Kemelekatan Penyebab Utama Dari Timbulnya Derita
Pdt. D.M. Peter Lim, S.Ag, MBA, M.Sc

“Bagi orang yang hidup dalam kelengahan, keinginan niscaya kian berkembang seperti tanaman menjalar Maluva. Orang semacam ini melompat dari satu kehidupan ke kehidupan lainya bagaikan kera yang doyan buah – buahan yang berloncatan di dalam hutan” TANHA VAGGA XXIV : 334.

Salah satu penyebab dari timbulnya derita adalah “upadana : kemelekatan”, yang menutup mata bathin seseorang sehingga tidak mampu membedakan perbuatan “apa” yang seharusnya diperbuat dan perbuatan “apa” pula yang seyogianya disirnakan. Dikisahkan bahwa pada suatu waktu di sebuah desa di Sri Langka, tinggallah seorang wanita yang berlaku tidak pantas dengan adik laki – laki dari suaminya. Wanita ini lebih bernafsu kepada kekasih gelapnya daripada suami sahnya. Oleh karena itu, ia lalu menghasut kekasihnya untuk mengeyahkan kakaknya itu. Laki – laki itu memprotes, ”Wanita ! Jangan pernah berkata seperti itu”. Tetapi setelah wanita itu mengulangi anjurannya itu tiga kali, Sang kekasih lalu menyerah dan bertanya, “Bagaimana caranya saya melakukan hal itu ?” Ia lalu menjawab, “Pergilah dengan membawa kapak dan tunggu dia di tepi sungai di dekat pohon semak yang besar. Saya akan mengajaknya kesana”. Kemudian laki – laki itu tiba disana dan berbaring menunggu kakaknya sambil bersembunyi di balik semak – semak. Ketika sang suami kembali dari pekerjaanya di dalam hutan, sang istri bersikap seolah – olah ia menunjukkan rasa sayang dan cinta kepadanya dan sembari dengan kasih sayangnya menyisir rambut suaminya, ia berkata, “Rambutmu perlu dibersihkan, sudah kotor sekali. Mengapa kamu tidak pergi dan mencucinya di tepi sungai dekat pohon semak besar itu ?” Dengan berpikir gembira, “Istriku sangat lembut dengan kasih sayangnya padaku”, ia lalu pergi menuruti kata – kata istrinya ke tempat pencucian di tepi sungai. Ketika ia bersiap – siap mencuci rambutnya dengan membungkukkan kepalanya, saat itulah adiknya keluar dari tempat persembuyiannya dan dengan kejamnya, ia memenggal kepala kakaknya dengan kapak yang diabwanya. Dikarenakan oleh kemelekatannya yang kuat kepada istrinya, ia kemudian terlahir kembali sebagai seekor ular hijau. Karena masih melekat kepada istrinya, sang ular menjatuhkan dirinya dari atap rumah ke diri wanita itu. Menyadari bahwa si ular itu pastilah bekas suaminya yang dulu, ia menyuruh orang membunuh dan membuang ular itu. Bahkan setelah meninggal dari alam kehidupannya sebagai ular, kemelekatannya terhadap istriunya masih tetap kuat dan ia kemudian terlahir sebagai seekor anjing di rumah lamanya. Sebagai seekor anjing, ia masih melekat kepada bekas istrinya dan terus mengikuti kemana saja wanita itu pergi bahkan sampai ke hutan pun ia ikut. Orang – orang mengejeknya dengan mengatakan , “Wanita pemburu bersama anjingnya sedang keluar, entah menuju kemana dia !”. Si Wanita kembali menyuruh kekasihnya untuk membunuh anjing itu. Karena kemelekatannya itu masih kuat dan tetap bertahan maka si anjing ini lalu terlahir kembali sebagai seekor anak sapi di rumah itu pula. Anak sapi ini juga selalu mengikutinya kemana pun ia pergi sehingga menjadi bahan tertawaan dan ejekan orang – orang, “Lihat si pengembala ini telah keluar. Entah di padang rumput yang mana sapinya akan merumput”. Kembali si wanita ini menyuruh kekasihnya membunuh anak sapi itu. Lagi – lagi kemelekatannya yang masih kuat kepada istrinya itu menyebabkan ia terlahir kembali, kali ini di dalam rahimnya. Di alam / dunia manusia, dimana ia mendapatkan kembali kesadarannya, ia lahir dan dikaruniai dengan kemampuan mengingat kelahiran – kelahirannya yang lampau. Dengan menggunakan kemampuannya ini, ia meninjau empat kelahirannya yang lampau dan menjadi sangat sedih dan menderita ketika mengatahui bahwa mereka semua dibunuh oleh bekas istrinya, “Betapa ironisnya terlahir di rahim musuh semacam ini”, keluhnya. Ia tidak akan membiarkan ibunya, musuhnya ini menyentuhnya. Bilamana ibunya yang akan menggendongnya, si bayi menangi dengan sekeras – kerasnya. Jadi kemudian, kakeknyalah yang harus mengambil alih tugas membesarkan anak ini. Ketika si anak telah berusia cukup dimana ia telah dapat berbicara, sang kakek menanyakannya, “Oh, cucuku sayang, mengapa engkau menangis bila ibumu hendak menggendongmu ?” “Wanita ini bukanlah ibu bagi saya. Dia adalah musuhku yang telah membunuhku selama empat kali kelahiran berturut – turut”. Berkata demikian, ia menceritakan kembali kepada kakeknya kisah dari kehidupan – kehidupannya yang lampau. Demi mendengarkan kisah sedih ini, si orang tua menangis sambil memeluk si anak dan berkata, “Ayo, cucuku yang malang, mari kita pergi dari sini. Tiada gunanya lagi kita tinggal disini”. Mereka lalu pergi dan tinggal di Vihara dimana keduanya lalu menerima “upasampada : pentahbisan sebagai bhikkhu” dan pada saatnya melalui latihan meditasi yang cukup, mereka mampu mencapai tingkat Arahatta Magga dan Phala = menjadi orang suci.

KESIMPULAN :
Dalam kehidupan ini, tidaklah logis atau pantas melekati apapun juga, baik yang dicintai maupun yang dimusuhi. “Janganlah melekat pada apa yang dicintai ataupun yang tidak dicintai. Perpisahan dengan apa yang dicintai adalah suatu penderitaan. Perjumpaan dengan apa yang tidak dicintai juga merupakan penderitaan. Karena perpisahan dengan apa yang dicintai adalah suatu penderitaan, janganlah mencintai apapun. Tiada lagi ikatan bathin bagi mereka yang terbebas dari kecinatan dan ketidakcintaan”. PIYA VAGGA XVI : 210 – 211. Sabbe satta sabba dukkha pamuccantu – sabbe satta bhavantu sukhitata = semoga semua makhluk hidup terbebaskan dari derita dan semoga semuanya senantiasa berbahagia, sadhu,…sadhu,….sadhu,….

Tags: , ,

5 Responses to “Kemelekatan Penyebab Utama Dari Timbulnya Derita”

  1. 5
    WillyYandiWijaya Says:

    salam
    saya ikut komentar…

    Apa pun pandangan setiap orang tidak menjadi masalah.
    seperti saya melihat ajaran Buddha TANPA TUMIMBAL LAHIR pun sebenarnya tidak menjadi masalah!

    Saya kalau ditanya apakah meyakini Tumimbal lahir atau Reinkarnasi, saya akan menjawab sampai saat ini belum ada bukti nyata. Jadi belum bisa dipercaya.

    Coba kita pikirkan seandainya Sidhartha Gautama terlahir bukan di sekitar India, namun di tengah-tengah bangsa Yunani atau Arab yang tidak ada konsep Reinkarnasi yang mendasari, ajarannya akan tetap membawa KEBAHAGIAAN dengan dasar KEBIJAKSANAAN DAN WELAS-ASIH yang nyata dalam interaksi sosial seperti dalam JALAN MULIA BERUNSUR DELAPAN yang sangat praktis!
    Mungkin ketika lahir di yunani atau Arab atau India, Budda tidak bisa menghindari pola pikir masyarakat pada saat itu yang bisa saja meyakini adanya TUMIMBAL LAHIR ATAU TIDAK.

    Terlepas dari itu tindakan, pikiran, perasaan, niat yang positif semua didorong oleh dasar pandangan CINTA-KASIH & WELAS-ASIH serta ditopang KEBIJAKSANAAN. tidak perlu dipusingkan dengan adanya hal-hal yang logis atau tidak logis. masuk akal atau tidak masuk akal. YANG JELAS KALAU ANDA INGIN BAHAGIA JANGAN MERUGIKAN ORANG LAIN KARENA ANDA TIDAK INGIN JUGA DIRUGIKAN.

    Pemikiran saya ini cukup radikal.
    Namun, saya yakin pemikiran ini akan berkembang seiring dengan kemajuan teknologi dan sains.

    Saya menyukai Buddhisme yang berdasar WELAS-ASIH & KEBIJAKSANAAN yang sangat humanisme bukan hal-hal yang masih kurang masuk akal seperti “dewa”, “setan”, “neraka”, “surga”…

    terima kasih.

  2. 4
    Sumedho Says:

    Terima kasih komentar dan pandangannya. Mungkin Bung Sugiar bisa mencoba memulai membandingkan sudut pandangnya dengan beberapa ajaran dasar Buddhisme untuk mendapat gambaran yang lebih luas.

  3. 3
    Sugiar Yao Says:

    Buddha Gautama tidak mungkin menulis hal-hal yang tidak masuk akal dan menjadikan dirinya ditertawakan.

    Yang terjadi sesungguhnya adalah kesalahan memahami ajaran Buddha Gautama oleh para pengikutnya.
    Kesalahan memahami ajaran Buddha Gautama terjadi karena bahasa selalu mengalami proses evolusi.
    Penyebab proses evolusi bahasa adalah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
    Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadikan beberapa kata mengalami perubahan arti, tidak dipergunakan lagi atau bertambah artinya.

    Bab XXII menjelaskan tentang perbuatan yang dapat mengantarkan dirinya masuk ke neraka.
    Seperti apakah bentuk neraka itu ? Pengertian neraka disini lebih pada suatu keadaan sedang mengalami perasaan menderita.

    Bagaimana tanpa tubuh dirinya dapat menderita ?

    Untuk dapat mengerti proses penderitaan yang dialami seseorang setelah meninggal perlu memahami, bahwa sesungguhnya diri manusia terdiri dari :
    - Badan materi, Badan persenyawaan, badan berotak/ jiwa, badan berbudi.
    - Astral badan materi, astral badan persenyawaan, astral badan jiwa, astral badan budi.
    - Badan ilustrasi
    - Badan proyeksi

    Setiap materi dialam semesta ini selalu meninggalkan jejaknya, begitu pula pikiran, tindakan, rasa nikmat derita, budi dalam bentuk arsip dan astral.

    Arsip dan astral inilah biasanya dikenal sebagai “Arwah orang yang telah meninggal”.
    Arwah inilah yang mengalami proses dilahirkan kembali.

    Manusia sebagai mahluk yang memiliki badan berbudi dan astral badan budi akan mengakibatkan dirinya tidak tenang/ tegang terhadap setiap perbuatan yang mengakibatkan penderitaan pada orang lain baik disengaja maupun tidak disengaja.
    Perasaan tidak tenang/ tegang ini kemudian merusak fungsi badan materi lainnya dan dapat menjadikan dirinya sulit mempertahankan kelangsungan hidup dikehidupan ini maupun dikehidupan berikutnya jika dirinya dilahirkan kembali didunia ini.

    Karena mahluk binatang tidak memiliki budi, maka dengan sendirinya arwah manusia tidak akan pernah dilahirkan sebagai binatang.
    Yang ada hanyalah perumpamaan kejiwaan seseorang mirip binatang.

    Binatang yang dipelihara seseorang, apabila memangsa manusia yang memeliharanya tidak akan pernah merasa menderita, karena binatang tidak memiliki badan budi dan arsip budi.

    Karena itu berhati-hatilah jika memiliki anak balita. Sebaiknya jangan memelihara anjing helder dirumah. Karena anak balita tidak mengerti anjing helder dapat menjadikan dirinya makanan, sedangkan anjing helder hanya memiliki naluri mempertahankan kelangsungan hidup dan perlu mengisi perutnya. Anjing helder bukanlah manusia yang memiliki alat penimbang baik dan jahatnya suatu perbuatan yang akan dan telah dilakukannya.

    Budi biasanya disebut hati nurani adalah organ yang terdapat dalam tubuh manusia untuk membedakan mana perbuatan baik dan jahat.

    Pada kesempatan lain akan mencoba mengupas secara masuk akal, bahwa Buddha Gautama menerima penerangan sempurna.

  4. 2
    Sumedho Says:

    Terima kasih atas komentarnya,

    Yang pertama perlu diingat adalah, Buddha Gautama tidak menerima penerangan sempurna dari siapapun.
    Yang kedua adalah, hal tersebut tidak terdapat dalam dhammapada. Dhammapada hanya sebagian kecil dari tipitaka.
    Yang ketiga, didalam ajaran Sang Buddha, tidak dikenal dengan adanya arwah.

    Penjelasan tentang kelahiran kembali dialam binatang disinggung dalam beberapa bagian. Salah satunya adalah Vipaka Sutta, Anguttara Nikaya 8.40, Sutta Pitaka.

  5. 1
    Sugiar Yao Says:

    Penerangan sempurna yang diterima Buddha Gautama tercatat pada kitab Dhammapada,

    Kitab-kitab lainnya yang ditulis oleh pengikut-pengikutnya tidak mungkin dapat dijadikan acuan sebagai ajaran Buddha Dhamma.
    Bisa saja cerita-cerita manusia yang telah meninggal akan terlahir sebagai hewan adalah cerita / dongengan untuk menakut-nakuti anak kecil.

    Apakah ada pasal dalam dhammapada yang menjelaskan arwah manusia yang telah meninggal dunia dapat terlahir kembali sebagai hewan ?

Leave a Reply

Powered by WP Hashcash