Sudahkah Maitreya Menjadi Buddha?
Abin Nagasena
Ajaran Buddha Gautama yang mulia lambat laun akan dilupakan oleh manusia, hingga suatu ketika tidak akan ada lagi ajaran Buddha di muka bumi ini, bahkan kata “Buddha” sendiripun saat itu tidak lagi dikenal oleh penghuni alam ini.
Lenyapnya ajaran Buddha ini tidak berarti bahwa Dharma mulia alam semesta hilang lenyap selamanya, karena kebenaran hukum alam semesta tidak akan pernah musnah. Ajaran Buddha hilang dari muka bumi ini karena tidak lagi ada yang menerapkan Dharma, tidak lagi ada yang menjalankan Vinaya, tidak ada lagi yang melaksanakan Sila. Dalam pengertian yang lebih sederhana, lenyapnya ajaran Buddha menunjukkan bahwa empat pilar Buddha Dharma, yakni Bhiksu (Bhikkhu), Bhiksuni (Bhikkhuni), Upasaka dan Upasika telah tidak dapat lagi dijumpai di celah manapun di dunia ini. Lenyapnya ajaran Sang Buddha sesungguhnya sangat sejalan dengan ajaran Buddha itu sendiri, bahwa segala sesuatu yang saling bergantungan adalah tidak kekal, segala sesuatu yang berkondisi akan mengalami perubahan muncul dan lenyap secara silih berganti tiada henti. Demikian pulalah kehidupan manusia di alam ini beserta ajaran-ajaran yang ada akan muncul dan lenyap.
Demikianlah ajaran Buddha itu muncul dan lenyap, demikian pulalah dunia ini muncul dan lenyap. Pada masanya, bumi ini akan mengkerut dan kemudian hancur beserta seluruh isinya. Kemudian proses pengembangan bumi ini akan kembali terjadi hingga terbentuknya kembali alam kehidupan manusia di bumi ini. Proses kehidupan akan kembali terbentuk kala semua kondisi untuk itu telah terpenuhi. Manusia akan kembali menghuni bumi ini dan berbagai ajaran juga akan muncul, demikian pula ajaran kebenaran dari seorang Buddha akan kembali tampil dalam sejarah kehidupan manusia di muka bumi ini.
Saat dunia ini mengalami kesemrawutan dan pandangan salah menguasai alam semesta, seorang Bodhisattva (calon Buddha) akan kembali terlahir di alam manusia, beranjak dewasa dan menyadari inti kehidupan yang tidak lepas dari samsara (penderitaan), kemudian meninggalkan kehidupan duniawi dan mencapai Penerangan Sempurna (Samma-Sambodhi) serta mengajarkan Dharma yang telah lama hilang dari muka bumi kepada manusia dan para dewa. Saat itulah menunjukkan dimulainya pemutaran kembali roda Dharma.
Kehadiran seorang Buddha di dunia ini ditandai dengan kondisi kevakuman Dharma dari Buddha sebelumnya. Ketika ajaran Buddha sebelumnya masih eksis (walau hanya ibaratnya setetes air di dalam samudra), Buddha penerus tidak mungkin datang ke dunia ini. Ketika masih ada empat pilar Buddha Dharma, maka Buddha tidak mungkin lahir ke dunia ini. Bahkan, ketika masih ada orang yang mengenali Dharma sebagai ajaran Buddha, maka adalah tidak mungkin bila mengatakan Buddha penerus telah hadir.
Bodhisattva Maitreya - kelak jauh di masa yang akan datang - akan terlahir sebagai manusia yang kemudian mencapai pencerahan sebagai seorang Buddha. Lalu dengan welas asihnya mengajarkan Dharma para Buddha yakni Dharma yang sama dengan Dharma yang diajarkan oleh Buddha Gautama yang saat itu sudah tidak ada lagi di muka bumi ini. Maitreya saat ini berdiam di Surga Tusita dalam kebahagiaan alam calon Buddha menunggu matangnya kondisi pendukung untuk lahir di alam manusia. Salah satu kondisi pendukung itu adalah sebagaimana yang telah disebutkan di atas sebagai prasyarat datangnya seorang Buddha.
Bumi ini tidak dapat menahan kekuatan parami (latihan kesempurnaan) dari dua orang Samma-Sambuddha. Jika Bodhisattva Maitreya datang, mencapai keBuddhaan dan membabarkan ajaran (Dharma) saat ini, maka bumi ini akan hancur berkeping-keping oleh kekuatan parami dari Buddha Gautama yang menjadi berlipat dengan munculnya kekuatan parami Bodhisattva Maitreya yang mencapai keBuddhaan saat ajaran Buddha Gautama masih eksis.
Lalu, kapankah tepatnya Bodhisattva Maitreya akan lahir, mencapai pencerahan dan memutar roda Dharma di alam manusia ini? Berbicara soal hitungan waktu, Buddha Gautama menyatakan bahwa Bodhisattva Maitreya akan datang setelah 56 koti kalpa tahun dalam hitungan bumi (manusia), dihitung dari saat Buddha Gautama membabarkan Sutra perihal kedatangan Maitreya sebagai Buddha. Perlu diketahui bahwa dari masa Buddha Gautama membabarkan Dharma hingga saat ini, satu kalpa tahun pun masih belum berlalu.
Jika bicara soal kondisi prasyarat datangnya seorang Buddha penerus, maka sangat jelas bahwa kondisi kedatangan Bodhisattva Maitreya masih belum terpenuhi. Seperti yang disebutkan di atas, jika masih terdapat ajaran Buddha sebelumnya, maka adalah tidak mungkin seorang Buddha penerus datang ke alam manusia ini. Apakah ajaran Buddha Gautama telah lenyap? Keberadaan Sangha (pesamuan agung para bhiksu/bhiksuni) merupakan satu bukti nyata bahwa ajaran Buddha Gautama masih belum lenyap hingga hari ini. Demikian pula dengan keberadaan Upasaka/Upasika yang semakin menunjukkan bahwa keempat pilar pelindung Dharma bukan saja belum lenyap, bahkan justru masih berdiri dengan kokoh. Selain itu, keberadaan Borobudur dan berbagai candi Buddhis lainnya juga merupakan perwujudan dari ajaran mulia Buddha Gautama. Ajaran Buddha Gautama ini terukir indah yang tampak dalam bentuk relief, mandala dan arsitektur candi. Ini adalah beberapa bukti otentik yang menunjukkan bahwa ajaran Buddha Gautama belum dilupakan dan masih eksis di muka bumi ini, dengan demikian dapat dipastikan bahwa Bodhisattva Maitreya masih belum turun dari Surga Tusita untuk lahir di alam manusia ini dan mencapai keBuddhaan.
Sebagaimana yang juga terjadi dalam setiap ajaran agama, ayat-ayat Kitab Suci yang menyangkut kedatangan seorang Buddha baru dalam ajaran Buddha, ataupun nabi-nabi dan guru besar dalam agama lain, seringkali disalahgunakan oleh pihak-pihak tertentu demi maksud-maksud tertentu. Oleh sebab itu, umat Buddha harus berhati-hati atas pemanfaatan ayat-ayat sabda Buddha Gautama yang diambil sepenggal-sepenggal dan diartikan dengan tanpa memperhatikan konteks keseluruhan dari ayat-ayat tersebut. Ada pihak-pihak tertentu yang mengatakan bahwa Buddha Maitreya telah datang ke dunia ini, argumentasi yang mereka gunakan adalah ayat sabda Buddha Gautama: “Setelah ajaranNya telah dilupakan orang, tidak ada lagi yang mengenali ajaranNya, maka akan datang seorang Manusia Buddha bernama Maitreya.”
Sesungguhnya pengutipan ayat tersebut adalah justru semakin membuktikan bahwa Buddha Maitreya belum datang. Karena yang dikutip adalah ajaran Buddha Gautama, bukankah ini secara tidak langsung menyatakan bahwa ajaran Buddha Gautama masih eksis di muka bumi ini? Sudah jelas sekali, eksistensi ayat sabda Buddha Gautama yang dikutip tersebut adalah bukti nyata bahwa ajaran Buddha Gautama masih eksis, dengan demikian kondisi prasyarat datangnya seorang Buddha penerus masih belum terpenuhi.
Pun yang lebih tidak benar adalah pernyataan bahwa dipercepatnya kelahiran Bodhisattva Maitreya menjadi Buddha adalah atas sabda sebuah kuasa yang jauh superior melebihi para Buddha. Dari mana munculnya sebuah kuasa yang tidak pernah ada dalam Dharma Buddha Gautama selama ini? Sungguh ironis, ajaran yang mengatasnamakan Buddha Maitreya tetapi justru merendahkan martabat para Buddha.
Sebagai siswa Buddha, kita harus berusaha meluruskan hal-hal yang menyimpang tersebut sebagaimana Buddha Gautama pada zamanNya menentang ajaran-ajaran yang kurang tepat maupun salah yang dapat menjadi penghalang bangkitnya Pandangan Benar (Samma-Ditthi) yang merupakan unsur pertama dari Jalan Mulia Berunsur Delapan. Pelurusan ini juga didasarkan pada rasa welas asih agar para penganut ajaran tidak benar ini tidak terseret ke alam neraka Avicci.
Terpujilah Buddha Sakyamuni yang telah mencapai Penerangan Sempurna, yang masih dapat ditelusuri bukti otentik tempat kelahiranNya, tempat pencapaian Penerangan SempurnaNya, tempat ParinirvanaNya (Parinibbana) serta pitaka (keranjang) DharmaNya yang mulia.
Tags: Bodhisatta, Bodhisatva, Maitreya, Metteya
Entries (RSS)
June 12th, 2008 at 06:23
Terima kasih untuk partisipasinya dalam memberikan komentar. Sepertinya sudah menjadi debat berputar-putar dan sudah tidak bermanfaat lagi. Jadi komentar akan ditutup.
Sudah cukup jelas bagaimana sudut pandang Buddhisme terhadap aliran yiguandao (yang di Indonesia menggunakan aliran Buddhisme Maitreya). Aliran ini bahkan tidak diakui sebagai Buddhisme di dunia karena pergerakan “agama baru” ini menggabungkan berbagai element berbagai paham dan agama yang ada. Aliran ini dikenal dengan sinkretisme yang menggabungkan kepercayaan yang saling bertolak belakang.
Saran saya, lebih baik jangan “menebeng” Buddhisme. Silahkan berdiri menjadi aliran kepercayaan sendiri. Dengan demikian masing-masing bisa berjalan sendiri-sendiri tanpa saling menyebabkan salah paham.
June 12th, 2008 at 00:57
Hi..
Iman adalah Iman dan hanya milik saya bukan orang laen, pengalaman saya, bukan pengalaman org laen.
Saya tidak akan membahasnya karena pembahasan tersebut tidak akan mencerahkan suatu pembinaan..
Tidak memperdebatkan sesuatu yang tidak perlu didebatkan..
Terima Kasih
June 12th, 2008 at 00:53
Udah….PAda masuk ke Forum DC aja…Biar bisa lebih rame…Kalo di sini mo diskusi ribet atuh….–>Jualan Mode: ON
Ah ikutan komentar ah….
Topiknya pembahasan mengenai Maitreya yang sekarang Bodhisatva sudah jadi ajang FC nih….
Gini aj, dari pihak Pro terhadap aliran IKT, tolong jelaskan apakah ‘pijakan’ iman kalian? Kalau mau jawab, tolong jangan pake puisi2 indah yang beribet2 yah….
June 11th, 2008 at 21:10
Hi..
Saya membaca seluruh tulisan2 yang ditulis krn saya pikir banyak tulisan2 yang ditulis itu baek dan bagus apa adanya yang bisa yang implementasikan secara nyata dalam hidup saya..
Anda melihat tulisan sebagai sampah krn pada dasarnya diri andalah penuh dengan kekotoran bathin yang tertuangkan lewat tulisan yang penuh dengan makian, cacian, sumpah, egoisme yang bukankah semua ini adalah kotoran (maaf, kl sampah terlalu kasar) yang sejati..
Melemparkan kesalahan bahwa org menuliskan sampah tapi ketika menilik kediri sendiri, terketahuilah sapa yang anda maksud..
Jgn mempermalukan diri anda dgn semakin mempertunjukkan kebodohan dan kegelapan bathin anda..
Terima KAasih
June 11th, 2008 at 21:00
Hi…
Itukan lagu Kristen..
Kasih itu murah hati
Kasih saling memaafkan.
Kasih….
lagu ini bagus, i like this song.
Hati berlandaskan Kebijaksanaan dan Kasih , terang benderang lah masa depan org itu..
Terima Kasih
Apalah namanya adalah apalah arti mempersoalkan sebuah nama yang merupakan bahan pertentangan dr dulu sampai sekarang..
Nick yang bijaksana..
Terima Kasih untuk yang tidak benama dan apalah namanya..
June 11th, 2008 at 20:57
Hi..
Berdebat untuk hal2 yang tidak berhubungan dgn pengembangan batin adalah mencontohi Sang Gautama..
Kemelekatan atas kata2 dlm sutta dan membawanya kepada perdebatan hanya mengupas Kebenaran Semu dan bukan inti sari Kebenaran itu sendiri..
Untuk suatu Kebenaran, apa yang perlu diperdebatkan..
Karena Kebenaran adl Kebenaran itu sendiri..
Perdebatan saling caci dengan kata2 yang membelakangi Dhamma dan “membenarkannya” dengan Buddha Dhamma adalah hal2 yang benar2 menodai Kebenaran itu sendiri..
Ketika sebuah telunjuk menunjuk org bersalah,
Sadarkah diri kita bahwa 3 telunjuk lainnya itu menunjuk diri kita sendiri.
Ketika berusaha menunjuk dan mencari kesalahan org laen tanpa Kebijaksanaan dan Kasih, bukankah akan semakin mempermalukan diri sendiri dan semakin mempertunjukkan kesalahan sendiri?..
Jika banyak orang menggunakan Buddha Dhamma secara menyimpang yang seperti dituduhkan, berarti bukankah kamu juga salah satunya?..
Jika mnrt org bahwa Kebenaran telah diselewengkan, bukankah km juga salah satunya?..
Semakin banyak kata2 yang tidak mempunyai Kebijaksanaan dan Kasih yang keluar dr setiap perkataan seorg (saya gak tau, apakah anda termasuk Buddhis ato Non Buddhis, krn melihat dan mempertimbangkan setiap perkataan anda yg jauh dr semangat Budhisme sejati) , semakin menunjukkan sejauh mana tingkat keterbelengguan org itu terhadap dosa karma..
Memperdebatkan sesuatu yang palsu (kata2 yang menunjuk pada Kebenaran) adl sama sekali tidak bermanfaat dan hanya org2 yang tidak menghargai waktu dan menyianyiakan waktu lah yang menggunakan nya..
Setiap jawaban tidak pernah akan memuaskan dan selalu ada penyanggahan krn kata2 yang diperdebatkan berdsrkan tinta hitam dikertas putih, bukanlah Kebenaran yang Sejati jd untuk apa memperdebatkan hal2 seperti itu.
Bagi saya, kata2 anda itu gak ada masalah krn apapun yang Anda katakan sebenarnya menunjukkan bahwa itu lah anda, bukan org laen.
Semakin kotor kata2 yang kamu keluarkan, hanya akan menunjukkan semakin kotornya tingkat kemelekatan dan kebodohan kamu..
Kata2 makian ataupun pujian tidak akan mengguncangkan keadaan hati yang penuh Kasih dan Kebijaksanaan..
Bukan berarti saya sesempurna itu, tetapi menggunakan karma buruk yang km buat untuk melatih tingkat pengendalian diri demi meningkatkan kualitas pembinaan..
Mgk org lain akan melihat bahwa apa yang kamu katakan itu sgt lah penuh dgn kebodohan..Iya itu benar.
Namun jika melihat dr sisi laen, perkataan km itu bisa menjadi mustika yang sgt berharga demi mengikis keakuan demi memantapkan langkah pembinaan..
Sadarkah km bahwa sikap km itulah yang akan memberi kamu karma buruk yang sgt besar?..
Jika ada org yang tertarik untuk belajar Buddha Dhamma justru akan hilang keinginannya krn melihat kata2 kamu yang penuh dgn nafsu..
Mgk naif utk mengatakan demikian, tp kemajuan suatu ajaran terletak ditangan generasi penerusnya..
Stp org mempunyai tanggung jwb untuk hal itu..
Jika anda sendiri tidak merasa bertanggungjwb, lalu layakkah anda menggunakan agama Buddha sebagai identitas diri kamu?
Setiap org hidup dan bersosialisasi dlm masyarakat membutuhkan pengendalian diri terhadap pikiran, ucapan dan tingkah laku..
Luruskan pikiranmu terlebih dahulu sblm meluruskan org laen.
Sucikan mulutmu sebelum menyucikan org laen.
Kendalikan tingkah laku mu sebelum mengendalikan org lain.
Jika esensi dasar dr Buddha Dhamma saja kamu tidak mengerti, jadi
Dhamma apa yang km mao perdebatkan?
Dhamma apa yang km mao bela?
Dhamma apa yang km anut?
Dhamma apa yang km agungkan itu?
Dhamma apa yang km pelajari?
Dhamma apa yang km mao sebarkan?
Apakah
Dhamma yang km maksud itu adl Dhamma:
Tanpa pengendalian pikiran?
Tanpa pengendalian ucapan?
Tanpa pengendalian tingkah laku?
Tanpa Kasih dan Kebijaksanaan?
Penuh keegoisan?
Penuh nafsu?
Penuh Kebencian?
Penuh makian?
Penuh sumpah serapah?
Jika Dhamma ini yang anda mao perdebatkan, dgn sangat hormat, saya berkata anda telah memilih org yang salah karena sy pribadi tidak yakin akan dhamma apa yang anda mao perdebatkan.
Apakah Dhamma yang berdasarkan tulisan semu?
Apakah Dhamma yang berdasarkan persepsi km?
Saya yakin dr tulisan2 anda, sebenarnya andalah yang tersesat dlm pengetahuan ttg Buddha Dhamma itu sendiri..
Jadi untuk apa perdebatkan hal2 yang
Tidak benar
Tidak memajukan pembinaan
Tidak berkualitas
Tidak membawa pada pengetahuan yang benar
Tidak berkebenaran
Semakin banyak anda menuliskan kata2 tidak berpendidikan, semakin besar karma yang akan anda terima krn anda akan menghilangkan simpati org tersebut kepada Buddha Dhamma.
Jgn selalu merasa bahwa, karma anda itu sengaja anda buat utk memberatkan karma saya. Ketahuilah, jikalau karma yang anda buat menghapus keinginan org2 untuk mengenal Dhamma lebih dlm, maka Hukum Kebenaran akan berjalan.
Terima Kasih
June 11th, 2008 at 20:01
conference YM yuk..
kita debat liat sapa yg bener..
PURE Buddhism VS CULT aliran Maitreya..
dan kita tentukan judgenya…
Nyanadhana jurinya..
berani gk?
*alasannya pasti banyak buat nolak*
June 11th, 2008 at 19:56
@hawk
bumi yg laen pasti ada..
dan itu bukan faith..
itu adalah logika!
ada bukti bahwa planet laen bisa menampung makhluk hidup..contohnya Mars..disana pernah ditemukan adanya berkas2 air dan mikroba2…
itu adalah bukti bahwa jika kondisi untuk makhluk hidup muncul di planet laen adalah POSSIBLE!
so, again..ini bukan faith dan bukan asal tebak!..
takdir?
haha..
takdir itu apa seh sebenarnya?
definisi takdir adalah…sesuatu yg ditetapkan oleh Tuhan..in this case adalah perek Lao Mu..
nah…kalo takdir itu benar2 ada…kenapa masih ada manusia yg terjerumus dalam kejahatan? tidakkah si perek Lao Mu itu ada kekuatan atas manusia2 dan isinya?
ke-2…
inilah akibatnya tidak belajar Sunyata dengan baek..
gini ajah..
setiap sesuatu yg berkondisi dan berwujud itu muncul dari “space”/kosong..
gw tanya loe…apa yg pertama kali terlahir dari kosong?
weleh2…gw assume loe gk tao jawapanne..karena loe
gk setuju bahwa segalane itu terlahir dari kosong bukan??
ok deh gw kasih tao jawapannye…
yg terlahir pertama kali adalah pikiran2…
bukan hanya 1 tapi banyak pikiran2…
dan dari pikiran2 itulah terlahir bentuk2 yg lain lage..
contohnya..
liat ajah Operating System ini..
sebenarnya itu OS ini apaan seh? OS ini terdiri dari gabungan 1 dan 0… dan darimanakah angka 1 dan 0 ini muncul?
oh of course dari mind/pikiran kita…
nah darimana pikiran/mind kita ini muncul?
haha..
SPACE!
nah..
back to pertanyaan gw…
gmana loe jelasin…
“kalo semuanya kosong..buat apa kamu berlatih??”
“akhir dari bumi ini adalah kiamat?? bagaimana dengan bumi2 yg laen?”
ika alam semesta ini tidak dicipta bagaimana mungkin ia bisa hancur??
alam semesta ini adalah SPACE…ato ruang kosong..
bagaimana mungkin SPACE yg tidak tercpita bisa hancur?”
@KS..
DIEM LAR LOE **********!! TULISAN LOE RUBBISH SEMUA! MUAK GW…BACA AJAH GK MAO GW! ****!
June 11th, 2008 at 17:55
Kepada saudara El Sol :
“akhir dari bumi ini adalah kiamat?? bagaimana dengan bumi2 yg laen?”
Bagaimana saudara tau ada bumi2 yang laen ? Ada galaksi yang laen ? Mungkin dari buku ilmu pengetahuan tentang Astonomi ? Dari tippitaka ? Ok. Itu namanya faith. Anda kan percaya ada bumi2 yang laen, tetapi saya mungkin meragukan akan hal itu, tetapi bagaimanapun juga, jika seandainya bumi kita sudah hancur, saya ulangi lagi, “Jika” bumi kita hancur, kita juga sudah tiada. Betulkah ? Lalu untuk apa kita pikirkan sekarang ? Saya juga telah mengatakan ber-kali2 bahwa saya percaya dan punya faith bahwa suatu hari nanti di masa yang akan datang bumi kita ini akan hancur, karena saya juga punya faith dan percaya bahwa segala sesuatu ada “awal” dan “akhir”, bukan tiada awal dan tiada akhir. Bahkan sekarang pun kita sudah mulai lihat tanda2 nya… Misalnya Global Warming (Pemanasan Global), ini fakta, belom lama ini saya ke Aberdeen (Scotland) dan di sana sudah tidak turun salju pada musim dingin. Ozon menipis karena polusi. Negara2 adidaya menciptakan arsenal nuklir yang konon menurut pakar senjata, nuklir tersebut sanggup meratakan bumi ini hingga seluruh umat manusia tiada satupun yang tersisa. Ini ada fakta, bukan logic, dan juga bukan faith. Fakta itu bisa dicari dan diteliti kembali.
Yang perlu kita pikirkan justru besok apa matahari masih terbit ? Syukurlah jika besok masih matahari terbit. Apa yang akan terbayang oleh saudara jika besok di negara kita terjadi bencana seperti gempa bumi dashyat yang baru2 ini terjadi di Cina ? The day after tomorrow kita tidak bisa lihat matahari lagi bukan ? Itu namanya takdir. Saya percaya adanya takdir, dan takdir itu adalah faith.
“jika alam semesta ini tidak dicipta bagaimana mungkin ia bisa hancur??
alam semesta ini adalah SPACE…ato ruang kosong..
bagaimana mungkin SPACE yg tidak tercpita bisa hancur?”
Pertama2 harus bedakan dulu, yang mana faith dan yang mana logic, dan juga yang mana adalah fakta ?
Kenapa kita tidak mulai dari yang paling sederhana dulu, misalnya diri kita sendiri ? Bukankah kita ini tercipta ? Anda tidak muncul tiba2 bukan ? Atau turun dari langit ? Anda butuh waktu untuk tumbuh dan dewasa bukan ? Suatu hari anda dan termasuk saya juga akan tua dan mati bukan ? Memang begitu singkat dibanding dengan kalpa tahun. Jika alam semesta itu begitu misterius tiba2 saja menjadi ada, lalu kenapa kok manusia tidak seperti itu ? Tiba2 muncul ?
Jadi kembali lagi, bukan saya bermaksud memutarbalikan segala argumen atau adu pendapat. Semua ini hanya sekedar sharing pendapat saya saja.
June 11th, 2008 at 17:22
Hi..
Jika semua kosong untuk apa berlatih?
hm, jika kosong adalah salah berarti inti dr Buddha Dhamm salah juga y?
Elsol, km adalah org yang berpengetahuan tinggi dan mempunyai pemahaman ttg Buddha Dhamma lebih dalam, sesungguhnya sedangkal itu kah pemikiran ttg Kesunyataan yang kamu dalami?
Jujur, setiap kata2 yang km tulis itu sama sekali tidak sejalan dengan Buddha Dhamma dan membelakangi Kebenaran..
Kenapa tidak menggunakan waktu sebaik2nya untuk memajukan FDC agar lebih bagus kdpnnya dibandingkan dengan meluapkan nafsu tanpa akhir kedalam tulisan aksara hitam diatas putih?
Setiap kata akan memberi dampak pada hidup dan kehidupan kamu.
Tidakkah kau sadari?
Hampir seluruh surat km tuh berisi makian dan laen2nya..
Apakah ini tidak menodai kesucian Buddha Dhamma..
Apakah ini tidak membelakangi ikrar km..
Mgk sebelum km menghancurkan Aliran Sesat, justru km lah yang terhancurkan oleh perbuatan kamu sendiri..
Ikrar mu itu sungguh luhur, sy tidak ada maksud apa2..
Cm kalo ikrar mu itu tidak bersandar kepada Kebijaksanaan dan Kasih dalam Buddha Dhamma, bukankah km yang akan menjadi semakin tersesat dan pada akhirnya akan mengalami kehancuran sebelum km mewujudkan cita2mu?
Menentang ato tidak setuju thd sesuatu bukan dilawan dgn hal2 yang seperti anda bawakan tetapi dilawan dengan Kebenaran Dhamma.
Kebenaran Dhamma apa yang ada bawakan pada saat anda menulis surat?
Apakah Kebenaran Dhamma itu berupa makian, cacian, sumpah?
Jika benar begitu, apakah Dhamma yang salah atau km yg salah?
Dhamma apa yang km mao bela?
Dhamma apa yang km yakini Kebenarannya?
Dhamma apa yang km anut?
Jikalau segala tingkah laku membelakangi Dhamma Kebenaran
Saya harap kita semua lebih menggunakan waktu untuk hal2 yg positif seperti yang diutarakan Sumana.
Hidup hanya berdasarkan nafas..
Kematian dtg bagaikan pencuri dimalam hari..
Berjuang setiap detik dlm pembinaan adalah kesempatan untuk mendapatkan hidup dan kehidupan yang lebih baek
Terima Kasih Sumana
Terima Kasih