Mencari Di Luar
Nyoman Setiabudi, S.T. (Sacca Bodhi)

Dalam sebuah kisah Saya pernah mendengar.

Dikisahkan seseorang kehilangan suatu benda di dalam ruangan.
Dia pun bergegas mencari benda yang hilang tersebut. Dia pun terus berupaya mencarinya, asyik mencarinya di setiap sudut ruangan, namun belum menemukannya. Dia terus mencarinya hingga akhirnya dia kelihatan sibuk mencari hingga di luar ruangan. Temannya yang sedari tadi memperhatikannya menjadi heran, kemudian bertanya, ” Kenapa Anda mencari benda yang hilang tersebut sampai di luar ruangan? Bukankah Andan kehilangan benda tersebut di dalam ruangan?”. Dengan cukup mantap dia menjawab, “Saya mencarinya di luar ruangan karena di dalam gelap?”

Bila kita perhatikan cerita tadi mungkin kita akan tersenyum mendengar kekonyolan tingkah orang yang diceritakan kehilangan bendanya, namun kalau kita mau merenungi cerita tadi lebih dalam dan merefleksikan pada diri kita maka akan terbesit sebuah renungan yang mencerahkan hati kita. Menyadarkan diri ini.

Sadarkah kita selama ini kita seperti orang yang konyol tadi? Sadarkah selama ini kita selalu disibukkan dengan selalu mencari? Mencari kebahagiaan……….! Ya……..kita selalu disibukkan mencari harta kekayaan, mencari jabatan, mencari kemasyuran, mencari perhatian, mencari nama baik, mencari kesenangan hidup…… singkatnya orang-orang sepakat menyebutnya dalam satu kalimat “Mencari Kebahagiaan”. Ya….mencari kebahagiaan…….
Namun apa yang kita dapatkan?
Pencarian yang selama kita lakukan tidak ubahnya mirip kekonyolan orang yang diceritakan di atas. Kita terus mencari segala sesuatu yang membuat kita bahagia, namun hanya sesaat! Makanya kita hanya mengenal dan mengenang saat-saat bahagia (karena penderitaan selalu membayangi hidup kita).
Pencarian itu terus kita lakukan hingga jauh keluar dari diri kita sendiri.
Pada pandangan (pengertian yang salah) yang membodohi dan menghibur diri kita.
Pada penglihatan yang diharapkan memberikan kesejukan mata kita.
Pada pendengaran yang membuai telinga kita.
Pada aroma yang memanjakan hidung kita.
Pada kecapan yang membangkitkan kerakusan kita.
Pada sentuhan yang menggairahkan hasrat kita.
Pada segala hal yang menggelapkan hati kita.

Kita tak puas-puasnya memanjakan diri kita.
Siang hingga malam hari, selagi tidak terlelap dalam mimpi.
(Bermimpi karena tidak bisa tidur dengan nyenyak).
Ketika mentari muncul, semangat terpompa untuk kembali untuk mengulangnya.
Ketika gelap tampak, kita belum juga terpuaskan.
Kita kembali mencari kenikmatan.

Bahkan mencari jauh….. “terangnya cahaya itu”.
Dalam terang benderang kelipan cahaya yang kita ciptakan.
Gemerlap lampu, hiruk pikuk suara musik, dalam dunia gemerlapan
Kita mengabaikan makhluk lain (binatang lebih tahu waktu tidurnya) yang terpulas karena keterbatasan daya bertahan jasmaninya yang membutuhkan istirahat.
Kita berusaha menciptakan yang menjadi keinginan kita untuk mencari “terangnya cahaya itu”.

Mencari dan mencari kebahagiaan berlebihan? Tidak berujung?
Hingga jauh keluar dari diri kita?
Kenapa demikian?
Mari kita renungkan…..
Kita demikian karena hati kita penuh kegelapan….
Hati dan pikiran kita sangat gelap.
Digelapkan oleh kebodohan (ketidaktahuan tentang diri ini)
Digelapkan oleh Kebencian ( menolak akan ketidaknyamanan yang kini harus kita alami)
Digelapkan oleh keserakahan ( ingin selalu mengejar jauh dari yang kini harus kita alami)
Kita hidup jauh dari kekinian.
Tertutupi oleh pekat dan gelapnya hati ini.
Akhirnya kita tidak menemukan yang kita cari.
Dan tak akan pernah menemukan apalagi bila kita mencarinya di luar.
Sadarkah akan diri ini sepenuhnya?
Kebahagiaan ada dalam hati dan pikiran ini
Insight…..
Terangkan hati dan pikiran ini.
Kebahagian pasti muncul dalam hati dan pikiran ini.

Renungkanlah ini selalu hal ini baik-baik
Be Happy

Tags:

6 Responses to “Mencari Di Luar”

  1. 6
    wawan-Duta FM Says:

    ok, kita berawal dari apa itu kebahagiaan, pernahkan kita menganalisanya? selama ini kebahagiaan ‘cenderung’ kita identikkan dengan materi (harta-red), secara duniawi memang benar adanya, harta (termasuk uang didalamnya) adalah segala-galanya, bahkan harta/uang telah menjadi barometer kebahagiaan hidup, banyak uang dipastikan akan bahagia, kita seperti lupa waktu hanya untuk mengejar harta, maka tak heran jika kita kehilangan harta membuat kita kalang kabut, kebakaran jenggot, itulah manusia..
    sekarang mendingan introspeksi diri, seperti kasus ”kehilangan benda yang diceritakan di atas”. disaat gelap dia akan mencari terang, kita harus telaah bahwa di terang itulah kita bisa menemukan segala-galanya, terang hati, terang pikiran, dan terang perbuatan, itulah cikal bakal kebahagiaan yang abadi…

  2. 5
    andy Says:

    hehehe cerita si otong yg takut gelap :) yup begitulah kira-kira dunia ini. kita muter-muter dari satu kehidupan ke kehidupan lainnya, mengembara mengelana. kayak pendekar silat ya hehehe. puas, tidak puas, cukup, tidak cukup dan lain sebagainya emang datang silih berganti laksana gelombang ombak. kadang saya sampai capek, lelah, letih dan loyo :) mikirin hidup ini mau dibawa kemana ya? namun nampaknya dunia ini memang menjadi sempurna karena ketidaksempurnaan ataupun kesamaannya. biarkanlah perbedaan menjadi penguat dan pemersatu hati di dalam dhamma. diluar maupun didalam kita mencari kebahagiaan, yg penting jgn saling menyakiti, seperti lagu “jangan ada dusta diantara kita” (becanda kok) peace ko ming :)

  3. 4
    morpheus Says:

    well written article… great job!

  4. 3
    Hikoza83 Says:

    jagalah hati… jangan kau nodai..
    jagalah hati… pelita hidup ini….
    [versi bajakan] :D

  5. 2
    Made Says:

    Selamat atas tulisan yg ke dua, mudah2an bisa terus berkarya. sepertinya apa yg Ming paparkan benar adanya, termasuk sy sendiri spt itu juga. sy sendiri belum bisa mencari kebahagian dlm diri sendiri krn belum bisa melepaskan diri dr keterikan kebahagian duniawi. terima kasi banyak atas tulisan ini smg sy bisa jadikan ” sesuluh hidup ” dan berguna bagi pembaca yg lain.

    Salam Hangat
    Made

  6. 1
    Sadar Says:

    Paparan yang sungguh indah yang membuka hati Saya…… Saya setuju… selama ini Saya pun demikian rupanya, gelapnya hati dan pikiran kita menyebabkan kita mencari kebahagiaan di luar. Terima kasih

Leave a Reply

Powered by WP Hashcash