tidak konsisten, tidak bisa MENYESATKAN orang yang membaca?

    Lalu, sebenarnya teman2 lain dan saya sudah menunjukkan banyak sekali kekeliruannya, namun nyatanya sdr. Willy tetap bersikukuh bahwa tulisannya merupakan aspirasi dari emansipasi perempuan, padahal nyata2 artikelnya justru banyak yang ngawur. Apakah ini tidak bisa disebut sebagai KERAS KEPALA dari seorang Willy?

  • Gister

    Kalau tidak percaya kelahiran kembali, jangan menulis artikel ini.
    dan JANGAN CEPAT MENGAMBIL KESIMPULAN hanya dengan membaca beberapa tulisan yang menjadi rujukan Sdr.

  • Rileks

    “Kita tidak bisa menjadi bijaksana dengan kebijaksanaan orang lain, tapi kita bisa berpengetahuan dengan pengetahuan orang lain. ”

    “Seorang konsultan psikologi paling jenius sekalipun tidak lebih mengerti tentang pikiran dan keinginan kita lebih daripada diri kita sendiri.”

    “Kita ada di sini bukan untuk saling bersaing. Kita ada di sini untuk saling melengkapi.”

    “Kebebasan itu berasal dari manusia, tidak dari undang-undang atau institusi.”

    “Tak melakukan apa-apa merupakan kekuatan setiap orang.”

    “Sifat Cinta: 1. Tidak membeda-bedakan 2. Cuma-cuma atau tanpa pamrih 3. Ketidaksadaran diri 4. Bebas”

    “Orang yang tidak bisa memaafkan orang lain sama saja dengan orang yang memutuskan jembatan yang harus dilaluinya, karena semua orang perlu di maafkan.”

    “Segala sesuatu merupakan suatu kebiasaan. Kita mempelajari cara keariefan yang merupakan cara kelenturan. Apabila kita terbiasa dengan kelenturan, maka (kita) terbiasa dengan berbagai perubahan dadakan, kita terbiasa dengan tindakan segera, tindakan spontan, bukan tindakan prasangka, itulah cara yang terbaik.”

    “Kita seharusnya menjadi se-agung sang Pencipta. Dia bisa mewadahi semua ciptaanNya, mengapa kita tidak bisa bertoleransi terhadap pemikiran-pemikiran saudara kita, teman kita, atau orang lain yang kita kenal? Kita harus bisa berbuat yang sama untuk mencapai Anuttara-Samyak-Samboddhi, dimensi tertinggi, tingkat tertinggi.”

    “Setiap hari jika kita berpikir seperti Buddha, bertindak seperti Buddha, bertutur kata seperti Buddha, maka pada hari itu Anda adalah Buddha.”

    “Kita menjadi biarawan demi pengabdian kepada sesama makhluk hidup, bukanlah ingin lebih cepat menjadi Buddha untuk mengungguli orang lain.”

    “Menjadi biarawan atau tidak, kita tetap dapat berlatih rohani, yang terpenting harus mencapai kebebasan abadi dan memperoleh kebijaksanaan ilahi dahulu, barulah kita dapat menolong dunia.”

    “Yang Maha Kuasa menempatkan kita di mana saja, dan hal itu pasti merupakan yang terbaik, yang mana kita harus puas atas penempatanNya.”

    “Ingin mengetahui Anda ada kemajuan atau tidak, cukup melihat perubahan watak diri Anda, keluasan wawasan Anda dan pengembangan kemurahan hati Anda. Itulah kemajuan dan tingkat Anda sesungguhnya.”

    “Bersahajalah! Hidup akan lebih mudah buat Anda, dan Anda menghemat seluruh energi Anda untuk naik (ke atas) daripada memboroskannya pada bidang intelektual yang berpencaran di sini dan di sana, dan melekatkan diri Anda di sana. Anda cantik, sungguh cantik. Bebaskan diri Anda. Anda terlalu membebani diri; itu tidak perlu. Jadilah dirimu sendiri. Bebaskanlah.”

  • Ciputra

    Sdr. Willy telah membawakan issue diskriminasi perempuan buddhis lewat tulisannya. Dengan segala keterbatasan dalam tulisannya, namun oleh beberapa pembaca yang peduli dan mau share apa yang diketahuinya, keseluruhan ini memberikan pengetahuan yang lebih luas kepada khalayak pembaca.

    Alangkah baiknya bila tidak menyerang pribadi penulis atau yang lainnya, dan pula penulis dengan rendah hati mau menerima masukan-masukan dari para pembacanya. Feedback dari pembaca adalah sangat penting bagi penulis umumnya, sebab dapat dipakai oleh penulis sebagai rujukan dalam tulisan-tulisan berikutnya. Pembelajaran itu tiada habisnya.

    Akhir kata, setelah membaca semua ini, semoga masing-masing pembaca akan memiliki pemahamannya masing-masing. Berhati-hatilah, jangan kemudian me-‘label’ sesuatu, karena itu berarti kita memupuk “moha” kita sendiri dengan terus menganggap bahwa segalanya memiliki entitas (“atta”). Sebagai contoh, kita me-‘label’ diri kita pandai :)

    Semoga semua makhluk berbahagia.

  • Adiharto

    Sdr/i Rileks, saran dan khotbah anda cukup bagus, memang makhluk yang dinamai ‘manusia’ itu tidak boleh membenci, dan bahkan harus sering memancarkan cinta kasih dan kasih sayangnya bahkan kepada semua makhluk bukan manusia saja. (Metta Sutta)

    Dalam sebuah penulisan, seorang penulis harus siap dikritik, apalagi hasil penulisannya tidak sesuai dengan hati pembaca, kebetulan para pembaca juga mengetahui dan mengerti (walaupun bukan ahli), dimana pedoman untuk penulisan itu yang di pakai sebagai narasumber yaitu Tipitaka.

    Kebetulan memang dalam penulisan ini ada kerancuan jadi memang perlu di LURUSKAN, agar pembaca lain jangan salah tafsir, dan pembaca lain juga bisa membandingkan Hasil Penulis dan Hasil Kritikan, yang mana lebih benar apabila di acuankan dengan sumber pedomannya Tipitaka.

    Dan saya yakin juga Penulis tidak berkecil hati, karena tujuan dia menulis adalah Membahagiakan semua makhluk tanpa membeda-bedakan, kemudian penulis apabila ada kritikan jangan tanggapi dengan panas hati, tapi coba direnungkan apakah kritikan ini, bersifat menjatuhkan penulis atau memberi mamfaat bagi penulis ! (perlu perenungan lebih mendalam), karena yang meng-Kritik juga tidak kenal dengan penulis, jadi apa yang mau dijatuhkan ?

    Sdr/i Rileks wrote :
    “Kita seharusnya menjadi se-agung sang Pencipta. Dia bisa mewadahi semua ciptaanNya, mengapa kita tidak bisa bertoleransi terhadap pemikiran-pemikiran saudara kita, teman kita, atau orang lain yang kita kenal? Kita harus bisa berbuat yang sama untuk mencapai Anuttara-Samyak-Samboddhi, dimensi tertinggi, tingkat tertinggi.”

    “Setiap hari jika kita berpikir seperti Buddha, bertindak seperti Buddha, bertutur kata seperti Buddha, maka pada hari itu Anda adalah Buddha.”

    “Kita menjadi biarawan demi pengabdian kepada sesama makhluk hidup, bukanlah ingin lebih cepat menjadi Buddha untuk mengungguli orang lain.”

    “Menjadi biarawan atau tidak, kita tetap dapat berlatih rohani, yang terpenting harus mencapai kebebasan abadi dan memperoleh kebijaksanaan ilahi dahulu, barulah kita dapat menolong dunia.”

    Adiharto write ;
    Maaf, SANG BUDDHA juga tidak sanggup menolong Dunia, apalagi kita manusia biasa)

    “Yang Maha Kuasa menempatkan kita di mana saja, dan hal itu pasti merupakan yang terbaik, yang mana kita harus puas atas penempatanNya.”

    Adiharto write :
    Saya belum puas akan penempatanNya, karena ‘DIA’ tidak adil.

    “Ingin mengetahui Anda ada kemajuan atau tidak, cukup melihat perubahan watak diri Anda, keluasan wawasan Anda dan pengembangan kemurahan hati Anda. Itulah kemajuan dan tingkat Anda sesungguhnya.”

    “Bersahajalah! Hidup akan lebih mudah buat Anda, dan Anda menghemat seluruh energi Anda untuk naik (ke atas) daripada memboroskannya pada bidang intelektual yang berpencaran di sini dan di sana, dan melekatkan diri Anda di sana. Anda cantik, sungguh cantik. Bebaskan diri Anda. Anda terlalu membebani diri; itu tidak perlu. Jadilah dirimu sendiri. Bebaskanlah.”

    Adiharto write ”
    Sdr/i Rileks, apakah seorang Buddhis ? setahu saya. pedoman kitab suci Tipitaka tidak mengenal ‘SANG PENCIPTA atau YANG MAHA KUASA’
    Jadi yang ada di kitab suci Tipitaka, YANG MAHA SUCI, YANG TELAH MENCAPAI KESEMPURNAAN, SEMPURNA PENGETAHUAN DAN TINDAK TANDUKNYA, SEMPURNA MENUJU NIBBANA, YANG MAHA TAHU TENTANG SELURUH ALAM SEMESTA, YANG TELAH SADAR, YANG PATUT DIMULIAKAN itulah SANG BUDDHA GOTAMA.

  • Parkit

    Hidup kita di dunia ini masih tersesat,,, masih mencari… Buddha sudah memberikan kuncinya kepada kita untuk dapat membedakan mana yang benar dan tidak, mana yang layak dan tidak, mana yang patut diikuti dan yang tidak, mana yang patut dilakukan dan mana yang tidak… Pernahkah kita berpikir apa yang kita lihat, dengar, pikirkan, dan ketahui berbeda dengan orang lain…
    Lalu bagaimana kita tahu sesuatu itu benar tanpa mengetahui sisi lainnya???
    Teruslah berlatih, itu pesan Buddha sebelum parinibana… Dhamma bukan untuk diperdebatkan tetapi dilaksanakan…
    Jika menurut kita benar laksanakanlah, jika tidak sesuai jangan dilakukan.

    :) Thx

  • Pisa Kendro

    Dari dulu sampai sekarang, saya sangat mengharapkan bahwa kita dapat bersikap dewasa dalam menghadapi kritikan dari orang lain, apalagi kita ini mengaku seorang buddhist. Namun harapan itu jauh dari kenyataan.

    Ibarat kuda ditepuk pantatnya, ia sudah langsung berlari, namun tidak bagi si sapi. Ketika sapi ditepuk, ia hanya menggoyang2kan ekornya saja tanpa bergeming sedikitpun. Barulah ketika si sapi dipukul pantatnya, ia mulai berjalan. Itu saja dia hanya berjalan, bukan berlari seperti kuda.

    Artinya, ketika ada masukkan (kritik), seringkali kita tidak pedulikan kritikan itu. Barulah ketika kritikan itu berubah menjadi tajam, kita mulai memperhatikannya. Itu saja baru mulai perhatian, bukannya intropeksi diri. Terkadang bukan perhatian yang muncul, melainkan perlawanan terhadap kritikan lah yang muncul.

    Padahal, semestinya ketika ada kritikan biasa, kita mesti waspada dan mawas diri, memeriksa apakah ada yang salah dengan pandangan dan tulisan kita itu, sehingga tidak ada kritikan yang lebih tajam lagi yang muncul.

    Itulah mengapa semakin lama, kritikan dari saya semakin tajam dan terbuka sangat lebar, hal ini karena saya melihat masukkan dari teman2 termasuk saya nampaknya kurang mendapat perhatian. Kalau saja ada perhatian dari awal, tentu tidak akan seperti ini kejadiannya.

    Nah, kalau memang saat pembahasan terdapat kritikan, seringnya kita merasa malu dan harga diri kita jatuh ke basement 10, sehingga ego kita naik dan timbul perasaan tidak terima. Akibatnya keras kepala lah yang terjadi, bahkan ada juga yang emosi marah besar dan mengumpat2 lalu menghujat sumpah serapah kepada si pengkritik. Inilah yang dimaksudkan sebagai penyerangan kepada pribadi seseorang.

    Jadi dari saya, sama sekali tidak ada maksud negatif seperti memojokkan si penulis atau bahkan membunuh karakter si penulis sehingga si penulis tidak bisa berkarya lagi. Justru saya ingin agar semuanya belajar (termasuk saya sendiri) bahwa kita mesti rendah hati dan tetap mempraktekkan ajaran Sang Buddha. Bersikap dewasa!

    Walaupun saya sudah meminta maaf kepada sdr Willy, saya tetap mengucapkan permintaan maaf sekali lagi kepada sdr. Willy sekarang. Tidak ada maksud untuk melukai Anda sebagai pribadi, namun hanya sekedar memberikan sinyal yang darurat bahwa kita mesti berhati2, bahkan ekstra hati2, karena yang kita sampaikan adalah sangat krusial dan membahayakan, lebih berbahaya dari bom atom.

    Kita mesti gentle untuk mengungkapkan sesuatu, tak perlu takut. Yang salah bilang lah salah, dan kalau benar bilang lah benar. Sebab kalau tidak, maka banyak sekali orang yang mengalami kerugian akibat menerima informasi yang kurang tepat. Ini juga bahaya bagi si pemberi info, dalam hal ini penulis.

    Justru kita mesti berhati2. Kenyataannya kita masih jungkir balik untuk mendapatkan kebenaran Dhamma. Di dunia ini banyak sekali yang mirip Dhamma, tapi ternyata bukan!

    Justru yang selama ini dianggap bukan, malah ternyata itulah Dhamma.

    Ironis memang…

  • Rileks

    @Willy:
    “Teguran dari orang lain merupakan suatu pujian!”

    “Kita harus menemukan kekuatan kasih dalam diri kita terlebih dahulu, barulah kita dapat benar-benar mengasihi orang lain.”

    @Sdr Adiharto, terima kasih atas feedbacknya
    Saya seorang beragama Buddha. Saya disini bersifat netral. Semua ajaran agama diajarkan kepada kita untuk berbuat baik, saling tolong menolong, saling maaf-maafkan, kekeluargaan, bersikap terpuji, bertanggungjawab, rendah hati
    “Jika kita tidak melekat, tidak tergila-gila kepada dunia ini, dengan sendirinya kita tidak akan kembali.”

    “Segala sesuatu diciptakan oleh kita. Sehingga jika kita ingin menjalani kehidupan yang bahagia, kita harus menciptakan suasana yang bahagia.”

    Manusia atau orang atau human beings atau humans terbuka terhadap emosi yang besar, yang mana sangat mempengaruhi keputusan serta tingkah laku mereka. Emosi menyenangkan seperti cinta atau sukacita bertentangan dengan emosi tak menyenangkan seperti kebencian, cemburu, iri hati atau sakit hati.

    Orang yang tidak bisa memaafkan orang lain sama saja dengan orang yang memutuskan jembatan yang harus dilaluinya, karena semua orang perlu di maafkan. Betul tidak.

    “Dunia adalah komedi bagi mereka yang melakukannya, atau tragedi bagi mereka yang merasakannya.”

    From Adiharto:
    Saya belum puas akan penempatanNya, karena ‘DIA’ tidak adil.
    “Kadang kala kita dilahirkan dalam keadaan fakir miskin (sengsara), karena Tuhan menghendaki kita belajar bersemangat pantang mundur dan berlatih keberanian diri.”
    “Apa itu semangat Zen? Hayatilah hari ini. Lakukan apa yang perlu dilakukan hari ini, betapapun susahnya atau senangnya adalah hari ini, pahamkah? Jangan peduli masa lampau, karena yang lalu tidak dapat ditarik kembali! Dan masa depan belum menjelma. Karena sangat jarang orang yang dapat dengan sepenuh hati menempatkan mentalnya pada saat kini, sehingga kita begitu menderita.”

    “Kita harus peduli pada orang lain. Itulah tujuan hidup. Semakin kita peduli pada orang lain, semakin kita mengembangkan diri kita, berkembang hingga kita menjadi satu dengan segalanya, dan kita menjadi Buddha. Semakin Anda peduli pada diri sendiri, semakin sempit jadinya Anda.”

    “Kita harus berbagi pahala yang muncul dari latihan rohani kita dengan dunia. Kita tidak berlatih hanya untuk kepentingan diri kita sendiri saja.”

    “Bagaikan anak, kita harus menjaga kepolosan hati dan menerima dengan tangan terbuka, dengan demikian kita akan maju dengan pesat.”

    From Adiharto:
    Maaf, SANG BUDDHA juga tidak sanggup menolong Dunia, apalagi kita manusia biasa
    “Memperbaiki diri kita adalah memperbaiki dunia.”

    “Anda mesti bekerja sendiri, kalian semua, sampai Anda memahami apa adanya dirimu, dan tidak tergantung pada segala sesuatu. Bersikap teguhlah. Jangan terlalu banyak menaruh kepentingan pada keberadaan fisik Anda. Berikan makanan secukupnya; berikan tubuh makanan secukupnya, pakaian secukupnya, latihan secukupnya, hanya itu saja. Jadikan tubuh itu menyenangkan dan itu sudah cukup. Kalau tidak kita akan selamanya terikat pada dimensi fisik. Apapun yang terlalu kita perhatikan, kita akan terikat dengannya. Saya juga harus bekerja untuk pemahamanku. Kemungkinan saya bekerja lebih cepat dari Anda, tetapi cepat atau lambat Anda akan sampai.”

    “Membantu orang lain adalah membantu kita sendiri. Kita senantiasa harus membersihkan pikiran kita, mengamalkan cinta kasih dan kasih sayang kita dengan tanpa syarat, tidak mengharapkan sesuatu imbalan, itulah jalan terbaik.”

    “Membantu orang untuk mencapai Kebebasan Abadi dan mengenal Ajaran Sejati adalah bantuan yang terbesar, jasa yang tertinggi.”

    “Jika masih memikirkan untuk membela nama baik kita, wibawa kita, agar orang tahu bahwa kita sangat baik, maka kita masih mempunyai ke-aku-an, masih belum terbebas dari konsepsi orang awam.”

    “Kita bisa menipu seluruh dunia, namun menipu diri akan menjadi masalah yang semakin pelik. Mungkin saja kita dapat menipu Buddha, namun kita tidak dapat menipu diri sendiri. Di mana saja, kita akan mengetahui perilaku kita sendiri, mengetahui sampai mana kadar keburukan kita, dan di mana kebaikan kita; inilah kekuatan yang menciptakan surga dan neraka, yang berasal dari dalam diri kita, maka Buddha mengatakan, “Segalanya diciptakan oleh pikiran.”

    Salam,
    Rileks

  • Adiharto

    Sdr. Rileks wrote :
    “Kadang kala kita dilahirkan dalam keadaan fakir miskin (sengsara), karena Tuhan menghendaki kita belajar bersemangat pantang mundur dan berlatih keberanian diri.”

    Adi Write :
    Sdr. Rileks, kata nasehat kamu bagus, saya terima dan turut bergembira, karena anda mau berbuat kebajikan, dan berbuat kebajikan adalah Berkah Utama.

    Tapi Sdr. Rileks perlu belajar atau Kursus Dasar Pokok Pengenalan Agama Buddha di vihara terdekat atau sering baca buku tentang Buddha Dhamma.

    Dalam Dhamma dengan pedoman Tipitaka, tidak pernah mengenal sesosok yang namanya Tuhan, apalagi kita menggantungkan nasibnya terhadap sesosok Tuhan, jadi agak Rancu dan Salah Pengertian.

    Fenomena alam semesta yang terjadi, semuanya pasti ada Sebab Akibat dan Tidak Berdiri Sendiri, jadi saya sarankan Sdr. Rileks harus banyak belajar dan pemahaman yang lebih mendalam tentang Buddha Dhamma,
    Semua makhluk menggantungkan nasibnya sendiri masing-masing tanpa kepada makhluk lain manapun.

    Semua Makhluk adalah pemilik perbuatan mereka sendiri,
    terwarisi oleh perbuatan mereka sendiri
    lahir dari perbuatan mereka sendiri
    berkerabat dengan perbuatan mereka sendiri
    tergantung pada perbuatan mereka sendiri
    Perbuatan apa pun yang mereka lakukan baik atau buruk,
    perbuatan itulah yang akan mereka warisi.

    Inilah yang diajarkan Guru Agung, Sang Buddha Gotama.

  • Gister

    Komentar dari Rileks rancu dan mencampurkan pandangan Buddhis dengan konsep Kristen. Pemikiran Rileks harus dimurnikan dulu dengan belajar memahami Hukum Sebab Akibat dan Perpaduan.

  • Daniel SW

    sdr/i Rileks, Anda cukup bijaksana, namun saya hanya sekedar ingin meluruskan aja :

    Bila sdr/i Rileks masih memiliki pandangan bahwa ada sesuatu di atas sana yang mencipta manusia, menetukan takdir, dan sebagainya (memiliki pandangan salah miccha-ditthi yang bersifat eternalis) maka Anda tidak perlu berharap dapat mencapai Anuttara Samyak-Sambodhi (Samma-Sambuddha), berharap mencapai pencerahan sebagai Pacceka-Buddha, maupun Savaka-Buddha adalah sia-sia. Bahkan Anda tidak akan pernah mencapai tahapan tingkat kesucian sebagai seorang Anagami, Sakadagami, bahkan Sotapanna sekalipun (apalagi Samma-sambuddha, mustahil bro selama…) selama Anda masih memiliki pandangan salah tentang konsep Maha Pencipta, Maha Kuasa, Maha ini, Maha itu, dll.

    Mohon maaf, pelajari kembali Inti-inti Ajaran Agama Buddha : 4 Kebenaran Mulia (Cattari Ariya Saccani), Jalan Mulia Berfaktor 8 (Ariya Atthangika Magga), 3 Corak Umum Samsara (Tilakkhana), dan Hukum Sebab Akibat Yang Saling Bergantungan (Paticca-Samuppada).

    Sang Buddha mengajarakan kita untuk bersikap toleransi terhadap orang yang berkeyakinan lain, karena pada dasarnya keyakinan-keyakinan tersebut juga sedikit banyak mengajarkan kebajikan yang dapat mengantarkan kita pada kelahiran kembali di alam-alam yang lebih berbahagia nantinya, namun ini bukan berarti jadi alasan untuk dapat mencampur-adukkan Dhamma dengan ajaran-ajaran tersebut.

    Kebijaksanaan Anda adalah bekal yang sangat baik untuk dapat memahami Buddha-Dhamma secara lebih mendalam, namun jangan sampai Kebijaksanaan itu terkotori akibat mencampur-adukkan Dhamma dengan dogma-dogma ajaran lain yang bisa membuat Anda SEMAKIN tersesat (kita semua masih tersesat) dalam lingkaran kelahiran Samsara yang tiada berujung.

    Nibbanam Paramam Sukham
    Vayadhammo Sankhara
    Appamadena Sampadetha.

    Nibbana adalah kebahagiaan yang tertinggi
    Segala yang berkondisi sukar bertahan adanya
    Maka dari itu berusahalah dengan sungguh-sungguh (untuk merealisasi Nibbana).

    Pembahasan ini sudah tidak berkaitan dengan artikel lagi, semata-mata hanya ingin memberi sedikit nasihat bagi pandangan-pandangan sdr/i Rileks.

    Sukhita hontu…

  • adeline

    Sangha bhikkhuni Theravada cepat atau lambat pasti akan terbentuk.

    Hanya masalah waktu saja ;)

  • Adiharto

    Sebagai umat awam, harusnya jangan mencampuri urusan Vinaya Sangha, biarlah para Sangha yang sendiri mengurus Vinaya mereka sendiri, karena sedikit ‘terpeleset’ saja baik melalui ucapan atau pikiran, bisa menyebabkan perpecahan Sangha, yang merupakan Kamma Buruk.

  • Pisa Kendro

    adeline wrote:
    Sangha bhikkhuni Theravada cepat atau lambat pasti akan terbentuk.
    Hanya masalah waktu saja

    Pisa:
    Terbentuk ataupun tidak, “sangha bhikkhuni” tersebut tidak akan bisa dianggap sebagai penerus Sangha Bhikkhuni yang didirikan oleh Sang Buddha.

    Walaupun diperjuangkan sampai perang berdarah pun, tetap tidak akan bisa dianggap sebagai penerus Sangha Bhikkhuni yang didirikan oleh Sang Buddha sampai kapan pun.

    Ibarat sebuah DVD bajakan. Tidak akan bisa sebuah DVD bajakan dianggap sebagai DVD asli original sampai kapan pun.

  • nobby

    Jadi pucing…..8-}

  • Halim

    Bro Pisa,

    Itu kan cuma opini pribadi Anda…

    Anda tidak akan dapat memprediksi bagaimana perspektif umat Buddha secara global beberapa dekade mendatang…

  • http://dhammacitta.org Perpustakaan

    Sepertinya diskusi akan lebih nyaman jika dilanjutkan di forum.

    Silahkan ke sini

    http://dhammacitta.org/forum/index.php?topic=5969.0

  • Pingback: Relasi Gender dalam Agama Buddha | Ridwan Zein()