Waktu yang Berlalu
Chuang
Dari seluruh fenomena alam yang kita kenal, barangkali waktu adalah salah satu fenomena yang sampai sekarang masih menjadi misteri. Sebab, tak seperti zat yang dapat dilihat karena berwujud dan dapat dirasa atau diraba, waktu tak dapat dilihat karena tak kasat mata, tak dapat dirasa atau diraba, dan tak terdengar.
Waktu bisa jadi sesuatu yang aneh, lucu, atau absurd seperti yang ditulis oleh Alan Lightman dalam novel “Mimpi-Mimpi Einstein”. Waktu bisa jadi sesuatu yang mekanistik sebagai hanya patok-patok yang tertancap pada angka-angka tertentu di lingkaran jam, atau pada kertas jadwal kerja, atau pada aliran rutinitas sehari-hari yang membosankan. Waktu pun bisa jadi tak berarti apa-apa bagi seseorang yang tak peduli padanya (dan waktu pun sesungguhnya juga tak pernah peduli padanya juga) Tetapi dari seluruh kemisteriusan yang ditimbulkan oleh waktu, kita mungkin bisa sepakat bahwa waktu itu proses atau perubahan yang menjadikan hari kemarin tinggal kenangan, dan hari ini beranjak tua jadi hari esok yang belum juga pasti wujudnya.
Waktu adalah yang membuat si gendut di dinding ruang tamu atau kamar kita makin hari makin kurus saja, karena lembar-lembar demi lembarnya terus berkurang seiring waktu hingga tanpa terasa dia menjadi kurus dan kita pun bersiap-siap menggantinya dengan si gendut yang baru lagi, yang biasanya datang dengan baju kebesarannya yang berselempang ucapan “Selamat Tahun Baru”.
Waktulah yang membuat orang-orang bertambah tua, makin mendekat kepada akhir dari hidup yang ini tetapi awal untuk hidup yang lain. Dan sebagian dari yang bertambah tua itu juga bertambah bijak, tetapi sebagian yang lain bukan hanya bertambah tua, melainkan juga bertambah bodoh.
Saya berharap dan berusaha, seiring dengan waktu yang berlalu, saya akan menjadi tua dengan bijaksana.
Semoga anda pun demikian.
Chuang 171103
Tags: Masa Depan, Masa Lalu, Waktu
Entries (RSS)
October 7th, 2008 at 10:38
Memang benar waktu adalah konsep, diciptakan oleh manusia untuk memudahkan dalam berinteraksi sehari-hari. Tanpa adanya konsep waktu, kita susah untuk janjian sama temen-temen bukan? :). Karena telah terbiasa dengan konsep waktu, kita tanpa sadar telah menjadikan waktu sebagai subyek. Subyek yang bikin kita tambah tua.
Kita perlu awas/eling untuk tidak terperangkap dalam kerangka pikir ini. Manusia membagi satu hari (dari terbit matahari hingga terbit matahari berikutnya) menjadi 24 jam yang tiap jamnya dibagi menjadi 60 menit dan tiap menitnya dibagi lagi menjadi 60 detik. Karena adanya musim yang berulang, maka setiap pengulangan musim dihitung sebagai 1 tahun (mengacu pada daerah 4 musim). Ilmu astronomi pun mendukung bahwa bumi berputar mengelilingi matahari, jadi klop deh. Nah… kelihatan kan bahwa waktu itu hanya hitungan manusia semata.
Apa bener nih… konsep waktu yang kita ciptakan ini bikin kita tua? Juga apa bener ada waktu yang bener-bener berlalu? Waktu yang berlalu … atau … hal-hal yang berlalu? Daripada pusing-pusing, mendingan kita setiap saat lakukan saja hal-hal yang bermanfaat untuk hidup kita.
October 6th, 2008 at 15:17
Waktu TIDAKLAH yang membuat orang-orang bertambah tua.
karna waktu adalah konsept/sebutan….
yg membuat org jadi tua karna perubahan/pertumbuhan cell…
dan akhirnya cell tsb tidak dpt membelah lagi….(mati)…
Cell dlm tubuh kita tidak dpt SELALU membelah/memperbahurin dirinya…
setelah kekian kali …. MTBF (jam pakai sebelum rusak…)… maka
cell tsb udah tak dpt melakukan fungsinya lagi….
kenapa barang bisa rusak?…..(ya karna ada perubahan/pertumbuhan/pengikisan)…
October 5th, 2008 at 01:29
Saya mengira sekarang adalah detik ini,
tapi setiap saya berpikir demikian satu detik telah berlalu.
Apa yang kukira “saat ini” tidak lain adalah masa lalu,
apa yang kukira masa depan menjadi “saat ini”,
tapi setiap saya berpikir detik ini adalah “saat ini” saya kehilangannya.
Alangkah susahnya merangkul “saat ini”,
karena “saat ini” selalu bersama-sama dengan pikiran kita,
“saat ini” tidak lain adalah pikiran kita
“masa depan” dan “masa lalu” adalah ilusi pikiran,
Oleh karena itu waktu adalah ilusi
Melihat ke “saat ini” tidak lain adalah melihat ke pikiran,
saya kira “saat ini” adalah gerbang ke diri.
Tapi untuk meraihnya kamu harus menyusup ke dalam ruang kosong.
September 30th, 2008 at 10:27
Disini, satu detik berlalu…
Disana, satu jam berlalu…
Dan selama itu pula kita masih belum merasakan pentingnya waktu..
1 detik adalah waktu
Ketika seorang berpenyakit parah berstadium tinggi
Ketika seseorang bersiap-siap menghindari kendaraan di depannya
ketika seseorang berfikir ini adalah ‘membosankan’
Ketika seseorang berfikir ini adalah ‘nikmat’
ketika seseorang berfikir ‘aku ingin bunuh diri’
1 detik menurut batin, antara manusia yang satu dengan yang lainnya mempunyai penafsiran yang berbeda-beda…
Jangan salahkan orang lain tidak menghiraukan waktu,
Karena sebenarnya kita sendiri sudah buang-buang waktu…
September 29th, 2008 at 13:21
Waktu memberikan kesempatan seseorang untuk belajar.
September 27th, 2008 at 08:57
waktu memang tidak dapat dilihat tapi waktu seharunya membuat kita menjadi lebih baik..