Wajah Buddha
Chuang
Setiap kali memandang wajah Buddha di dinding kamarku, selalu saja hadir berbagai rasa dan kesan di dalam hatiku. Dan dari pelbagai rasa dan kesan itu, ada satu yang paling menonjol dan membekas selalu dalam kesadaranku: wajah Buddha senantiasa menghadirkan rasa damai.
Kupikir, jika seseorang bertanya padaku mengenai seperti apakah kedamaian yang hidup itu, maka akan kutunjukkan ia wajah Buddha. “Kawan, lihatlah wajah Buddha. Maka seperti itulah kedamaian yang hidup itu.”
Ketika Setan Alavaka si pemakan manusia bertanya kepada Buddha mengenai rasa termanis, Buddha menjawab: rasa termanis adalah rasa dari pembebasan. Menurutku, yang dimaksud Buddha dengan rasa pembebasan itu tidak lain adalah kedamaian yang dicapai oleh setiap pribadi yang telah cerah.
Sungguh, kedamaian itu benar-benarlah rasa termanis dari semua rasa di alam semesta ini. Lebih-lebih di bumi para manusia, di dalam kehidupan sehari-hari dengan pelbagai problemanya, pelbagai godaan dan nafsu-nafsunya, pelbagai pasang dan surutnya yang seringkali menghempaskan kita, aku makin menyadari betapa sangat manisnya rasa kedamaian yang dapat kita peroleh bila kita telah menempuh jalan Buddha, seperti yang telah Buddha dan para arahat-Nya peroleh.
Bukankah akan sangat indah sekali, jika kita mampu untuk tetap damai di tengah-tengah hiruk pikuk dunia? Tidakkah merupakan suatu kebahagiaan yang luar biasa, bila kita mampu untuk tetap tenang, untuk tetap teduh tak tergoyahkan oleh apa pun yang datang kepada kita dan apa pun yang pergi dari kehidupan kita?
Seperti apakah kedamaian yang hidup itu? Seseorang bertanya kepadaku. Dan kutunjukkan ia wajah Buddha, wajah dari makhluk yang tak tergoyahkan lagi.
Chuang 281002
Tags: Buddha, Wajah
Entries (RSS)
September 10th, 2008 at 21:00
jawaban utk Rafi Mukerje :
Konon, 300 tahun setelah sang Buddha wafat, ada seorang bikkhu yang begitu terkesan dan kagum dengan sang Buddha. Bikkhu tersebut sangat ingin mengetahui bagaimana wajah sang Buddha yang dalam Tripitaka disebutkan berwajah tampan, tinggi, berkulit keemasan dan mempunyai 32 tanda-tanda sebagai makhluk suci. Dengan kesaktiannya, sang bikkhu mengundang Mara, setan yang dulu menggoda sang Buddha di hutan Uruvela dibawah pohon boddhi, utk datang ke hadapannya dan meminta si Mara yang dulu melihat langsung wajah Buddha utk mengubah dirinya menjadi Buddha. Setelah itu bikkhu yang juga punya rasa seni membuat patung itu, kemudian membuat Buddha rupang seperti yang bisa kita lihat sekarang. (itu seperti yang pernah saya baca di buku/majalah). semoga demikian adanya.
August 11th, 2008 at 15:39
Sesuatu yg indah itu nilai universal
kalau itu bagus, cantik, ganteng ya semua nya pasti bilang ya
mata itu ngak bisa berbohong
yg indah indah itu pasti semua setuju, mungkin tingkatan nya yg berbeda dari orang ke orang, atau menpunyai penilaian sendiri2
untuk bentuk wajah Buddha ya seperti itu ada nya
ada di cerita perjalanan Buddha Gautama saat menyebarkan dhamma
dibuat lah rupang sama seperti aslinya
kira kira gitu
August 3rd, 2008 at 18:11
memang bila kita melihat gambar atau patung sang Buddha memang mndatangkan kedamaian, atau bisa merasakan damai dari pribadi sang Buddha?
cuma yang saya mau tanyakan, dari manakah kita mengetahui, bahwa wajah sang buddha atau rambut sang Buddha sama seperti yang sering dibuat patung atau sering dilukiskan manusia selama ini??
atau hanya dugaan manusia saja bahwa fisik sang buddha memang sama seperti yang dilukiskan atau diukirkan manusia selama ini?
darimanakah manusia tahu bahwa sang Buddha memiliki wujud jasmani sperti yang ada selama ini??
August 1st, 2008 at 08:20
Wajah Buddha bagi pemeluk agama Buddha pasti memberikan damai, kesejukan, dan penuh kebijaksanaan….dll, dll
Tetapi utk non Buddhist, keindahan, ganteng, cantik, berwibawa itu sangatlah objective…. (spt bagaimana rasanya orang Amerika melihat Chinese yg matanya sipit? Apakah mata sipit itu indah? Apakah mata kecil itu lucu/gemes?)
menurut saya lebih baik pemikiran2, perbuatan2, ucapan2 Buddha yg lebih luar biasa kita kenalkan pada non-Buddhist. Bukan keindahan wajahnya (karna kecantikan itu objective sekali).
Contoh pemikiran/perbuatan Buddha adalah berani mengatakan bahwa kasta di India itu tidak benar……spt “Manusia mulia atau tidak, tidak dilihat dari kedudukan, kasta, pendidikan, dll…. itu dilihat dari ucapan, pikiran dan perbuatan”…
Dan kalau melihat rupa Buddha… sebaiknya mengingatkan/menceritakan 32 tanda2 org suci… serta artinya apa…..
Bagaimana menurut yg lain?