Hidup yang Serba Instan
Chuang
Di koran-koran, di televisi, di radio-radio, sungguh mudah sekali untuk menemukan berita-berita tentang bagaimana ketidaksabaran manusia-manusia modern telah membuat persoalan sepele menjadi berat.
Ada kejadian tentang bagaimana seorang pengendara motor menjadi begitu tidak sabar terhadap pengemudi mobil di depannya dan kemudian menganiaya pengemudi tersebut hanya karena sang pengemudi begitu lambat bereaksi ketika lampu hijau menyala. Ada cerita tentang seseorang yang menjadi korban penipuan dukun pengganda uang hanya karena orang itu tidak sabar untuk segera menjadi kaya. Ada banyak cerita tentang ketidaksabaran yang membawa sengsara.
Bila lalu kita coba menelusuri di manakah hulu dari segala ketidaksabaran itu berasal, mungkin salah satunya adalah kecenderungan serba instan yang melanda kehidupan kita selama ini.
Kecenderungan serba instan yang memangkas habis kemampuan untuk bersabar ini nampak jelas melalui iklan-iklan di tv, di Koran-koran, di radio dan juga melalui kemajuan teknologi yang semua itu berlomba-lomba menawarkan solusi serba instan kepada kita.
Para produsen minuman menawarkan minuman serba instan dan tidak lupa—tentu saja—diklaim tetap alami. Para produsen obat-obatan menawarkan obat flu, obat sakit kepala, obat batuk yang katanya mampu menyembuhkan penyakit seketika di minum langsung bles ewes..ewes..ilang penyakitnya. Para Paranormal di Koran-koran dan tabloid kuning, dengan penuh percaya diri menawarkan solusi serba instan terhadap semua masalah dunia, seakan-akan tiada masalah yang tidak dapat mereka tangani: mengatasi lemah syahwat, cinta di tolak dukun bicara, memisahkan suami/istri dari WIL/PIL, jimat kekebalan, jimat penglaris, jimat keperkasaan, pelet mani gajah, susuk bertuah, mengatasi segala masalah keluarga anda..dll
Begitu merasuknya kecenderungan serba instan ini ke dalam setiap sel-sel otak kita, ke dalam setiap pori-pori kesadaran kita hingga membuat kita tanpa sadar mulai menyepelekan proses, memandang remeh tahapan-tahapan yang harus kita lalui dalam kehidupan ini. Kita mulai terbiasa untuk menjadi tidak sabar, sebab kesabaran yang kita miliki tak pernah terasah dalam kondisi serba instan ini.
Chuang 200701
Tags: Instant, Kehidupan
Entries (RSS)
September 8th, 2008 at 16:02
kehidupan seba instant tidak bertahan lama tu sebenarnya gimana sich?
cntohnya sekalian dunkzzz….
August 19th, 2008 at 10:03
andaikan ada jalan masuk surga secara instan… wah.. enaknya
July 28th, 2008 at 11:50
Protest………..
Banyak hal yg juga tidak diinginkan instan……….
salah satu yg terlintas dipikiran adalah….
instantaneous coming!
ada yg ngak setuju?
April 16th, 2008 at 15:33
Intant adalah keindahan
ho…ho.
=D
April 15th, 2008 at 21:03
Instant itu memang sudah menjadi bagian dari hidup saat ini,hanya bagaimana
kita bisa mengunakan serba instant itu pada masalah maupun pikiran kita pada
waktu(tempo),tempat dan yang sedang kita hadapi dengan bijak,maka kehidupan yang serba instant akan membuat kita bahagia.
April 10th, 2008 at 19:19
jadi bagaimana membuat hidup tidak serba instan untuk melatih agar sabar? kasih dung tips-tipsnya, biar orang yg membaca artikelmu, bisa mencoba-coba utk berlatih hidup tidak serba instan, atau barangkali bro chuang kudu bikin satu lagi naskah yg judulnya, “Hidup yang serba tidak instan”, contoh ekstrem, jalan kaki dari surabaya ke Semarang……….peace (maaf berkelakar)
btw, saya suka mie instan hehehehe….