Anak Kecil
Chuang
Mengamati tingkah laku keponakan laki-laki saya, sungguh mengasyikkan. Hong-hong, nama anak itu, suka sekali dengan segala benda yang bagi saya sangatlah remeh. Ia misalnya, suka dengan segala macam kardus, karet gelang, tali, sapu, payung dan bahkan juga sandal jepit dekil milik saya.
Ketika ia mengambil sandal jepit dekil saya, saya biasanya akan berteriak kepadanya “Hus, itu eek lho!” Tetapi rupanya ia tidak peduli, atau belum mengerti bahwa sebaik-baiknya sandal, tetapnya kotor karena tempatnya dibawah. Ia hanya tahu sandal jepit dekil itu menarik hatinya.
Saya jadi teringat kembali pada kenangan masa kecil dulu. Ada seorang kakak sepupu saya yang juga suka sekali mengumpulkan benda-benda remeh temeh, dan menganggap benda-benda itu adalah harta kekayaannya. Seperti bungkus rokok (bungkus rokok Marlboro lebih berharga ketimbang bungkus rokok Gudang Garam), kartu-kartu bergambar (kartu bergambar Superman lebih sakti ketimbang kartu bergambar Robin) dan kelereng (kelereng dengan warna-warna tertentu nilainya bisa 2 kali kelereng biasa).
Saya tidak tahu bagaimana persisnya penjelasan tentang mengapa anak-anak kecil suka sekali dengan benda-benda yang bagi orang dewasa sangatlah remeh. Tetapi yang pasti, kita semua tidak berbeda dengan anak-anak kecil itu.
Kita hidup di dunia ini dan kita tertarik dengan segala macam benda-benda duniawi, yang bagi para suci, dipandang sebagai benda-benda remeh temeh. Kita menyukai kenikmatan hidup yang diberikan oleh materi duniawi, sama seperti anak-anak kecil menyukai benda-benda remeh temeh, dan menganggap hal itu sangat berharga.
Chuang 180801
Tags: Anak Kecil, Berharga
Entries (RSS)
November 7th, 2008 at 16:34
“Kita hidup di dunia ini dan kita tertarik dengan segala macam benda-benda duniawi, yang bagi para suci, dipandang sebagai benda-benda remeh temeh. Kita menyukai kenikmatan hidup yang diberikan oleh materi duniawi, sama seperti anak-anak kecil menyukai benda-benda remeh temeh, dan menganggap hal itu sangat berharga.”
Statement di atas sepertinya terlalu naif bagi seorang manusia.
Hal itu jangan disamakan dengan anak-anak.
Sebab satu hal yang perlu CHUANG ingat, bahwa anda pun masih butuh makan dan kesenangan lain.
Statement yang anda tulis itu mengibaratkan anda adalah seorang yang sudah mencapai kesempurnaan dan seolah-olah sudah tidak lagi ingin kenikmatan dunia.
Akan lebih bijak bila anda mengatakan bahwa “hendaknya KITA dapat mengendalikan diri dan tidak terlalu tergiur akan kenikmatan duniawi. sebab hal itu TERKADANG menyesatkan hati nurani.”
Saya hanya berpendapat ya…
Tolong lebih banyak lagi mendengarkan ceramah dan praktek dhamma di dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, hendaknya anda lebih bisa bergaul dan melihat keinginan masyarakat umum.
Pernyataan anda seperti KATAK DALAM TEMPURUNG. Tidak tau keinginan orang lain dan langsung mengatakan bahwa menikmati kehidupan seperti anak-anak.
Anda pun kalau disodori seloyang pizza yang paling anda suka, PASTI anda makan bukan? Itu enak, tapi tetap anda bukan anak-anak…
HATI-HATI DALAM MENULIS BUNG!
TULISAN ANDA ITU BISA MENGAKIBATKAN AGAMA BUDDHA DIBENCI ORANG!!
BELAJAR DULU DEH SEBELUM MENULIS TENTANG DHAMMA.
JANGAN SEMBARANGAN MENULIS!
Salam kenal,
Sandy Gunarso Wijoyo, S.Kom. 98879869
Penceramah
June 20th, 2008 at 18:49
French Cheese bagi org Tiongkok merupakan barang BASI, begitu juga orang barat akan muntah2 memakan Phi Tan (telur berwarna hitam yg direndam kencing kuda). Belum lagi durian, Tahu Busuk, Kluek, dan Cabe Rawit…..
Sewaktu kecil, hobbi gw juga mengumpulin semua kertas rokok (walaupun dimarah ortu)… Selama bisa enjoy atas hobbi tsb ok2 saja deh…….
dari pada semua org cuma senangnya sama “TELOR” kan jadi report….
Jadi menurut Bro Chuang, apakah yg paling berharga selama hidup kita?